NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA ALIRAN YANG BERBEDA

Seperti dua sungai yang mengalir dari sumber yang berbeda menuju satu lautan yang sama, cinta Murni dan Khem tumbuh dengan kuat di tengah lautan kehidupan yang luas. Namun di dasar kedalaman hubungan mereka, ada batu karang tersembunyi yang mulai muncul perlahan-lahan—perbedaan keyakinan yang seperti jurang yang semakin lebar, menguji kekuatan ikatan cinta yang mereka bangun dengan susah payah.

Murni berasal dari keluarga yang sangat kental dengan ajaran agama tradisional leluhur nenek moyangnya—keyakinan yang telah mengalir seperti darah dalam urat keluarga selama berabad-abad. Setiap pagi, ia akan menghadap ke arah matahari yang terbit untuk memohon berkah bagi hari yang akan datang, menyembuhkan bunga mawar putih di atas meja doa yang dibuat dari kayu jati tua. Ia percaya pada kekuatan alam semesta yang satu, pada hubungan yang erat antara manusia dengan tanah, air, api, udara, dan roh nenek moyang yang selalu menjaga dan melindungi mereka yang percaya.

Khem di sisi lain, berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan modern —namun dirinya sendiri memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mengikuti aliran keyakinan orang tuanya, tidak mengaku penganut agama apapun. Bagi Khem, kebenaran ada di dalam hati manusia itu sendiri, dalam kebaikan yang mereka lakukan kepada sesama, dalam cinta yang mereka berikan tanpa pamrih. Ia melihat dunia sebagai sebuah kesatuan yang kompleks namun sederhana—hidup adalah anugerah yang harus dinikmati dengan baik, tanpa perlu terikat pada aturan-aturan yang dibuat oleh manusia.

Suatu pagi yang cerah, ketika matahari baru saja muncul dari balik ufuk timur dengan keindahan yang memukau, Murni sedang melakukan ritual pagi nya di halaman kos. Ia berdiri dengan tenang di atas tikar yang terbuat dari anyaman rotan, mengenakan baju tradisional warna putih yang bersih seperti awan pagi. Di depannya, ada sebuah mangkuk tanah liat yang berisi air suci dari mata air yang diyakini memiliki kekuatan penyembuhan, serta bunga-bunga segar yang telah dipetik dari taman di belakang kos.

Khem yang baru saja selesai memasak kopi datang keluar dengan gelas berisi minuman hangat. Ia berdiri di kejauhan, melihat Murni yang sedang melakukan gerakan ritual dengan lembut dan penuh kesucian—gerakan yang seperti tari yang telah diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun di dalam hati nya, ada rasa kebingungan yang mulai muncul seperti kabut pagi yang menyelimuti pemandangan.

"Apa yang kamu lakukan, sayang?" tanya Khem dengan suara yang lembut, tidak ingin mengganggu ketenangan yang ada di sekitar mereka.

Murni menyelesaikan ritual nya dengan penuh khusyuk, kemudian berbalik menghadap Khem dengan wajah yang tenang seperti kolam yang tidak bergelombang. "Aku sedang memohon berkah dari roh nenek moyang dan alam semesta untuk kita berdua," jawabnya dengan suara yang penuh keyakinan. "Mereka akan memberikan perlindungan dan kebahagiaan bagi hubungan kita."

Khem duduk di dekat Murni, memberikan gelas kopi padanya dengan lembut. "Aku menghargai keyakinan mu, sayang," ujarnya dengan suara yang sedikit ragu. "Tapi aku tidak bisa mengikuti nya. Bagi ku, kebahagiaan dan perlindungan datang dari cinta yang kita miliki satu sama lain, dari usaha kita untuk saling mengerti dan menghargai."

Murni melihat mata Khem dengan pandangan yang mulai menjadi serius seperti awan gelap yang menghampiri langit yang cerah. "Jadi kamu tidak percaya pada apa yang aku percayai?" tanya nya dengan suara yang sedikit menggigil.

"Aku tidak mengatakan itu," jawab Khem dengan cepat, meraih tangan Murni dengan lembut. "Aku hanya memiliki cara yang berbeda untuk melihat dunia. Kita bisa tetap bersama tanpa harus memiliki keyakinan yang sama, bukan?"

