Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari bahkan belum menampakkan diri ketika Dian sudah terjaga. Usai menunaikan salat Subuh, ia langsung menuju dapur, memulai rutinitas menyiapkan sarapan sekaligus pesanan cilok dan cireng frozen untuk siang nanti.
Di rumah mertuanya, hanya ada Dian, putrinya, dan sang mertua. Sementara itu, suami Dian bekerja di Bintan dan baru bisa pulang setiap dua minggu sekali, selalu kembali ke rumah mertuanya saat libur.
Dian merebus air untuk membuat teh hangat bagi mertuanya. Biasanya ia memasak nasi goreng sebagai menu pagi, namun hari ini ia memilih membuat mi goreng laksa sesuai permintaan sang mertua.
Setelah sarapan siap, Dian mulai menata bahan-bahan untuk mengerjakan pesanan hari ini. Meski tidak selalu ada pesanan setiap hari, ia tetap merasa senang karena kesibukan kecil itu membuat dirinya tak mudah jenuh.
Tepat pukul enam tiga puluh, mertuanya bangun dan duduk di meja makan, siap menikmati teh hangat dan sarapan yang sudah ia sediakan.
Tiba-tiba saja mertua Dian mulai mengomel, selalu menemukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai.
“Dian, kamu ini bisa masak atau tidak? Kenapa rasanya hambar? Kamu pikir saya ini orang sakit apa?” ucap Bu Minah dengan nada ketus.
Dian yang mendengar itu hanya terdiam. Baginya, pagi-pagi begini terlalu dini untuk memulai perdebatan dengan mertuanya.
Merasa diabaikan, Bu Minah kembali bersuara, lebih tajam,
“Kamu itu tuli, ya, Dian?”
Dian pun mendekat dan menunduk sedikit.
“Iya, Bu… maaf,” jawabnya pelan.
“Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu,” balas Bu Minah akhirnya.
Cilok yang Dian buat sudah selesai dibulat-bulatkan. Ia kemudian memanaskan air dan meneteskan sedikit minyak goreng ke dalamnya. Setelah itu, ia teringat ingin mengecek apakah putrinya sudah bangun atau belum.
Sesampainya di kamar, Dian mendapati putrinya masih terlelap. Ia membuka gorden agar cahaya pagi masuk, lalu mematikan AC yang masih menyala.
“Naya… ayo bangun, sayang,” ucapnya lembut sambil membelai rambut putrinya.
Setelah berhasil membangunkan Naya, Dian kemudian memandikan putrinya. Usai mandi, Naya yang sudah segar diajak ke ruang tengah, lalu Dian menyalakan televisi dan memilihkan tayangan kartun kesukaannya.
“Naya, tunggu di sini dulu ya, Sayang. Ibu mau masukkan ciloknya sebentar,” ujar Dian pelan.
Naya mengangkat jempolnya kecilnya, memberi isyarat setuju kepada ibunya.
Dian mulai memasukkan cilok ke dalam air panas sedikit demi sedikit agar cepat matang. Ia berniat setelah Naya sarapan, barulah ia melanjutkan membuat cireng.
Hari ini Dian hanya menyiapkan dua kilogram adonan, yang nantinya akan ia kemas ke dalam plastik ukuran kecil dan sedang.
Setelah memastikan ciloknya matang, Dian mengambil sepiring mi goreng laksa untuk Naya. Ia duduk di samping putrinya, bersiap menyuapi anak kecil itu dengan penuh kesabaran.
Setelah Naya selesai sarapan, Dian kembali melanjutkan membuat cireng. Tepat pukul sepuluh, semua pesanan sudah selesai dan siap dimasukkan ke plastik frozen.
Notifikasi WhatsApp pun mulai berdatangan.
Kak, aku kurirkan saja ya, seperti biasa.
Ada juga COD dengan BT 3 ya, Kak.
Kak, antar ke Tepi Laut.
Sebagian pesanan diambil kurir, sementara lainnya menunggu waktu pengantaran.
“Tidurin Naya dulu lah… kalau titip sama Ibu, bisa-bisa kena omel lagi,” lirih Dian pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Sebelum masuk kamar untuk mandi, Dian tak lupa membuatkan susu untuk putrinya.
“Ayo, Naya… kita minum susu dulu,” ucapnya lembut.
“Iya, Ibu,” jawab Naya dengan senyum lebar—karena ini memang jam tidurnya.
Dian menutup gorden agar kamar lebih redup, lalu naik ke kasur sambil menyodorkan botol susu pada Naya. Sambil membelai rambut putrinya, Dian berkata pelan,
“Naya tidur dulu ya, Nak. Ibu mau mandi sebentar.”
