SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara di Lintasan Lari
Pelajaran olahraga hari itu benar-benar menjadi panggung sandiwara bagi Nara dan Ingfah. Di bawah terik matahari Bangkok, mereka harus memerankan karakter "gadis kota yang lemah" dengan sangat sempurna.
Guru olahraga meminta seluruh kelas untuk lari keliling lapangan sebanyak lima putaran sebagai pemanasan. Bagi Nara yang terbiasa berlari mendaki perbukitan curam sambil memikul kayu bakar, lari di lapangan rata adalah hal sepele. Namun, ia ingat pesan Daddy Arun.
"Nong, ingat, napasnya harus pendek-pendek," bisik Nara pada Ingfah.
Maka dimulailah akting mereka. Ingfah berlari dengan gaya yang sangat anggun namun terlihat cepat lelah. Setelah baru satu putaran, wajahnya sengaja ia buat memerah dan ia mulai terengah-engah yang dibuat-buat.
Nara sendiri berlari di samping Ingfah, sesekali menyeka keringat imajiner di dahinya. Ia sengaja memperlambat langkahnya, berpura-pura kakinya terasa berat. Saat murid-murid lain yang atletis menyalip mereka, Nara hanya menunduk, memberikan kesan bahwa ia memang hanya "atlet teori" yang jarang berlatih lapangan.
"Lihat itu si Cankimha bersaudara," ejek Miki, teman Cindy. "Larinya seperti siput. Katanya jago bela diri, tapi lari segini saja sudah mau pingsan."
Cindy tertawa sinis sambil melirik mereka. "Mungkin sabuk hitamnya hasil beli di pasar loak."
Melihat Nara dan Ingfah yang tampak "lemah" dan kelelahan, Cindy merasa ini adalah kesempatan emas untuk membalas dendam atas kejadian di kantin kemarin. Ia memberikan kode kepada Miki dan Bella saat jam olahraga berakhir.
"Kita kerjai mereka di ruang ganti," bisik Cindy dengan senyum jahat.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu di tas mereka."
Rencana Cindy sederhana namun licik. Ia telah menyiapkan cairan gatal dari ulat bulu yang ia dapatkan dari tanaman hias di belakang sekolah, serta berniat menyembunyikan pakaian ganti (seragam sekolah) milik Nara dan Ingfah agar mereka terjebak di ruang ganti tanpa pakaian yang layak saat bel pelajaran berikutnya berbunyi.
Nara dan Ingfah berjalan menuju ruang ganti khusus siswi. Saat akan masuk, indra pendengaran Nara yang tajam menangkap bisikan-bisikan mencurigakan dari balik pintu. Ia juga mencium aroma aneh yang tidak biasa—aroma getah tumbuhan yang tajam.
"Nong, berhenti," bisik Nara sambil menahan lengan Ingfah.
"Ada apa, Pi?" tanya Ingfah polos.
"Ada tikus yang sedang bermain di dalam," jawab Nara dengan senyum tipis yang dingin.
Nara tidak langsung masuk. Ia mengajak Ingfah berbelok menuju loker luar terlebih dahulu. Nara tahu bahwa jika ia tertangkap basah melawan secara fisik, Andrew akan marah. Maka, ia memutuskan untuk menggunakan "sihir" kecerdikannya.
Nara secara diam-diam menukar tas olahraga miliknya dengan tas milik Cindy yang terletak tidak jauh di bangku tunggu, menggunakan gerakan tangan yang sangat cepat hingga tidak ada kamera pengawas yang bisa menangkapnya.
Cindy dan gengnya yang sudah berada di dalam ruang ganti tertawa kegirangan, mengira mereka telah berhasil mengoleskan cairan gatal itu ke dalam loker yang mereka pikir milik Nara.
Beberapa menit kemudian, teriakan histeris terdengar dari dalam ruang ganti.
"Aaaaaakh! Gatal! Kenapa leherku gatal sekali?!" teriak Cindy.
"Miki! Kenapa seragamku tidak ada di tas? Kenapa isinya malah baju olahraga kotor?!" seru Bella panik.
Nara dan Ingfah masuk dengan tenang, membawa tas mereka yang asli (yang ternyata tadi belum sempat disentuh Cindy karena Nara sudah memindahkannya lebih dulu). Mereka melihat Cindy yang sedang menggaruk-garuk lehernya hingga merah merona, sementara Miki dan Bella kebingungan mencari seragam mereka yang entah hilang ke mana (Nara telah menyembunyikannya di atas ventilasi tinggi yang tak terjangkau).
