Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Mulai Ada Rasa
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kamar besar menyinari wajah Maya dengan cahaya keemasan. Ia tampak begitu tenang, duduk di tepi ranjang sambil menikmati waktu berkualitasnya bersama Leon.
“Uluh uluh… anak siapa ini? Gemas banget lihatnya,” gurau Maya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit gemas lengan Leon yang berlipat-lipat seperti roti sobek. Leon, meskipun mulutnya masih sibuk menyusu, memberikan reaksi dengan senyum kecil dan tendangan kaki mungilnya yang lincah.
Di ambang pintu, Arkan berdiri mematung. Ia awalnya hanya ingin memastikan apakah Maya sudah bangun, namun pemandangan itu menahannya untuk tetap diam. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya melihat bagaimana Maya mencintai putranya. Namun, karena tidak sadar bahwa Maya sedang tidak mengenakan kain penutup, Arkan melangkah masuk dengan santai.
“May, kamu li—”
Kalimat itu terputus di udara. Langkah Arkan terhenti tepat di samping Maya. Karena posisi Maya yang sedang duduk santai menghadap jendela, Arkan mendapatkan sudut pandang yang sangat jelas. Pada saat yang sama, Leon seolah merasakan kehadiran ayahnya, bayi itu melepaskan isapannya dan menoleh sambil merentangkan tangan kecilnya, seolah ingin menyambut Arkan.
Akibat gerakan mendadak Leon, air susu Maya menetes jatuh, berkilauan terkena cahaya matahari. Maya mematung, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat menyadari Arkan berdiri tepat di sisinya tanpa penghalang apa pun.
Arkan spontan berbalik badan dengan sangat cepat. Wajahnya seketika terasa panas, darahnya berdesir hebat hingga ia merasa gerah meski pendingin ruangan sedang menyala. “Maaf! Sungguh aku tidak bermaksud, May. Aku…aku pikir kamu sudah selesai.”
Maya dengan gerakan super cepat mengancingkan baju bagian atasnya. Jemarinya gemetar hebat, dan rona merah di pipinya kini sudah menjalar hingga ke leher dan telinga. Suasana di kamar itu mendadak sangat canggung namun penuh dengan percikan emosi yang tak kasatmata.
“A-ada apa, Kak?” tanya Maya dengan suara yang hampir menghilang karena gugup.
Suasana canggung itu perlahan mencair, digantikan oleh rencana manis yang membuat jantung Maya berdebar dengan cara yang berbeda. Arkan, meski masih membelakangi Maya untuk menetralkan gejolak di dadanya, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang.
“Aku ingin mengajak kamu dan Leon pergi ke kebun binatang setelah sarapan nanti. Dan nanti malam, setelah aku pulang dari pertemuan penting, aku ingin mengajak kamu pergi menonton,” ucap Arkan. Bayangan kulit Maya yang bersih masih terpatri di benaknya, membuat jakunnya naik turun saat menelan saliva.
Maya yang sudah mencoba bersikap dewasa atas kekhilafan tadi, menjawab dengan binar mata ceria. “Iya, aku mau, Kak!”
“Kalau begitu, pakai baju yang kita beli semalam. Dan Leon…biar aku yang mengurusnya,” tambah Arkan.
Maya segera bergerak sigap. Ia meletakkan Leon dengan sangat lembut di dalam box tidurnya, lalu mulai sibuk menyiapkan tas bayi. Arkan menarik napas dalam-dalam, mengusir sisa-sisa kegugupan, lalu berbalik mendekati ranjang putranya.
“Leon, kita turun ke bawah dulu ya. Biar…” Arkan menggantung kalimatnya sejenak. Ia mencari sebutan yang tepat, sebutan yang bukan sekadar pengasuh atau ibu susu. “Biar Ibu Maya menyusun pakaian kamu.”
Mendengar kata “Ibu” keluar dari bibir Arkan, tangan Maya yang sedang menggenggam botol minyak telon seketika mengerat. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya. Bagi seorang gadis yang pernah dibuang dan dijual oleh ibu tirinya sendiri, sebuatan itu adalah bentuk kehormatan tertinggi yang pernah ia terima.
“May, kebutuhan Leon sudah siap?” tanya Arkan yang kini sudah menggendong Leon dengan satu tangan yang kokoh.
“Sudah Kak,” sahut Maya, menunjukkan tas kecil yang sudah terisi rapi.
“Aku ke bawah duluan, kau bersiaplah.”
