Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin Baru
Minggu berlalu begitu cepat tanpa terasa, pagi ini Adrian sudah terlihat tampan, ia di dampingi oleh ayahnya akan melakukan akad nikah di kediaman orang tua Davina.
Dengan setelan jas hitam, celana hitam dan balutan kemeja putih.. Adrian juga membawa mas kawin lengkap, juga termasuk produk perawatan tubuh, kosmetik yang dibelinya di ruko Hanin dan Hanin juga mengemasnya menjadi bingkisan yang menarik dengan pita merah.
"Ayo Adrian, cepat sedikit jangan lebih dari jam 8 pagi, kamu lama sekali pakai sepatunya.." ujar pak Wijaya yang sudah dulu siap.
"iya pak.. ayoo" ujar Adrian tersenyum.
Tak lama kemudian mereka berdua pun bergegas ke rumah Davina yang hanya berjarak 4 km saja dari rumah Adrian.
Tiba di kediaman pak Firman ayah Davina, Adrian dan ayahnya di sambut dengan kalungan bunga melati, "Assalamualaikum.. "sapa Adrian dan ayahnya, "waalaikumsalam, silahkan.." ujar pak Firman dan istrinya.
Mereka pun masuk ke rumah pak Firman yang cukup besar, rumah yang sangat asri dan indah, rumah yang dipilih untuk melaksanakan akad nikah suci untuk kedua calon pengantin.
Tampak petugas KUA juga sudah berada di rumah keluarga Davina, karena berhubung penuh jadwal kantor KUA petugas pun bersedia hadir di kediaman pak Firman ini,
Bacaan Al Qur'an sudah di kumandangkan oleh seorang santri, di sertai tausiah seputar pernikahan oleh seorang ustadz, dan kini penghulu bersiap untuk memulai..
Adrian terlihat tenang, dan tampan duduk dekat petugas KUA dan di hadapan pak Firman,
"Baik, sudah siap ya pak Adrian?" tanya penghulu yang memimpin acara. "Insya Allah pak" ujar Adrian mantap.
Setelah membaca istigfar, tangan pak Firman menjabat tangan Adrian di hadapannya dan melakukan ijab kabul..
Pak Firman : Bismillah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Adrian Wijaya SE. bin Wijaya Wiranata dengan putri saya yang bernama Davina SIP. binti Firman Amiring Prodjo dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, emas 80 gram di bayar tunai..
Adrian : Saya terima nikahnya dan kawinnya Davina SIP binti H. Firman Amiring Prodjo dengan mas kawin tersebut, tunai..
Adrian mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan hanya 1 kali tarikan nafasnya.
"Sah ya, sah? sah?.. "ujar petugas KUA bertanya pada beberapa saksi dan keluarga yang hadir. "Sah, sah, sah... "ujar mereka yang hadir.
Davina pun datang menghampiri Adrian yang kini sudah sah menjadi suaminya, kemudian ia mencium punggung tangan Adrian, Davina terlihat sangat cantik dengan gamis warna dusty dan hijabnya yang senada dengan motif bunga.
Adrian tampak memegang kepala istrinya sekarang dan menyentuh ubun-ubunnya sambil melafalkan berdoa..
'Allahumma inni as aluka khoirohaa wa khoiro maa jabaltaha 'alaihi wa a'udzubika min sarihaa wa syarimaa jabaltaha 'alaihi..'
Kemudian setelah itu Adrian mencium kening Davina untuk pertama kali, sambil menyerahkan mas kawinnya.
"Terima kasih mas" ujar Davina lembut.
Mereka pun kemudian terlihat menandatangani buku nikah, saling berpandangan, lalu mereka juga melakukan acara sungkeman kepada kedua orang tua mereka.
Selesai acara akad nikah, para tamu yang hadir mencicipi hidangan yang telah disajikan, tepat pukul 10 pagi.. Hanin dan Amel tampak hadir memenuhi undangan acara,
"Selamat ya mas, semoga rumah tangganya selalu dirahmati Allah, semoga samawa" ujar Hanin tersenyum tulus pada Adrian mantan suaminya, Hanin juga memeluk Davina.
Hanin juga menyalami mantan mertuanya pak Wijaya, mereka sempat berbincang hangat lalu kemudian turun bersama Amel untuk mencicipi hidangan.
Davina tampak menghampiri Hanin,
"Berdua aja mbak sama mbak Amel?" tanya Davina, "iya Vin.. maaf ya telat melihat akad nikah kalian tadi, yang penting mas Adrian dan mbak Vina sudah sah" ujar Hanin.
Davina pun tersenyum manis, ia tahu betul Hanin sudah benar-benar move on dari Adrian suaminya yang sekarang.
Hari semakin siang, beberapa tamu pun sudah mulai meninggalkan kediaman pak Firman, sedangkan keluarga inti masih berada di dalam rumah asyik berbincang hangat.
Davina, Adrian terlihat naik ke kamar pengantin di lantai 2 untuk berganti pakaian.. tangan lembut Davina menggandeng suaminya berjalan menaiki anak tangga.
Adrian kini sudah berada di kamar istrinya, ia lalu berganti pakaian yang lebih santai, Adrian memandang Davina lembut..
"Vin, boleh aku cium?" tanya Adrian. Davina mengangguk. Adrian kemudian menyentuh lembut bibir istrinya.. hangat.. tidak terburu-buru, hati Davina bahagia merasakan sentuhan Adrian.
