NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Tamat
Popularitas:61.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6.

Ia menatap wajah Bu Wiwid agak takut takut. “Boleh Bu.” Ucapnya lirih.. sambil mengangguk sopan.

“Apa kamu sedang mencari pekerjaan?” tanya Widowati hati hati dan sopan. Ia tahu Aurely mungkin sedang mencari pekerjaan, karena cerita pegawainya yang melihat Aurely angkat angkat barang di kios bahan bahan makanan milik Bu Ridwan.

Namun pertanyaan yang sederhana itu. Menghantam tepat di dada Aurely.

Ia terdiam lama... berpikir pikir... “Saya…” suaranya nyaris tidak keluar. “Saya belum pernah kerja sebelumnya.”

Bu Wiwid mengangguk pelan. “Tidak apa-apa.”

“Saya baru kemarin ikut Ayah.. bantu angkat angkat yang saya bisa... hanya yang ringan ringan saja..” Ucap lirih Aurely sambil menunduk..

Rizky yang masih berdiri melayani pelanggan sejenak menoleh, sedikit terkejut.

Bu Wiwid melanjutkan, nadanya tenang, tanpa tekanan. “Di sini kami butuh orang. Bukan yang paling pintar. Tapi yang mau belajar dan bertanggung jawab.”

Aurely mengangkat wajahnya. “Bu… tapi saya tidak bisa masak.. paling hanya bisa buat kue agar dan telur goreng atau rebus...” ucap Aurely jujur.

Rizky tersenyum.. Elin dan Elang tertawa lebar.. bukan mengejek tapi merasa senang ada temannya.. “Sama Mbak..” ucap Elin dan Elang hampir bersamaan. “Aku juga.. tapi aku juga bisa membuat jasuke sekarang..” ucap Elang dengan sorot mata berbinar.

Bu Wiwid tersenyum. “Bisa belajar.. dan di sini ada banyak pekerjaan selain masak.”

“Saya juga tidak terbiasa bangun pagi.” Ucap Aurely pipi putihnya langsung semburat merah.. Malu..

“Bisa dibiasakan.” Ucap Bu Wiwid tersenyum memahami bukan senyum menghakimi.

Aurely tertawa kecil, gugup. “Saya… orangnya gengsian.” Ucapnya kedua telapak tangannya saling menggenggam.. dingin.. dan gemetar ..

Bu Wiwid tertawa lebih lepas. “Itu juga bisa dilatih.”

Hening sejenak.

“Kamu tidak perlu jawab sekarang,” lanjut Bu Wiwid “Pikirkan saja. Kalau mau coba, mulai dari hal kecil dulu. Bantu lipat tisu, bungkus makanan, masukin kue ke kotak, catat pesanan, atau jaga etalase.”

Elin menyela dengan mata berbinar. “Mbak Aurely kerja di sini aja! Nanti aku ajarin!”

Elang mengangguk mantap. “Iya, biar Mbaknya nggak galak lagi.”

Aurely tertawa kecil.. untuk pertama kalinya sejak berita kebangkrutan Ayahnya.. tawa Aurely terasa ringan.

Ia menatap Bu Wiwid. “Kalau… kalau saya gagal?”

Bu Wiwid menatapnya lurus. “Gagal itu wajar. Yang tidak wajar itu menyerah sebelum mencoba.”

Kalimat itu mengingatkannya pada Ayahnya.

Aurely menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih takut, tapi ada sesuatu yang hangat tumbuh di sana.

“Saya… mau coba, Bu.”

Bu Wiwid tersenyum, senyum seorang ibu yang tahu kapan harus memberi kesempatan.

“Baik. Mulai besok. Setengah hari dulu tidak apa apa.” Ucap Widowati sambil tersenyum.

Aurely mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih Bu… sudah tidak melihat saya dari masa lalu saya..” suara lirih Aurely.. kedua mata kembali berkaca kaca, “dan Ibu memberi pekerjaan pada saya padahal saya kemarin melakukan hal tidak sopan pada anak anak Ibu.”

Bu Wiwid menepuk punggung tangannya pelan.

“Setiap orang punya masa lalu. Tapi tidak semua berani membangun masa depan.”

Air mata Aurely tidak terasa jatuh satu per satu.. “Bu, kalau hari ini saya belajar dulu bagaimana?” suara lirih Aurely.

