Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Hari Minggu seharusnya menjadi hari suci bagi Amara Lathifa untuk bergelung di bawah selimut, mengistirahatkan otaknya yang nyaris meledak karena rumus-rumus fisika. Namun, harapan itu pupus ketika suara merdu Bunda membangunkannya tepat saat matahari baru saja mengintip di cakrawala.
"Ifa, bangun, Nak. Bantu Bunda di dapur, ya? Nanti siang ada arisan kecil-kecilan," suara Bunda adalah titah yang tidak bisa dibantah.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Ifa menyeret langkahnya ke arah dapur. Penampilannya benar-benar jauh dari kata estetis. Ia mengenakan daster motif bunga warna-warni favoritnya—daster yang kainnya sudah sangat lembut karena saking seringnya dicuci. Rambut panjangnya ia ikat kuncir kuda tinggi-tinggi dengan ikat rambut kain yang cukup besar, memperlihatkan tengkuk dan wajah polosnya yang sama sekali belum tersentuh skincare pagi.
"Ifa, Bunda jemur pakaian di belakang sebentar, ya. Ini ikannya tinggal digoreng, apinya jangan terlalu besar nanti gosong," pesan Bunda sambil menjinjing ember pakaian menuju pintu belakang.
"Iya, Bun," jawab Ifa pendek.
Ifa mengambil penjepit dan mulai memasukkan ikan ke dalam penggorengan yang minyaknya sudah panas. Suara sreng yang nyaring dan uap panas mulai memenuhi area kompor. Sambil menunggu ikan matang, Ifa sesekali mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Pikirannya melayang pada tugas kalkulus yang belum ia sentuh sama sekali.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang berat dari arah ruang tengah. Bukan suara langkah Bunda yang ringan, juga bukan langkah Ryan yang biasanya berisik dengan sandal jepitnya.
"Sori, kayaknya gue salah masuk rumah atau gue lagi di rumah duka?"
Sebuah suara berat dan serak menyapa indra pendengarannya. Ifa tersentak kaget. Suara itu terasa sangat familiar di telinganya—suara yang ia benci sekaligus ia hindari sejak kejadian dua hari lalu.
Ifa menengok dengan cepat, tangannya masih memegang penjepit ikan. Matanya membelalak sempurna saat melihat sosok yang berdiri bersandar pada bingkai pintu dapur.
Itu Nicholas.
Nick berdiri di sana dengan gaya santainya yang menyebalkan. Ia memakai kaos polos hitam yang membentuk otot dadanya dengan jelas, dipadu dengan celana jins gelap yang sedikit robek di bagian lutut. Rambutnya tampak sedikit basah, memberikan kesan segar sekaligus maskulin yang sangat kuat.
Dan yang paling membuat Ifa ingin melempar ikan goreng ke wajahnya adalah: Nick sedang menyeringai.
Matanya menatap Ifa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tatapannya tertahan cukup lama pada daster bunga-bunga yang dikenakan Ifa, lalu beralih ke kuncir kuda yang sedikit miring, dan berakhir di wajah Ifa yang polos tanpa riasan.
"K-Kak Nick?!" Ifa memekik kecil, hampir saja menjatuhkan penjepit ikannya. "Kakak ngapain di sini?!"
Nick melangkah masuk ke area dapur, mengabaikan jarak yang seharusnya ia jaga sebagai orang asing. "Ryan yang suruh masuk. Katanya dia lagi mandi, gue disuruh nunggu di dapur aja biar nggak bosen."
"Tapi kan nggak harus masuk sampai ke sini juga!" Ifa mencoba menutupi bagian depan dasternya dengan tangan kiri, merasa sangat tidak percaya diri dengan penampilannya. "Kalau ada urusan sama Bang Ryan, dia ada di atas! Kakak tunggu di depan aja!"
Nick bukannya mundur, malah makin mendekat hingga ia berdiri tepat di samping Ifa yang masih berdiri di depan kompor. "Gue lapar. Aroma ikan goreng lo lumayan juga."
Ifa bisa mencium aroma parfum Nick yang maskulin, kontras dengan bau amis ikan yang sedang ia goreng. Perpaduan itu membuatnya pening. "Nggak ada! Ini buat tamu Bunda, bukan buat Kakak!"
"Galak banget sih, Fa," Nick terkekeh, suaranya terdengar rendah dan bergetar di telinga Ifa. Ia menunduk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Ifa yang pendek. "Lo lebih lucu pakai daster gini daripada pakai seragam sekolah. Kayak... ibu-ibu muda yang lagi ngambek."
