NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : DARAH DI ATAS SALJU

Raungan mesin snowmobile bergema di tebing-tebing es, bersaing dengan lolongan angin badai yang mulai membutakan pandangan. Aluna mencengkeram kemudi dengan jari-jari yang mulai mati rasa meskipun sudah terbungkus sarung tangan tebal. Di belakangnya, tubuh Xavier yang tak sadarkan diri terikat erat dengan tali pengaman, kepalanya terkulai di bahu Luna. Setiap kali kendaraan itu menghantam gundukan salju, Luna bisa merasakan napas Xavier yang semakin dangkal dan dingin di lehernya.

"Jangan menyerah, Xavier... sedikit lagi," bisik Luna, meski suaranya langsung ditelan oleh badai.

Pandangan Luna hanya terbatas pada jarak dua meter di depannya. Cahaya lampu depan snowmobile memantul pada butiran salju yang turun seperti ribuan jarum tajam. Jalur yang ditunjukkan Hans sangat berbahaya; sebuah jalan setapak sempit yang di sisi kirinya adalah dinding es tegak lurus, dan di sisi kanannya adalah jurang tanpa dasar yang disebut sebagai "Lembah Penelan Jiwa".

Tiba-tiba, suara mesin lain terdengar dari arah belakang. Bukan satu, tapi dua cahaya lampu kuning mulai menembus kabut salju. The Purifiers tidak membiarkannya pergi begitu saja. Mereka menggunakan kendaraan militer yang lebih berat dan lebih cepat.

DOR!

DOR!

Tembakan peluru memercikkan bunga api di permukaan es dekat ban belakang snowmobile Luna. Luna memacu gas hingga maksimal, membuat kendaraannya melompat melewati celah es yang retak. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang menjadi satu-satunya sumber panas di tubuhnya yang membeku.

Ia teringat instruksi Hans: "Di depan sana ada terowongan kereta api tua yang sudah terkubur salju. Jika kamu bisa masuk ke sana, radar helikopter tidak akan bisa melacakmu."

Namun, jalan menuju terowongan itu harus melewati jembatan kayu gantung yang sudah lapuk. Saat Luna melihat siluet jembatan itu di depan, ia juga melihat helikopter tempur Sophia kembali muncul di atas celah awan, menyorotkan lampu pencari yang menyilaukan.

"Itu dia!" teriak Luna pada dirinya sendiri.

Ia mengarahkan kendaraannya menuju jembatan. Kayu-kayu tua itu berderit dan berayun hebat saat beban snowmobile melintas di atasnya. Di belakangnya, para pengejar mulai melepaskan tembakan rentetan. Luna tidak menoleh. Ia hanya fokus pada ujung jembatan yang mulai menghilang tertutup salju tebal. Begitu ia sampai di seberang, Luna menarik tuas rem tangan, melompat turun, dan dengan sisa tenaganya, ia menendang pasak pengunci jembatan yang sudah ia siapkan dengan granat kecil pemberian Xavier.

BOOM!

Jembatan itu runtuh ke dalam jurang, membawa satu kendaraan musuh bersamanya. Luna menatap ke arah kegelapan jurang sejenak, sebelum kembali memacu kendaraannya masuk ke dalam mulut terowongan gelap yang menjanjikan perlindungan sementara dari dingin yang mematikan.

Di dalam terowongan kereta api yang gelap dan lembap, Luna akhirnya bisa bernapas. Suara badai di luar terdengar seperti raungan binatang buas yang tertahan di balik dinding batu. Ia segera mematikan mesin kendaraan dan melepaskan ikatan tali Xavier.

Tubuh Xavier jatuh lunglai ke pelukan Luna. Pria itu menggigil hebat, bibirnya membiru, dan luka di perutnya kembali merembeskan darah segar yang langsung membeku di udara dingin.

"Xavier! Bangun! Jangan tinggalkan aku sekarang!" Luna menepuk-nepuk pipi Xavier dengan panik.