Murni menarik tangannya perlahan dari genggaman Khem, wajahnya mulai menunjukkan ekspresi yang seperti hujan yang akan turun di atas tanah yang kering. "Tidak bisa, Khem," ujar nya dengan suara yang lembut namun tegas. "Keyakinan adalah bagian dari diriku yang paling dalam—seperti akar yang menjadikan pohon tetap berdiri tegak. Jika kamu tidak bisa menghargai atau menerima nya, bagaimana kita bisa membangun masa depan yang solid bersama?"

Sejak hari itu, suasana di sekitar mereka mulai berubah seperti cuaca yang tiba-tiba berubah dari cerah menjadi mendung. Mereka masih saling mencintai, masih menghabiskan waktu bersama setiap hari. Namun ada sesuatu yang hilang—ketenangan dan keakraban yang dulu selalu ada di antara mereka kini digantikan oleh rasa cemas yang seperti bayangan yang selalu mengikuti di mana saja mereka pergi.

Suatu malam, ketika mereka sedang makan malam bersama di kamar kos, pembicaraan kembali menyentuh topik yang sensitif itu. Murni sedang cerita tentang rencana nya untuk mengundang dukun untuk melakukan ritual pembersihan energi di kos mereka, agar hubungan mereka semakin kuat dan bebas dari gangguan roh jahat.

"Khem, kamu harus ikut dalam ritual nya juga ya," ujar Murni dengan suara yang penuh harapan. "Dukun akan memberikan ramuan khusus yang bisa membuat hati kita lebih tenang dan cinta kita semakin kuat."

Khem menurunkan sendok nya dengan perlahan, wajahnya mulai menunjukkan ekspresi yang seperti batu yang dingin. "Murni, aku sudah bilang kan bahwa aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu," ujar nya dengan suara yang sedikit naik. "Kenapa kamu tidak bisa menerima aku apa adanya? Kenapa kamu harus memaksakan keyakinan mu padaku?"

"Aku tidak memaksakan apapun!" balik Murni dengan suara yang mulai meningkat juga, matanya mulai memerah karena emosi. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua! Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu akan bersedia untuk mengerti dan bahkan mencoba memahami keyakinan ku!"

"Dan jika kamu benar-benar mencintaiku," jawab Khem dengan nada yang penuh dengan rasa tidak puas, "kamu akan menerima bahwa aku adalah orang yang berbeda, bahwa aku memiliki cara sendiri untuk melihat dunia! Mengapa harus ada ritual atau keyakinan tertentu agar cinta kita kuat? Bukankah cinta kita sudah cukup kuat dengan sendirinya?"

Mereka berdebat dengan suara yang semakin tinggi, kata-kata yang keluar dari bibir mereka seperti anak panah yang menusuk satu sama lain. Murni merasa terluka karena Khem tidak mau menerima bagian penting dari dirinya, sementara Khem merasa tertekan karena Murni tidak mau menerima dia apa adanya.

"Kamu tidak mengerti apa-apa tentang diriku!" teriak Murni dengan air mata yang mulai mengucur lewat pipinya. "Kamu bilang mencintaiku, tapi kamu bahkan tidak mau mencoba untuk memahami apa yang membuatku menjadi diriku!"

"Dan kamu juga tidak mengerti diriku!" balik Khem dengan suara yang penuh dengan kesal dan rasa sakit. "Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tapi aku tidak bisa menjadi orang lain hanya untuk membuatmu bahagia! Aku tidak bisa mengubah diri ku hanya karena kamu ingin aku seperti itu!"

Dengan itu, Khem berdiri dan keluar dari kamar dengan langkah yang cepat dan penuh dengan emosi. Murni duduk sendirian di meja makan, menangis dengan bebas seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Di luar kamar, Khem bersandar pada tembok kos yang dingin, menangis dengan suara yang teredam seperti hujan yang turun di atas atap kayu.

Mereka berdua tahu bahwa ini adalah masalah besar yang tidak bisa dihindari lagi. Seperti dua buah gunung yang berdiri berdampingan namun tidak bisa menyatu, mereka memiliki perbedaan yang begitu mendasar yang mulai mengancam untuk menghancurkan semua yang telah mereka bangun bersama selama ini.

Hari berikutnya, mereka bertemu lagi di halaman kos yang sepi pada sore hari. Matahari sedang mulai bersandar ke arah barat, mengecat langit dengan warna merah muda dan jingga yang seperti warna kesedihan dan kebingungan yang ada di dalam hati mereka berdua.

Murni datang mendekat dengan langkah yang lembut dan hati yang berat. "Khem," ujar nya dengan suara yang lembut seperti angin malam yang menyapu dedaunan kering. "Aku tidak ingin kita seperti ini. Aku mencintaimu terlalu dalam untuk biarkan perbedaan ini menghancurkan kita."