Wajah Ifa mendadak merah padam. Entah karena hawa panas kompor atau karena ucapan Nick. "Kakak pergi nggak?! Atau aku laporin Bang Ryan kalau Kakak godain adiknya?"
Nick menaikkan sebelah alisnya, seringainya makin lebar. "Gue nggak godain, gue cuma observasi. Lagian, Ryan juga tahu kalau adiknya emang lucu kalau lagi marah."
"Kak Nick!"
Tepat saat itu, minyak di penggorengan memercik karena air dari ikan yang belum kering benar. Crot!
"Aduh!" Ifa refleks melompat mundur saat setetes minyak panas mengenai punggung tangannya.
Dalam sekejap, Nick yang tadinya terlihat santai berubah sigap. Sebelum Ifa sempat bereaksi lebih jauh, Nick sudah meraih tangan gadis itu. Gerakannya sangat cepat dan dominan.
"Ceroboh banget sih," gumam Nick, suaranya kini terdengar sedikit lebih serius.
Ia menarik tangan Ifa ke arah wastafel, menyalakan keran, dan membiarkan air dingin mengalir membasahi kulit Ifa yang memerah. Tangan Nick yang besar dan kasar memegang pergelangan tangan Ifa dengan erat namun tidak menyakiti.
Ifa membeku. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia hampir ketahuan mencontek di kelas. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Nick yang kontras dengan dinginnya air keran. Dari jarak sedekat ini, Ifa bisa melihat bulu mata Nick yang lentik dan sebuah tato kecil yang mengintip dari balik lengan kaosnya.
"Sakit nggak?" tanya Nick tanpa menoleh, matanya fokus pada tangan Ifa.
Ifa menelan ludah susah payah. "G-nggak. Cuma kaget aja. Kak, lepasin... aku bisa sendiri."
Nick mematikan keran, tapi ia tidak langsung melepaskan tangan Ifa. Ia mengambil tisu dapur, menepuk-nepuk tangan Ifa hingga kering dengan sangat lembut—gerakan yang sangat tidak cocok dengan reputasi bad boy-nya di kampus.
"Lain kali kalau masak itu fokus. Jangan malah ngeliatin gue terus," ucap Nick pelan sambil menatap langsung ke mata Ifa.
Ifa langsung menarik tangannya dengan kasar. "Siapa yang ngeliatin Kakak?! Kakak yang tiba-tiba muncul kayak hantu!"
Nick hanya membalas dengan seringai khasnya, lalu kembali bersandar pada meja dapur. "Ikan lo gosong tuh."
Ifa menoleh ke arah penggorengan dan benar saja, aroma sangit mulai tercium. "Aaaaa! Tuh kan! Ini semua gara-gara Kak Nick!"
Dengan panik, Ifa mematikan kompor dan mengangkat ikan yang sudah berwarna cokelat kehitaman itu. Ia merasa ingin menangis. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Bunda kalau ikan gorengnya gosong karena ia sibuk "berantem" dengan teman abangnya yang menyebalkan ini?
Di sudut dapur, Nicholas hanya memerhatikan kesibukan Ifa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit kilat jenaka di matanya, namun juga ada ketertarikan yang mulai tumbuh. Baginya, Ifa bukan sekadar adik dari sahabatnya. Ada sesuatu dari gadis berdaster bunga-bunga ini yang membuatnya ingin terus datang kembali, meski ia tahu dirinya adalah "lampu merah" yang seharusnya dihindari oleh gadis sebaik Lathifa.
"Ehem! Nick, lo ngapain di sini?"
Suara Ryan muncul dari arah pintu dapur, ia sudah rapi dengan kaos santai.
Ifa menoleh dengan wajah penuh dendam. "Bang! Temen Abang nih, bikin ikan aku gosong!"
Ryan melihat ke arah penggorengan lalu tertawa keras. "Wah, Nick. Lo apain adek gue sampai dia nggak fokus masak gitu?"
Nick hanya mengangkat bahu pelan, lalu berjalan mendekati Ryan. "Gue nggak ngapa-ngapain. Mungkin pesona gue emang lebih panas daripada minyak goreng, Yan."
"Dih! Pede banget! Pergi sana!" usir Ifa sambil mengacungkan spatula.
Kedua lelaki itu tertawa sambil berjalan menuju ruang tamu, meninggalkan Ifa yang masih berdiri di dapur dengan jantung yang belum juga kembali ke ritme normalnya. Ia menyentuh punggung tangannya yang tadi dipegang Nick. Rasanya masih tertinggal di sana.
"Nicholas menyebalkan!" bisiknya pada diri sendiri.