“Iya, Kak.”
Maya berdiri mematung di tengah kamar, matanya tidak lepas dari punggung lebar Arkan yang berjalan menjauh. Di dalam hatinya, Maya berbisik pada dirinya sendiri. Arkan adalah sosok pria dewasa yang selama ini ia cari dalam doanya, seorang pelindung yang memberikan kasih sayang tulus tanpa menuntut tubuhnya sebagai bayaran.
*****
Ruang tamu yang tenang itu mendadak terasa begitu emosional. Arkan, yang sedang duduk di sofa sambil sesekali membenarkan posisi Leon di gendongan Bu Marni, merasa waktu seolah melambat ketika Maya muncul.
Langkah kaki Maya yang halus terdengar berirama, mendekat dengan malu-malu. Ia mengenakan baju yang mereka beli semalam, sebuah pilihan yang sederhana namun sangat pas di tubuhnya, memancarkan aura kesempurnaan yang jarang ditemukan.
“Aduh, Leon…kamu lihat, Ibu Maya sangat manis dan imut sekali pagi ini,” puji Bu Marni. Leon yang seolah mengerti ucapan itu, membalas dengan tawa lebar yang menggemaskan, memperlihatkan gusi merah mudanya yang bersih.
Namun, di mata Arkan, dunia seakan bergeser. Pandangannya mengabur sejenak. Ia melihat arwah Lily, mendiang istrinya, sedang berdiri tepat di belakang Maya. Lily tampak begitu bercahaya, kedua tangannya diletakkan di atas bahu Maya seolah sedang memperkenalkan sosok itu kepada Arkan. Untuk kedua kalinya sejak kepergian Lily, Arkan melihat arwah istrinya tersenyum sangat lebar, sebuah senyum yang penuh dengan keikhlasan dan restu.
Begitu langkah kaki Maya semakin dekat, arwah Lily perlahan melepaskan pegangannya. Ia berlari kecil melewati Arkan menuju ambang pintu utama di mana cahaya matahari pagi bersinar terang. Di sana, Lily sempat terhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, memberikan senyum manis terakhirnya dan melambaikan tangan kanannya perlahan, sebelum akhirnya sosoknya memudar dan menyatu dengan cahaya matahari.
Arkan terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
“Kak Arkan? Kenapa? Apa bajunya tidak cocok untukku?” tanya Maya cemas, menyadari tatapan Arkan yang begitu dalam dan kosong ke arah pintu.
Arkan mengerjapkan mata, kembali ke dunianya sekarang. Ia menatap Maya, lalu beralih ke Leon. Ia merasa seolah Lily baru saja berbisik kepadanya bahwa kini ia bisa tenang karena telah ada seseorang yang menjaga suami dan anaknya.
“Tidak, May. Kamu sangat cantik,” ucap Arkan dengan suara yang sedikit bergetar. Ia mengambil alih Leon dari gendongan Bu Marni.
Pemandangan di depan pintu rumah itu terasa begitu harmonis, seolah-olah hidup Arkan telah kembali ke tempatnya.
Mendengar pujian spontan Arkan, Bu Marni tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Beliau tersenyum-senyum sendiri sambil mengangguk kecil, sementara Maya tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang kini sudah membakar habis pipinya.
“Ayo, May, kita berangkat,” ajak Arkan lembut.
Kali ini, Arkan tidak hanya menunggu. Ia mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arah Maya. Tatapan matanya begitu dalam, seolah menyakinkan gadis itu bahwa ia tidak perlu takut lagi pada dunia luar. Dengan gerakan ragu dan jantung yang berdebar kencang, Maya perlahan meletakkan jemari mungilnya di atas telapak tangan Arkan.
Begitu jari mereka bertautan, Arkan menggenggamnya dengan erat namun penuh kelembutan.
Bu Marni yang berjalan mengekor di belakang sambil menjinjing tas perlengkapan bayi hanya bisa membatin penuh syukur. “Neng Lily pasti tenang di sana. Pak Dokter sudah menemukan tempat untuk melabuhkan hatinya lagi,” pikirnya haru.
Mereka bertiga melangkah menuju mobil. Arkan di tengah, memimpin jalan dengan satu tangan menggendong Leon yang tampak ceria, dan satu tangan lainnya menggandeng Maya yang berjalan dengan langkah kecil di sisinya. Bagi siapa pun yang melihat mereka saat ini, tidak akan ada yang mengira bahwa mereka belum menikah.
...❌ Bersambung ❌...