Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Konfrontasi halus
Menjelang sore para pemburu itu muncul dari balik hutan melaju dengan kecepatan penuh sambil membawa hasil buruannya masing-masing.
Kuda-kuda itu berlari seolah seperti sedang berlomba untuk menjadi yang terdepan sampai tiba di dekat meja penjamuan sang Raja.
"Ah, mereka tiba!" Ucap seorang pria dengan wajah sumringah saat melihat pemburu andalannya membawa seekor rubah merah yang terkenal sangat gesit.
Pemburu-pemburu itu turun dari atas kuda dan mulai berbaris untuk menimbang hasil buruan mereka.
Satu-persatu dari mereka maju dan memberikan hewan buruannya untuk ditimbang secara adil oleh Louis sendiri.
Kebanyakan dari mereka membawa buruan berupa rubah merah, musang, beberapa jenis Rusa seperti rusa roe, rusa air, juga rusa sungai.
Hingga muncul dua orang pemburu yang masing-masing membawa hewan buruan yang lebih besar dari yang lainnya.
Semua orang segera berdiri saat melihat kedua pemburu itu berjalan sambil berdampingan dan membawa rusa dengan cara diseret menggunakan tali.
Mereka terkagum-kagum melihat betapa besarnya rusa yang mereka dapatkan. Itu adalah rusa fallow berbintik yang ukurannya luar biasa.
"Yang mulia, aku pasti menjadi pemenangnya!" Ujar lelaki dengan perawakan tubuh yang kekar sambil menyeret hasil buruannya di sepanjang jalan dengan satu tangan.
"Jangan pikir kau menang duluan, karena masih ada aku!" Sambar pria di sebelahnya dengan rambut yang sedikit dikuncir ke belakang.
"Kita lihat saja hasilnya nanti, siapa yang hewan buruannya paling besar!"
Kedua pria itu dengan penuh percaya diri melangkah menuju ke penimbangan. Membuat pemburu lain merasa tersingkir secara otomatis saat melihat keduanya membawa rusa berbintik yang begitu besar.
Dua orang bangsawan yang membawa masing-masing pemburu ke acara ini tersenyum dengan rasa bangga.
"Sepertinya ini sudah penentuan!" Ucap pria yang rambutnya memutih sebagian sambil tertawa dan bertepuk tangan, menyambut pemburu andalannya.
"Yang mulia, sepertinya Tuan Stoic kesulitan di belakang? Kalau dia tak datang apa itu artinya dia telah gagal mendapat buruan?" Seorang pria tampak sedikit menyinggung kehadiran Stoic yang masih absen. Padahal semua orang sudah berkumpul.
"Hahaha, Tuan Jordan tenang saja! Dia adalah pemburu andalanku. Stoic pasti datang." Louis hanya tertawa dengan provokasi itu. Dia yakin dengan pemburunya sendiri.
Belum lama dibicarakan ternyata pria bermata coklat bening dengan rambut seperti coklat susu itu tiba dari kejauhan, tanpa kudanya. Ia seperti tampak menyeret sesuatu di belakang tubuhnya membuat semua orang yang ada di jamuan penasaran. Louis hanya berdiri dengan tenang dengan senyum penuh kemenangan. Dia yakin dengan orang andalannya.
"YANG MULIA! APA ADA YANG BISA MEMBANTUKU MEMBAWA INI?"
Lelaki itu berteriak ketika sudah berada di setengah perjalanan. Ia berhenti dan menepuk-nepuk bangkai hewan buruan yang berhasil didapatkan yang ternyata sangat besar melebihi hasil tangkapan dua pemburu sebelumnya.
"Cepat bantu Tuan Stoic!" Louis memerintahkan beberapa orang prajuritnya untuk segera membantu.
Mereka bergegas berlari menuju ke arah Stoic yang masih berdiri dan sesekali menyeka keringatnya. Pria itu tak menyadari kalau ada seseorang yang tengah memandanginya dengan takjub dari kejauhan. Dan, entah kebetulan atau apa, Stoic melirik ke arah jamuan dan menangkap sepasang mata indah yang melihat dirinya dengan penuh binar.