Khem melihat mata Murni dengan pandangan yang penuh dengan rasa sakit dan cinta yang tidak pernah padam. "Aku juga tidak inginnya, sayang," jawab nya dengan suara yang sedikit bergetar. "Tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyelesaikan ini. Kita berdua begitu gigih dengan keyakinan masing-masing—tidak ada yang mau mengalah atau bahkan mencari jalan tengah."

"Aku sudah siap untuk berkompromi," ujar Murni dengan suara yang penuh harapan. "Kamu tidak perlu mengikuti semua ritual atau keyakinan ku. Cukup saja kamu menghargai nya dan tidak menghalangi aku untuk menjalankan nya. Bisa kan?"

Khem mengangguk dengan perlahan, namun ekspresi wajahnya masih penuh dengan keraguan. "Aku bisa menghargainya dan tidak menghalangimu," jawab nya. "Tapi kamu juga harus menerima bahwa aku tidak akan pernah memiliki keyakinan seperti mu. Aku tidak akan pernah bisa berdoa atau melakukan ritual apa pun yang kamu yakini. Bisakah kamu menerima itu?"

Murni terdiam sejenak, matanya melihat ke arah langit yang mulai gelap dengan penuh pikiran. Ia tahu bahwa ini adalah pilihan yang sulit—antara menerima Khem apa adanya dengan semua perbedaannya, atau mempertahankan keyakinan nya yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir.

"Aku tidak tahu, Khem," ujar nya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang hampir tidak terdengar. "Aku mencintaimu lebih dari segalanya di dunia ini. Tapi keyakinan ku juga adalah bagian dari diriku yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Bagaimana kita bisa membangun rumah bersama, merawat anak-anak bersama, jika kita memiliki pandangan yang sama sekali berbeda tentang kehidupan dan apa yang ada di baliknya?"

Khem mendekat dan mengambil tangan Murni dengan lembut, mencium bagian belakang tangannya dengan penuh cinta. "Kita bisa belajar untuk hidup berdampingan dengan perbedaan itu," ujar nya dengan suara yang penuh harapan. "Kita bisa memiliki ruang sendiri untuk keyakinan masing-masing, namun tetap saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Cukupkah itu?"

Murni menutup matanya, merasakan getaran hangat dari sentuhan Khem yang dulu selalu membuat hati nya tenang namun kini hanya membuat nya semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan—hati nya ingin menerima tawaran Khem dan terus bersama dengan orang yang dicintainya, namun keyakinan nya yang dalam mengatakan bahwa ini bukan jalan yang benar untuk masa depan mereka.

"Aku butuh waktu untuk memikirkannya, Khem," ujar nya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. "Aku tidak bisa membuat keputusan sembarangan—ini tentang masa depan kita berdua, tentang apa yang benar dan apa yang salah bagi kita."

Khem mengangguk dengan penuh pengertian, meskipun hati nya merasa seperti sedang diremas oleh tangan yang kuat. "Aku mengerti, sayang," jawab nya dengan suara yang lembut. "Aku akan menunggu kamu sepanjang waktu yang kamu butuhkan. Cinta ku untukmu tidak akan pernah berubah, tidak peduli apa yang kamu putuskan."

Mereka berdiri di sana untuk waktu yang lama, saling memandang dengan mata yang penuh dengan cinta dan kesedihan yang dalam. Di sekitar mereka, malam mulai menjelma perlahan, menyelimuti halaman kos dengan kain sutra gelap yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar seperti harapan yang masih ada namun semakin redup. Mereka tahu bahwa masa depan hubungan mereka kini berada di tangan takdir yang misterius—seperti kapak yang bisa membelah kayu menjadi dua bagian yang terpisah, atau menyatukannya menjadi satu yang lebih kuat tergantung pada bagaimana ia digunakan.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Seperti rahasia yang tersimpan dalam kedalaman lautan, kini terungkap bagian lain dari cerita Khem yang membuat hati Murni terasa seperti terkena embun beku di pagi musim dingin. Khem bukanlah orang yang sejak awal memilih untuk tidak memiliki agama—di balik keputusannya yang tampak tegas, tersembunyi luka masa lalu yang seperti bekas luka bakar yang tidak pernah benar-benar sembuh.