"Mau aku bantuin buka bajunya?" tanya Adrian sambil melihat lekuk tubuh istrinya.
"Nggak usah mas, aku kan bisa sendiri ini aku ke kamar kecil dulu ya" ujar Davina. "Ganti bajunya di sini aja sayang.. kita kan muhrim" ujar Adrian tersenyum nakal sambil tangannya mulai melucuti pakaian istrinya.
"Mas, aku masih malu.." ujar Davina tersenyum. Adrian hanya mengangguk. Davina kemudian berganti pakaian di kamar kecil di kamarnya, Adrian dengan sabar membiarkannya.
Setelah selesai, Adrian pun bersiap mandi karena merasa gerah, "Sayang.. mau ikut mandi nggak, yuuk!" ujar Adrian. "Nggak ah, iiih mas.. sana mandi sendiri" ujar Davina sambil membawa ponselnya dan turun ke bawah bergabung dengan keluarganya.
Adrian hanya tertawa melihat kelakuan istrinya itu, lalu pergi mandi. "Mm, awas ya.. lihat aja nanti" gumam Adrian.
Di ruang tengah rumah masih tampak beberapa keluarga inti sedang mengobrol, "Eeh ini kok pengantin malah ikutan ngobrol, sudah sana bikin anak gih.." ujar sepupu Davina, Davina tersenyum.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 14:30 siang, orang tua Davina juga sedang menghadiri pernikahan temannya, dan adiknya Kevin juga akan pergi mengantar pacarnya pulang.
Rumah pun sepi, hanya tinggal Davina dan Adrian saja, setelah mengunci pintu Davina kembali ke kamar dan melihat Adrian baru selesai mandi.
"Semua pada pergi ya sayang?" tanya Adrian sambil membuka hijab istrinya. "Mm, iya mas.." ujar Davina.
Adrian mendekat perlahan, dipandanginya wajah Davina yang cantik mulus itu, nafas mereka bertemu dulu sebelum bibir.. hangat dan berat, "Vin, ....." ujar Adrian tidak meneruskan kata-katanya lagi. "iya Mas.... "ujar Davina sambil tangannya melingkar di leher suaminya.
Ada desakan halus, bukan kasar.. tapi cukup membuat jantung berdebar lebih kencang, tangan Adrian mulai menelusuri punggung Davina, lalu turun ke pinggang, sentuhannya terasa hangat.. Davina merasakan tubuhnya bereaksi, ia suka cara Adrian memperlakukannya dengan lembut.
Mereka pun mulai berbaring saling berhadapan, Adrian menempelkan keningnya ke kening Davina, lalu membawa tangan halus Davina ke bawah perutnya membiarkannya menyentuh 'miliknya' yang sudah mengeras di balik boxernya.. dan tangan itu diam di sana, lama..
Jemari tangan Davina kini mulai merasakan benda tumpul milik Adrian yang semakin mengembang perlahan, dengan gerakan halus ia mencoba menyeimbangkan hasrat yang ada,
Tangan Adrian pun mulai menyentuh dua bukit kembar Davina yang selalu terjaga baik, lembut, hangat.. "Vin, aku sangat menyayangi kamu" ujar Adrian lembut, Davina pun membiarkan suaminya memberikan gigitan gigitan lembut di ujung bukit kembarnya.
Sentuhan Adrian perlahan merubah lebih berani, namun terkendali, Davina membiarkan tubuh Adrian menyatu dengan tubuhnya.. dengan tekanan halus, tapi intens yang membuat tubuh Davina menggigil pelan, ada gairah yang mengalir tumbuh perlahan, mengikat keintiman yang mereka berdua rasakan.
Davina membalas dengan mendekap Adrian kuat, lebih erat menyandarkan dirinya sepenuhnya, merasakan detak jantung Adrian yang semakin cepat, ritme yang juga sama ia rasakan.
Dan ketika akhirnya ketegangan itu mereda, dunia seolah kembali bernafas.
Adrian menarik Davina ke dalam pelukannya, menyelimutinya dengan kehangatan yang tenang, Davina pun merebahkan kepalanya di dada suaminya.. mendengar detak jantung yang mulai stabil, sebuah janji tanpa suara bahwa ia ada, sepenuhnya.
Adrian mengecup pelipis dan pipi Davina, lama, penuh rasa syukur merasakan kedekatan itu ada bukan sekedar hasrat.. tapi, ini adalah rumah.
Sore itu berakhir tanpa kata, hanya pelukan yang tak ingin di lepas.. dua hati yang mengerti keintiman sejati tak selalu keras, kadang ia hadir paling kuat dalam diam.
30 menit pun berlalu, Davina masih bersandar di dada Adrian yang kekar..
"Vina, boleh mas nambah lagi?, sumpah kamu wangi banget, kamu enak banget.." ujar Adrian nakal sambil mencumbui istrinya. Davina hanya mengangguk, masih sedikit malu menatap tubuh suaminya yang menggoda.
Dengan lembut jemari Adrian masuk ke celah area tubuh istrinya, "udah basah lagi sayang.. mm.." ujar Adrian, Davina mengerti apa yang di inginkan Adrian lalu mereka mengulangi lagi olahraga di atas kasur itu.
Setelah puas Davina dan Adrian pun mandi bersama, "Mm.. nanti malam lagi ya" bisik Adrian lembut, "iya sayang, iya.. Mas kuat sekali, aku suka" bisik Davina tanpa malu lagi.
****