Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon
Selina bangkit dari ranjang, rambutnya masih berantakan. Ia turun pelan dari tempat tidur sambil menunduk malu.
“Maaf ya, Mas… aku masih berantakan,” ucapnya lirih.
Adipati tersenyum, menatapnya lembut.
“Kamu mau kayak gimana pun, tetap cantik di mata mas.”
“Alah, gombal,” Selina mendecak kecil sambil merapikan rambutnya.
Adipati melangkah mendekat.
“Ini bukan gombal, serius,” katanya pelan. “Kamu itu cantik dalam keadaan apa pun.”
Selina mengangkat alis.
“Mas makin aneh aja.”
Adipati mencondongkan badan, berbisik nakal tapi tertahan,
“Apalagi pas kamu gak pakai apa-apa. ”
“Ih, Mas!” Selina memukul lengannya pelan. “Mesum.”
Adipati tertawa kecil.
“Mesum sama istri sendiri gak maslah sayang.”
“Udah, sana turun dulu,” Selina mengusir sambil menunjuk pintu.
Adipati mundur sambil tersenyum jail.
“Iya, iya. Mas turun. Tapi nanti pulang cepet ya, mas pengin ajak kamu pulang ke rumah. Biar kita bisa ngobrol tenang tanpa gangguan.”
“Dasar omes,” Selina menggeleng sambil menahan senyum.
Adipati keluar kamar. Selina menghela napas, lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Selina turun dengan pakaian rapi. Adipati sudah menunggu di ruang tengah.
“Sayang,” panggilnya lembut. “Buburnya sudah mas siapin.”
Selina duduk.
“Makasih, Mas.”
“Hati-hati, masih panas,” ujar Adipati sambil meniup sendok.
Selina tersenyum kecil.
“Kamu perhatian banget.”
Adipati menyuapinya pelan.
“Pelan-pelan. Ini masih panas barusan Mas panasin.”
Selina mengangguk, menikmati buburnya.
“Enak.”
Adipati tersenyum puas.
“Kalau kamu suka, mas senang.”
“Eh, ya ampun,” suara Arya terdengar sambil tertawa jail. “Kayak anak kecil aja, adek. Disuapin segala.”
Selina langsung mendongak, wajahnya memerah.
“Mas! Kapan sih pulangnya? Gangguin aku aja,” protesnya kesal.
Arya mengangkat tangan pura-pura tak bersalah.
“Lah, mas nggak gangguin, dek.”
Selina menatap tajam.
“Kalau itu bukan gangguin, namanya apa?”
Bejo yang sejak tadi duduk, ikut menimpali dengan nada tegas.
“Arya, kamu mending cek kebun sana. Jangan di rumah terus.”
Arya menggeleng cepat.
“Nggak bisa, Pak. Mau ke kota, nemenin istri ku .”
Adipati segera angkat bicara, sopan.
“Biar saya sama Selina aja, Pak.”
Bejo menoleh ke Adipati, sedikit ragu.
“Serius kamu, Di?"
Adipati mengangguk mantap.
“Iya, Pak. Nggak apa-apa.”
Bejo menghela napas lega.
“Yaudah. Bapak lagi masuk angin juga, nggak bisa ngecek kebun.”
“Iya, Pak. Nanti kami berangkat,” jawab Adipati.
Selina melirik Arya dengan senyum kemenangan kecil, sementara Arya hanya bisa mendecak pelan.
Setelah selesai makan, Adipati berdiri lebih dulu.
“Ayo, kita ke kebun dulu. Habis itu baru pulang.”
Selina mengangguk sambil berdiri.
“Iya, Mas.”
Arya menyeringai usil.
“Anggap aja lagi honeymoon, Dek.”
Adipati menoleh ke Selina dengan senyum menggoda.
“Kamu mau honeymoon, sayang?”
Selina buru-buru menggeleng.
“Nggak usah, Mas. Uang kamu kemarin aja udah kepakai banyak pas nikah. Sayang kalau harus keluar lagi.”
Adipati tertawa kecil.
“Tenang, Mas masih ada uang. Nanti sebelum kamu mulai koas, kita honeymoon, ya.”
Arya ikut nimbrung sambil tertawa.
“Setuju! Biar Selina nggak ngelirik dokter lain.”
Selina langsung menatap Arya kesal.
“Aku nggak mungkin selingkuh, Mas.”
Adipati menatap Selina dengan yakin.
“Mas percaya kok. Ayo.”
Ia menggandeng tangan Selina dan mengajaknya keluar rumah.
“Naik motor butut nggak apa-apa, kan?” godanya.
Selina tersenyum.
“Nggak apa-apa. Aku malah kesel kalau kamu naik mobil. Banyak cewek sama emak-emak ngantri mau jadi istri kamu.”
Adipati terkekeh, menoleh sebentar.
“Oh… jadi kamu cemburu?”
"Apaan sih kamu, Mas. " Pipi Selina merah seperti kepiting rebus karena salting.
Adipati berhenti sejenak, menatap Selina dengan senyum jahil.
“Bener dong. Itu tandanya kamu sayang sama mas.”
Selina mendengus, naik ke motor sambil merapikan pegangan.
“Kegeeran. Aku cuma males ribet aja.”
Adipati tertawa kecil, lalu menyalakan mesin.
“Pegangan yang kuat, sayang.”
Selina memeluk pinggang Adipati menyembunyikan wajahnya yang merah di punggungnya.
“Pelan-pelan, Mas. Jangan ngebut.”