"Sebelum aku mengenalmu, sayang," ujar Khem dengan suara yang lembut seperti ombak yang menyapu pasir pada malam yang damai, matanya melihat jauh ke arah langit yang mulai gelap. "Aku pernah mengikuti agama ibuku dengan sepenuh hati. Setiap hari aku berdoa bersama dia, belajar ajaran-ajarannya seperti anak yang ingin memahami dunia dengan cara yang paling baik. Ibuku mengajarkanku bahwa agama adalah rumah bagi hati yang mencari kedamaian—seperti pelabuhan yang menjadi tempat perlindungan bagi kapal yang dilanda badai."

Murni duduk dengan tenang di sisi nya, tangan nya masih terjepit erat dengan tangan Khem yang dingin seperti batu di tengah hutan. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang keluar dari bibir Khem seperti lembaran buku yang terbuka untuk di baca dengan hati.

"Tetapi ayahku tidak menyukainya," lanjut Khem dengan suara yang mulai bergetar seperti daun yang bergoyang di bawah hembusan angin kencang. "Dia ingin aku mengikuti agama yang dia anut—agama yang berbeda dengan agama ibuku. Mereka sering bertengkar karena hal ini, seperti dua gunung yang saling berseteru dan membuat tanah di sekitarnya berguncang. Suatu hari, ketika aku berusia belas tahun, ayahku datang padaku dengan wajah yang keras seperti batu bara yang sedang menyala."

Khem menarik napas dalam-dalam, seolah ingin menghilangkan rasa sakit yang muncul kembali dari kedalaman ingatan. "Dia memaksaku untuk memilih—antara mengikuti agama nya dan tetap tinggal di rumah, atau tetap mengikuti agama ibuku dan harus pergi meninggalkan semuanya. Aku mencoba untuk mencari jalan tengah, untuk mengatakan bahwa cinta dan penghormatan lebih penting dari perbedaan keyakinan. Tapi ayahku tidak mau mendengarnya. Dia berkata bahwa aku harus memilih satu sisi—tidak ada jalan tengah dalam hal agama."

"Akhirnya," sambung nya dengan suara yang penuh dengan kesedihan yang mendalam, "aku memilih untuk tidak mengikuti agama manapun. Jika pilihan hanya bisa membuat salah satu pihak terluka, jika keyakinan hanya bisa menjadi alat untuk memisahkan manusia satu sama lain, maka aku lebih baik tidak memiliki agama sama sekali. Sejak saat itu, aku melihat dunia dengan cara yang berbeda—bagiku, kebaikan tidak datang dari agama tertentu, tapi dari hati yang tulus dan cinta yang diberikan kepada sesama."

Murni merasakan air mata kebaikan mulai mengucur lewat pipinya yang dingin. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik keputusan Khem yang tampak keras, ada cerita sedih yang membuat hati nya terasa seperti menusuk oleh jarum yang tajam. Ia menarik diri lebih dekat ke sisi Khem, menyandarkan kepalanya pada bahu nya yang lebar seperti pelukan yang aman.

"Mengapa kamu tidak pernah memberitahuku tentang ini?" tanya Murni dengan suara yang lembut seperti bisikan angin malam. "Aku akan lebih memahami perasaan mu jika aku tahu cerita masa lalu mu seperti ini."

"Aku takut kamu akan melihatku sebagai orang yang lemah," jawab Khem dengan suara yang rendah. "Aku takut kamu akan berpikir bahwa aku tidak memiliki prinsip atau keyakinan apapun. Padahal sebenarnya, aku memiliki prinsip yang sangat kuat—aku percaya pada kebaikan manusia, pada cinta yang bisa menyatukan segala perbedaan, pada kehidupan yang harus dijalani dengan penuh rasa syukur tanpa harus terikat pada aturan-aturan yang hanya membuat manusia saling bermusuhan."

Setelah cerita itu terungkap, suasana di antara mereka mulai berubah seperti hujan yang turun dan membuat tanah yang kering menjadi segar kembali. Murni kini lebih memahami mengapa Khem begitu gigih dalam mempertahankan pilihan nya—bukan karena dia tidak menghargai keyakinan, tapi karena dia telah melihat sisi buruk dari perbedaan keyakinan yang bisa merusak hubungan antar manusia.

Suatu pagi, ketika matahari baru saja mulai menyinari langit dengan warna jingga yang indah, Murni melakukan ritual pagi nya seperti biasa di halaman kos. Namun kali ini, dia tidak memaksakan Khem untuk ikut atau bahkan melihat nya. Dia melakukan nya dengan penuh khusyuk, memohon berkah bukan hanya untuk dirinya sendiri atau hubungan mereka, tapi juga untuk kedamaian hati Khem yang telah terluka oleh masa lalu.

