Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Pencabut Nyawa
Wuuuussss
Erlang Xuan berhenti di atap istana. Ia ingin menyelamatkan istrinya, tapi ternyata bantuannya tidak diperlukan. Tatapannya menyapu sekitarnya. Tak jauh dari bangunan itu, Zhang Xue dikepung oleh beberapa pemuda.
"Hai, Putri cantik!" Pangeran Han mencoba menyentuh wajah Zhang Xue, tapi wanita itu menepis tangan sang pangeran.
"Diantara kami bertiga, kamu pilih siapa? Cuma semalam!" Pangeran Ling tersenyum sinis, sementara pangeran Feng hanya diam dan menatap sang putri dengan mata merah membara.
"Tidak usah memintanya memilih! Malam ini, kalian boleh bermain dengannya!"
Ketiga pangeran semakin bersemangat. Tiga orang yang sedari tadi menahan hasratnya, sekarang semakin bersemangat. Terlebih lagi, diantara para putri Zhang, Zhang Xue yang paling cantik.
"Hai cantik, ayahmu memberi izin! Apakah kamu sanggup bermain dengan kami semalaman?" Pangeran Zhu mencengkeram tangan Zhang Xue. Di detik berikutnya, kekuatan misterius membuatnya terpental kebelakang puluhan meter jauhnya.
"Kupikir membunuh tiga pangeran mahkota bukan perkara sulit!" Erlang Xuan mendarat di samping istrinya. Dua orang lainnya dibuat terbang puluhan meter.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya.
"Baik-baik saja!" jawabnya.
"Hei, anak buangan klan Erlang! Apa yang kamu lakukan?" Kaisar Zhang berteriak.
"Menjauh dari putriku!" teriaknya.
"Jangankan mendekatinya! Menciumnya pun aku berani!"
Erlang Xuan memeluk Zhang Xue. Di depan Kaisar dan anak-anaknya, ia mengecup bibir sang putri. Tentu saja hal itu membuat Kaisar kebakaran jenggot.
"Rendahan, beraninya, kamu!" Pangeran Zhang Liang marah. Ia melepas ciuman itu dan menatap tajam sang pangeran mahkota.
"Kenapa tidak boleh? Ada masalah?" Satu alisnya terangkat, dan sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
"Kurang ajar!" Zhang Liang menghunus pedangnya. Ia menghampiri Erlang Xuan seperti algojo yang hendak mengeksekusi. Saat jarak keduanya semakin dekat, Zhang Xue maju dan menerbangkan kakaknya dengan satu pukulan.
"Sayang sekali, istana megah Yang Mulia roboh!" Ia mengalihkan pandangannya ke ayahnya. Ekspresinya seperti orang yang sedih, tapi wanita itu justru tersenyum miring.
"Sepertinya aku harus merobohkan istana utama!"
Wuuuussss
Sebuah tapak tercipta di udara. Ukuran tapak tersebut bertambah dengan cepat. Saat Kaisar Zhang bereaksi, istananya sudah menjadi reruntuhan tak berguna.
"Dasar anak pel@c*r!" Kaisar Zhang geram.
"Kamu dan ibumu sama-sama murahan!" hinanya.
"Kupikir ayahku juga murahan. Sudah tahu wanita penghibur, malah dijadikan simpanan!" Zhang Xue terlihat kebingungan, meski saat ini, ia ingin menangis.
"Jangan menangis!" Erlang Xuan menyeka air mata Zhang Xue. Meski terlihat baik-baik saja, tapi air matanya menetes tanpa henti.
"Anak sialan! Menjauh dari sampah rendahan itu!" Kaisar Zhang berteriak. Bukan hanya tidak didengarkan, Zhang Xue bahkan menangis di pelukan Erlang Xuan.
"Dasar jal*ng!" Kaisar Zhang benar-benar geram.
"Anak sialan! Lebih baik kamu bermain dengan mereka bertiga!" Kaisar berteriak. Tentu saja hal itu membuat Erlang Xuan kesal. Ia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke ayah mertuanya.
"Dalam mimpi sekalipun, Tidak akan kubiarkan mereka menyentuh istriku!"
Api berkobar dan mengubah pedang bintang suci menjadi naga api yang sangat besar.
Swuuuussss
Boooommmmmm
Ledakan keras terdengar. Ledakan itu diiringi pilar api yang muncul dari perut bumi. Tak jauh dari pilar itu, Kaisar Zhang terjebak dengan tangan terikat.
"Baj*ngan kecil! Siapa yabg mengizinkanmu menikah dengan putriku?"
"Kenapa kamu bertanya padaku? Seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri mengapa anakmu tidak memberitahukan hal ini padamu!"
Bukannya sadar, Kaisar Zhang justru semakin marah. Ikatan di tangannya putus, dan sebuah pedang melesat ke arah Zhang Xue.
