NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah makan malam dengan kedua orang tua Abimana, kini Arunika memutar tubuh untuk melangkah menuju kamar. Langkah Arunika begitu ringan namun terasa sangat berat bagi Abimana yang menatapnya dari meja makan. Seolah-olah Abimana hanyalah benda mati di ruangan itu, ego dan rasa frustrasi Abimana mencapai puncaknya.

​Abimana tidak bisa lagi membiarkan tembok keheningan ini terus berdiri.

​"Arunika, tunggu!" suara Abimana terdengar serak, namun ada nada otoritas yang tertahan di sana.

​Arunika berhenti, tapi ia tidak berbalik. "Apalagi, Mas? Aku lelah. Sandiwaranya sudah sukses, kan? Orang tuamu pulang dengan hati tenang."

​Abimana bangkit dari kursinya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia melangkah cepat dan mencekal pergelangan tangan Arunika sebelum wanita itu sempat menyentuh gagang pintu kamar. Sentuhannya panas—bukan hanya karena demam, tapi karena emosi yang meluap.

​"Ini bukan soal sandiwara! Ini soal aku yang bicara padamu, tapi kamu terus memperlakukanku seperti hantu!" sentak Abimana, memutar tubuh Arunika agar menghadapnya.

​Arunika mendongak, menatap mata Abimana yang merah karena sakit dan amarah. "Lalu aku harus bagaimana? Kamu ingin aku memujamu setelah apa yang terjadi di kampus? Atau kamu ingin aku menangis tersedu-sedu meminta perhatianmu?"

​"Aku ingin kamu marah, Nika! Maki aku, pukul aku, atau lakukan apa saja! Jangan hanya diam dan bersikap seolah aku tidak ada!" Abimana mencengkeram bahu Arunika, suaranya naik satu oktaf namun kemudian bergetar. "Kedinginanmu ini... lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun."

​Arunika terdiam. Ia bisa merasakan napas panas Abimana di wajahnya. Untuk sesaat, ia melihat pertahanan pria angkuh itu runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi "Pak Dosen" yang disegani, yang ada hanyalah seorang pria yang sedang memohon pengakuan dari istrinya sendiri.

​"Kamu ingin aku marah?" bisik Arunika, matanya kini mulai berkaca-kaca meski suaranya tetap ditekan. "Marah itu untuk orang yang masih punya harapan, Mas. Dan kemarin, kamu menghabiskan seluruh harapanku saat kamu lebih memilih mengejarnya daripada mempertahankan harga diri istrimu."

​Abimana terpaku. Cengkeramannya pada bahu Arunika perlahan melemah, berubah menjadi usapan lembut yang ragu. "Beri aku satu kesempatan lagi... untuk membangun kembali harapan itu. Tolong."

​Tatapan Arunika menusuk tepat ke manik mata Abimana, membuat pria itu terdiam seribu bahasa. Ada ketegasan yang luar biasa di balik suara lembutnya, sebuah tantangan yang tidak pernah Abimana duga akan datang dari wanita yang selama ini ia remehkan.

​"Buktikan, Mas!" suara Arunika sedikit bergetar, namun penuh penekanan. "Buktikan kamu bisa menerima pernikahan ini walau tanpa cinta di antara kita dan untuk sekarang! Biarkan waktu yang menentukan bagaimana nasib pernikahan kita ke depannya."

​Arunika melepaskan tangan Abimana dari bahunya dengan perlahan namun pasti. Jarak di antara mereka kembali melebar, menciptakan jurang transparan yang terasa begitu dingin.

​"Sebaiknya kita masing-masing mulai saat ini introspeksi diri. Itu penting, bukan? Jangan memaksaku untuk memaafkanmu hanya karena kamu sedang merasa bersalah." lanjut Arunika. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang hampir meluap. "Tidurlah, Mas. Kesehatanmu lebih penting untuk saat ini agar kamu bisa berpikir jernih."

​Tanpa menunggu jawaban, Arunika berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Suara pintu yang tertutup pelan namun mantap itu terdengar seperti palu hakim bagi Abimana.

​Abimana terpaku di koridor apartemen yang sunyi. Kata-kata "introspeksi diri" terus terngiang di kepalanya. Ia menatap tangannya yang tadi sempat menyentuh Arunika—tangan yang sama yang dulu ingin ia gunakan untuk melepaskan ikatan ini, kini justru terasa hampa karena kehilangan hangatnya.

