NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Pe*lacur Kecil

Arkan dan Maya beristirahat di restoran, mereka baru saja menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling mall. Di bagasi mobil sudah tertumpuk tas-tas belanjaan berisi pakaian bermerek dan kosmetik kelas atas yang dipilihkan langsung oleh Arkan. Tak lupa beberapa kebutuhan milik putranya, Leon.

Maya sesekali melirik Arkan yang tampak tenang mengamati layar ponselnya. Di depannya tersajii Grilled Salmon dengan saus Lemon Butter dan segelas Iced Lychee Tea.

“Kak Arkan sangat manis tadi, dia seperti ibu-ibu yang cerewet memilihkan baju yang pantas untukku,” batin Maya dengan wajah bersemu merah.

Namun, kehangatan itu sirna seketika saat sebuah bayangan berdiri di samping meja mereka.

“Hai, pela*cur kecil,” sapa seorang wanita yang sangat familiar.

Maya terdiam. Suara itu adalah mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap kali ia menutup mata. Perlahan, ia menoleh dan mendapati Shiti, ibu tirinya, berdiri dengan pakaian yang terlalu mencolok dan riasan tebal yang tampak murahan di tempat semewah ini.

Arkan tidak tinggal diam. Ia segera berdiri, memposisikan tubuh tegapnya di antara Maya dan Shiti. “Maaf, perkataan Anda sangat tidak sopan kepada adik saya,” ucap Arkan dengan penuh penekanan.

Shiti tertawa geli, suara tawanya memicu perhatian beberapa pengunjung lain. “Hahaha! Apa? Adik? Pela*cur kecil ini kamu bilang adik?” Shiti mendorong bahu Maya pelan, membuat gadis itu gemetar. “Wah, tidak sia-sia aku mengajarkanmu bertahan hidup. Ternyata targetmu cukup besar juga ya, May?”

Maya tidak menjawab. Ia menunduk dalam, air matanya menetes membasahi gaun sutra pemberian Arkan. Kenangan saat ia “diju*al” untuk biaya rumah sakit ayahnya kembali menghantam batinnya.

“Kenapa perkataan Anda dari tadi sangat tidak pantas?” desis Arkan, matanya berkilat marah melihat Maya hancur di depannya.

Shiti melipat tangan di bawah dadanya. “Kamu tidak tahu siapa gadis ini? Dia adalah anak tiriku, dan gadis ini adalan mantan seorang pela*acur!” teriak Shiti sambil menunjuk wajah Maya dengan telunjuknya yang dihiasi kuteks merah.

Melihat Maya yang sudah hampir tersedak oleh isak tangisnya sendiri, Arkan melangkah maju. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Shiti, membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu ketakutan.

“Pilih pergi, atau ku ro*bek mulutmu? Waktu yang aku berikan hanya 5 detik."

Wajah Shiti yang tadinya penuh kemenangan mendadak pucat pasi. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan lari terburu-buru meninggalkan restoran, bahkan tasnya sempat tersangkut kursi.

Suasana restoran yang mewah itu seolah hening. Arkan tidak peduli lagi pada tatapan menghakimi dari pengunjung lain atau bisik-bisik yang mulai menjalar.

Arkan segera berjongkok di samping Maya. “May…Maya, lihat aku,” panggilnya lembut, mencoba menyadarkan gadis itu.

Namun, saat Maya mengangkat sedikit wajahnya, jantung Arkan serasa diremas. Tatapan Maya kosong, seolah jiwanya telah pergi meninggalkan raganya. Tidak ada isak tangis yang terdengar, hanya aliran air mata yang sangat deras membasahi pipi pucatnya. Bibirnya bergetar hebat, mencoba mengeluarkan suara namun hanya udara dingin yang lolos.

“Si*al!” umpat Arkan tertahan. Ia tahu persis ini adalah serangan panik akibat trauma mendalam (post-traumatic stress disorder). Kata-kata Shiti tadi telah membangkitkan kembali luka masa lalu yang belum mengering.

Tanpa membuang waktu, Arkan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya, meletakkannya begitu saja di atas meja tanpa menunggu kembalian. Makanan mahal yang masih mengepul itu ia tinggalkan begitu saja.