Swuuuussss
Taaaakk
Pedang milik Kaisar Zhang hancur berkeping-keping. Serpihan pedang itu melayang di udara lalu berubah menjadi bunga teratai. Di atas teratai itu, Zhang Xue melayang dan menatap tajam ayah tak pernah mempedulikannya.
"Bunga!" Erlang Xuan tersenyum tipis.
"Anak sialan, apa yang akan kamu lakukan?" Zhang Liang maju dan melindungi ayahnya. Meski begitu, Zhang Xue tidak menganggapnya sama sekali. Teratai yang melayang di udara melesat ke arah sang pangeran mahkota.
"Sial, dia tidak menganggap ku sama sekali!" Pangeran mahkota geram. Tanpa pikir panjang, ia menarik ayahnya untuk menghindari teratai miliki Zhang Xue.
Sreeeekk
Darah menyembur dari lengan Zhang Liang. Karena melindungi ayahnya, lengan kirinya terpotong. Anehnya, meski sudah menelan pil penyembuh, tetap saja darahnya mengeluarkan tanpa henti.
"Apa yang kamu lakukan padaku, anak pel@c*r?" teriaknya.
"Tentu saja mencabut nyawa orang yang selalu menindasku!" jawabnya dengan tatapan dingin.
"Kamu!" Zhang Liang geram. Karena lukanya yang sangat parah, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sreeeekk
Lengannya yang lain terpotong. Bukan hanya itu, dantiannya pun dihancurkan. Tentu saja pelakunya adalah Zhang Xue. Dulu, tak ada yang peduli dengannya, bahkan selalu ditindas. Sekarang, Putri yang terabaikan itu menjelma menjadi pencabut nyawa.
"Selamat tinggal!"
Zhang Xue menggerakkan dua jarinya. Di detik berikutnya, teratai kecil melesat ke Zhang Liang. Dalam waktu singkat, tubuh sang pangeran mahkota terpotong menjadi beberapa bagian.
"Zhang Liang!" Kaisar Zhang berlutut. Tangannya mengepal, dan matanya memerah. Dengan satu tarikan napas, ia sudah berada dibelakang Zhang Xue.
Swuuuussss
Boooommmmmm
Sebelum menyerang, sebuah serangan mengenainya. Serangan itu membuat menghantam tanah. Darah menyembur dari mulutnya, dan beberapa tulang rusuknya patah. Bukan hanya itu, tulang punggungnya pun retak, hampir patah.
"Anak buangan! Siapa yang memberimu izin untuk menyerang?" tanyanya.
"Bagaimana? Haruskah aku mengirimnya ke alam kematian, atau kubiarkan hidup?" tanyanya kepada Zhang Xue.
"Serahkan orang tua itu padaku!"
Zhang Xue mendarat di depan ayahnya. Senyum ayahnya membuatnya kesal. Ia tak membiarkan ayahnya berdiri. Sebelum lelaki itu berdiri, teratai kecil masuk ke kepalanya.
"Turuti perintahku!"
Kaisar Zhang menatap Zhang Xue dengan tatapan kosong. Tak ada lagi Kaisar yang sombong dan berwibawa. Sekarang hanya ada Kaisar yang dijadikan boneka.
"Aku hampir lupa!"
Zhang Xue berbalik dan menatap tajam tiga orang yang hendak kabur. Ia tersenyum dan melemparkan teratai kecil ke ketiga orang itu. Teratai tersebut memungkinkannya untuk mengendalikan ketiganya dari jarak yang sangat jauh. Tentu saja tidak akan ada yang curiga.
"Bersikaplah seperti biasa. Kalau perlu, beri pelajaran kepada adik-adikku yang baik!" katanya.
"Sesuai perintah!" Kaisar Zhang berbalik dan melangkah pergi. Tak beberapa lama, kesadarannya kembali, tapi perintah Zhang Xue tidak bisa ditolak sama sekali.
"Zhang Yue, aku ingin dia menderita!" Suara Zhang Xue menggema di telinganya.
Wuuuussss
Erlang Xuan dan Zhang Xue meninggalkan istana. Keduanya ke penginapan, tempat mereka tinggal selama sebulan terakhir. Di penginapan itu juga Hehua latihan tertutup. Tentu saja para pengasuhnya mencarinya kemana-mana.
"Dalam waktu sebulan, kultivasinya melonjak drastis. Tubuh phoenix memang hebat," puji Zhang Xue.
"Sebenarnya tidak juga. Kultivasinya meningkat dengan cepat berkat inti phoenix yang terlahir bersamanya. Inti phoenix membantunya menyerap Qi 10 kali lebih cepat dari orang lain," jelas Erlang Xuan.
Boooommmmmm
Ledakan kecil terdengar dari kamar Hehua. Ledakan itu menyebabkan penginapan bergetar bener detik. Getaran itu membuat semua orang panik dan mengira penginapan akan roboh.