NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ginofobia

Bahagia itu simpel.

Batin seorang gadis yang sedang menyusuri trotoar. Dengan kaki mungilnya, berjalan di tengah megahnya perkotaan. Sudah seperti semut kecil di tengah belantara yang penuh dengan gemerlap meski malam sudah semakin larut.

Renata Pavela. Itulah nama dari gadis itu. Dengan poni lurus yang menutupi seluruh kening dan make up andalannya, ia terus melangkah.

Jaket tebal dan stoking hitam membantunya melawan hawa dingin yang dibawa angin malam. Memasuki sebuah gedung bercahaya temaram.

Masuk semakin dalam melewati penampil yang sedang menunjukkan kebolehannya. Menarik perhatian di tengah para pengunjung.

Sampai pada sebuah tangga. Ia naiki hingga sampai di lantai dua.

Berbeda dengan sebelumnya, pada lantai ini justru lengang. Hanya ada dua orang wanita berpenampilan mencolok yang sedang bercengkerama di sofa yang sama.

Kedatangannya langsung disambut dengan senyum cerah dari keduanya.

"Eh Rena sayang! Baru datang?" Sambut salah seorang dengan ramah.

"Sini duduk sama kami." Sahut wanita di sebelahnya.

Ia berjalan mendekat. Duduk di sofa yang terpisah yang ada di sebelah mereka berdua.

"Duh kamu ini, kenapa jauh-jauh sih? Sini sini duduk sama kami."

"Tidak ah, nanti pipiku dicubiti lagi. Kemarin sampai merah loh."

"Habisnya kamu imut banget sih."

"Iya ih, aku mana tahan lihat wajah gemasmu itu. Mata lebar, bentuk wajah mungil, pendek lagi. Ya ampun, sudah seperti boneka tahu!"

"Perasaan pendek itu bukan kalimat pujian deh."

"Kok bisa orang seperti kamu malah nyasar di tempat seperti ini sih?"

"Memangnya aneh kalau aku mencari pekerjaan yang gampang dan menghasilkan banyak uang?"

"Tidak aneh. Tapi, kamu itu masih muda. Perjalananmu masih panjang. Tidak seharusnya anak muda seperti kamu berada di sini."

"Aku sudah pernah bilang kalau umurku di atas dua puluh 'kan?"

"Percuma, Ren. Meskipun kamu tidak mengaku, perawakanmu tidak bisa disembunyikan. Aku yakin umurmu masih di bawah 19 tahun."

"Ah itu hanya karena aku pendek."

"Betul kata Angel. Bagaimana kalau kamu berhenti lalu jadi anak angkatku saja?" Celetuk salah seorang lagi yang sedari tadi menyimak.

"Tidak mau ah, nanti ayahku gonta-ganti setiap minggu."

"Justru enak dong? Kalau punya banyak ayah."

Mereka terkekeh bersamaan. Rena pun tersenyum masam.

Terima kasih sudah peduli. Tapi percuma saja. Toh hidupku sudah tidak ada artinya lagi.

Gema sepatu hak tinggi samar terdengar. Membuat ketiga orang itu menaikkan pandangan.

Wanita bergaun biru ala pesta dengan berbagai macam aksesoris di tangan dan lehernya menambah kesan kemewahannya.

Bak dewi yang turun dari khayangan. Kehadirannya seolah membawa wahyu untuk diperdengarkan.

"Rena, ada yang order kamu. Jemputannya sudah menunggu di basemen." Ucapnya.

"Baik, Mommy."

Rena yang memang telah siap sedia, segera beranjak tanpa pikir panjang lagi.

...----------------...

Bagas pulang ke rumah dengan lelah yang menumpuk. Bukan sekali dua kali ia terpaksa menerima hukuman hanya karena keisengan seseorang.

Ia memang tidak ingin pasrah begitu saja. Namun, apalah daya. Dirinya paling tidak bisa berurusan dengan orang itu. Hanya karena orang itu seorang perempuan.

Tubuhnya memang ingin melepas lelah. Tapi sebelum itu, ia selalu menggunakan sisa tenaganya untuk menyiapkan makan malam.

Bagas menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Tangannya bergerak mengirisi bawang merah, bawang putih, cabai merah; kentang, sawi dan irisan daging ayam sembari sesekali memperhatikan minyak yang mulai naik suhunya.

Saat dirasa tepat, ia menceburkan hasil irisannya ke dalam. Menimbulkan bau harum yang menggugah air liur mereka.

Tangannya tak henti-hentinya bergerak menjungkir balikan isi wajan. Tak lupa menambahkan bumbu untuk memeriahkan rasanya.

Setelah yakin matang, ia mengambil piring, memindahkan hasil racikannya ke dalam. Membawanya ke hadapan ayahnya yang telah siap dengan sepiring nasi.

"Nak, bagaimana sekolahmu? Lancar 'kan?"

"Dibilang lancar sih tidak juga."

Ayahnya memindahkan beberapa sendok yang telah tersedia ke dalam piringnya.

