Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Melati berdiri beberapa detik di lorong, pintu kamar mereka, ditutup benar-benar tertutup, jantungnya mendadak tidak mau diajak kompromi, kali ini benar-benar dag dig dug tidak karuan.
“Enggak salah lihat kan tadi…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Biasanya, setelah memastikan anak-anak tidur, Cokro akan masuk ke ruang kerja. Selalu. Itu sudah seperti garis tak kasat mata yang mereka buat sejak awal pernikahan.
Tapi malam ini, Cokro benar-benar masuk ke dalam kamar, dan Melati masih sulit untuk mencerna semua itu, ia menelan ludah. Tangannya refleks merapikan ujung bajunya sendiri, padahal tidak ada yang berantakan.
“Apa perlu masuk sekarang? Atau… nanti saja?” gumamnya lagi.
Namun jika ia terlalu lama berdiri di lorong, justru terlihat aneh. Dengan langkah pelan, ia mendekat. Tangannya menyentuh gagang pintu.
Tarik napas pelan, lalu buka. Pintu terbuka perlahan. Cokro berdiri di dekat lemari, membelakanginya. Kemejanya sudah terbuka satu kancing di bagian atas. Tangannya seperti sedang mencari sesuatu… atau mungkin hanya pura-pura sibuk.
Melati berhenti di ambang pintu.
“Mas…”
Cokro sedikit menoleh. Hanya sedikit. Seolah takut kalau menoleh penuh, sesuatu di wajahnya akan terbaca jelas.
“Iya.”
Sunyi, tidak ada yang benar-benar perlu dibicarakan. Tapi udara di dalam kamar terasa berbeda. Melati melangkah masuk. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
“Mas… biasanya ke ruang kerja,” ucapnya hati-hati.
“Iya,” jawab Cokro singkat.
Lalu sunyi lagi. Melati berjalan ke sisi ranjangnya sendiri, duduk perlahan. Jarak mereka masih aman. Masih wajar.
Tapi rasanya terlalu dekat.
Cokro akhirnya duduk di tepi ranjang sisi lain. Punggungnya tegak, Sementara Melati mencuri pandang, dan pria itu terlihat gugup saat tatapannya mulai bertemu dengan Melati.
Itu baru pertama kali ia melihatnya setegang ini bukan karena pekerjaan, tapi karena sesuatu yang selama ini tertahan di dalam sama.
“Mas lagi kepikiran Rani?” tanya Melati pelan.
Cokro terdiam beberapa detik.
“Bukan,” jawabnya.
Jawaban itu terlalu cepat untuk disebut biasa, lali Melati menunduk, meremas ujung selimut.
“Kalau soal tadi… saya nggak apa-apa.”
“Aku tahu,” potong Cokro.
Nada suaranya rendah. Lebih dalam dari biasanya. Ia menghela napas, mencoba untuk menanting ucapannya.
“Aku cuma… nggak mau kamu merasa posisimu terganggu," kata Cokro.
Kalimat itu jatuh menggantung, suasana yang tadi tegang nampak sedikit berkurang, Melati akhirnya menoleh, mencoba memberanikan diri bertanya.
“Posisi saya?”
Cokro akhirnya balik menatapnya penuh, tatapan yang selama ini ia tahan, dan untuk malam ini ia berani jujur mengungkapkan isi hatinya kepada Melati.
“Kamu istriku.”
Deg!
Kata itu keluar tanpa sengaja, nyaris seperti hembusan napas yang lolos tanpa izin. Melati membeku. Udara seperti berhenti bergerak di antara mereka.
Cokro sendiri baru sadar apa yang ia ucapkan, rahangnya mengeras sebentar sebelum ia berdeham pelan, mencoba memperbaiki keadaan yang justru makin terasa nyata.
“Maksudku… ya memang kamu istriku.”
Alih-alih memperjelas, kalimat itu terdengar semakin tegas. Pipi Melati memanas, tangannya semakin erat mencengkeram selimut di pangkuannya, seolah kain tipis itu satu-satunya penopang agar ia tidak terlihat gemetar.
“Mas… saya tahu,” jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa, meski jantungnya berdetak tidak wajar.
