namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelebihan putri Mahendra.
Mahendra yang merasa aturan dari boss preman Budi koplak itu tak masuk akal sama sekali ingin interupsi tetapi sebelum Mahendra mengucapkan sepatah katapun boss Budi sudah bersuara,
"Disini tak ada yang boleh mengeluarkan pendapat, suaraku adalah keputusanku". Ucapnya setengah berteriak.
Mahendra terdiam, Budi koplak melanjutkan ancamannya, "dan jika kamu berani macam macam maka nyawamu taruhannya, tanda tangani dokumen ini supaya kalian tak lari dari tanggungjawab".
"Tanggung jawab yang mana tuan, kalian mencekik para nasabah, bagaimana bisa bunga dengan hutang pokok hampir setara?" protes Mahendra dan si koplak ternyata tak mau tahu tetapi Mahendra pun yang kali ini datang sebagai wali dari Rizki tak mau menanda tangani, Budi koplak yang tak mampu memaksa karena meskipun ketua preman lelaki bertubuh cungkring itu hanyalah mulutnya saja yang tajam, dalam segi kekuatan dia sama sekali tak mampu, alias lemah.
Budi koplak yang sudah sangat jengkel menghadapi Mahendra menodongkan senjata api ke kepala Mahendra dan memanggil anak buahnya dengan suara nyaringnya yang memenuhi ruangan itu.
Keempat anak buahnya masuk dengan tergopoh gopoh, "iya boss, kita apakan manusia ini". salah satu dari mereka mengeluarkan suara.
"Paksa, kalau tidak mau juga bunuh mereka dan buang jasadnya ke laut". Teriak Budi koplak sambil melotot, ketika anak buahnya berniat memaksa Mahendra untuk tanda tangan seseorang masuk kedalam ruangan itu dengan suara bass nya yang menggelegar.
Pak Arman datang, dari tadi memang sudah mengamati pergerakan mereka, dan ketika Mahendra sudah terlalu lama di dalam maka pak Arman yang tadinya menunggu di mobil memunculkan diri, "siapa yang berani memaksa mereka". Suaranya yang penuh wibawa khas seorang pemimpin mengagetkan para begundal yang ada di situ.
"Bang Arman, ada apa ini kenapa Abang kesini, memang kenal sama mereka?" tanya Budi koplak penuh kebingungan.
"Mereka keluarga ku, berani kamu menindasnya maka akan ku hancur usahamu yang tak mau mengikuti aturan ini". Ancam bang Arman.
Budi koplak jiper juga menghadapi orang yang terpengaruh di wilayahnya itu dan memohon pada pak Arman agar tak menghancurkan usahanya, tetapi pak Arman mengancam jika suatu saat di temuinya Budi koplak menjalankan usahanya tidak mengikuti aturan yang berlaku maka pak Arman akan menutup semua usaha Budi koplak yang berupa loan atau pinjaman berbunga dan klub malam nya serta bisnis manusia dewasanya di kawasan itu.
Akhirnya Mahendra dan Rizki pun pulang terap diantar pak Arman karena pak Arman sekalian jemput princess Kiara nya.
Di perjalanan pulang Rizki di wanti wanti oleh pak Arman dan Mahendra jangan sekali kali tergiur oleh bujukan siapapun, apalagi dia masih muda pastinya sangat mudah dijadikan santapan para penipu.
Mahendra juga memberi nasehat, jika orang tuanya tak di temukan tidak usahlah di cari, karena dengan mereka membuang Rizki ke panti asuhan berarti mereka sudah tak menginginkan kehadiran Rizki apapun alasannya, seandainya mereka sadar bahwa mereka adalah orang tua pasti akan berusaha sekuat tenaga memberi penghidupan pada anaknya, sekarang yang paling menyayangi Rizki adalah Emaknya, Mbak Rohimah, maka dari itu Mahendra menyarankan dan menyuruh Rizki lebih menyayangi wanita separuh baya itu, secara Emak nya tidak punya siapapun selain Rizki, dan Rizki berjanji akan selalu menyayangi dan berbakti pada Emak dalam hidupnya.
