Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 12_Anya, Lihat Aku!
Marco mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Anya.
Anya bisa mencium aroma wine dan parfum woody yang maskulin dari tubuh Marco.
Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan ketegangan listrik yang tak terjelaskan.
"Marco, kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaimu hanya dengan mengurungnya," bisik Anya.
"Aku tidak butuh kamu mencintaiku sekarang, Anya," balas Marco, suaranya kini terdengar seperti geraman rendah yang posesif.
"Aku hanya butuh kamu ada di sini, di sampingku dan menjadi milikku. Cinta... itu bisa kita urus nanti." ujarnya dengan begitu menusuk hati Anya.
Marco mencium kening Anya dengan lama dan penuh tekanan.
Itu bukan ciuman yang nafsu, melainkan ciuman yang menandai wilayah, seolah-olah dia sedang menanamkan cap kepemilikannya di sana.
Anya memejamkan mata, dia merasakan kekuatan besar yang memancar dari pria ini, sebuah kekuatan yang bisa menghancurkan dunia namun saat ini sedang berusaha mendekapnya dengan sangat protektif.
"Sekarang masuklah ke kamarmu, malam sudah semakin dingin," kata Marco sambil melepaskan sentuhannya.
"Dan soal Leo... karena kamu sudah meminta dengan cara yang manis maka dengan baik hati aku akan membatalkan pemindahannya, tapi jika dia mendekatimu lagi lebih dari dua meter, jangan salahkan aku jika dia menghilang." ucapnya dengan tegas.
Anya mendongak, matanya sedikit membelalak. "Benarkah? Terima kasih, Marco!"
Tanpa sadar, Anya memegang lengan Marco sebentar karena rasa lega.
Sentuhan spontan itu membuat Marco mematung, baginya sentuhan kecil itu terasa lebih berarti daripada semua kepatuhan paksa yang ia dapatkan dari orang lain.
"Masuklah," ulang Marco dengan suaranya sedikit serak.
Anya berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Namun, sebelum dia masuk, dia menoleh kembali. "Selamat malam, Marco."
"Selamat malam, Anya."
Marco tetap berdiri di balkon itu lama setelah Anya pergi, dia menyentuh lengannya tepat di bagian yang disentuh Anya tadi.
Sebuah senyum gelap namun tulus muncul di wajahnya yang jarang sekali menampakkan senyum di sana.
Dia tahu, rencana awalnya untuk hanya melindungi gadis ini sudah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dia tidak hanya ingin melindungi Anya tapi dia ingin mengonsumsi seluruh eksistensi gadis itu. Dan malam ini, saat Anya mulai memanggilnya mulai meminta dengan suara merdunya Marco tahu bahwa dinding pertahanan gadis itu mulai retak.
Namun di kegelapan malam di luar gerbang mansion, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu.
Di dalamnya, seseorang sedang memantau balkon dengan teropong jarak jauh.
"Sudah kutemukan," bisik pria di dalam mobil itu ke sebuah alat komunikasi.
"Dia menyembunyikan mainan barunya di mansion bukit, besok kita buat pesta untuk sang Raja."
Malam setelah makan malam di balkon itu seharusnya menjadi awal dari tidur yang nyenyak bagi Anya.
Namun, entah kenapa, perasaan tidak tenang justru menggelayuti pikirannya.
Setelah menutup pintu kamar, ia tidak langsung menuju tempat tidur.
Ia berdiri cukup lama di balik jendela, menatap bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam.
Panggilan "kamu" yang ia gunakan untuk Marco tadi masih terasa aneh di lidahnya.
Ada rasa bersalah karena seolah-olah ia mulai menyerah pada keadaan, namun ada juga rasa lega karena ia merasa bisa sedikit "menjinakkan" monster di dalam diri Marco.
Anya menyentuh keningnya, tempat di mana bibir Marco mendarat tadi, masih ada rasa hangat yang tertinggal di sana, sebuah sensasi yang membuatnya bingung antara ingin membenci atau merasa terlindungi.