Sunyi kembali menyergap, tapi bukan sunyi yang menyesakkan. Lebih seperti dua orang yang sama-sama menahan sesuatu yang sudah lama ingin keluar namun masih terikat gengsi.
Cokro berdiri mendadak lalu melangkah mendekat, hanya satu langkah, tapi cukup membuat jarak mereka tinggal sejengkal. Melati refleks menahan napas. Wangi maskulin Cokro bercampur samar dengan sabun yang masih tertinggal di rambutnya, membuat suasana terasa makin sempit dan hangat.
“Aku memang gengsi,” ucap Cokro tiba-tiba, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Melati mendongak cepat, terkejut oleh kejujuran yang jarang ia dengar.
“Aku takut salah langkah. Takut kamu mengira aku cuma butuh pengganti.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi berat.
“Tapi tadi waktu dengar kamu bicara ke Mahen… aku sadar sesuatu.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan, “Aku nggak pernah merasa digantikan. Justru… aku yang merasa tertinggal.”
Melati menatapnya, bingung sekaligus tersentuh.
“Kamu masuk ke rumah ini tanpa memaksa, tanpa menuntut apa-apa. Tapi perlahan kamu jadi pusatnya.” Kalimat itu membuat Melati hampir kehilangan kendali atas detak jantungnya sendiri.
“Mas jangan bercanda…” gumamnya, mencoba menyelamatkan diri dari perasaan yang terlalu cepat membesar.
“Aku nggak bercanda.” Tatapan mereka terkunci, tidak ada pelukan diantara keduanya tapi jarak yang tinggal sejengkal itu terasa jauh lebih intim daripada apa pun. Cokro sempat mengangkat tangan, dan Melati spontan menegang, berharap sekaligus takut.
Namun tangan itu hanya berhenti di udara, ragu, lalu turun lagi. Gengsi masih berdiri di antara mereka, tipis tapi nyata.
“Aku belum pandai mengungkapkan,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti pengakuan yang selama ini tertahan. “Tapi aku nggak masuk kamar ini karena salah jalan.”
Pernyataan itu seperti api kecil yang menyala tepat di tengah dada Melati. Ia berusaha terlihat tenang, meski senyum malunya sulit disembunyikan.
“Terus… karena apa, Mas?” tanyanya, suaranya pelan tapi mengandung keberanian yang tipis.
Cokro terdiam beberapa detik, seolah menimbang apakah ia akan kembali bersembunyi di balik sikap dinginnya atau benar-benar melangkah maju. Lalu satu kalimat keluar, sederhana tapi jelas.
“Karena aku ingin ada di sini.” Hanya itu. Tidak lebih. Tapi cukup membuat pipi Melati benar-benar memerah. Ia menunduk, tersenyum malu, merasakan kehangatan yang pelan-pelan mengikis rasa ragunya.
“Mas… jangan bikin saya salah tingkah.”
Cokro mengangkat alisnya sedikit, ada senyum kecil yang akhirnya muncul tanpa ia sadari.
“Siapa yang salah tingkah? Aku lihat dari tadi kamu biasa saja.”
Dan untuk pertama kalinya, Melati berani menatapnya lebih lama tanpa memalingkan wajah.
Keduanya saling pandang tidak ada tatapan ragu dari keduanya, seperti ruang yang akhirnya menerima kehadiran dua hati yang sama-sama belajar jujur. Tanpa sadar, jarak di antara mereka kini tinggal setengah langkah.
Tidak ada yang bergerak, tapi tidak ada juga yang mundur. Cokro menarik napas pelan, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk benar-benar berhenti bersembunyi.
Melati tetap di tempatnya, tidak lari, tidak menutup diri, hanya menunggu dengan senyum kecil yang menenangkan. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, kamar itu terasa bukan sekadar ruang dengan dua penghuni, melainkan tempat di mana dua orang yang tadinya berjalan sendiri-sendiri akhirnya mulai berjalan berdampingan masih malu, masih gengsi, tapi perlahan berhenti berpura-pura tidak peduli.
Bersambung ....
Maaf agak telat ya