Arkan segera menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Maya. Ia mengangkat tubuh gadis itu dengan gerakan mantap dan membawanya keluar dari restoran. Maya tetap diam, tangannya terkulai lemas, kepalanya bersandar di dada Arkan namun matanya tetap menatap hampa ke arah kegelapan.

Sesampainya di tempat parkir, Arkan mendudukkan Maya di kursi penumpang depan mobil Pajero miliknya.

“Tunggu sebentar, May. Kita pulang,” bisik Arkan pelan.

Begitu ia duduk di kursi pengemudi, Arkan tidak langsung menjalankan mobil. Ia meraih tangan Maya yang sangat dingin dan menggenggamnya erat.

“Dengarkan aku, Maya. Apa yang dikatakan wanita itu… itu bohong. Kamu bukan apa yang dia katakan. Kamu adalah Maya yang menyelamatkan anakku, Maya yang tulus. Jangan biarkan sampah seperti dia menghancurkanmu lagi.”

Maya masih belum merespons, namun napasnya mulai tersengal-sengal. Arkan segera meraih botol air mineral, membukanya, dan mencoba meminumkannya sedikit demi sedikit ke bibir Maya yang pucat.

***

Dalam trauma yang memuncak, Maya kembali menjadi gadis remaja berseragam sekolah yang baru saja menginjakkan kaki di rumah. Harusnya rumah adalah tempat paling aman, namun Shiti telah mengubahnya menjadi pelelangan tak manusiawi.

Melihat pintu rumah terbuka lebar dan rumah yang sangat sepi. Maya berulang kali memanggil nama “Bu Shiti”, namun tidak mendapatkan jawaban. Mendengar ada suara dari kamarnya, Maya mencoba mencaritahu suara apa itu. Begitu tirai pintu tersingkap, Maya mendapati seseorang telah tidur di atas ranjang tilam miliknya yang keras.

“Si-siapa kamu?” suara Maya bergetar hebat melihat pria muda memakai kaca mata hitam dan masker hitam berbau alkohol di dalam kamarnya.

Dari balik kaca mata, pria itu menatapnya dengan pandangan lapar yang menjijikkan. “Barang ini benar-benar orisinal, sesuai dengan perkataan Shiti,” desisnya.

Pria itu beranjak turun, berjalan mendekati Maya, mencoba mencolek wajah Maya. Maya mencoba menepis tangan lembut dan bau pria itu. Namun, pria itu malah mengeratkan genggamannya di dagu Maya.

“Ibu…Ibu Shiti, tolong!” teriak Maya dengan pupil matanya berusaha melirik ke belakang.

Braak! Bukannya pertolongan yang ia dapatkan. Shiti malah menutup pintu kamar itu dengan senyuman serigala betina.

Maya mencoba melawan. Ia menginjak kaki pria berkacamata hitam dan masker hitam itu dan berhasil mencapai pintu, namun rambut panjangnya dijam*bak hingga ia terjerembap ke lantai. Tamp*aran kerasa mendarat bertubi-tubi di wajah mungilnya, membuat pandangannya kabur dan tubuhnya lemas tak berdaya.

Di atas lantai yang dingin, tanpa sehelai benang pun, kesuciannya dirampas paksa di tengah isak tangis yang tertahan karena mulutnya disu*mpal dengan paka*ian dalamnya sendiri.

Setiap kali ia mencoba melawan di hari-hari berikutnya, Shiti akan berdiri di depan pintu kamar ayahnya sambil membawa piring kosong. “Kalau kau kabur, ayahmu tidak akan makan. Kalau kau tidak melayani mereka, aku tidak akan membelikan obat untuknya,” ancam Siti dengan wajah tanpa dosa.

****

“TIDAK! JANGAN!”

Maya tiba-tiba berteriak histeris di dalam mobil, tangannya mencakar-cakar udara seolah sedang mencoba menjauhkan bayangan pria berkacamata hitam dan masker hitam itu. Napasnya pendek-pendek, matanya membelalak ketakutan hingga pupilnya mengecil.

“Maya! Ini aku, Arkan! Tidak ada siapa pun di sini! Kamu aman!” teriak Arkan mencoba menembus kabut trauma yang menutup kesadaran Maya.