​Pria itu menyeret langkahnya menuju sofa. Ia menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit apartemen yang mewah namun terasa kosong. Benar kata Arunika, ia perlu berkaca. Ia perlu melihat kembali betapa egoisnya ia selama ini, berlindung di balik nama "cinta masa lalu" sambil mengabaikan berlian yang sebenarnya sudah ada di genggamannya.

​Arunika menutup pintu kamar dengan rapat, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Napasnya masih menderu, mencoba meredam gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya. Kalimat-kalimat Abimana tadi memang terdengar manis, tapi bagi Arunika, itu semua terasa seperti janji di atas pasir yang mudah terhapus ombak.

​"Enak saja segampang itu meminta maaf! Kalau dia membuat kesalahan lagi bagaimana? Pernikahan ini bukan mainmain bagiku." batin Arunika dengan geram.

​Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baginya, pernikahan adalah komitmen seumur hidup yang sakral, bukan sekadar pelarian saat seseorang merasa kesepian atau merasa bersalah karena telah tertangkap basah. Bagaimana ia bisa percaya bahwa "perubahan" Abimana malam ini bukan sekadar efek dari demam tinggi atau rasa takut akan murka Ayahnya?

​Arunika berjalan menuju meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya tampak lelah. Ia tidak ingin menjadi wanita yang mudah luluh hanya karena satu pelukan atau tatapan sayu suaminya.

​"Kamu harus membuktikannya dengan tindakan, Mas. Bukan hanya dengan kata-kata puitis di atas kertas atau bisikan di saat kamu lemah." bisik Arunika pada bayangannya sendiri.

​Di luar kamar, Abimana masih terduduk diam. Ia bisa mendengar langkah kaki halus Arunika di dalam sana, yang kemudian diikuti dengan suara lampu yang dimatikan. Kegelapan di apartemen itu seolah mencerminkan jalan panjang yang harus ia tempuh untuk mendapatkan kembali kepercayaan istrinya.

​Ia tahu, kata-kata Arunika tentang "introspeksi diri" adalah peringatan terakhir. Jika ia sekali lagi membiarkan Claudia atau masa lalunya mengintervensi ruang antara dirinya dan Arunika, maka ia akan benar-benar kehilangan wanita itu selamanya.

​Keesokan paginya, Abimana bangun dengan tubuh yang masih sedikit lemas, namun pikirannya jauh lebih jernih. Ia melihat jam di dinding—masih pukul enam pagi.

​Abimana menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa pening yang masih berdenyut di pelipisnya. Pagi ini, apartemen terasa sangat sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani langkah gontainya menuju dapur. Ia melirik pintu kamar Arunika yang masih tertutup rapat.

​"Ini langkah pertamaku, Nika." gumamnya pelan sambil menyingsingkan lengan kemejanya.

​Abimana, sang dosen yang biasanya hanya berkutat dengan literatur hukum tebal, kini tampak kikuk di depan kompor. Ia membuka lemari pendingin, mencari bahan yang bisa ia olah. Tangannya yang masih sedikit gemetar karena sisa demam mencoba memecahkan telur dan memotong beberapa sayuran. Ia teringat, beberapa waktu lalu Arunika pernah membuatkan nasi goreng dengan aroma bawang putih yang kuat—mungkin itu yang harus ia coba buat sekarang.

​Suara desis wajan dan aroma gurih mentega perlahan memenuhi ruangan. Abimana fokus, seolah sedang menyusun draf gugatan hukum yang paling krusial. Ia ingin sarapan ini bukan sekadar makanan, tapi pesan tanpa suara bahwa ia serius ingin berubah.

​Tepat saat ia sedang menata piring di meja makan, pintu kamar Arunika terbuka.

​Arunika muncul dengan pakaian kuliah yang rapi dan kacamata yang sudah bertengger di hidungnya. Ia sempat tertegun, langkahnya terhenti di ambang pintu dapur saat melihat pemandangan yang tak lazim: Abimana, dengan wajah yang masih sedikit pucat namun tampak berusaha keras, sedang sibuk menata sendok dan garpu.

​"Kamu... sedang apa, Mas?" tanya Arunika ragu, suaranya tetap datar namun ada nada kebingungan di sana.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!