Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Kecurigaan Louis
Serah berjalan memasuki area penjamuan bersama dengan para gadisnya. Semua orang menatap cemas, takut-takut akan terjadi keributan di tempat, mengingat Louis malah membawa wanita lain di acara besar seperti ini.
"Salam sejahtera, Yang mulia," ucap Serah dengan sopan dan tutur bahasa yang lembut. Ia membungkuk yang diikuti oleh gadis-gadis lainnya.
"Berdirilah," Balas Louis yang dengan cepat meninggalkan Helena. Ia memegang kedua lengan Serah saat memintanya untuk berdiri.
"Aku tidak mengira kalau ternyata Lady Helena adalah tamu istimewa anda hari ini." Serah melirik ke arah Helena yang berdiri di belakang tak jauh dengan wajah merengut karena Louis seakan seperti meninggalkannya.
"Ah, dia...." Louis tentu tampak bingung untuk memberi penjelasan.
"Anda sungguh Raja yang sangat baik hati, begitu memperhatikan semua orang di istana. Pantas saja Lady Helena sangat antusias sejak pagi karena undangan anda." Serah berbicara sambil tersenyum. Nada bicaranya tampak polos tapi jelas ini adalah kalimat jebakan.
Disatu sisi ia menyanjung Louis yang justru membuat lelaki itu tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran kalau semua hanya salah-paham. Kalau sampai ia menarik kata-kata dan mengatakan tak mengundang Helena, jelas dia akan membuat Helena menjadi bahan lelucon yang menjatuhkan martabat. Tapi di sisi lain ini akan terlihat seperti Louis memiliki hubungan spesial dengan Helena.
"Yah, karena gadis itu pernah berkata ingin melihat perburuan dengan kereta yang indah...." Louis akhirnya lebih memilih reputasinya di hadapan publik. Ia tak ingin terlihat seperti Raja yang tidak bijak dan mempermalukan seorang Putri bangsawan. Esmerus pun pasti akan tersinggung karena itu.
Mendengar jawaban Louis yang seperti itu membuat Helena tersenyum lebar. Dia berani berjalan mendekati Louis.
"Terimakasih, Yang mulia. Saya sangat tersanjung, apalagi kereta itu khusus untuk saya," ucapnya membungkuk namun jelas kalimatnya sarat akan pamer. Ia seperti ingin menunjukkan kalau Louis lebih peduli kepada dirinya dibanding sang calon Ratu. Dari kejauhan Esmerus, ayah Helena diam-diam tersenyum dan berpikir mungkin Raja tertarik dengan putri kecilnya itu. Dia tak keberatan kalau Louis akan menjadikan Helena sebagai mistress.
"Lady Serah, kau tidak keberatan 'kan kalau aku yang duduk di sana," ucap Helena yang baru begitu saja sudah berani menunjukkan taring kecilnya di depan Serah.
"Tentu, karena anda adalah tamu istimewa yang dibawa oleh Raja Louis. Saya tidak memiliki hak untuk mengatur," jawab Serah dengan cepat, tampak tak tersinggung.
Sementara William, sang penasehat yang ikut hadir hanya bisa geleng-geleng melihat Helena, dan Cristine menatap Serah dengan kebingungan. Ia semakin tak mengerti dengan sikap sang Ratu yang sepertinya sengaja ingin membuat Louis dan Helena tampak bersama.
Louis pun tak bisa berkata apa-apa lagi selain menahan kekesalannya pada Helena. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat saat Helena langsung duduk di sebelah singgasananya.
"Karena semua telah hadir, sebelumnya mari kita minum dulu sebagai pembuka acara!" Louis bisa dengan cepat mengubah suasana hati dan mengontrol diri. Kemudian, Ia mengangkat gelas miliknya ke udara.
"Untuk kesejahteraan Mathilda!" Ucapnya dengan lantang yang diikuti oleh para bangsawan.
"UNTUK MATHILDA DAN RAJA LOUIS!" Sambut para undangan saat itu.
Usai minum dan memberi sambutan Louis berdiri. "Baiklah, acara ini segera dimulai. Sekarang keluarkan pemburu andalan kalian masing-masing, dan aku perkenalkan pemburu andalan kami, Tuan Stoic!"
Seorang pria tampak berdiri gagah di hadapan para bangsawan dengan penuh kebanggaan dengan sambutan yang diberikan kepadanya.
Tentu dia bukan satu-satunya pemburu yang akan meramaikan suasana hari itu. Karena puluhan pemburu andalan masing-masing bangsawan turut serta dan bersaing.
Kemudian Louis berdiri, berjalan sedikit ke depan membuat seluruh atensi kini berpusat padanya.