"Pasti semua gara-gara ginofobia-mu 'kan?"

"Ya begitulah."

"Nah, yang ayah takutkan terjadi 'kan? Seharusnya kamu mendaftar di sekolah khusus laki-laki saja dulu."

"Yah, ingat tidak apa kata psikolog yang pernah kita datangi? Kalau mau cepat sembuh, aku harus lawan fobiaku. Makanya daripada membiarkannya berlarut-larut, lebih baik dilawan, bukan?"

"Memang betul. Tapi kalau tetap seperti ini, belajarmu bisa kurang maksimal. Menurutku, belum waktunya kamu bersikeras sejauh ini, bisa saja setelah lulus, kamu baru fokus berobat."

"Aku tidak mau, Yah. Masa mudaku cuma ada sekali. Menurutku lebih cepat lebih baik."

"Baiklah, apa boleh buat kalau itu maumu. Ayah hanya bisa mendukung penuh apapun yang bisa membuatmu sembuh. Ke psikolog ternama? Ayo. Kamu punya pacar, ayah beri berapa pun yang kamu butuhkan. Bahkan ..."

"Bahkan?" Bagas penasaran dengan penggalan kalimatnya.

"Bahkan kalau pun kamu mau 'menyewa' perempuan, asal itu bisa membuatmu sembuh, ayah akan tanggung semua biayanya."

Bagas menggeleng cepat, "tidak, tidak perlu sejauh itu sampai menyewa pacar segala."

"Pacar!? Oh i-iya pacar, betul kamu." Sahut ayahnya terbata.

"Kenapa ayah malah kaget?"

"T-tidak."

Ayahnya melahap suapan terakhirnya. Langsung meletakkan piring ke tempat berkumpulnya piring kotor.

"Pokoknya, berapapun kamu butuh uang, ayah akan sediakan, jangan khawatir." Ucap ayahnya sambil berjalan meninggalkannya.

Bagas yang tersisa sendiri melahap makan malamnya yang masih tersisa.

Setelah tumpukan piring, peralatan memasak dan gelas telah bersih, barulah Bagas masuk ke kamar untuk kembali pada rutinitas hariannya.

Ia pandangi jadwal pelajaran, menyiapkan buku sesuai dengan mata pelajaran. Memeriksa jika ada PR yang belum dikerjakan. Jika tidak ada, ia hanya akan mengulang pelajaran yang diajarkan hari ini.

Sebelum belajar, ia terpincut oleh notifikasi dari ponselnya yang berasal dari Facebook.

Ah lihat sebentar deh.

Ia buka notifikasi itu. Muncullah sebuah postingan grup meme yang berisi sebuah gambar yang diberi caption konyol. Ia dibuat terkekeh sendiri karena postingan itu.

Bagas kembali ke beranda Facebook-nya. Jarinya mendorong ke atas layar ponsel. Beberapa postingan ia lewati sampai pada sebuah postingan yang membuat jarinya terhenti.

Aplikasi yang akan merubah hidupmu.

Bagas menurunkan alisnya. Tak percaya dengan kalimat template yang biasa dipakai untuk iklan itu. Terlebih ini Facebook, yang membuat segalanya semakin sulit untuk dipercaya mengingat banyaknya kasus scam yang terjadi.

Jarinya hampir lanjut, namun ia urungkan.

Apa salahnya cuma melihat?

Jarinya bergulir kembali. Menekan perintah, "unduh sekarang". Hanya beberapa detik, aplikasi telah terunduh.

Ia langsung meng-install ke perangkat ponselnya. Keraguan menghalanginya saat mendapati peringatan dari ponselnya. Namun, rasa penasaran telah membutakannya.

Tak sampai sepuluh menit, notifikasi instalasi berhasil terpampang.

"Love seeker?" Gumamnya keheranan dengan nama tak lazim itu.

Ia langsung membukanya. Baru sebentar, aplikasi itu langsung menyodorkan captcha berupa kata untuk diisi.

Bagas menurut. Sekali berhasil, muncul lagi untuk yang kedua kali. Yang kedua berhasil, muncul yang ketiga, keempat, kelima. Itu pun masih muncul yang ke enam.

Apa aku salah mengisinya?

Ia terus melanjutkannya hingga yang ke lima belas.

Ternyata benar merubah hidup. Tapi menjadi gila.

Setelah ia masukkan untuk yang keenam belas kalinya, barulah layarnya berubah. Kini aplikasi memintanya mengisi biodata serta identifikasi pengguna berupa email dan nomor ponsel. Rasa penasaran dan kesal telah tercampur aduk. Membuatnya terus mengisi.

Ternyata belum cukup di situ. Aplikasi itu juga meminta identifikasi sidik jari bahkan verifikasi wajah. Kali ini ragu menghentikannya.

Bagas merasa aplikasi itu benar-benar janggal. Tapi, ia sudah terlanjur basah. Termakan juga oleh kata-kata promosi karena dalam hatinya ia mendambakan hal yang sama.

