Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di Kota Terlarang
Lin Feng, seorang pemuda dengan wajah setampan pualam dan tatapan mata secerah bintang utara, berdiri di tengah kepungan prajurit Dinasti Ming. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi dengan pita sutra perak, kontras dengan jubah putihnya yang kini ternoda percikan darah.
Lin Feng adalah murid terbaik dari perguruan Awan Surgawi, pewaris teknik pedang Liùhé Jiàn (Pedang Enam Harmoni) yang legendaris. Namun malam itu, ia bukan lagi pahlawan kekaisaran.
"Menyerahlah, Lin Feng!" teriak seorang perwira. "Kau telah membunuh Menteri Keuangan, Tuan Bao, dan mencuri dokumen rahasia negara!"
Lin Feng mengepalkan tangannya. Itu adalah fitnah yang keji. Tuan Bao adalah orang jujur yang memiliki bukti korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh Kasim Wei Zhong, pejabat paling berkuasa sekaligus paling busuk di istana. Kasim Wei-lah yang membunuh Tuan Bao, melenyapkan bukti tersebut, dan menjadikan Lin Feng sebagai kambing hitam demi menutupi jejaknya.
Dengan satu hentakan kaki, Lin Feng melesat ke udara seperti naga yang terbang ke langit. Teknik peringan tubuhnya membuat ia seolah-olah menari di atas ujung tombak lawan. Meski ia bisa membantai mereka semua, ia memilih untuk pergi. Ia harus bertahan hidup demi kebenaran.
Lin Feng melarikan diri ke pelabuhan Quanzhou. Dengan identitas palsu, ia menumpang kapal jung dagang yang berlayar jauh ke selatan, menuju sebuah kerajaan besar yang tersohor hingga ke negeri Tiongkok: Wilwatikta, atau yang dikenal sebagai Majapahit.
Selama berbulan-bulan di laut, ia melatih kembali tenaga dalamnya. Getaran energi Qì miliknya kini selaras dengan deburan ombak. Ia tahu, telik sandi Kasim Wei sangat luas; ia tidak akan aman sebelum menginjakkan kaki di tanah Jawa.
Kapal berlabuh di pelabuhan Canggu, gerbang menuju ibu kota Majapahit. Lin Feng turun dengan topi caping lebar yang menutupi wajah tampannya. Di pinggangnya, terselip pedang tipis yang ia bungkus dengan kain kumal agar tidak menarik perhatian.
Zaman itu adalah masa keemasan Majapahit di bawah perlindungan sang Mahapatih Gajah Mada. Suasana pasar sangat ramai dengan aroma rempah-rempah dan logam yang ditempa. Namun, ketenangan Lin Feng terusik saat ia melihat sekelompok pendekar bayaran berpakaian khas daratan Tiongkok sedang menginterogasi penduduk lokal dengan kasar.
"Kasim Wei benar-benar mengirim pembunuh bayaran hingga ke sini," gumam Lin Feng dingin.
Ia berjalan memasuki sebuah kedai tuak. Di sana, ia bertemu dengan seorang prajurit Majapahit yang sedang beristirahat. Lin Feng sadar, di negeri asing ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan kungfu Tiongkok-nya. Ia harus beradaptasi dengan ilmu bela diri setempat—Pencak Silat—sambil terus mencari cara untuk membersihkan namanya dari fitnah yang mengejarnya dari ribuan mil jauhnya.
Matahari baru saja tergelincir ke arah barat saat sebuah kapal jung besar berlabuh di dermaga Sungai Brantas, Pelabuhan Canggu. Di antara kerumunan pedagang, pelaut, dan kuli panggul, seorang pemuda melangkah turun dengan tenang. Topi bambu lebar menutupi sebagian wajahnya, namun dagunya yang lancip dan postur tubuhnya yang tegak tetap memancarkan wibawa yang sulit disembunyikan.