Bu Wiwid menatap Aurely, “Silakan, tempat kami terbuka untuk orang yang mau belajar..” jawab Bu Wiwid dengan senyum tulus..

Di sudut pasar desa itu, tanpa gaun mahal, tanpa sorot kagum, tanpa status sosial. Aurely menerima sesuatu yang jauh lebih berharga: Kesempatan untuk menjadi manusia yang utuh... Dan ia tahu… hidupnya baru saja benar-benar dimulai

Aurely diajak masuk ke dalam kios besar itu.. melewati koridor pemisah rumah makan dan toko roti..

Di belakang ruang untuk show room, ada ruang yang luas.. di dalamnya beberapa karyawan sibuk bekerja. Ada yang memotong motong kue.. ada yang membungkus.. ada yang memasukkan ke dalam kardus.

Aurely melangkah pelan, seolah takut lantainya akan berbunyi terlalu keras. Aroma keju, coklat, strowbery dan roti hangat menyatu di udara.. asing baginya, tapi entah kenapa menenangkan.

“Ini ruang untuk mengemas,” jelas Bu Wiwid sambil berjalan di depan. “Tidak mewah, tapi jujur. Semua kerja pakai tangan dan hati.”

Beberapa karyawan menoleh. Ada yang tersenyum ramah, ada yang hanya mengangguk singkat sambil tetap bekerja.

“Pagi, Bu,” sapa seorang perempuan paruh baya sambil membawa satu nampan kroket dari dapur belakang.

“Pagi, Bu Lastri... Ini Mbak Aurely. Mulai belajar hari ini,” jawab Bu Wiwid santai.

Bu Lastri tersenyum lebar. “Oh… yang kemarin bantu angkat di kios Bu Ridwan ya?”

Aurely terkejut. “I… iya, Bu..” Pipinya kembali memerah.

“Bagus. Orang yang mau pegang barang berat biasanya hatinya juga kuat,” kata Bu Lastri ringan.

Aurely tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum kecil.. senyum canggung, tapi tulus.

Bu Wiwid berhenti di sebuah meja panjang. Di atasnya, tumpukan kertas kotak kue polos tersusun rapi.

“Kita mulai dari sini,” katanya. “Lipat kotak. Tidak sulit, tapi butuh rapi dan sabar.”

Aurely mengangguk cepat. “Baik, Bu.”

Tangannya agak kaku saat mengambil karton pertama. Jari-jarinya yang biasanya hanya memegang ponsel mahal dan tas bermerk kini berusaha menekuk garis lipatan yang keras.

Krak.

Salah lipat.

Aurely membeku. “Bu… ini....”

“Tidak apa-apa,” potong Bu Wiwid lembut. “Yang rusak, untuk belajar. Yang rapi, kita pakai.”

Aurely menelan ludah. Ia mengangguk, lalu mencoba lagi. Pelan. Hati-hati.

Di lipatan ketiga, tangannya gemetar. Keringat dingin muncul di telapak tangannya.. aneh, padahal pekerjaannya sederhana. Tapi baginya, ini bukan soal kotak.

Ini tentang harga diri. Tentang jatuh. Tentang berdiri lagi tanpa perlindungan nama besar.

“Elin!” panggil Bu Wiwid. “Tolong temani Mbak Aurely ya.”

Elin datang dengan celemek belepotan cokelat. “Siap, Bos!”

Ia mendekat dan mencontohkan satu lipatan. “Gini Mbak… ditekan di sini, jangan terlalu kuat.”

Aurely memperhatikan sungguh-sungguh. “Oh… begitu,” gumamnya.

Kotak kedua jadi lebih rapi. Kotak ketiga.. lebih baik. Kotak keempat.. hampir sempurna.

Elin bersiul kecil. “Cepat juga belajarnya.”

Aurely tersenyum, kali ini lebih berani. “Terima kasih.”

Waktu berjalan tanpa ia sadari. Suara kardus, tawa kecil karyawan, dan aroma kue kue membuat pikirannya perlahan tenang. Di kepalanya tidak dipenuhi rasa takut akan masa depan.

Saat istirahat tiba, Bu Wiwid menghampiri lagi.

“Capek?” tanyanya.

