Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ketika Suami Berubah
"Sudah berani menjawabku rupanya. Kita lihat saja nanti, apa kamu masih bisa seberani ini kalau Pandji tidak ada di sini."
Dengan ekor matanya, Soraya melirik Pandji yang sedang menoleh pada adik iparnya itu.
"Begitu saja kamu langsung ambil hati sih, Mel...." dalam hitungan detik saja, raut kesal Soraya yang tadinya suram melembut, senyumnya mengembang hangat.
"Pasti bawaan bayi dalam kandunganmu... Mbak juga pernah mengalaminya saat mengandung Adri dan Naomi, mudah emosi."
Adri yang berlindung dan menempel di belakang Melitha refleks menarik kepalanya kebelakang dengan satu langkah kakinya mundur.
"Bibi mau punya adik?" Adri mendongak, menatap wajah Melitha. Dirinya yang sudah kelas satu Sekokah Dasar tentu saja mengerti apa yang diucapkan oleh ibunya barusan.
Di sebelah kakaknya, pupil mata Naomi seketika membesar, kelopak matanya terbuka lebar dengan alis terangkat tinggi saat ucapan sang kakak tertangkap indera pendengarannya.
"Tungguhan? Bibi bacal punya dedek?" menatap Adri dengan pandangan ribuan tanya lalu beralih pada sang bibi.
Mata Melitha berkedip cepat, bingung harus mengatakan apa, walau sebenarnya jawabannya cukup 'ya' tapi begitu sulit terlontar dari mulutnya.
Seperti halnya Melitha dan kedua bocah itu, Pandji juga turut kaget mendengarnya. Menurutnya, Soraya mengatakan itu di waktu yang tidak tepat pada Adri dan Naomi.
"Sungguhan, Sayang. Dedeknya masih bobok dalam perut bibi Meli," Soraya sengaja mengambil alih untuk menjawab, triknya mengambil hati dua anaknya supaya punya link kembali ke rumah. "Kalian pasti senang, iya kan?"
"Yeay! Holeeeeee!" Baik Naomi maupun Adri keduanya berjingkat-jingkat kegirangan, sudah membayangkan bagaimana serunya bermain dengan adik baru mereka kelak.
"Adeeeek Bayi! Adeeeek Bayi!" sorak Adri.
"Dedek bayi! Dedeeek bayiiiii!" Naomi tak mau kalah, hatinya dipenuhi khayalan tentang indahnya punya adik baru.
"Ayo, Sayang... Mama akan bantu kalian mandi dan ganti pakaian... " Soraya mendekat, mengambil kesempatan di kala hati keduanya bahagia.
"Tidak mau! Tama bibi Meli aja," Naomi spontan meronta dan melepaskan diri begitu tangan Soraya menyentuh bahunya.
Mendapat penolakan itu, raut Soraya kembali suram, terlebih melihat Adri juga melakukan hal yang sama dengan adiknya, keduanya bersembunyi di belakang pinggang Melitha lagi.
"Tenang Raya, sabar... ' Soraya mengatur napasnya, berusaha menahan diri agar tidak meledak-ledak seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Bila itu dilakukan ia khawatir Melitha yang mulai berani akan mengusirnya dari rumah itu.
"Mel, ajak anak-anak masuk," Pandji mengusap lembut kepala Adri dan Naomi, cukup miris melihat ketakutan di mata mereka. "Mas mau bicara sama mbak Raya sebentar."
Melitha menoleh cepat, "Iya, Mas.... Anak-anak, ayo kita masuk dulu...."
Keduanya cepat beranjak mengikuti Melitha tanpa berani menoleh pada ibu mereka.
Klek-klek.
Tangan Soraya kembali terkepal di samping tubuhnya, hatinya kembali panas menyaksikan Melitha dengan mudahnya membuka pintu rumah, tidak seperti dirinya tadi.
"Mas Pandji!" Melitha berbalik badan saat teringat sesuatu yang ia olah semalam dan tersimpan di dalam kulkas. "Jangan pergi dulu, aku mau titip salad buah buat Bibi."
"Iya," Pandji tersenyum seraya mengangguk kecil.
"Itu kesukaanku.... Awas saja kamu Mel, kalau tidak menyisakannya untukku!" Air liur dalam mulut Soraya mendadak penuh, tapi gengsi bila langsung meminta salad buah itu pada Melitha.