Coba deh, siapa tahu ada sesuatu yang terjadi.

Tekadnya yang telah bulat membuatnya tetap memberikan sidik jari dan foto wajahnya dengan jelas.

Tak sampai satu menit, barulah tertulis kalau aplikasi telah siap pakai. Sontak ia buka.

Kali ini ia dikejutkan oleh isi dari aplikasi itu. Sampai-sampai ponselnya terlempar dari tangannya.

Yang terlihat olehnya dalam jeda beberapa detik itu adalah foto-foto perempuan yang tiba-tiba saja terpampang.

Ia mengambil napas agar dirinya lebih tenang. Meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya.

Dengan tangan yang masih bergetar, ia menjauhkan layarnya pada jarak maksimal yang bisa ia lakukan dengan tangannya. Mencoba melihat kembali ke dalam.

Tenang Gas. Itu cuma gambar.

Batinnya mencoba menguatkan. Meski tubuhnya semakin bergetar hebat, rasa penasaran seolah membisikinya kalau inilah saat yang tepat baginya untuk berlatih melawan rasa takutnya.

Bagas pun menurut. Memandangi isi ponselnya dengan mata yang menyipit. Memang ia merasakan ketakutan yang luar biasa hingga napasnya menjadi sesak. Akan tetapi bukan berarti ia tidak bisa menilai paras seorang perempuan.

Tiga foto yang terpampang ia akui semuanya mempesona. Rasa penasarannya yang belum puas, mendorongnya untuk menggeser layar perlahan.

Hanya ada foto-foto perempuan cantik saja sejauh ini. Hingga mendadak tangannya berhenti saat matanya mendapati sebuah foto. Terkejut karena tubuhnya kehilangan reaksinya.

Matanya jelas-jelas memandangi foto itu. Namun tubuhnya tak merasakan apapun. Ia pun mendekatkan ponselnya pelan-pelan.

Membuat foto gadis yang ada di dalamnya semakin jelas. Tetap tak terasa apa-apa. Hanya ada perasaan takjub akan pesonanya.

Tanpa sengaja. tangannya menekan foto itu. Memunculkan daftar informasi singkat tentangnya.

Nama : Rena

Umur : 22 Tahun

Zodiak : Pisces

Di bawahnya beberapa foto dari orang yang sama. Bagas yang memandangi foto itu satu per satu, belum berhenti terkesima.

"Manis." Gumamnya.

Ini adalah hal baru baginya. Tubuhnya yang biasanya bereaksi, kini tak menunjukkan apapun. Bahkan ia tidak pernah ingat pernah memuji seseorang perempuan dalam hidupnya.

Karena itu, bukannya menghilang, kini rasa penasarannya berubah menjadi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.

Ia menemukan pada bagian bawah halaman itu terdampar sebuah nomor.

Nomor admin.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi nomor yang tertera. Hanya sebuah pesan singkat.

Tak butuh waktu lama, tiba-tiba saja panggilan masuk dalam ponselnya. Membuatnya terkejut bukan main.

"Halo."

"I-iya, halo."

"Dengan kak Bagas ya?"

"Iya, betul."

"Terima kasih sudah menghubungi kami. Apa kakak tertarik dengan Rena?"

"I-iya."

"Dia punya waktu kosong besok, Bagaimana?"

"Maksudmu dia bisa ditemui?"

"Sangat bisa, bahkan kakak bisa menciptakan momen berharga bersama. Bagaimana? Apa kakak tertarik?"

Oh apa seperti acara meet and greet selebriti? Oh jangan-jangan dia artis terkenal? Pantas saja aplikasinya sulit untuk diakses.

"B-boleh."

"Biayanya lima juta perjam ya! Maksimal tiga jam lalu include biaya kamar. Silakan transfer uang nominal yang sesuai lalu konfirmasi dengan mengirimkan bukti transfernya ke nomor ini."

Ternyata nominalnya besar sekali. Harusnya wajar kalau ternyata dia seorang artis. Tapi apa ayah mau membayarkannya?

"B-baik." Sahutnya ragu.

"Terima kasih, Kak."

Panggilan terputus. Bagas berlari keluar kamar. Seketika menyambangi kamar ayahnya. Mengetuk pintu sekali, langsung terdengar suara dari dalam.

"Iya?"

"Yah, aku ... butuh uang. Tapi, ...."

Bagas memikirkan kalimat yang paling masuk akal yang bisa ia utarakan. Namun ia malah kebingungan.

"Butuh berapa?" Sahut ayahnya seketika.

"L-lima juta, Yah." Ucap Bagas ragu karena jumlahnya yang tidak sedikit.

"Ayah tidak pegang uang cash, bagaimana?"

"Transfer saja."

"Oke, kirim nomor rekeningnya ya."

"Serius Yah? Apa ayah tidak penasaran uangnya akan kupakai untuk apa?"

"Tidak. Toh aku sudah janji denganmu sebelumnya."

"Terima kasih, Yah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!