Stoic tersenyum tipis dan memberi anggukan kecil. Gerakan itu tertangkap mata oleh Serah yang membuatnya melirik ke arah sebelahnya. Ia mendapati Brigatte langsung tertunduk malu-malu. Ada rona senyuman halus pada wajahnya. Apakah Brigatte tertarik dengan lelaki itu?
Kelima orang pria itu termasuk Stoic membawa mamalia terbesar itu yang kemungkinan memiliki berat lebih dari 100 kg. Hal itu tentu menjadikan Stoic sebagai pemenang secara otomatis karena rusa itu jelas lebih besar dari yang lain.
"Aku sudah bilang 'kan. Pemburuku tidak pernah mengecewakan," ucap Louis ketika para pria itu hampir sampai di tempatnya.
"EAARRRRGHH!"
Hewan mati itu diletakkan di hadapan para bangsawan. Itu adalah seekor rusa red yang memiliki bobot tubuh mencapai 100 kg bahkan lebih. Merupakan mamalia terbesar di kawasan hutan Mathilda.
"Aku rasa kita tak perlu menimbangnya lagi, karena sudah jelas terlihat rusa itu jauh lebih besar!" Louis langsung saja memberikan deklarasi kemenangan pada Stoic.
"Benar, sudah tak ada keraguan lagi!" Sambar Esmerus yang kemudian berdiri dan bertepuk-tangan yang tanpa disadari membuat semua orang mengikutinya.
"Terimakasih, Tuan-tuan!" Stoic segera membungkuk dalam memberi hormat beberapa kali.
Brigatte diam-diam kembali melemparkan senyuman sambil ikut bertepuk-tangan.
Stoic kemudian berjalan ke arah Louis yang memang seperti sengaja berdiri menantinya.
"Ini hadiah mu, Tuan Stoic," ucapnya sambil memberikan kantung perhiasan berwarna merah ke tangan sang pemburu.
"Terimakasih, Yang mulia," balas Stoic menerima pemberian itu dengan sedikit tersenyum ketika tangan sang Raja menggenggam kan kuat-kuat hadiah itu ke tangannya.
.
.
Usai perburuan yang memakan waktu kurang lebih 2 jam itu, acara kembali berlanjut. Kali ini adalah acara menembak panah.
Para pengawal istana menyiapkan papan target panah di lapangan dengan jarak 100 meter.
Lima papan target itu berdiri sejajar dalam jarak yang sama sebagai tantangan baru.
"Apa ada yang mau mencoba terlebih dahulu?" Ujar pria itu ke arah para bangsawan yang hadir di jamuan.
"Tentu, saya ingin mencobanya." Seorang lelaki yang mungkin hanya sedikit lebih tua dari Louis maju ke depan.
Louis memberikan gestur agar ia mengambil salah satu busur yang ia sediakan di atas meja kayu untuk digunakan.
Lelaki muda itu mengambil nya dan seorang pengawal menyerahkan quiver. Ia mengambil salah satu panah dari dalam tempatnya dan berjalan ke arah area yang lapang untuk memanah. Louis dan para bangsawan mengikuti, berdiri di belakang.
Pria itu tampak fokus dengan target dan anak panahnya itu, sebelum akhirnya ia tembakkan ke papan sasaran dengan bentuk papan yang menyerupai manusia.
JLEB!
Panah itu melesat dan tertancap pada papan target itu di bagian pundak papan.
"Bravo, bravo! Tak terlalu buruk, Tuan Arthur!" Ucap Louis memberi tepukan tangan tapi jelas ia memberikan senyuman yang meremehkan.
"Apa ada lagi?" Louis melihat sekitar.
"Ijinkan saya mencoba, Yang mulia." Pria lain, sedikit lebih tua dari lelaki pertama maju ke depan untuk mencoba kemampuan.
"Silahkan Tuan Johnson." Pria yang pertama tadi segera menyerahkan busurnya.
Johnson mengambil anak panah yang disediakan oleh prajurit. Ia berjalan dengan langkah tegap, memasang ancang-ancang dengan tatapan fokus, lalu panah itu dilepaskan ke sasaran.
JLEB!
Semua orang bersorak ketika ia berhasil mengenai bagian kepala meski bukan tepat di tengah dan masih agak meleset tapi itu sudah sangat bagus.