Setelah menyelesaikan ritual nya, dia mendekat ke arah Khem yang sedang duduk di bawah pohon jambu air sambil membaca buku. Dia membawa secangkir kopi hangat yang telah dibuat dengan cara khusus—resep yang dia pelajari dari nenek nya yang dipercaya bisa memberikan kedamaian bagi hati yang sedang bingung.

"Ini untukmu," ujar Murni dengan suara yang lembut, memberikan gelas kopi pada Khem dengan hati-hati. "Aku tidak akan pernah memaksakan keyakinan ku padamu lagi. Aku mengerti sekarang bahwa pilihan mu bukanlah karena kamu tidak percaya pada apa-apa, tapi karena kamu telah mengalami hal yang menyakitkan karena perbedaan keyakinan."

Khem menerima gelas kopi dengan senyuman yang lembut seperti sinar matahari pagi. "Terima kasih, sayang," jawab nya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. "Aku juga akan lebih menghargai keyakinan mu dari sekarang. Aku tahu bahwa itu adalah bagian penting dari dirimu yang membuatmu menjadi orang yang aku cintai."

Mereka duduk bersebelahan di bawah pohon yang rindang, menikmati kopi hangat sambil melihat matahari yang semakin tinggi ke langit yang biru. Udara pagi membawa aroma bunga melati dan daun kemangi yang segar, membuat suasana menjadi semakin damai dan nyaman.

"Kita bisa tetap bersama kan, sayang?" tanya Murni dengan suara yang penuh dengan harapan, melihat mata Khem dengan pandangan yang penuh cinta. "Meskipun kita memiliki keyakinan yang berbeda, meskipun kamu tidak memiliki agama dan aku sangat kental dengan keyakinan leluhur ku—kita bisa menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan damai kan?"

Khem mengambil tangan Murni dengan lembut, mencium bagian belakang tangannya dengan penuh cinta. "Kita pasti bisa, sayang," jawab nya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. "Cinta kita lebih kuat dari segala perbedaan yang ada di antara kita. Kita bisa memiliki ruang sendiri untuk menjalankan keyakinan masing-masing, namun tetap saling mendukung dan mencintai satu sama lain. Seperti dua pohon yang tumbuh berdampingan di satu lahan—mereka memiliki akar yang berbeda dan tumbuh ke arah yang berbeda, namun mereka tetap saling memberikan naungan dan dukungan satu sama lain."

Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan perbedaan keyakinan mereka. Murni tetap melakukan ritual dan menjalankan keyakinan leluhur nya dengan penuh khusyuk, namun dia tidak lagi memaksakan Khem untuk ikut atau bahkan memperhatikan nya. Khem tetap memilih untuk tidak memiliki agama apapun, namun dia selalu menghargai dan tidak pernah menghalangi Murni untuk menjalankan keyakinan nya.

Suatu hari, Murni mengundang dukun untuk melakukan ritual pembersihan energi di kos mereka. Khem tidak ikut dalam ritual nya, tapi dia memberikan dukungan dengan cara nya sendiri—dia membersihkan halaman kos, menyiapkan bunga-bunga dan bahan yang dibutuhkan, dan bahkan memberikan ruang yang cukup bagi Murni dan dukun untuk melakukan ritual nya dengan tenang.

Setelah ritual selesai, Murni datang mendekat ke arah Khem dengan wajah yang cerah seperti matahari tengah hari. "Dukun bilang bahwa energi di sekitar kita sudah menjadi lebih bersih dan positif," ujar nya dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. "Dia juga bilang bahwa cinta kita memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menyatukan segala perbedaan."

Khem tersenyum dengan penuh cinta, mengelilingi pinggang Murni dengan tangan nya. "Aku tahu itu dari awal, sayang," jawab nya dengan suara yang lembut. "Cinta kita bukanlah cinta yang sempurna tanpa cacat—seperti permata yang memiliki bekas alami yang membuatnya semakin berharga. Perbedaan kita adalah bagian dari keindahan hubungan kita yang membuatnya semakin kuat dan berarti."