Lin Feng, si "Pendekar naga putih", menghirup udara Jawa yang lembap dan beraroma rempah. Di balik kain kumal yang melilit punggungnya, tersimpan pedang pusaka yang telah menumpahkan darah para pembunuh utusan Menteri Wei Zhong di sepanjang perjalanan laut.
Ia melangkah menuju sebuah kedai di pinggiran dermaga. Suasana di dalam kedai riuh oleh tawa para pelaut dan denting koin emas Majapahit. Lin Feng duduk di sudut yang paling gelap, memesan segelas air dan sepiring nasi jagung.
"Hanya air putih, Tuan?" tanya pemilik kedai dengan bahasa Melayu pasar yang patah-patah.
Lin Feng mengangguk singkat. Namun, sebelum gelasnya menyentuh bibir, telinganya yang tajam menangkap suara gesekan sepatu bot kulit di atas tanah—suara yang sangat ia kenal. Bukan suara sandal kayu penduduk lokal, melainkan sepatu prajurit dari daratan Tiongkok.
Brak!
Pintu kedai terbuka kasar. Tiga pria berpakaian serba hitam dengan lambang burung pemakan bangkai di dada mereka melangkah masuk. Mereka adalah kelompok "Bayangan Kelam", pembunuh bayaran tingkat tinggi yang disewa oleh Wei Zhong.
"Mencari seseorang, Tuan-Tuan?" tanya seorang prajurit Bhayangkara Majapahit yang kebetulan sedang minum di sana, merasa terganggu dengan kedatangan mereka yang tidak sopan.
Salah satu pembunuh itu tidak menjawab. Ia mengeluarkan selembar gulungan kertas berisi lukisan wajah Lin Feng. "Kami mencari pengkhianat ini. Siapa pun yang menyembunyikannya akan mati," ucapnya dalam bahasa Mandarin yang kasar, diterjemahkan oleh salah satu rekan mereka.
Mata pemimpin pembunuh itu menyisir ruangan dan berhenti tepat pada sosok yang duduk di sudut. Meskipun wajahnya tertutup topi, aura dingin yang memancar dari tubuh Lin Feng tidak bisa berbohong.
"Lin Feng... kau tidak bisa lari sampai ke ujung dunia sekalipun," desis sang pembunuh sambil mencabut golok besarnya.
Lin Feng perlahan meletakkan gelasnya. Ia berdiri tanpa suara. "Menteri Wei sangat murah hati mengirim kalian hanya untuk mengantarkan nyawa di tanah yang indah ini," jawab Lin Feng tenang, suaranya jernih namun mengandung tekanan tenaga dalam yang menggetarkan meja kayu di depannya.
"Bunuh dia!"
Dua pembunuh melesat maju, senjata mereka berkilat membelah cahaya temaram kedai. Lin Feng tidak mencabut pedangnya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menggeser kaki, menghindari tebasan golok hanya seujung rambut. Ia menggunakan teknik Langkah Awan, tubuhnya seolah menjadi bayangan yang tidak bisa disentuh.
Plak! Plak!
Dua totokan jari menghantam pangkal lengan lawan. Golok mereka jatuh berdenting, dan kedua pembunuh itu terhuyung mundur dengan tangan yang mendadak lumpuh.
Pemimpin pembunuh yang melihat anak buahnya tumbang dengan mudah segera menghunuskan pedang panjangnya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Lin Feng sudah berada di depannya. Ujung jari Lin Feng berhenti tepat di depan tenggorokan sang pemimpin.
"Sampaikan pada tuanmu di neraka," bisik Lin Feng dingin. "Tanah ini bukan tempat untuk sampah seperti kalian."
Tepat saat itu, prajurit Bhayangkara yang tadi menonton mulai berdiri dan menghunus kerisnya, merasa kewibawaan wilayahnya terganggu oleh keributan orang asing. Situasi menjadi semakin rumit. Lin Feng kini tidak hanya berhadapan dengan pembunuh dari masa lalunya, tapi juga harus berurusan dengan hukum di tanah Majapahit.