Arkan memeluknya sangat erat, membiarkan Maya memukul-mukul dadanya atau mencengkeram kemejanya. Ia merasakan air mata panas Maya merembes masuk ke kulit dadanya. Arkan memejamkan mata, giginya gemelatuk menahan amarah yang luar biasa hebat kepada Shiti dan semua pria yang pernah menyentuh Maya.

“Aku akan mem*bunuh mereka semua, May. Aku bersumpah akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya,” bisik Arkan dengan suara rendah yang terdengar seperti janji iblis.

Janji Arkan perlahan-lahan meruntuhkan tembok trauma yang membentengi pikiran Maya, menggantikannya dengan rasa aman yang selama ini hanya menjadi angan-angan.

Maya memeluk erat tubuh Arkan, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan kembali terlempar ke neraka masa lalunya. “Aku takut, Kak. Aku nggak mau bertemu wanita itu lagi. Tolong, jangan biarkan dia membawaku,” pinta Maya dengan suara serak, tangannya menyatu memohon dengan sangat memilukan.

Arkan menggenggam kedua tangan kecil itu, menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya. “May, aku janji tidak akan melepaskanmu. Kau akan tetap tinggal di rumahku, sampai ada pria yang tepat datang menikahimu.”

Mendengar kata “menikah”, tubuh Maya kembali menegang. Ingatan tentang pernikahan sirinya dengan Rian yang tak lebih dari perbudakan dan siksaan kembali muncul. “Kak, aku mohon jangan paksa aku menikah dengan siapa pun! Aku tidak ingin ke mana-mana, aku hanya ingin tinggal bersama Kakak. Tolong!”

Hati Arkan mencelos. Ia tidak sanggup lagi berdebat atau membicarakan hal lain. Ia menarik tubuh ringkih itu ke dalam pangkuannya, membiarkan Maya berlindung di balik dadanya yang bidang.

“Jika itu yang kau minta, maka aku akan menurutinya, May,” bisik Arkan lembut.

Ia menyingkap helai rambut panjang yang menutupi wajah Maya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan sangat hati-hati. Terlihatlah wajah imut yang kini sembab, hidung yang memerah, dan bahu yang masih naik-turun karena sisa tangis.

Arkan menghidupkan mesin mobilnya. Dengan posisi Maya yang masih meringkuk di pangkuannya, bersandar nyaman pada tubuh tegap. Arkan mulai menjalankan mobil itu pelan-pelan. Ia mengemudi dengan satu tangan yang ekstra waspada, sementara tangan lainnya sesekali mengusap punggung Maya untuk menenangkannya.

Dalam dekapan hangat Arkan dan irama mesin mobil yang teratur, perlahan Maya jatuh tertidur karena kelelahan mental yang luar biasa. Sesekali, suara isak tangis kecil masih keluar dari bibirnya yang terkatup.

Arkan menatap jalanan di depannya dengan tatapan yang kini jauh lebih tajam dari biasanya. Di balik ketenangannya, ia sedang menyusun rencana. Jika Maya ingin tetap bersamanya, maka ia harus memastikan tidak ada satu pun “kerikil” dari masa lalu yang berani menyentuh pintu rumahnya lagi.

“Tidurlah, Maya,” batin Arkan. “Besok, saat kau bangun aku pastikan akan memberikan sejuta bahagia untukmu.”

***

Malam semakin larut saat Pajero hitam milik Arkan merayap masuk melintasi gerbang yang dibuka lebar oleh Pak Teddy. Pergerakan mobil yang lambat seperti kura-kura itu memicu tanda tanya besar bagi dua pria yang sudah menunggu di teras.

“Arkan sedang mabuk atau bagaimana? Kenapa menyetir seperti siput?” tanya Gavin sambil menyikut lengan Yudha.

Yudha menyipitkan mata, mencoba menembus kaca film yang sangat gelap. “Entahlah, Abangku itu memang sering melakukan hal-hal aneh sejak mengenal gadis itu.”

Sementara itu, di dalam keheningan kabin mobil, Arkan bersiap membangunkan Maya. Namun, alih-alih terbangun, genggaman tangan Maya justru mengerat pada tubuh Arkan.