Mereka berdiri di halaman kos yang kini terasa lebih damai dan penuh dengan energi positif. Matahari sedang mulai bersandar ke arah barat, mengecat langit dengan warna-warna yang indah seperti lukisan yang dibuat oleh tangan Tuhan sendiri. Di sekitar mereka, pepohonan bergoyang perlahan seperti penari yang menari dengan irama malam yang akan datang, sementara bunga-bunga yang mereka tanam bersama mulai mekar dengan keindahan yang memukau.

"Kita akan menghadapi banyak tantangan di masa depan, sayang," ujar Khem dengan suara yang penuh dengan keyakinan, melihat mata Murni yang bersinar seperti bintang kembar di langit sore. "Tetapi aku tahu bahwa dengan cinta dan penghormatan yang kita miliki satu sama lain, kita akan mampu mengatasi segala sesuatu yang datang."

Murni menyandarkan kepalanya pada bahu Khem, merasakan detak jantung nya yang berdebar dengan irama yang sama dengan dirinya. "Aku tahu juga, Khem," jawab nya dengan suara yang lembut seperti madu yang mengalir. "Kita mungkin memiliki keyakinan yang berbeda dan jalan yang berbeda untuk melihat dunia, tapi kita memiliki tujuan yang sama—to membangun kehidupan yang bahagia dan penuh cinta bersama."

Mereka saling memeluk erat di bawah langit yang mulai gelap dengan penuh bintang-bintang yang bersinar seperti harapan yang tak pernah padam. Mereka tahu bahwa hubungan mereka tidak akan pernah sempurna dalam arti yang biasa diartikan manusia—ada perbedaan yang akan selalu ada di antara mereka seperti jurang yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Namun mereka juga tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah cinta yang sejati—cinta yang mampu menyatukan dua dunia yang berbeda menjadi satu kesatuan yang indah dan penuh makna.

Seperti dua sungai yang akhirnya menemukan jalan untuk menyatu di lautan yang luas, mereka berdua siap untuk menghadapi segala sesuatu yang ada di depan mereka—bersama-sama, dengan hati yang penuh cinta dan penghormatan, dengan keyakinan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan cara untuk mengatasi segala perbedaan yang ada di antara manusia.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Seperti awan gelap yang tiba-tiba muncul dari balik gunung, pesan panjang dari Aksa datang menghantui layar ponsel Murni pada malam hari yang tadinya penuh dengan kedamaian. Cahaya layar ponsel bersinar seperti mata yang melihat terlalu jelas ke dalam rahasia hati, menampilkan kata-kata yang seperti duri tajam yang menusuk perlahan-lahan ke dalam luka yang baru saja mulai mengering.

"Murni sayangku, aku tidak bisa diam melihatmu terus terjebak dalam hubungan yang tidak akan pernah membawa kebahagiaan yang abadi. Kita dulu bersama bukan tanpa alasan—kita memiliki keyakinan yang sama, tanah yang sama untuk berdiri, langit yang sama untuk melihat. Cinta yang dibangun di atas fondasi yang sama akan selalu kokoh seperti gunung yang tak tergoyahkan, tapi apa yang kamu jalani sekarang? Percuma saja kamu menghabiskan waktu dengan seseorang yang bahkan tidak bisa mengerti apa yang menjadi dasar keberadaan kita sebagai manusia."

Murni melihat pesan itu dengan mata yang semakin berat seperti membawa beban batu bata di atas pundak. Ia ingin langsung menutup layar dan menghapus pesan itu dari ingatannya, tapi kata-kata Aksa seperti bayangan yang tak bisa diusir—setiap kalimatnya menusuk ke dalam keraguan yang sudah mulai muncul di dalam hatinya sebelum ini.

"Kamu tahu kan, bukan aku yang ingin merusak kebahagiaanmu," lanjut pesan itu, seperti ombak yang terus menerus menyapu pasir hingga membentuk lekukan baru. "Tapi aku harus bilang apa yang ada di dalam hati. Pernikahan itu bukan hanya tentang cinta semata—pernikahan adalah perpaduan dua jiwa yang memiliki tujuan hidup yang sama, keyakinan yang sama, jalan yang sama untuk menghadapi kehidupan. Bagaimana kamu bisa membangun rumah tangga yang solid dengan seseorang yang bahkan tidak percaya pada apa yang kamu yakini? Bagaimana anak-anakmu nantinya akan dibesarkan? Dengan dua pandangan yang berbeda tentang dunia?"