Aurely menggeleng, lalu tersenyum malu. “Capek… tapi rasanya beda, Bu.”

“Beda bagaimana?”

“Capeknya… jujur.” Aurely menunduk, lalu menambahkan lirih, “Dan saya… merasa berguna.”

Bu Wiwid terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat. “Perasaan itu yang paling mahal, Aurely. Jaga baik-baik.”

Aurely mengangguk. Di dadanya, sesuatu yang lama mati kini perlahan hidup kembali. Bukan kesombongan, bukan status, melainkan keberanian kecil untuk tetap melangkah.

Di balik tumpukan kotak kue sederhana itu, Aurely tidak sedang belajar bekerja. Ia sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Akan tetapi tiba tiba keheningan hatI Aurely dipecahkan oleh suara seorang laki laki.. yang berdiri di pintu ruang packing..

“Mbak Aurely ada yang mencari.” Suara pelan Rizky.. namun membuat jantung Aurely berdetak lebih keras..

“Siapa?” tanya Aurely sambil menatap Rizky..

1
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
slmt mbk yu sudah smpe tamat

pokok nya ttp smgt tab
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wadihnselalu saja gagal
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wow ini namanya beneran laki2 sejati bukan mengadalkan hartaborg tua
Siti Naimah
keren banget ceritanya Aurel sama Rizky...ditunggu karya selanjutnya kakak author 👍🙏😍
Arias Binerkah: Terimakasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Neng Saripah
ini ada season 2 nya ga thor kisah rizky sama istrinya ?
Arias Binerkah: Kak, ada novel baru Judul Benih Satu Milyar, yukkk baca yukkk 🙏🙏🙏🙏🙏♥️♥️♥️♥️🥰🥰🥰🥰
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
akhirnya happy ending 😘
balik horor ceu othor 👻👻👻🥳🥳
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh ya
total 9 replies
Nancy Nurwezia
uda ending ternyata... perasaan baru aja.. pasti kangen sama 3 bocah imut itu..
Arias Binerkah: Terimakasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus ceritanya, ga bertele-tele
Arias Binerkah: Terima kasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Lisa
Wah udh ending nih..g terasa y..terimakasih y Kak Author utk ceritanya yg bagus banget 😊👍 Tetap semangat y Kak utk karya² selanjutnya..
Lisa: oke Kak..aq baca ya
total 3 replies
Neng Saripah
waduh...jangan2 tim keamanan pada heboh 🤭
Siti Naimah
yaah...seharusnya hp dimatikan sementara...biar mendapat ketenangan🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
paling juga bocil tu lagi pada nyariin 🤣🤣
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: tp wis merdeka buu
total 11 replies
Lisa
Wah Rizky udh menyiapkan rmh nih..bahagia selalu y utk kalian..
Siti Naimah
betul 2 surprise Rizky mempersiapkan rumah sendiri... tanpa memberi tau Aurel sebelumnya.bener2 co cwet deh Rizky 🤭😍
Arias Binerkah: Kak, ada novel baru Judul Benih Satu Milyar , yukkk baca yukkk 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰♥️♥️♥️♥️
total 19 replies
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ehhh riski dah beli rumah kan ya

ahahhaha siap2 ja lah uarel.. hayooo
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ayo knp dlu mbk yun🤔🤔🤔
total 3 replies
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
hahahah kenpa berhnti hayookk

ada pa gerangan buuu 🤣🤣🤣
Siti Naimah
Rizky ternyata sudah menyiapkan rumah sendiri... Kereen banget deh👍😍
Lisa
Setelah 3 bocil pulg..Rizky & Aurely lebih tenang 😊
Ai Emy Ningrum
keren mbul...hidup emang jgn bnyak drama,banyakin derma,dan semakin menyalaaaaa 🙋🏻‍♀️🔥🔥🔥🔥🔥
maem..maem...👶🏻👶🏻👶🏻
Arias Binerkah: Dek embul; He eh.. bis bis.. nyang.. bo bok 👶👶👶😴
total 8 replies
Siti Naimah
nasihat buat Nurul..makanya jangan hanya iri dengki dan kepengen mencelakai orang lain saja.. upgrade diri supaya berakhlak mulia .. meningkatkan ketrampilan..rajin ibadah biar memperoleh kehidupan yg lebih baik .. seperti Aurel gitu😄👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!