Di sisi lain mansion, Marco tidak langsung tidur, ia berada di ruang monitor keamanan, tempat di mana puluhan layar menampilkan setiap sudut propertinya.
Ia menyesap wiskinya yang terakhir, matanya beralih dari satu layar ke layar lain.
"Ada laporan baru?" tanya Marco pada kepala keamanannya, seorang pria tua bernama Bram yang sudah mengabdi pada keluarga Valerius selama dua generasi.
"Semua tenang tuan, tapi ada laporan tentang sebuah kendaraan yang sempat berhenti di jarak satu kilometer dari gerbang utama sekitar satu jam yang lalu. Saat tim patroli mendekat, mobil itu langsung pergi," jawab Bram dengan nada waspada.
Marco meletakkan gelasnya, firasatnya jarang sekali meleset.
"Perketat perimeter. Aktifkan sistem sensor gerak di sektor barat. Aku merasa ada yang tidak beres." perintahnya dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Marco berjalan kembali ke kamarnya, melewati lorong yang searah dengan kamar Anya.
Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar gadis itu, ia ingin masuk, sekadar melihat apakah Anya sudah tertidur, atau mungkin hanya ingin memastikan bahwa cahaya kecilnya masih ada di sana.
Namun ia menahan diri, ia tidak ingin Anya merasa semakin tertekan dengan apa yang akan di lakukan oleh Antonio.
"Segera Anya," gumamnya pelan.
"Segera kamu akan sadar bahwa hanya di pelukanku kamu bisa benar-benar aman." ucapnya lagi.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari ketika keheningan itu benar-benar pecah.
Anya terbangun karena suara dentuman keras yang menggetarkan kaca jendela kamarnya.
Jantungnya serasa mau copot, ia langsung terduduk, matanya liar mencari sumber suara.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, suara tembakan mulai terdengar.
Taktaktaktak!
Suara itu beruntun, bersahutan di tengah kegelapan malam.
"Apa itu...?" bisik Anya dengan bibir bergetar.
Tiba-tiba, pintu kamarnya didobrak terbuka, Anya nyaris berteriak sebelum ia melihat siluet besar yang sangat ia kenali.
Marco masuk dengan cepat, ia tidak lagi mengenakan kemeja putihnya yang santai, melainkan kaus hitam ketat dan sudah memegang sebuah pistol di tangannya.
Wajahnya terlihat sangat dingin, sangat berbeda dengan Marco yang tadi malam membelai rambutnya.
"Anya! Turun dari tempat tidur, sekarang!" perintah Marco. Suaranya tegas, tanpa ruang untuk bantahan.
Anya langsung melompat turun, kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. "Marco, apa yang terjadi? Siapa mereka?"
Marco menghampirinya, merengkuh bahu Anya dengan satu tangan yang kuat, sementara tangan lainnya tetap mengarahkan senjata ke pintu.
"Antonio, dia lebih cepat dari yang kukira. Kita harus bergerak ke ruang bawah tanah." ucapnya.
"Tapi bagaimana dengan orang-orang di luar? Leo? Bram?" Anya bertanya dengan nada panik.
"Jangan pikirkan mereka sekarang! Fokus padaku Anya, lihat aku!" Marco memutar tubuh Anya agar menghadapnya.
Di tengah keremangan, mata Marco berkilat penuh tekad. "Tetap di belakangku, jangan lepaskan bajuku apa pun yang terjadi. Mengerti?" serunya.
Anya mengangguk cepat, ia mencengkeram bagian belakang kaus Marco dengan tangan gemetar.
Mereka keluar dari kamar, dan pemandangan di lorong sudah berubah menjadi medan perang.
Lampu-lampu mansion berkedip-kedip, beberapa sudah pecah, asap mulai memenuhi udara, berbau mesiu yang menyengat.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, VOTE YAAA WAJIB, ULASANNYA JUGA BOLEH, LIKE DAN KOMEN BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE NYA....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