Rizki pun berjanji akan menyicil uang Mahendra yang sepuluh juta itu jika nanti dia sudah dapat gaji stabil dari tempatnya bekerja, kebetulan ada pak Arman jadi saat ini pak Arman memintakan izin Rizki untuk libur kerja, karena sakit, itu benar dia memang lagi sakit dan tak mungkin juga bekerja dengan muka lebam penuh luka, restoran memberinya libur satu Minggu, sebenarnya Rizki ingin menengok Emaknya tetapi dia tidak enak karena takut Emaknya kwatir dan bertanya apa yang terjadi padanya.
Malam hari, sebenarnya Mahendra sudah mau istirahat karena hari ini benar-benar capek mengurus urusan Rizki tetapi sudah hampir jam 10 malam ada ketukan pintu, seperti nya ada pasien mendadak yang butuh pertolongan, Mahendra keluar kamar ingin membukakan pintu ternyata Rizki pun sudah keluar duluan, "permisi mas, tolong anak saya dari sore tadi tiba tiba menjerit jerit seperti orang kesurupan". Seorang bapak dengan paniknya meminta pertolongan.
Mahendra membukakan pintu, "silahkan masuk pak, dan tolong baringkan dia diatas dipan sebelah sana". Mahendra memberi tahu bapak tersebut untuk menggendong putrinya yang sepertinya sedang kesakitan.
Mahendra memeriksa pasien yang ternyata seorang gadis remaja, dia meraung-raung hingga membangunkan si Checil yang tengah tertidur lelap.
Mahendra memegang perut gadis itu dan Mahendra tak menemukan detak kehidupan didalam perut gadis itu berarti ia tidak sedang hamil.
"Bagaimana awal mulanya pak, apakah sudah di bawa ke rumah sakit?" tanya Mahendra dan si bapak itu bilang katanya sudah di bawa kerumah sakit dan tidak di temukan penyakit apapun, untuk dibawa ke rumah sakit besar tentu saja mereka tak mampu karena mereka hanyalah masyarakat bawah.
"Sudah di bawa ke puskesmas mas tapi tak ada penyakitnya terus disuruh bawa ke rumah sakit besar untuk di USG tapi kamu tak punya biaya, dan BPJS juga nggak punya". Jawab bapak si gadis.
Mahendra memegang kening gadis lalu memegang pergelangan tangannya untuk mengecek urat nadi gadis bernama citra itu, dan ajaibnya semua normal tak di temukan suatu keanehan sedikit pun.
"Apa ini yang di sebut santet?" gumam Mahendra yang selama dia menjalani pekerjaan ini belum menemukan suatu yang aneh seperti ini.
"Anak bapak kerja di mana?" tanya Mahendra jauh dari topik, karena Mahendra curiga dengan penampilan gadis ini yang sepertinya gadis tak beres.
"Di club mas, dia menjadi pemandu lagu". Jawab bapaknya membuat Mahendra manggut-manggut tanda mengerti.
Checil yang terbangun mendekati ayahnya dan dia melihat seorang di baringkan diatas dipan dengan meraung raung kesakitan, Checil memegang perut gadis itu dan aneh nya si citra berhenti menjerit lalu tertidur.
Mahendra terbengong, baru kali ini dia melihat kelebihan lain dari putrinya selain dia memang mampu melihat sesuatu yang tersembunyi, dia juga mampu melihat benda yang hilang ternyata putrinya juga bisa memberi ketenangan orang yang terkena ilmu teluh.
"Checil sayang, kamu bisa membuatnya tenang?" tanya Mahendra.
"Checil lihat di perut mbak ini banyak sekali kaki seribu dan kecoa, Checil mau tanya kakek dulu bagaimana caranya mengeluarkan hewan itu dari perut mbak ini". kata Checil membuat mereka yang ada di ruangan itu terkejut dan melongo tak percaya.
"Rupanya Checil punya kelebihan juga mas". Ucap Rizki yang dari tadi hanya bengong menghadapi kekacauan ini, seperti tak percaya ternyata cerita hidup manusia itu macam macam dan aneh aneh.
Mahendra menggeleng " aku belum pernah melihatnya Ki, dan yang dia sebut kakek itu siapa aku juga tidak tahu".
Checill membisikkan kata di telinga ayahnya. "Di kamar kakak itu ada botol air minum berwarna hitam dan ternyata ada orang yang masukkan gigi mayat di situ dan sama kakaknya tadi sudah di minum, jadi kakaknya sakit perut ". Ucap polos si Checil.
*****