"Anda hebat, Tuan," puji Louis yang tiba-tiba merasa tertantang. Ia merasa bisa jauh lebih hebat dari itu.
"Sekarang aku akan mencobanya...." Louis akhirnya bergerak. Ia mengambil busur dan panahnya sendiri. Berdiri di sebelah Johnson dengan pandangan mata yang fokus.
JLEB!
Satu tembakan yang dilakukan Louis tepat mengenai sasaran di bagian tengah. Semua orang terpukau.
"Anda hebat, Yang mulia!" Helena bersorak, dia seperti sengaja menempel pada Louis.
"Kemampuan anda memang sudah setingkat dewa!" Johnson pun langsung mengakui kemampuan Louis.
"Ini bukan apa-apa, jangan berlebihan," balas Louis mencoba merendah dengan kebanggaan terselubung.
"Boleh saya ikut mencoba, Yang mulia?" Serah tiba-tiba sudah maju mendekat.
"Ah, anda yakin mau mencoba?" Louis sedikit heran. Apa wanita itu serius? Dia tidak pernah melihat Serah melakukan olahraga panah sebelumnya. Jangan sampai wanita itu membuatnya malu kalau sampai dia gagal, namanya akan tercoreng.
"Tentu, di Regina sebenarnya aku sering berlatih memanah, aku hanya tak punya kesempatan melakukannya sendiri...," jawab Serah tampak yakin dan matanya mulai mencari-cari busur yang berjajar di atas meja kayu hingga akhirnya ia berhasil memilih sebuah busur berwarna putih untuk ia pakai.
"Baiklah, anda bisa mencobanya, tapi Regina tak sama dengan Mathilda...," balas Louis sedikit meremehkan.
"Silahkan, Yang mulia." Seorang pengawal memberikan panah kepada Serah.
Wanita itu berdiri tegak di area lapang. Tatapannya fokus. Semilir angin membuatnya berhenti sejenak untuk merasakan, lalu....
JLEB!
Semua orang tercengang karena panah itu menancap tepat sasaran dan lebih hebatnya dia merusak panah milik Louis yang menancap lebih dulu.
Apa maksud dia!?
Louis menggeram, dan tangannya mengepal. Ada suatu ancaman yang dapat dia rasakan.
"Wah, Ratu Serah ternyata tak kalah hebat! Gak salah Raja Louis memilih anda!" Celetuk seorang pria dengan kekaguman.
Semua atensi kini beralih pada Serah. Mereka memandang nya sebagai wanita yang sangat luar biasa.
"Kalian terlalu memuji, itu hanya kebetulan, iya 'kan Yang mulia?" Serah melirik Louis yang terlihat agak gusar dengan sebuah senyuman seperti sebuah konfrontasi.
"Ya, kurasa anda ada bakar, Putri Serah. Silahkan kembali ke tempat anda," balas Louis yang dalam sekejap mampu mengatur ekspresi wajahnya lagi dan bersikap biasa.
"Terimakasih, Yang mulia...." Serah sedikit membungkuk lalu kembali berjalan ke belakang.
Kurang ajar. Apa kau sedang mengancam ku Serah?! Kau ingin membuktikan diri di hadapanku? Jangan harap! Sehebat apapun dirimu, kau akan berakhir menjadi wanita tak berguna. Setelah aku menikahi mu kau akan aku asing kan dan Regina jadi milikku!
Niat Louis sejak awal memang buruk kepada Serah yang untungnya bisa cepat disadari. Bagaimana Serah lepas dari jerat Louis? Apa rencananya akan berhasil?
sok bangga sekali ntar kalo udah gak ada manfaat juga bakal di depak sama si louis 😂😂
disini si louis sbg raja dia kek terlalu anak emasin helena ya , aku baca sejak bab awal jadinya si helena ini besar kepala merasa diatas angin.. merasa menang dr serah..
tapi bagusnya juga si serah langsung sadar dan bagus aku suka , lebih bagus lg buat si louis menyesal sampe ke dasar jurang karena melepas berlian demi batu kerikil di sungai keruh😏
gak pantes dia jd raja, otak nya cuma wanita, wanita dan wanita dan slengki aja 😏😏😏
jijay..
ayo serah lawan helena biar dia sadar diri posisi dan statusnya dia gak sebanding sama kamu