Luna menyeret Xavier ke sebuah sudut yang lebih terlindungi. Ia mengumpulkan sisa-sisa kayu bantalan rel tua dan menggunakan minyak dari tangki snowmobile untuk menyalakan api kecil. Cahaya jingga yang menari-nari mulai menerangi dinding terowongan yang dipenuhi es abadi.

Luna melepaskan mantel Xavier yang basah oleh darah dan salju. Ia terisak saat melihat betapa parahnya luka pria itu. Xavier telah menerima hantaman ledakan dan peluru demi melindunginya di brankas tadi. Dengan tangan gemetar, Luna membersihkan luka itu menggunakan alkohol dari tas medis yang ia bawa.

"Luna..." suara Xavier terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan hantu.

"Aku di sini, Xavier. Aku di sini," Luna menggenggam tangan Xavier, mencoba membagikan kehangatan tubuhnya.

Mata Xavier terbuka sedikit, menatap langit-langit terowongan yang gelap. "Di saku... jas... drive itu..."

Luna mengambil hard drive titanium yang tadi ia simpan. "Sudah aku amankan. Tapi itu tidak penting sekarang! Kamu harus bertahan hidup!"

"Data itu... berisi rekaman terakhir... ibumu di Zurich sepuluh tahun lalu," Xavier terbatuk, mengeluarkan darah. "Dia tidak diusir karena fitnah... dia lari ke sini untuk menemui ayahmu... tapi Madam Celine menjebaknya. Madam Celine bekerja sama dengan Sophia... untuk melenyapkan mereka berdua."

Luna membeku. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada badai salju di luar. Selama ini, ia mengira Madam Celine adalah penyelamatnya yang keras namun bermaksud baik. Ternyata, Neneknya sendiri adalah arsitek dari seluruh penderitaannya. Madam Celine bukan hanya membuangnya; dia mencoba membunuh ibunya.

"Semuanya bohong..." bisik Luna, air mata mengalir jatuh ke dada Xavier. "Seluruh hidupku dibangun di atas kebohongan mereka."

"Gunakan data itu... untuk meruntuhkan mereka, Luna," Xavier mencengkeram tangan Luna dengan sisa kekuatannya. "Kamu bukan lagi korban. Kamu adalah hakim mereka."

Luna memeluk Xavier erat, mencoba memberikan seluruh panas tubuhnya di tengah suhu yang terus merosot. Di terowongan gelap di puncak Alpen itu, di antara api kecil yang mulai meredup, Aluna Seraphine melepaskan kepingan terakhir dari rasa hormatnya kepada keluarganya. Ia tidak lagi peduli pada nama Seraphine. Ia hanya peduli pada keadilan yang kini berdenyut di dalam genggamannya.

Tengah malam tiba, dan keheningan di dalam terowongan terasa begitu menekan. Xavier akhirnya jatuh tertidur dalam kondisi stabil namun kritis. Luna duduk terjaga, menatap api yang hampir padam sambil memegang hard drive itu seperti sebuah jimat. Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang bersiap untuk serangan terakhir.

Ia membuka laptop kecil yang diberikan Kevin sebelum mereka berpisah. Dengan koneksi satelit yang lemah, ia mencoba membedah isi drive tersebut. Layar itu menampilkan video hitam putih yang kasar.

Terlihat ibunya, Althea, berdiri di sebuah kantor mewah di Zurich. Wajahnya penuh ketakutan. Di depannya duduk Madam Celine yang tampak sepuluh tahun lebih muda, bersama Sophia.

"Pilih, Althea," suara Madam Celine terdengar dingin di rekaman itu. "Serahkan kode akses dari Adrian dan pergi selamanya tanpa Luna, atau kita akan memastikan Luna tidak akan pernah melihat ulang tahunnya yang kelima."

Ibunya menangis, memohon agar Luna tidak dilibatkan. Akhirnya, ibunya menandatangani dokumen pelepasan hak waris yang selama ini diklaim sebagai surat gangguan jiwa. Namun, setelah tanda tangan itu didapat, Sophia justru memberi isyarat kepada pengawalnya.

"Buang dia ke perbatasan. Pastikan dia tidak pernah sampai ke Jakarta dalam keadaan waras," ucap Sophia di video itu.

Luna menutup laptopnya dengan keras. Amarahnya kini telah mencapai titik jenuh, berubah menjadi sebuah tekad yang dingin dan kalkulatif. Ia melihat ke arah Xavier yang masih bernapas teratur.

"Mereka pikir mereka bisa mengendalikan dunia dengan rasa takut," gumam Luna, matanya menatap tajam ke arah mulut terowongan. "Tapi mereka lupa bahwa orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan."

Luna berdiri, berjalan menuju pintu terowongan. Badai di luar mulai mereda, menyisakan pemandangan bintang-bintang yang sangat jernih di atas puncak salju. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu kota Zurich yang bercahaya seperti perhiasan palsu.

Ia tahu, menuruni gunung ini besok pagi akan menjadi perjalanan bunuh diri. Sophia pasti sudah memasang barikade di setiap jalan keluar. Namun Luna tidak lagi berencana untuk lari.

Ia akan kembali ke Zurich. Bukan untuk bersembunyi di terowongan, tapi untuk berjalan langsung ke depan pintu puri Sophia dan menyiarkan kebenaran ini ke seluruh dunia melalui jaringan The Keepers.

"Xavier," Luna kembali ke samping pria itu dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Besok, kita tidak akan menjadi buronan lagi. Besok, kitalah yang akan menjadi pemburunya."

Luna memejamkan mata sejenak, mempersiapkan mentalnya untuk hari esok. Di puncak Alpen yang membeku ini, ia telah mengubur "Luna yang malang" selamanya. Yang tersisa hanyalah Aluna von Hess Seraphine, sang penghancur dinasti yang akan menuntut balas dengan cara yang paling mematikan.

Fajar di Pegunungan Alpen tidak datang dengan kehangatan matahari yang lembut, melainkan dengan semburat warna biru pucat yang dingin dan kabut tebal yang menyelimuti tebing-tebing es. Di dalam terowongan kereta api tua, api kecil yang dinyalakan Luna semalam telah menjadi tumpukan abu abu-abu yang dingin.

Luna terbangun dengan tubuh yang kaku dan sendi-sendi yang terasa seperti membeku. Ia menoleh ke samping dan melihat Xavier masih bernapas pendek dan berat, namun denyut nadinya di leher terasa lebih stabil daripada semalam. Keajaiban fisik Xavier sebagai mantan agen elit tampaknya sedang bekerja keras melawan infeksi dan hipotermia.

Luna berdiri, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan berjalan menuju mulut terowongan. Di sana, ia melihat pemandangan yang membuatnya tersentak. Badai telah benar-benar berhenti, meninggalkan hamparan salju yang bersih dan berkilau. Namun, di kejauhan, di atas jalur setapak yang seharusnya menjadi rute pelarian mereka, ia melihat siluet tiga helikopter Eurocopter hitam milik The Council sedang melakukan pola pencarian melingkar.

"Mereka tidak akan berhenti," bisik Luna pada dirinya sendiri.

Ia kembali ke dalam, menghampiri Xavier dan mulai mengganti perban daruratnya. "Xavier, kamu harus bangun. Jika kita tetap di sini, mereka akan menemukan sisa panas dari mesin snowmobile kita sebentar lagi."

Mata Xavier perlahan terbuka. Ia meringis saat mencoba menggerakkan bahunya. "Luna... berapa lama aku tidak sadar?"

"Cukup lama untuk membuatku hampir gila," jawab Luna, mencoba memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Kita terjebak. Jalur bawah tertutup barikade, dan mereka punya mata di langit."

Xavier mencoba duduk, bersandar pada dinding batu yang dingin. Ia menatap laptop yang masih menyala di samping Luna, menampilkan barisan data enkripsi yang baru saja dibuka. "Data itu... apakah kamu sudah melihat semuanya?"

"Ya. Semuanya," suara Luna berubah menjadi dingin, sedingin es yang menyelimuti gunung itu. "Madam Celine bukan hanya penjilat kekuasaan, dia adalah eksekutor. Dia menjual darah dagingnya sendiri demi posisi di dewan Eropa. Aku tidak akan membiarkannya mati dengan tenang di Zurich."

Xavier menatap Luna, menyadari ada perubahan besar pada gadis itu. Sorot mata yang penuh keraguan dan ketakutan kini telah lenyap, digantikan oleh kedinginan yang kalkulatif. "Lalu apa rencana Anda? Kita tidak punya logistik untuk melakukan serangan terbuka."

"Kita tidak akan melakukan serangan terbuka," Luna mengambil sebuah perangkat komunikasi satelit milik The Purifiers yang ia rampas semalam. "Kita akan menggunakan keserakahan mereka melawan mereka sendiri. Sophia ingin darahku, bukan? Aku akan memberikannya... tapi dengan cara yang tidak akan pernah dia lupakan."

Luna mulai mengetikkan barisan pesan menggunakan protokol rahasia yang ia temukan di drive ayahnya. Ia tidak mengirimnya ke Sophia, melainkan ke kantor berita internasional dan bursa saham Zurich. Sebuah pesan yang mengandung spoiler kecil tentang data "The Puppet Master" yang akan dirilis secara otomatis dalam dua jam jika koordinat biometrik tertentu tidak diaktifkan.

Satu jam kemudian, suasana di lereng gunung semakin mencekam. Pasukan darat The Purifiers mulai menanjak melewati jalur jembatan yang runtuh dengan bantuan tali tambang dan tangga hidrolik. Suara sepatu bot militer yang menginjak salju terdengar berirama, semakin mendekati persembunyian mereka.

Xavier, meskipun masih tertatih, sudah memegang senapan runduknya. Ia bersembunyi di balik ceruk batu di luar terowongan, sementara Luna berdiri di tempat terbuka tepat di pinggir jurang yang dalam.

"Nona, ini terlalu berisiko," bisik Xavier melalui saluran komunikasi internal. "Jika penembak jitu mereka tidak mendapatkan perintah untuk menangkap Anda hidup-hidup, mereka akan langsung menembak kepala Anda."

"Mereka tidak akan berani," jawab Luna, suaranya tenang tertiup angin. "Sophia tahu bahwa jika aku mati tanpa memberikan kunci dekripsi suara, data itu akan terkunci selamanya dan segera tersebar ke seluruh dunia. Aku adalah satu-satunya asuransi mereka."

Tiba-tiba, sebuah helikopter muncul dari balik tebing, melayang hanya beberapa puluh meter di depan Luna. Pintu samping terbuka, memperlihatkan komandan The Purifiers yang menodongkan senjata ke arahnya.

"MENYERAHLAH, ALUNA VON HESS!"suara itu menggelegar melalui pengeras suara helikopter. "IKUT KAMI DAN KAMI AKAN MENYELAMATKAN ASISTENMU!"

Luna tidak bergerak. Ia justru mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah tabung kecil berisi darahnya sendiri sampel yang ia ambil semalam. "Katakan pada Sophia! Jika helikopter ini tidak mendarat dan membawaku langsung ke depan gerbang purinya untuk 'negosiasi', aku akan menjatuhkan diri ke jurang ini bersama kunci data terakhir!"

Komandan itu tampak ragu. Ia berbicara dengan seseorang melalui radio. Luna bisa melihat perdebatan yang terjadi di dalam helikopter. Detik-detik berlalu seperti keabadian. Luna berdiri di ujung maut, dengan angin yang bisa menjatuhkannya kapan saja.

"BAIK! JANGAN BERGERAK!" helikopter itu mulai menurunkan ketinggiannya, mencari tempat mendarat di dataran kecil di depan terowongan.

Saat roda helikopter menyentuh salju, empat tentara elit melompat keluar, menodongkan senjata. Luna berjalan perlahan menuju mereka. Namun, di balik bayang-bayang batu, Xavier sedang membidik tangki bahan bakar cadangan yang dibawa oleh salah satu tentara pengejar di belakang.

"Sekarang, Xavier," bisik Luna.

DORRR!

Sebuah ledakan hebat terjadi di jalur pendakian pasukan darat, menciptakan longsoran salju (avalanche) buatan yang menelan barisan pengejar di bawah. Di tengah kekacauan suara gemuruh salju dan kepulan asap, Xavier melepaskan dua tembakan presisi ke arah pilot helikopter dan penembak di pintu samping.

Luna langsung merunduk dan berguling ke arah helikopter yang masih menyala. Xavier melesat keluar dari persembunyiannya, menghabisi sisa tentara yang kebingungan dengan gerakan yang sangat efisien meskipun terluka.

"Masuk, Luna! Cepat!" teriak Xavier.

Luna melompat ke kursi pilot, sementara Xavier mengambil alih kendali senjata di bagian belakang. Mereka baru saja membajak kendaraan tercanggih milik musuh.

Helikopter hitam itu melesat meninggalkan puncak Alpen, terbang rendah di antara celah-celah gunung untuk menghindari radar pertahanan udara Zurich yang kini berada di bawah kendali Sophia. Di dalam kokpit, Luna mencengkeram tuas kendali dengan tangan yang masih gemetar karena adrenalin.

"Kita punya waktu kurang dari tiga puluh menit sebelum mereka menyadari helikopter ini telah dibajak," ucap Xavier sambil mengobati luka barunya dengan peralatan medis yang ada di dalam helikopter.

"Aku tidak akan lari ke perbatasan, Xavier," Luna menatap lurus ke arah cakrawala di mana menara-menara kota Zurich mulai terlihat samar.

"Nona? Apa maksud Anda?"

"Sophia mengira dia telah menjebakku. Tapi dia lupa bahwa dia baru saja kehilangan data paling berharganya di brankas kemarin. Sekarang, dia sedang dalam posisi paling rentan. Dia butuh dukungan dewan Eropa untuk tetap berkuasa," Luna mengaktifkan layar navigasi helikopter. "Kita akan menuju markas besar The Council di Puri Von Hess. Kita akan mendarat tepat di tengah pertemuan mereka."

Xavier tertegun. "Itu adalah misi bunuh diri. Ada ratusan penjaga di sana."

"Tidak jika aku membawa 'bom' yang siap meledak," Luna menunjukkan sebuah file di laptopnya yang kini terhubung dengan sistem penyiaran helikopter. "Aku akan menyiarkan rekaman pembunuhan ibuku secara langsung ke seluruh jaringan televisi yang dimiliki Seraphine Global di seluruh dunia saat aku melangkah masuk ke ruangan itu. Aku ingin seluruh dunia melihat wajah asli Sophia dan Madam Celine di saat yang bersamaan."

Luna menoleh ke arah Xavier, matanya berkilat dengan kombinasi kepedihan dan keberanian yang luar biasa. "Aku sudah lelah menjadi orang yang melarikan diri, Xavier. Jika aku harus hancur, maka aku akan membawa seluruh dinasti ini bersamaku."

Xavier menatap Luna lama, lalu ia meletakkan tangannya di atas tangan Luna yang memegang tuas kendali. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mereka mencoba membakar api yang salah."

Helikopter itu menukik tajam, melesat menuju jantung peradaban Eropa yang kaku. Di bawah sana, kemewahan Zurich sedang menunggu kedatangan badai yang sesungguhnya. Badai yang tidak lagi terbuat dari salju dan es, melainkan dari kebenaran yang haus akan keadilan.

Misi bunuh diri dimulai! Luna dan Xavier membajak helikopter musuh untuk menyerang jantung kekuasaan Sophia di Zurich. Akankah rekaman kejahatan Madam Celine berhasil meruntuhkan dinasti Seraphine di depan mata dunia? Ataukah ini akan menjadi panggung eksekusi terakhir bagi sang Ratu yang Terbuang?

🔥 LIKE jika kalian tidak sabar melihat Luna mempermalukan Sophia dan Madam Celine di depan dewan dunia!

💬 KOMEN Apakah menurut kalian Luna akan selamat dari misi nekat ini? Ataukah Xavier yang harus berkorban untuk terakhir kalinya?

📢 SHARE episode yang memacu adrenalin ini! Kita menuju babak final di Zurich!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!