Naya mengangguk kecil sebagai tanda setuju.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap untuk mengantar pesanan pelanggan, beberapa kurir juga sudah datang menjemput pesanan pelanggan nya. Saat hendak melangkah ke depan rumah, Dian berpapasan dengan mertuanya yang baru keluar dari kamar.
“Dian, Ibu mau pergi arisan dulu. Kamu kunci saja rumahnya,” ujar Bu Minah singkat.
“Iya, Bu,” jawab Dian pelan.
“Aku harus cepat mengantar pesanan pelanggan… kasihan Naya sendirian,” gumamnya sambil memacu motor sedikit lebih cepat.
Pukul 13.30, Dian tiba kembali di rumah. Saat masuk ke kamar, ia melihat Naya masih tertidur pulas. Ia pun berganti ke baju rumahan, lalu mengambil botol susu untuk dicuci.
Setelah itu, Dian mulai membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Untungnya, di rumah mertuanya semua fasilitas sudah lengkap, sehingga ia tidak perlu mencuci baju dengan tangan.
Dian juga mulai menyiapkan masakan untuk makan malam. “Ikan sambal saja, sayurnya direbus,” gumamnya pelan. Sambil menggoreng ikan, ia mengolah bumbu sambal, menumisnya perlahan hingga aromanya harum dan warnanya matang sempurna.
Sambil menunggu ikannya masak, Dian menjemur pakaian di samping rumah. Setelah selesai menjemur, ia kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak. Ikan sudah matang, hanya menunggu bumbu dingin, Dian memasukkan ikan, mengaduknya hingga tercampur merata, lalu memindahkannya ke wadah saji.
Usai memasak, ia mulai mengumpulkan sampah, membersihkan meja, dan menyapu bagian dapur. Setelah itu barulah ia mengepel seluruh rumah agar bersih kembali.
Tiba-tiba terdengar suara kecil memanggilnya.
“Ibu… Ibu…”
Dian segera menghampiri Naya, lalu menggendongnya menuju dapur. Ia mendudukkan putrinya di kursi dekat meja makan, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah semua pekerjaan selesai, Dian mengajak Naya masuk ke kamar. Ia berniat menunaikan salat Asar terlebih dahulu.
Tepat pukul empat sore, mertuanya sudah pulang dari arisan.
Di tempat lain, Andi sedang tenggelam dalam pekerjaannya. Hari ini ia harus lembur, dan tadi ia sudah mengabari Dian—meski sampai sekarang pesannya belum dibalas. Ia tahu istrinya pasti sedang sibuk, karena hampir semua urusan rumah dan usaha kecil mereka ditangani Dian seorang diri.
Andi merasa kasihan pada istrinya. Andai saja bisa, ia ingin meringankan beban Dian dengan mempekerjakan ART. Namun ibunya tidak mengizinkan ada pembantu tinggal di rumah, membuat Andi hanya bisa pasrah dan berharap Dian tetap kuat menjalaninya.
Ibunya juga sering mengirimi Andi pesan, mengeluhkan hal-hal kecil yang tidak disukainya dari sikap Dian. Meski begitu, Andi selalu berusaha meredam keadaan. Ia hanya bisa menasihati istrinya agar tetap sabar menghadapi perlakuan ibu mertuanya, berharap semuanya bisa berjalan lebih baik dari hari ke hari.
Saat Dian baru hendak merebahkan tubuhnya, suara mertuanya memanggil. Ia pun segera bangkit dan menghampiri.
“Dian, buatin teh untuk Ibu. Jangan manis-manis, ya,” ucap Bu Minah dengan nada ketus.
“Iya, Bu,” jawab Dian pelan.
Dian menuju dapur, merebus air, dan menyiapkan teh beserta sedikit gula. Setelah selesai, ia membawa secangkir teh itu ke ruang TV.
Baru saja ia hendak berdiri kembali, Bu Minah berkata,
“Dian, pijitin kaki Ibu. Lagi pegal.”
Tanpa banyak bicara, Dian hanya mengangguk.
“Aduh, Dian… yang enak dong pijitannya,” keluh mertuanya.
“Iya, Bu,” jawab Dian seadanya, tetap berusaha sabar.
Setelah selesai memijit, Dian kembali masuk ke kamar. Tubuhnya terasa sangat lelah, namun ia tetap berusaha menjaga semangatnya.
Saat melihat ponselnya, ia mendapati pesan dari suaminya serta notifikasi transfer dari para pelanggan. Dian membalas satu per satu pesan yang masuk. Setelah itu, ia membuka chat Andi dan menuliskan balasan singkat namun hangat:
Semangat, Ayah, begitu pesannya sebelum ia kirimkan.
“Alhamdulillah untuk hari ini,” ucap Dian pelan, merasa lega.
Ia menatap Naya yang sedang bermain di lantai, hati kecilnya ikut hangat melihat putrinya ceria.