Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Niat Mengakhiri
Nathan terdiam cukup lama di ujung telepon setelah kalimat terakhir Dini meluncur. Suara klakson dan hiruk-pikuk lokasi syuting masih terdengar samar di belakangnya, tapi pikirannya sudah jauh melayang.
“Din,” ucapnya akhirnya, nadanya lebih rendah dari biasanya. “Ini bukan soal mau atau tidak. Aku cuma… kaget.”
“Kaget kenapa?” suara Dini terdengar manja tapi mengandung tekanan. “Kita sudah tunangan. Bukankah wajar kalau lanjut ke pernikahan?”
Nathan mengusap tengkuknya. “Aku lagi di luar negeri. Banyak hal yang harus kupikirkan. Jangan diputuskan sepihak.”
“Hm.” Dini mendengus kecil. “Aku cuma ingin kepastian. Jangan lama-lama.”
Telepon ditutup tak lama kemudian. Nathan menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum memasukkannya ke saku jaket. Dadanya terasa berat, seolah ada simpul yang semakin mengencang.
Syuting hari itu akhirnya selesai menjelang malam. Lampu-lampu set dipadamkan satu per satu, kru mulai berkemas. Nathan keluar dari lokasi dengan langkah lambat. Di seberang jalan, Nabila sudah menunggunya, mengenakan mantel panjang dan syal tebal, wajahnya setengah tersembunyi dari dingin.
“Kau kelihatan capek,” kata Nabila begitu Nathan mendekat.
“Bukan cuma capek,” jawab Nathan sambil tersenyum kecil. “Lapar juga.”
Nabila terkekeh. “Aku tahu tempat sandwich enak, tapi sederhana. Mau?”
Mereka berjalan menyusuri trotoar, berhenti di sebuah kios kecil di pinggir jalan. Lampu kuning temaram menerangi etalase sederhana. Mereka memesan sandwich hangat dan dua cangkir kopi take-away, lalu duduk di bangku panjang yang menghadap jalan.
Nathan membuka bungkus sandwichnya tanpa langsung menggigit. Ia menatap lalu lintas Berlin yang mengalir pelan. “Aku belum pernah benar-benar cerita soal pertunanganku.”
Tangan Nabila yang memegang kopi sedikit menegang. Ia menoleh, berusaha terlihat santai. “Kau nggak wajib cerita kalau belum siap.”
“Aku mau,” kata Nathan cepat. “Karena aku merasa… tidak adil kalau kau tidak tahu.”
Ia menarik napas dalam. “Aku dijodohkan. Dari awal. Hubungan kami dibangun di atas ekspektasi keluarga, bukan perasaan. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu cukup.”
Nabila menunduk, menatap permukaan kopinya. Uap hangat naik perlahan, kontras dengan perasaannya yang mulai dingin. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku sadar aku bohong pada diriku sendiri,” lanjut Nathan. “Dan mungkin juga pada Dini.”
Kalimat itu membuat dada Nabila terasa sesak. “Dia ingin mempercepat pernikahanmu,” katanya pelan, seolah memastikan.
Nathan mengangguk. “Baru saja menelepon.”
Hening sejenak. Suara kota terasa lebih keras di telinga Nabila. Ia menggigit bibir, berusaha menahan rasa gundah yang merambat cepat. “Kalau begitu… aku harus jujur juga,” katanya akhirnya. “Fakta itu membuatku takut.”
Nathan menoleh penuh perhatian. “Takut kehilangan?”
“Takut berharap,” jawab Nabila jujur. “Aku tidak ingin jadi seseorang yang berdiri di antara keputusan besar hidupmu.”
Nathan meletakkan sandwichnya, lalu menatap Nabila dengan sungguh-sungguh. “Aku tidak ingin kau berada di posisi itu. Dan karena itu… aku sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri pertunangan ini.”
Mata Nabila membesar. “Nathan… itu bukan keputusan kecil.”
“Aku tahu,” sahutnya mantap. “Tapi aku juga tahu, melanjutkan pernikahan tanpa kejujuran jauh lebih kejam.”
Nabila menelan ludah. Ada perasaan hangat bercampur takut di dadanya. “Bagaimana dengan keluargamu? Publik?”
Nathan tersenyum miris. “Aku aktor. Hidupku selalu dinilai. Tapi untuk sekali ini, aku ingin memilih dengan jujur.”
Angin malam berembus lebih dingin. Nabila merapatkan mantelnya. “Aku tidak ingin jadi alasan yang membuatmu disalahkan.”
“Kau bukan alasan,” tegas Nathan. “Kau hanya membuatku sadar.”
Mereka kembali menggigit sandwich masing-masing, tapi rasanya tak lagi sama. Di antara mereka, ada keheningan yang sarat makna, bukan canggung, melainkan penuh pertimbangan.
“Apa pun keputusanmu nanti,” ujar Nabila akhirnya, “aku ingin kau melakukannya karena itu benar untukmu. Bukan karena aku.”
Nathan tersenyum lembut. “Itulah yang membuatku semakin menghormatimu.”
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti