Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Memilih
CHAPTER 30
Di sisi lain, terlihat orang bertubuh besar dan kekar terpental keluar mansion. Terlihat juga Niel melompat menyusul orang itu.
Ternyata, orang itu adalah penjaga yang kedua bernama Gin, dan yang paling kesulitan adalah si penjaga itu. Gin bangkit perlahan dan menatap Niel heran.
Gin terheran-heran dan berpikir kenapa bisa orang yang lebih kecil darinya malah lebih kuat darinya. Niel melompat-lompat datar dan melaju cepat ke depan hadapan Gin.
Niel langsung melancarkan pukulan dari tangan kanannya tepat ke arah perut Gin. Wajah Niel sedikit memerah karena fokus dan semburat kemarahan yang singkat menyelimuti dirinya. Gin juga mengarahkan serangan ke tangan kanan Niel untuk menangkis serangan Niel. Dia tahu lawannya menggunakan knuckle.
Dengan cepat, kedua serangan mereka beradu. Namun, Gin terpental, dan darah menyucur di tangan kanan yang ia gunakan untuk menyerang Niel tadi.
"Cih.... Duri-durinya merepotkan!" Gumam Gin geram.
Ya, setiap Niel memukul, Niel bisa memanjangkan duri-duri di knuckle-nya.
"Sakit ya.... Ya, pasti sakit!! HAHAHAHA!!!" Niel tertawa terbahak-bahak, matanya sedikit menyipit dengan semangat yang tinggi dan sedikit kesenangan saat melihat lawannya terluka.
Gin hanya diam karena dia sedang menyiapkan suatu rencana supaya bisa melancarkan serangan ke Niel. Sejak tadi, Niel tidak terkena serangan sedikit pun.
Sialnya, Niel tidak memberi Gin waktu untuk berpikir. Niel langsung melesat dengan cepat menuju ke depan Gin.
Niel berniat memukul dagu, namun Gin mundur selangkah ke belakang. Tidak hanya itu, Niel kembali menyerang hook mengarah ke samping Gin.
Lagi-lagi, Gin masih bisa menghindar. Tidak berhenti, Niel terus-menerus menyerang Gin, membuatnya terpaksa mundur ke belakang dan bersembunyi di balik pohon untuk mengatur napasnya.
Namun, itu adalah kesalahan baginya karena tiba-tiba Niel memukul ke tanah. Di dalam tanah merambat duri-duri besi yang berasal dari knuckle-nya.
Duri-duri itu dengan cepat memanjang mendekat ke arah pohon di depannya yang di baliknya ada Gin yang bersembunyi.
Saat mendekat, Gin mulai menyadari karena tanah bergetar kecil. Gin mencoba keluar dari balik pohon dan benar saja.
Dengan cepat, keluar duri-duri besi yang menembus pohon dan merobohkannya.
"A-Apa!.... Dia juga bisa begitu!?" Ucap Gin dalam hati.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ledakan-ledakan yang berasal dari dalam mansion, yang sepertinya berasal dari pertarungan Shun dan Akari.
Gin akhirnya memberanikan diri.
"Hei, cebol.... Ayo kita akhiri pertarungan ini!" Tatapan Gin tajam dan diikuti dengan Fix, energi Tennya terpusat di tangan kanannya.
"Yo! Yo! Yo! B, b, b, b, Baiklahh!! Aku! Setuju!" Balas Niel dengan nada rappernya yang khas.
Niel juga menggunakan Fix, energi Tennya terpusat di tangan kanannya. Mereka berdua mengatur napas untuk ancang-ancang serangan.
Tatapan mereka sama-sama tajam, dan secara bersamaan mereka tersenyum. Tidak lama kemudian, mereka berdua langsung melesat dengan cepat.
Bertemu di tengah-tengah, kedua tangan kanan mereka mulai mendekat dan bertemu. Angin berhembus deras, menerbangkan dedaunan yang di tanah.
Debu cokelat yang berasal dari tanah keluar menghilangkan mereka berdua. Seketika hening tak bersuara, hanya ada suara angin.
Sampai suara seseorang terdengar yang mengatakan, "Lumayan!"
Ya, saat asap mulai menghilang, terlihat Niel dan Gin. Kedua tinjuan mereka masih menempel dan di knuckle Niel, terlihat duri-durinya yang panjang menembus tubuh Gin, bahkan kepalanya.
Terlihat raut muka Niel yang tegar dengan alis sedikit terangkat dan tatapan yang penuh tekad tanpa sedikit pun keraguan. Ternyata, sebelum Gin menghembuskan napas terakhir, ia meminta kepada Niel, "Selamatkan Aka—"
Sebelum sempat menyelesaikan kata terakhir, membuat Niel berpikir kalau yang dimaksud oleh Gin adalah penjaga yang dilawan Shun.
Niel langsung bergegas ke tempat Shun yang masih bertarung di dalam mansion.
Di dalam mansion yang terlihat berantakan dan hancur, napas Shun dan Akari terdengar berat. Sejak tadi, Shun hanya menghindar dari ledakan peluru Akari.
Begitu juga dengan Akari, dia terus menembak Shun tanpa mengenainya karena Shun yang lincah. Membuat energi Tennya terkuras banyak, berbeda dengan Shun yang sepertinya masih memiliki energi Ten yang banyak.
Retsu tidak ada di sana karena dia memutuskan untuk mencari kamar pejabat itu.
Shun dan Akari saling tatap-tatapan. Sampai akhirnya Akari berkata, "Kau sekuat ini, kenapa memilih bergabung dengan Nightshade? Padahal lebih bagus Justice."
"Apa maksudmu!? Justice bagus? Apa yang kau pikirkan, hah! Membuat monster dari manusia! Dan melepaskan monster itu ke perkotaan!" teriak Shun.
"Kau pikir itu hal bagus!" Lanjutnya.
Akari terlihat terkejut. "Membuat monster? Informasi dari mana itu! Nightshade lah yang membuat monster!" teriak Akari.
Sampai akhirnya, Shun menenangkan diri karena dia tahu kalau Akari tidak mengetahui kebenaran tentang Justice.
Shun ingin menyelamatkannya karena takut Akari terjun lebih dalam di Justice dan menjadi orang kejam. Namun, Shun tidak tahu caranya karena Akari sepertinya sangat percaya dengan Justice.
Tidak lama kemudian, Niel datang dengan tergesa-gesa dan berbisik kepada Shun, "Shun! Kita harus menyelamatkan penjaga yang melawanmu!"
"Kenapa kau bisa tahu?" balas Shun berbisik juga.
"Kata lawanku tadi, Gin," kata Niel.
Namun, saat ingin berpikir lebih jauh, dinding di sebelah Akari hancur dan membuat Akari terpental keluar dari mansion.
Terlihat langkah dari dinding yang hancur itu. Ternyata karena Retsu sambil menggendong si pejabat. Mulut pejabat itu terlihat ditutup menggunakan plester dan kedua tangannya perlahan terikat oleh sebuah rantai berwarna biru tua.
Shun dan Niel protes karena Retsu datang tiba-tiba dan menggagalkan niat Shun untuk menyelamatkan Akari. Retsu juga tidak peduli dengan Akari dan mengajak Shun dan Niel pergi dari mansion karena polisi sudah mulai mendekat.
Karena itu, Shun dan Niel terpaksa pergi dari mansion. Untuk menyelamatkan Akari, Shun berpikir untuk menunggu mereka bertemu lagi.
Beberapa jam kemudian, mereka terlihat duduk di sebuah tempat yang sepi. Tempat itu jauh dari mansion dan cukup dekat dengan markas badan keamanan negara.
Shun masih berpikir kenapa bisa Akari bergabung ke Justice tapi tidak mengetahui kebenaran Justice. Sampai akhirnya dia bertanya ke Retsu.
"Hei, Retsu... Apa ada orang di Justice, tapi tidak tahu kebenarannya?" Ucap Shun menunduk.
Retsu berdiri. "Ya.... Pasti ada. Contohnya aku," Ucap Retsu.
Shun terkejut tidak percaya dengan perkataan Retsu. "A-apa maksudnya?"
Retsu tidak menjawab dan langsung mengajak Shun dan Niel untuk memberikan pejabat yang mereka tangkap ke Yoshida.
Dengan sedikit kecewa, Shun menuruti Retsu. Tidak lama, mereka sampai di atas gedung markas badan keamanan negara.
Mereka diam di atas gedung itu. Mereka menunggu kedatangan Yoshida. Tidak lama, pintu terbuka dengan perlahan dan Yoshida datang dengan senter yang menghadap ke wajahnya, mencoba menakuti Shun dan lainnya.
"Aw! Aw! Aw! Kejutan yang sangat bagus! Pak Yoshida!" Ucap Niel dengan semangat membara.
Yoshida tertawa kecil. "Hahaha, jangan mengejek begitu."
Perlahan, Yoshida mendekat dan Retsu melemparkan pejabat itu dari genggaman tangannya. Yoshida juga menangkapnya dengan memegang leher pejabat itu.
Retsu dengan cepat menarik rantai yang mengikat tangan pejabat itu dan terlepas begitu saja. Supaya tidak mengamuk, Yoshida memukul satu kali pejabat itu untuk membuatnya pingsan.
Tidak lupa, Yoshida mengucapkan terima kasih karena sudah menjalankan permintaannya. Ya, ternyata misi yang dilaksanakan Shun dan lainnya tadi adalah sebuah permintaan dari Yoshida.
Yoshida juga mengatakan kalau soal imbalannya sedang ia kerjakan. Setelah itu, Yoshida berpamitan dan masuk ke dalam markas.
Shun dan lainnya pun bergegas untuk pergi ke tempat yang aman dan menelepon Juichi untuk dijemput.
Namun, di perjalanan masih ada pikiran yang datang di pikiran Shun, yaitu tentang imbalan Yoshida dan tentang Retsu.