Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Harga Sebuah Nyawa dan Sumpah di Atas Darah
Dengan Pedang Pemecah Fajar di tangannya, status Boqin Tianzun bukan lagi sampah di kaki sekte. Ia telah resmi menjadi Murid Dalam. Namun, sebelum melangkah ke kemewahan Paviliun Dalam, ia memiliki satu urusan yang belum selesai—urusan yang telah mengerak selama belasan tahun di dapur-dapur kumuh sekte.
Boqin melangkah ke Paviliun Pelayan. Aroma amis darah yang masih melekat di jubahnya membuat setiap pelayan yang berpapasan dengannya gemetar hingga menjatuhkan apa pun yang mereka bawa.
"Kumpulkan semua pelayan di sini. Sekarang!" perintah Boqin. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Dalam hitungan menit, puluhan pelayan berdiri berbaris dengan kepala tertunduk dan lutut yang lemas. Di barisan depan, berdiri kepala pelayan wanita yang dulu sering menyiksanya. Meski takut, wanita itu masih mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya.
"Tunjuk!" ucap Boqin datar sambil menatap tajam ke arah kerumunan. "Siapa saja yang pernah menyentuh Sua Mei dengan niat buruk? Siapa saja yang merasa hidupnya terlalu membosankan hingga harus menyiksa satu-satunya orang yang peduli padaku?"
Kepala pelayan itu mendengus, mencoba tertawa sinis untuk menutupi getaran di suaranya. "Sekarang kau sudah berani ya, Boqin? Hanya karena keberuntungan memihakmu di hutan, kau merasa bisa mengatur kami? Jangan lupa, ibumu hanyalah pelayan rendahan yang menggoda Pemimpin Sekte demi posisi!"
Jleb!
Tanpa peringatan, Pedang Pemecah Fajar melesat secepat kilat, menembus telapak tangan wanita itu hingga terpaku ke pilar kayu di belakangnya. Jeritan melengking pecah, merobek kesunyian paviliun.
"Siapa yang memberimu izin untuk membuka mulut busukmu itu?" Boqin mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wanita yang meronta kesakitan itu. "Ingat ini baik-baik, sampah. Ibuku tidak pernah menggoda pria itu. Pria yang kau sebut Pemimpin Sekte itulah yang memperkosa ibuku saat ia mabuk! Dia adalah sampah yang menyebabkan ibuku mati dalam kehinaan!"
Boqin memutar gagang pedangnya perlahan di dalam luka tersebut. Darah segar mengalir deras, membasahi lantai kayu. "Sekarang, tunjuk mereka. Atau aku akan mulai memotong lidahmu inci demi inci."
"M-maafkan aku, Tuan Muda! Ampun!" Kepala pelayan itu menangis histeris. Dengan jari yang tersisa, ia menunjuk hampir ke arah seluruh barisan pelayan. "Mereka! Hampir semuanya pernah memukul dan menghina Sua Mei... hanya karena anak itu selalu dekat denganmu!"
Mata Boqin berkilat dingin. "Begitu ya."
Sret! Slash!
Hanya dalam beberapa gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata manusia, Boqin menebas mereka yang ditunjuk. Tak ada belas kasihan. Kepala-kepala terjatuh dan tubuh-tubuh ambruk. Ia tidak peduli pada aturan sekte; baginya, nyawa mereka tidak lebih berharga daripada debu di sepatu Sua Mei.
Wanita kepala pelayan itu jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi melihat pembantaian di depannya.
"Kalian yang tersisa," Boqin menunjuk beberapa pelayan baru yang masih suci dari dosa masa lalu. "Urus Sua Mei. Berikan dia makanan terbaik, obat terbaik, dan kenyamanan tertinggi. Jika dia mati, atau jika kondisinya memburuk karena kelalaian kalian... aku tidak hanya akan membunuh kalian, tapi aku akan memastikan seluruh keluarga kalian terkubur di lubang yang sama!"
"Apa yang kau lakukan, Boqin Tianzun?!"
Sebuah suara berat yang berwibawa menggelegar dari arah pintu masuk. Boqin Ming berdiri di sana dengan wajah merah padam, dikelilingi oleh aura yang menekan udara di sekitarnya. "Berani-beraninya kau membantai pelayan-pelayanku seperti memotong rumput!"
Boqin Tianzun berbalik perlahan, menatap pria yang secara biologis adalah ayahnya, namun secara jiwa adalah musuh terbesarnya.
"Mereka pantas mendapatkan hukuman mereka, Ayah!" jawab Boqin dengan ketenangan yang mengerikan.
"Hukuman?! Kau telah melanggar aturan sekte! Apa kau tidak takut aku akan menghukum mati dirimu saat ini juga?!" Boqin Ming melangkah maju, tangannya sudah siap untuk menghancurkan kepala putranya sendiri.
Boqin Tianzun justru tersenyum—senyum tipis yang tampak licik dan manipulatif.
"Untuk apa aku takut? Bukankah aku anakmu? Meskipun kau membuangku ke tempat sampah ini," Boqin terkekeh pelan. "Jika kau membunuhku sekarang... kaulah yang akan menyesal seumur hidupmu, Ayah."
Boqin Ming tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh penghinaan. "Menyesal? Kau pikir siapa dirimu? Memangnya apa yang akan terjadi jika aku melenyapkan kutukan sepertimu hari ini?"
Boqin Tianzun melangkah maju, menantang aura tekanan ayahnya tanpa gentar. "Dalam waktu enam tahun ke depan, aku akan menjadi yang terkuat di tanah ini. Jika kau membunuhku sekarang, kau baru saja membuang satu-satunya senjata paling mematikan yang pernah dimiliki sekte ini."
Ia memiringkan kepalanya, kilatan matanya menunjukkan kecerdasan yang jahat. "Tapi, jika kau membiarkanku hidup... aku akan memenangkan setiap turnamen, menghancurkan sekte pesaing, dan membawa nama Boqin Ming melambung hingga ke langit tertinggi sebagai pemimpin yang melahirkan seorang jenius tak tertandingi. Kau suka kehormatan, bukan? Aku adalah tiketmu untuk menjadi legenda."
Boqin Ming terdiam. Kemarahannya perlahan meredup, digantikan oleh rasa penasaran dan ketamakan yang mulai merayap di hatinya. Ia melihat potensi yang mengerikan pada diri anaknya—potensi yang lebih berharga daripada nyawa puluhan pelayan.