NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 – Kemiripan yang Tidak Seharusnya

Pagi itu menandai awal pekan baru di perusahaan milik Sagara Pramudya. Setelah libur kemarin, gedung tinggi berlapis kaca itu kembali dipenuhi aktivitas. Di wajah para karyawan tersisa rasa malas yang belum sepenuhnya hilang, namun langkah mereka tetap teratur.

Mesin absensi berdenting, lift naik turun tanpa henti, dan suara sepatu pantofel beradu dengan lantai marmer lobi yang mengilap.

Perusahaan itu dikenal tegas dalam disiplin. Tidak ada ruang untuk kelengahan, bahkan di awal pekan. Semua orang paham, bekerja di bawah kepemimpinan Sagara berarti menuntut profesionalisme penuh—apa pun suasana hati mereka.

Di antara kesibukan itu, pintu putar di lobi berputar perlahan. Seorang perempuan paruh baya masuk dengan langkah tenang dan anggun. Rambutnya tersanggul rapi, busananya sederhana namun jelas berkelas. Sorot matanya tajam, seolah ia tahu persis ke mana tujuan langkahnya.

Perempuan itu berjalan lurus menuju meja resepsionis.

“Selamat pagi,” ucapnya singkat namun berwibawa. “Saya ingin bertemu Adit.”

Resepsionis mengangkat kepala, tersenyum profesional. “Apakah ada janji sebelumnya, Bu?”

Perempuan itu menggeleng pelan. “Tidak. Tapi dia anak saya.”

Ada jeda sesaat—cukup untuk menandai keterkejutan kecil—sebelum resepsionis kembali mengangguk dan meraih telepon. “Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar, saya hubungi Pak Adit terlebih dahulu.”

Perempuan itu tidak duduk. Pandangannya berkeliling lobi—langit-langit tinggi, ornamen modern, orang-orang berlalu-lalang dengan wajah serius. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dalam benaknya, ia membandingkan tempat ini dengan kantor lama Adit dulu. Jauh berbeda. Lebih besar, lebih megah, lebih… pantas.

Tak lama kemudian, resepsionis berdiri kembali. “Silakan, Bu. Pak Adit mempersilakan.”

Perempuan itu melangkah menuju lift dengan mantap. Nama Ratna melekat kuat dalam dirinya—bukan hanya sebagai ibu, tapi sebagai seseorang yang merasa berhak ikut menentukan arah hidup anaknya.

Lift bergerak naik perlahan, membawa Ratna ke lantai tempat Adit bekerja. Di balik pintu yang sebentar lagi terbuka, ada percakapan yang sejak lama ingin ia mulai—dan kali ini, ia memilih memulainya di tempat yang menurutnya paling tepat.

Di ruangan Adit.

Pintu ruangan Adit tertutup pelan setelah Ratna masuk. Ruangan itu luas, didominasi warna netral dengan jendela kaca besar menghadap kota. Meja kerja tertata rapi, beberapa berkas disusun sejajar, dan sebuah laptop terbuka menampilkan jadwal proyek hari itu.

Ratna sempat berhenti melangkah. Matanya menyapu seisi ruangan—sofa tamu abu gelap, rak berisi map-map penting—lalu berhenti pada meja kerja Adit. Ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan.

“Kantormu bagus sekarang,” ucapnya akhirnya. “Jauh lebih baik dari tempat kerjamu dulu.”

Adit, yang baru saja berdiri dari kursinya, menatap ibunya singkat. “Iya, Bu. Memang sudah berkembang.”

Ratna duduk tanpa dipersilakan. Tasnya ia letakkan di samping kursi, lalu menyilangkan tangan di dada. Adit ikut duduk kembali, meski ekspresinya jelas menunjukkan ia sedang berpacu dengan waktu.

“Ada perlu apa Ibu datang ke sini?” tanya Adit lugas. “Kalau bisa cepat saja. Awal pekan seperti ini aku sibuk. Sebentar lagi aku harus keluar meninjau proyek.”

Ratna menatap anaknya lurus. Tidak ada basa-basi.

“Kamu sudah hampir empat tahun menikah, Dit,” katanya datar namun menusuk. “Tapi sampai sekarang belum juga punya anak.”

Adit menarik napas dalam. Ia tahu arah pembicaraan ini—dan ia tidak menyukainya.

Ratna melanjutkan, suaranya kini lebih tajam. “Kamu pernah kepikiran tidak? Apa jangan-jangan istrimu itu mandul?”

Kata itu menggantung di udara, berat dan tidak pantas—terlebih di ruang kerja. Adit menghela napas kasar, lalu menegakkan punggungnya.

“Ibu,” katanya menahan emosi, “kalau mau bicara soal itu, jangan di kantor. Ini tempat kerja.”

Ratna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. “Justru di sini aku bicara. Supaya kamu berpikir jernih. Kamu itu laki-laki, Dit. Keluarga kita tidak ada riwayat mandul.”

“Ibu tidak berhak menyimpulkan seperti itu,” balas Adit, menatap tajam.

“Lalu kenapa sampai sekarang belum ada anak?” Ratna menyela cepat. “Empat tahun itu bukan waktu sebentar.”

Adit mengusap wajahnya sekilas, mencoba meredam kesal yang mulai naik. “Soal anak, aku dan Naya sudah bicara. Kami sepakat menjalaninya apa adanya. Tidak memaksakan. Kalau Tuhan kasih, kami syukuri. Kalau belum, ya kami terima.”