Murni menjatuhkan ponselnya ke atas kasur dengan tangan yang gemetar seperti daun di bawah hembusan angin kencang. Di luar kamar, suara hujan mulai terdengar mengetuk atap kos dengan irama yang seperti ketukan hati yang semakin cepat dan tidak teratur. Khem sedang bekerja lembur di pabrik malam itu, dan kini dirinya sendiri dengan keraguan yang seperti lautan yang menggelembung di dalam dada.

Awalnya, ia benar-benar tidak mau memperdulikan pesan-pesan dari Aksa. Ia tahu bahwa cintanya pada Khem adalah cinta yang tulus dan mendalam—seperti akar pohon yang menjalar jauh ke dalam tanah untuk mencari kelembapan yang membuatnya tetap hidup. Tapi seiring berjalannya hari dan datangnya pesan-pesan panjang lainnya dari Aksa, keraguan itu mulai tumbuh seperti jamur di kayu yang lembab, menyebar ke setiap sudut hati yang dulu penuh dengan keyakinan.

Beberapa hari kemudian, ketika Khem sedang memasak makan malam untuk mereka berdua di dapur kos yang kecil, Murni akhirnya membuka suara tentang pesan-pesan dari Aksa. Udara di dalam kamar terasa semakin padat seperti sebelum badai datang, aroma makanan yang sedang matang tidak lagi terasa menggugah selera melainkan membuat dada semakin sesak.

"Aksa menghubungiku lagi, Khem," ujarnya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang takut terdengar oleh orang lain. "Dia bilang banyak hal tentang kita... tentang perbedaan keyakinan kita yang mungkin akan membuat kita sulit untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius."

Khem berhenti mengaduk wajan yang berisi tumis sayuran, tangannya yang biasanya lincah kini terasa kaku seperti besi yang belum dipanaskan. Ia menoleh dengan wajah yang mulai menunjukkan ekspresi seperti awan mendung yang menghalangi sinar matahari.

"Dan apa yang kamu pikirkan tentang kata-katanya?" tanyanya dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekhawatiran yang dalam.

Murni menurunkan pandangannya ke atas meja yang ditutupi kain batik yang sudah mulai memudar warnanya. "Aku tahu dia tidak memiliki niat jahat," jawabnya dengan suara yang semakin kecil. "Dan... dan sebagian dari apa yang dia katakan benar juga, Khem. Kita memang memiliki perbedaan yang begitu besar dalam hal keyakinan. Bagaimana kita bisa benar-benar menikah dan membangun keluarga jika kita tidak bisa menyatukan pandangan kita tentang kehidupan?"

Khem menutup kompor dengan hati-hati, kemudian duduk di depan Murni dengan wajah yang semakin pucat seperti kain putih yang belum dicat. "Jadi kamu mulai meragukan hubungan kita karena kata-kata orang lain?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Setelah kita sudah melalui begitu banyak hal bersama, setelah kita sudah menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan perbedaan kita?"

"Bukan karena kata-kata orang lain saja!" balik Murni dengan suara yang mulai meningkat, air mata sudah mulai mengumpul di sudut matanya. "Aku juga merenungkan semua ini sendiri, Khem! Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan apa yang sudah menjadi bagian dari diriku sejak lahir. Aku berpikir tentang masa depan kita, tentang anak-anak kita yang mungkin nantinya akan bingung melihat orang tuanya memiliki keyakinan yang berbeda!"

"Jadi apa yang kamu inginkan dari aku?" tanya Khem dengan suara yang penuh dengan rasa sakit yang mendalam. "Aku sudah memberitahumu tentang masa lalu ku, tentang mengapa aku memilih jalan ini. Apakah kamu ingin aku berpura-pura mengikuti keyakinanmu hanya untuk membuatmu bahagia? Apakah cinta kita hanya sebatas itu?"

"Aku tidak menginginkanmu berpura-pura!" teriak Murni dengan air mata yang mulai mengucur lewat pipinya. "Aku hanya ingin kita memiliki fondasi yang sama untuk membangun kehidupan bersama! Aku hanya ingin tahu bahwa kita akan berada di jalur yang sama ketika menghadapi segala sesuatu yang datang di masa depan!"

Dengan itu, Murni berdiri dan masuk ke kamar tidur, menutup pintu dengan suara yang seperti guntur yang mengguncang rumah. Khem duduk sendirian di meja makan yang sudah siap dengan makanan yang kini mulai dingin seperti hati nya yang semakin terasa sepi dan hampa. Di luar jendela, hujan mulai turun dengan deras seperti tangisan alam yang menyaksikan perjuangan cinta yang sedang teruji oleh ombak keraguan.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit bagi mereka berdua. Murni mulai sering menghabiskan waktu bersama Aksa dan kelompok teman-teman yang memiliki keyakinan yang sama dengan dirinya. Mereka sering bertemu di rumah salah satu teman atau di tempat ibadah leluhur mereka, berdiskusi tentang ajaran-ajaran dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta dalam membangun hubungan yang serius.