“Leon, kamu sudah besar sekarang ya,” gumam Maya pelan dalam tidurnya. Ternyata, di dalam mimpi indahnya, ia sedang menimang Leon yang sudah tumbuh dewasa.

Arkan tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan gadis itu. Tanpa sadar ia mengecup puncak kepala Maya sejenak. “Tetaplah bersamaku, Maya,” bisiknya lirih sebelum memutuskan untuk keluar tanpa membangunkan “beban” manisnya itu.

Perlahan, pintu mobil terbuka. Ketiga pria di sana, Gavin, Yudha, dan Pak Teddy menahan napas. Saat kaki Arkan menapak tanah, disusul tubuhnya yang keluar sambil menggendong Maya dengan posisi yang sangat intim, Gavin dan Yudha kompak membalikkan badan dengan gerakan kaku.

“Apakah mataku salah lihat?” bisik Gavin panik.

“Tidak. Mata kita sehat wal’afiat,” sahut Yudha gemetar.

Gavin menepuk pahanya sendiri dengan gemas. “Berati sepanjang jalan tadi, Maya duduk di atas pangkuannya? Kau tahu, aku yakin dia tidak hanya mendudukkan Maya di sana. Pasti…pasti gadis kecil itu sudah di—”

PLAK!

Belum sempat Gavin menyelesaikan prasangka buruknya, ujung sepatu kulit Arkan mendarat telak di betis Gavin.

“AWWW! SAKIT!” Gavin meloncat-loncat kesakitan sambil memegangi kakinya.

Yudha melirik wajah Maya yang sembab, lalu menatap Abangnya dengan curiga. “Bang, kau…kau memaksanya untuk melakukan hal—”

Arkan kembali mengayunkan kakinya ke arah Yudha, namun Yudha yang sudah waspada segera melompat mengindar.

“O*tak kalian berdua benar-benar harus dicuci di laboratorium!” desis Arkan tajam dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Maya. “Daripada kalian menerka-nerka tidak jelas di sini, lebih baik kalian ambil semua belanjaan Maya di bagasi. Dan ingat, di kursi belakang juga ada!”

Tanpa menunggu balasan, Arkan melangkah masuk ke dalam rumah sambil mendekap erat tubuh Maya. Gavin dan Yudha yang biasanya garang, kini justru terlihat seperti kuli panggul yang lari terbirit-birit menuruti perintah Arkan, sementara Pak Teddy hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol mereka dari kejauhan.

...❌ Bersambung ❌...

1
~~N..M~~~
Benar, cuci aja pakai pemutih😂😂🤣🤣
~~N..M~~~
enggak, sudah bener itu🤣
~~N..M~~~
Pingin ku tampar itu mulut si Shiti
~~N..M~~~
Bagus. walaupun berat, kau harus menentukan masa depanmu sendiri, Ar
~~N..M~~~
Bener-bener merinding plus campur haru. Akhirnya alm. Lily membuka jalan baru untuk arkan
~~N..M~~~
Iih, merinding aku bacanya.
Manyo
memang bia*dab ibu tirinya. dan yang lebih bi*adab para pria, tapi bukan aku.
Manyo
sih paling fiktor 🤣
Manyo
Miris kali kurasa masa lalunya
Lisa
Arkan udh lega nih karena alm.Lily udh memberi restu supaya dia membuka hati utk wanita lain
Chici👑👑
Vote melayang untuk mu kak
sari. trg: terima kasih kak/Smile/
total 1 replies
~~N..M~~~
Bibinya kayak makcomblang
~~N..M~~~
Jadi gak sabar gebrakan apa yang akan dibut arkan
Lisa
Bersyukur ibu & baby nya selamat..dokter Arkan benar2 dokter yg handal 👍
~~N..M~~~: Bener, kak. Serumit apa pun masalahnya, dia tetap profesinya.
total 1 replies
Sunaryati
Kejam amat Arkan
~~N..M~~~
Zavier lembutnya hanya pada Maya, dan korban lainnya.
~~N..M~~~
Waktu tidak sadar kau bilang tangguh. Enggak teciummu lagi laki laki yang gak mandi berhari-hari itu
Manyo
Hahahaha, belum gosok gigi kali
Manyo
tegas👍
Manyo
banyak bacot mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!