"Cuih!"
Pandangan Pandji langsung beralih pada Soraya yang meludah sembarangan.
"Mas Harry orang yang baik, perhatian, dan pengertian, tapi sayang sekali punya isteri seperti mbak Raya... kasar, tak punya hati, dan tak punya sopan santun..." batinnya.
"Kalian kemana aja, sore baru pulang?" tanya Soraya selesai meludah. "Anak-anak masih kecil, butuh banyak istirahat dalam pertumbuhan mereka, bukannya diajak keluyuran temani kalian pacaran!"
Pandji menggeleng pelan. Walau jarang bergaul dengan isteri kakak sepupunya itu, sedikit banyak ia tahu tabiatnya, tapi tetap saja ia keheranan melihat mood ibu dari dua keponakan Melitha itu yang sebentar berubah-ubah, berpura-pura baik, dan sebentar lagi berubah kasar.
"Kami ada sedikit keperluan, Mbak," sahut Pandji sopan. "Sudah izin sama mas Harry juga. Anak-anak tidak ada yang temani di rumah, jadi kami ajak sekalian."
Mendengar jawaban Pandji yang bernada sindiran, Soraya tak ambil pusing.
"Kamu yakin mau nikahi Melitha? Kamu lihat sendiri kan bagaimana hasil didikannya? Anak-anakku menjauhiku, padahal aku ini Mamanya mereka," berusaha menghasut. Bila Pandji tak ada, ia yakin Melitha tidak berani macam-macam padanya seperti yang telah mereka jalani selama ini.
"Berarti mbak Raya belum sadar juga rupanya," Pandji kembali menggeleng pelan, tetap menjaga sikap kesopanannya.
"Bersama Melitha, Adri dan Naomi terlihat nyaman. Mereka merasa aman dan terlindungi. Berbeda bila bersama mbak Raya, saya melihat ada ketakutan di mata mereka."
"Jangan asal menilai, kamu itu belum menikah dan belu punya anak. Di perut Melitha juga bukan anak kamu, tapi Celo!" sembur Soraya yang tak suka pada ucapan Pandji yang menurutnya sok tahu.
Jika tak ingat siapa dirinya, ingin rasanya Pandji merobek-robek mulut jahat isteri kakak sepupunya itu.
"Sepertinya, dalam perbendaharaan hatinya mbak Raya ini isinya busuk semua, itu sebabnya segala yang terlontar dari mulutnya mbak Raya tidak ada perkataan baik, semuanya perkataan yang jahat dan busuk," walau suaranya rendah, tapi ucapan Pandji mampu membuat emosi Soraya langsung naik ke ubun-ubun.
"Beraninya kamu bicara seperti itu pada kakak iparmu--"
Ngooong!
Raya tidak melanjutkan kalimatnya, ia kenal suara mesin motor Harry walau dari kejauhan.
Dan benar saja, satu unit motor sport milik Harry masuk ke halaman rumah melewati pagar yang masih terbuka.
Druuuum.... Drum....
Harry melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan dengan kulit wajah memerah akibat sepanjang hari lebih banyak berada di bawah paparan sinar matahari.
"Mas Har, kamu sudah pulang?" Soraya cepat mendekat, memasang senyum termanisnya.
Harry menatap Soraya sekilas, tak ada emosi di raut wajahnya. "Kenapa kamu pulang?" datarnya, balik bertanya pada Soraya, lalu beralih mencantolkan helmnya pada salah satu spion.
"Kok nanyanya gitu sih, Mas?" Soraya mati-matian menahan diri , tidak mengubah suara lembutnya pada Harry. "Aku kan isteri kamu, ya pasti pulanglah... Aku kan cuma main ke rumah kedua orang tuaku...."
"Aku adalah suami yang nggak guna, yang ngga bisa belain kamu di depan bibi Harun, dan disini kamu dijadiin pembantu. Lebih baik kamu kembali saja ke rumah orang tuamu, Raya...." datar Harry lagi.
Soraya menahan napas, rahangnya setengah terbuka mendengar Harry membalikan semua kata-kata terakhirnya itu sebelum meninggalkan rumah bersama kakaknya Rita malam itu.
Kepala Soraya berdenyut, terasa sangat sakit, perutnya juga serasa diaduk, mual melanda, rasanya ingin muntah tapi tak bisa.
Bersambung✍️