Aksa tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat pada Murni, dengan kata-kata yang selalu disampaikan dengan nada yang penuh dengan perhatian namun menyakitkan bagi hubungan Murni dan Khem. "Lihat saja, Murni," ujarnya suatu hari ketika mereka sedang duduk di halaman tempat ibadah yang tenang dan penuh dengan aroma dupa yang harum. "Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Kita membutuhkan pasangan yang tidak hanya bisa mencintaimu, tapi juga bisa berdiri bersama mu dalam setiap langkah hidup—terutama dalam hal keyakinan yang menjadi pijakan kita."

"Tapi aku mencintainya, Aksa," ujar Murni dengan suara yang lembut seperti angin yang menyapu dedaunan kering. "Dia adalah orang yang baik, dia selalu mencoba menghargai keyakinanku meskipun dia tidak mengikutinya."

"Cinta saja tidak cukup, Murni," jawab Aksa dengan suara yang penuh dengan keyakinan. "Kamu pernah merasakan bagaimana rasanya hidup dengan seseorang yang memiliki keyakinan yang sama denganmu. Kita dulu begitu harmonis bukan? Kita tidak perlu berselisih tentang hal-hal yang menjadi dasar keberadaan kita."

Pesan-pesan panjang dari Aksa terus datang ke ponsel Murni, seperti ombak yang terus menerus menyapu pantai hingga mengubah bentuk garis pantai yang tadinya jelas. Setiap pesan membawa argumen yang masuk akal, setiap kalimatnya menusuk ke dalam keraguan yang sudah mulai membara di dalam hati Murni.

"Kamu tahu kan, bukan aku yang ingin merusak hubunganmu dengan Khem," tulis Aksa dalam salah satu pesannya. "Tapi aku tidak bisa melihatmu terus terjebak dalam hubungan yang tidak akan pernah memberikanmu keamanan yang sesungguhnya. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Bagaimana kamu bisa berkomitmen dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki keyakinan yang sama denganmu? Bagaimana kamu bisa yakin bahwa dia akan selalu berada di sisimu ketika kamu membutuhkan dukungan dalam hal keyakinan?"

Murni membaca pesan itu berulang-ulang kali, setiap bacaan membuat hati nya semakin terbelah antara cinta yang dia miliki pada Khem dan rasa takut akan masa depan yang tidak pasti jika mereka terus melangkah bersama dengan perbedaan keyakinan yang begitu besar.

Suatu malam, ketika Khem sedang mencoba untuk membicarakan kembali masalah ini dengan Murni, ia menemukan dirinya sedang membaca pesan-pesan dari Aksa dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan keraguan. Khem berdiri di depan pintu kamar dengan hati yang terasa seperti batu yang terjatuh ke dalam dasar laut yang dalam.

"Berapa lama kamu sudah berkomunikasi dengannya?" tanyanya dengan suara yang lembut namun penuh dengan rasa kecewa yang mendalam.

Murni terkejut dan segera menutup ponselnya, wajahnya memerah seperti buah nangka yang matang. "Sudah beberapa hari yang lalu," jawabnya dengan suara yang kecil seperti bisikan. "Aku tidak ingin memberitahumu karena aku tahu kamu akan marah."

"Aku tidak marah," ujar Khem dengan suara yang semakin lembut. "Aku hanya merasa sedih... sedih karena kamu lebih mudah mempercayai kata-katanya daripada mempercayai cinta yang kita bangun bersama selama ini. Sedih karena kamu mulai meragukan semua yang kita alami hanya karena seseorang yang tidak pernah benar-benar memahami bagaimana rasanya mencintaimu dengan cara yang aku lakukan."

Mereka berdiri di dalam kamar yang semakin terasa sempit dan penuh dengan energi negatif. Di luar jendela, bulan sedang bersinar terang di antara awan yang melintas seperti kain sutra yang bergoyang-goyang. Mereka tahu bahwa hubungan mereka kini berada di titik balik yang sangat penting—antara melangkah maju bersama dengan menerima segala perbedaan yang ada, atau memisahkan diri dengan rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!