"Kalian kenapa? Sepertinya kalian butuh mandi lagi," ucap Ingfah dengan nada polos yang sangat menyindir.
Nara hanya menatap Cindy dengan tatapan datar. "Hati-hati, Cindy. Kadang apa yang kita tanam, itu yang kita petik. Mungkin ulat bulunya lebih suka kulitmu."
Pelajaran kedua dimulai dengan suasana kelas yang jauh lebih tenang tanpa gangguan Cindy yang masih meringis gatal di ruang UKS. Namun, di barisan belakang, Leo tidak bisa fokus pada papan tulis. Rasa penasaran menggerogoti pikirannya, terutama setelah tangannya merasa "mati rasa" hanya karena sentuhan Nara tadi pagi.
Penyelidikan Leo: Identitas Palsu yang Sempurna
Sambil berpura-pura mencatat, Leo menggunakan ponselnya di bawah meja. Ia menghubungi seorang kenalannya yang ahli mencari informasi di media sosial dan data publik.
"Cari tahu soal Nara dan Ingfah Cankimha. Anak baru di kelasku," pesan Leo singkat.
Beberapa menit kemudian, sebuah tautan artikel berita lama (yang tentu saja sudah direkayasa oleh Arun) dan beberapa profil digital muncul. Hasilnya sangat meyakinkan:
Identitas: Nara dan Ingfah adalah putri dari Arun Cankimha yang selama 11 tahun terakhir tinggal di London, Inggris, bersama ibu mereka.
Alasan Kepulangan: Ibu mereka baru saja meninggal (identitas rekayasa), sehingga mereka kembali ke Thailand untuk tinggal bersama ayah mereka dan kakek mereka yang baru saja wafat di sebuah desa terpencil.
Latar Belakang: Pantas saja Ingfah terlihat seperti Farang (orang asing), karena dalam data tersebut, ibu mereka disebutkan memiliki darah bangsawan Eropa. Sedangkan Nara, tercatat pernah memenangkan kompetisi bela diri tingkat remaja di London.
Leo menghela napas, melempar ponselnya ke dalam tas.
"Pantas saja logat mereka aneh dan gayanya sok elit. Ternyata anak London," gumam Leo.
Ia merasa sedikit bodoh karena sempat mengira ada yang "mistis" dari mereka. Baginya, Nara hanyalah gadis tomboi yang terlatih di klub bela diri Inggris.
****
Sore harinya, mobil perak Arun sudah menunggu. Di dalam perjalanan pulang, Nara menceritakan kejadian di ruang ganti dan gangguan dari Leo kepada Arun melalui kaca spion.
Arun terkekeh mendengar nasib Cindy. "Ulat bulu? Kreatif sekali. Kamu melakukan hal yang benar, Nara. Memberi pelajaran tanpa menyentuh mereka adalah cara terbaik untuk tetap invisible."
"Tapi Daddy," sapa Ingfah, "Leo itu... dia terus menatapku. Rasanya tidak nyaman."
Arun mengubah ekspresinya menjadi serius. "Leo adalah putra dari keluarga pengusaha properti sainganku. Dia anak yang manja, tapi rasa penasarannya bisa berbahaya. Daddy sudah memastikan identitas 'London' kalian tersebar. Mulai sekarang, jika ada yang bertanya, ceritakan sedikit tentang kehidupan kalian di Inggris. Ingfah, gunakan kemampuan bahasa Inggrismu lebih sering di depan mereka."
****
Sesampainya di rumah, Nara tidak langsung beristirahat. Ia kembali ke ruang bawah tanah bersama Guru Chai. Kali ini, misinya bukan untuk menjadi lebih kuat, tapi belajar cara memukul dengan kekuatan manusia biasa.
"Nara, kamu memukul samsak ini seolah ingin membunuh naga," ujar Guru Chai sambil menggelengkan kepala.
"Jika kamu memukul teman sekolahmu seperti ini, mereka akan mati. Kamu harus belajar 'Pulling your punches'—menahan tenaga di detik terakhir."
Nara berkeringat dingin mencoba menahan kekuatannya. Baginya, menahan kekuatan jauh lebih sulit daripada mengeluarkannya.
Di lantai atas, Ingfah dan Nina sedang asyik menonton film kartun berbahasa Inggris untuk melatih pendengaran Ingfah. Kehidupan modern ini mulai terasa nyaman, namun Nara tahu, di luar gerbang rumah Cankimha, mata-mata yang sebenarnya—bukan sekadar anak sekolah seperti Leo—mungkin sedang mengintai.
****
Sekolah elit tempat Nara dan Ingfah belajar mengadakan sebuah acara amal besar di sebuah hotel mewah di pusat kota Bangkok. Seluruh siswa wajib hadir dalam balutan busana formal. Ini adalah tantangan terbesar bagi Nara, karena ia harus mengenakan gaun yang indah namun membatasi geraknya, sementara ia harus tetap waspada.
Ingfah tampil mempesona dengan gaun berwarna biru pucat yang senada dengan warna matanya, membuatnya benar-benar terlihat seperti putri bangsawan dari Eropa. Nara mengenakan gaun hitam yang elegan dengan belahan tinggi untuk memudahkan gerak kaki jika terjadi sesuatu, namun di balik gaunnya, ia menyembunyikan beberapa senjata rahasia kecil.
"Ingat pesan Daddy, Nara," bisik Arun sebelum mereka turun dari mobil.
"Apapun yang terjadi, kamu adalah gadis sekolah biasa. Jangan biarkan mereka melihat siapa dirimu yang sebenarnya."
Di tengah acara, saat musik klasik bergema dan para siswa asyik mengobrol, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Lampu aula besar itu mendadak padam. Suara kepanikan mulai terdengar.
Tiba-tiba, kaca jendela besar di lantai atas pecah. Tiga sosok pria berpakaian taktis hitam terjun menggunakan tali. Mereka bukan pencuri biasa; mereka adalah Pemburu Baru yang menggunakan teknologi pendeteksi energi untuk melacak Mustika Prema-Vana.
"Cari gadis dengan aura biru!" teriak pemimpin mereka.
Nara melihat salah satu pemburu mendekat ke arah Ingfah. Jantungnya berdegup kencang, ia ingin sekali melompat dan mematahkan leher pria itu dalam sekejap. Namun, ia melihat kamera pengawas dan puluhan siswa, termasuk Leo dan Andrew, yang sedang menatap ke arah mereka.
Nara harus membuat keputusan sulit. Ia memilih untuk bermain peran.
Saat pemburu itu merenggut lengan Ingfah, Nara berteriak dengan nada ketakutan yang dibuat-buat. "Lepaskan adikku! Tolong! Siapa saja tolong!"
Nara membiarkan dirinya didorong hingga jatuh terduduk di lantai. Ia sengaja membuat tubuhnya gemetar dan matanya berkaca-kaca. Ia terlihat seperti kakak yang malang dan tidak berdaya melawan orang dewasa yang bersenjata.
"Diam kau, bocah!" bentak si pemburu sambil menodongkan senjata ke arah Nara.
Leo, yang melihat kejadian itu, mencoba menunjukkan keberaniannya.
"Hei! Lepaskan dia!"
teriak Leo sambil melemparkan kursi. Namun, si pemburu dengan mudah menangkisnya dan memukul Leo hingga terjatuh.
Nara tahu ia tidak bisa membiarkan Ingfah dibawa pergi. Saat lampu masih padam dan suasana sangat kacau karena asap dari granat asap yang dilempar pemburu, Nara bergerak di bawah selubung kegelapan yang pekat.
Dalam hitungan detik, saat tidak ada yang bisa melihat dengan jelas, Nara bangkit. Tanpa menggunakan kekuatan cahaya, ia menggunakan teknik Muay Thai yang baru ia pelajari namun dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
Bugh! Plakk!
Ia menghantam titik saraf di leher pemburu yang memegang Ingfah. Pria itu pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Nara segera menarik Ingfah kembali ke pelukannya, lalu kembali menjatuhkan dirinya ke lantai tepat saat lampu darurat menyala.
Saat tim keamanan Andrew masuk, mereka hanya melihat Nara yang sedang memeluk Ingfah sambil menangis ketakutan di sudut ruangan, sementara salah satu penjahat tergeletak pingsan di samping mereka—seolah-olah penjahat itu terpeleset atau terkena serangan jantung dalam kegelapan.
"Nara! Ingfah! Kalian tidak apa-apa?" Andrew berlari menghampiri mereka.
"Paman... mereka sangat seram... aku tidak tahu apa yang terjadi dalam gelap tadi," isak Nara dengan akting yang begitu sempurna hingga Andrew sendiri hampir tertipu.
Andrew melihat pemburu yang pingsan itu dan menyadari ada bekas pukulan yang sangat presisi di saraf lehernya. Ia menatap Nara sekilas, dan Nara memberikan kedipan mata yang sangat tipis.
Andrew mengerti; Nara telah melindungi adiknya sambil tetap menjaga penyamarannya.