Ratna mendengus kecil. “Itu jawaban orang yang kalah sebelum berjuang.”

Adit berdiri. Nada suaranya kini lebih tegas. “Sudah cukup, Bu. Itu urusan rumah tangga aku dan Naya. Bukan urusan Ibu.”

Ratna ikut berdiri, wajahnya memerah. “Aku ini ibumu!”

“Justru karena itu,” jawab Adit cepat, “Ibu seharusnya mengerti batas. Kalau mau bicara, bicarakan di rumah. Jangan datang ke kantor dan mengganggu pekerjaanku.”

Ratna terdiam sesaat, lalu menatap Adit dengan sorot mata kecewa bercampur marah. “Kamu berubah sejak menikah,” katanya dingin.

Adit tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu ruangannya dan memberi isyarat halus. “Sebaiknya Ibu pulang. Hari ini aku benar-benar sibuk.”

“Ibu belum selesai bicara—”

“Pulanglah, Bu,” potong Adit. “Aku tidak ingin masalah pribadi dibawa ke sini.”

Ratna mengepalkan tangan, lalu berbalik dengan langkah cepat. Pintu ditutup sedikit lebih keras dari seharusnya.

Adit berdiri beberapa detik di tempatnya, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Dadanya terasa sesak—bukan hanya karena kata-kata ibunya, melainkan karena ia tahu tekanan itu tidak akan berhenti sampai di sini.

Ia kembali duduk, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun.

*******

Sementara itu, di tempat lain, tanpa Adit ketahui, hari Naya baru saja dimulai dengan kegelisahan yang berbeda.

Siang itu, Naya kembali berdiri di depan kamar rawat Rafi. Ia sendiri tidak tahu pasti alasan kenapa langkahnya selalu membawanya ke rumah sakit ini—lagi dan lagi. Padahal urusannya sudah selesai. Tidak ada kewajiban. Tidak ada janji.

Namun rasa itu muncul begitu saja—perasaan ingin memastikan anak itu baik-baik saja.

Begitu pintu kamar terbuka, suara kecil yang sudah mulai ia kenal menyapanya.

“Tante Nay…”

Rafi tersenyum lebar, matanya berbinar. Anak itu turun dari ranjang dengan langkah kecil yang masih hati-hati, lalu berdiri di depan Naya.

Naya membalas senyum itu, namun dadanya terasa mengencang.

Senyum itu lagi.

Ia jongkok perlahan, menyamakan tinggi badannya dengan Rafi. Tangannya refleks membenarkan posisi selimut di bahu kecil anak itu. “Rafi sudah mendingan?” tanyanya lembut.

Rafi mengangguk cepat. “Kata dokter aku sudah boleh main dikit.”

Naya mengangguk. Matanya tak lepas dari wajah anak itu. Hidungnya, lengkung bibirnya, bahkan cara matanya menyipit saat tersenyum—semuanya terasa terlalu familiar.

Hatinya berdesir tidak nyaman.

Dari balik pintu, Mira muncul membawa botol minum. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski sisa lelah masih tertinggal di matanya.

“Mbak Naya,” ucap Mira agak gugup. “Maaf Rafi ribut.”

“Tidak apa-apa,” jawab Naya cepat, berusaha terdengar normal.

Ia berdiri kembali, namun pandangannya tertarik lagi pada Rafi yang kini sibuk memainkan ujung bajunya sendiri.

Kenapa… mirip sekali?

Naya menarik napas pelan. Ia mencoba menepis pikiran itu. Banyak anak mirip satu sama lain. Itu hal biasa—terlalu biasa untuk dicurigai.

Namun semakin ia menatap, semakin sulit mengabaikannya.

Cara Rafi tertawa kecil. Lesung pipi yang samar. Bahkan sudut rahang kecil itu.

Semua mengingatkannya pada satu wajah yang seharusnya paling ia kenal.

Naya menoleh cepat, memalingkan pandangan. Dadanya terasa sesak. “Ya Allah…” batinnya bergetar. “Tidak mungkin.”

Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikirannya sendiri.

Di luar kamar rawat, Naya berdiri sejenak, menyandarkan punggung ke dinding lorong rumah sakit. Suara langkah kaki orang berlalu-lalang terdengar samar. Tangannya bergetar halus.

“Ini cuma perasaan,” gumamnya lirih. “Aku cuma capek. Aku terlalu banyak berpikir.”

Namun bayangan senyum Rafi terus muncul—tumpang tindih dengan wajah Adit yang terlintas di benaknya.

Terasa sama. Terlalu sama.

Di saat yang sama, di tempat berbeda, Ratna duduk di dalam mobilnya. Ia menatap layar ponsel yang baru saja dimatikan. Informasi yang ia dengar siang tadi berputar-putar di kepalanya—tentang Naya, tentang seorang anak kecil, tentang seorang perempuan muda bernama Mira.

Ratna menyunggingkan senyum tipis. “Menarik,” gumamnya pelan.

Malam itu, Naya duduk sendiri di kamar. Lampu temaram menyinari wajahnya yang pucat. Di tangannya, ia menggenggam ponsel tanpa membuka apa pun.

Di kepalanya, satu kalimat terus berulang.

Kalau benar dugaanku…

...----------------...

Selamat siang readers selamat membaca like komen nya dong.. Terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!