Seorang pengawal mendekati sambil memberikan sebuah mesiu (ini pistol pada jamannya cuma dulu disebut mesiu).
Suasana hening sesaat ketika sang Raja memegang senjata itu ditangan. Ia memandangi semua pemburu yang sudah bersiap dengan busur dan panah.
Perlahan ia mengangkat tangannya ke udara yang diiringi dengan suara letupan dari mesiu yang memekakkan telinga.
"Dengan ini, saya mengatakan acara perburuan dimulai!" Ujarnya dengan nada keras.
Setelah mendengar aba-aba itu, para pemburu bergegas mengambil kuda pacuan masing-masing dan segera melesat cepat memasuki ke arah hutan Mathilda dengan penuh semangat. Tentu saja, karena hadiah yang diberikan pun bukan main-main. Raja Louis menawarkan sekantung batu bermata yang harganya sangat bernilai tinggi.
"Mari, mari kita kembali duduk!" Louis mempersilahkan para jamuannya untuk duduk kembali.
Sesaat kemudian para pelayan yang juga dihadirkan di sana segera menyiapkan menu makan siang untuk para bangsawan itu.
Mereka meletakkan sebuah piring kecil yang di atasnya ada beberapa bola-bola seperti daging atau sesuatu yang dibumbui atau diberi tepung dan dimasak hingga kecokelatan.
"Ini makanan pembuka, Olive all'ascolana. Silahkan dinikmati." Pria itu dengan bangga mempresentasikan makanan tersebut.
Semua orang menikmati makanan itu termasuk Serah. Jujur saja ia tak terlalu menyukai rasanya karena memiliki perpaduan rasa yang menurut lidahnya agak aneh.
Tak lama para pelayan kembali berkeliling dan kali ini mereka menuangkan earl tea pada masing-masing cangkir yang telah disediakan sebelumnya.
"Teh ini memang yang terbaik," ucap seorang pria yang tak lain adalah Esmerus, yang merupakan seorang ambassador di bidang perhubungan antar negara. Ia memiliki posisi yang sangat penting. Pantas saja Louis selalu mengandalkannya dan bermain aman agar pria itu tidak tersinggung sekalipun putrinya Helena, mulai membuatnya muak.
"Aku setuju," timpal pria lain sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong, Putri Serah, apa semua kiriman persediaan pangan yang katakan di pertemuan pada waktu itu sudah terlaksana?" Tanya Esmerus secara tiba-tiba.
"Ya, semuanya sudah berjalan sejak beberapa hari yang lalu." Serah hanya menjawab sekedarnya saja tanpa memberikan informasi lebih lanjut.
"Tapi bukankah akan berbahaya karena anda harus melewati gerbang Duncan untuk sampai tujuan? Mereka saat ini dalam keadaan krisis dan terdesak, bagaimana kalau sampai pihak Duncan mengambil alih semua pasokan itu?" Seorang pria entah siapa namanya langsung memperingati Serah agar lebih berhati-hati.
"Tak masalah, aku bisa mengatasi itu," balas Serah dengan tenang.
"Wah, jadi masalah itu sudah anda selesaikan? Hebat, hebat sekali! Raja Louis memang tidak salah memilih calon Ratunya!" Sambar seorang pria lain yang langsung memuji akan kekagumannya kepada Serah.
Berbeda dari orang-orang sekitar, Esmerus tampak tidak suka, pun Helena yang langsung merasa kesal karena kini perhatian tertuju pada Serah.
"Apa hebatnya? Dia hanya berbicara dengan Raja Duncan. Pasti dengan cara merayunya, dasar wanita penggoda!"
Helena menggeram dalam hati. Tak terima kalau semua orang memuji Serah, apalagi dianggap sebagai calon Ratu yang pantas. Menurutnya yang pantas menjadi Ratu dan pasangan Louis hanya dirinya seorang, Helena Esmerus dan Serah lebih pantas menjadi pelayannya saja.
Tapi hal berbeda dipikirkan oleh Louis. Alih-alih terkesan atau meremehkan, lelaki itu justru merasa curiga.
"Bagaimana caranya dia melakukan pembicaraan pada Grenseal?? Apa telah terjadi kesepakatan antara mereka di belakangku?"
Louis kini membayangkan sebuah papan catur di mana ia melihat Serah berdiri di seberangnya dan sosok Grenseal yang tiba-tiba muncul di depan wanita itu sebagai pelindung.
Gambaran itu langsung membuat Louis cemas dan tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya sedikit.
Di sisi lain Serah mendapati perubahan sikap Louis yang menjadi tak tenang. Sekilas ia melirik pria itu.
"Louis..., apa dia mulai curiga...?"
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib