Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
After Bar adalah sebuah bar rahasia kelas atas di puncak hotel mewah kawasan Jakarta Selatan, tak jauh dari tempat tinggal Junior. Tempat itu memancarkan kemewahan dan kekuasaan yang sunyi. Tak ada tawa keras. Tak ada orang mabuk berteriak atau asap rokok memenuhi udara. Semua pengunjung berpakaian rapi, pria dengan setelan jas berpotongan sempurna, perempuan dalam gaun mahal berkelas. Tempat di mana rahasia dibisikkan pelan sambil meneguk wiski puluhan juta rupiah.
Dan tentu saja, semua orang tahu Junior adalah bagian dari dunia seperti ini.
Ia duduk di meja VIP paling privat, mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang dengan dua kancing teratas terbuka, menampilkan garis dadanya. Cahaya amber lembut memantul di gelas kristal di depannya, setengah terisi Yamazaki 18, wiski Jepang yang hanya bisa dipesan tanpa berpikir dua kali oleh orang-orang berduit.
Junior menatap gelasnya dalam diam, memutar cairan keemasan dengan es berbentuk bulat. Wajahnya tampak kosong, namun kerutan di dahinya mengkhianati pikiran yang kusut, seolah bertubi-tubi masalah menghantamnya tanpa jeda.
Di seberangnya duduk Victor, sahabat karibnya, mengenakan blazer abu-abu baja, jelas baru keluar dari rapat direksi sebelum mengajaknya minum.
Pikiran Junior kembali pada pertemuannya dengan Niko. Ia tak menyangka kebencian anak itu padanya sedalam itu. Padahal dulu, Niko ingin sekali menempel padanya menunggu di depan pintu setiap ia pulang, menggambar dan menunjukkan mimpinya agar mereka bisa berdamai.
Ia tak memungkiri, ia merindukan Niko yang dulu. Anak yang, meski terus ditolaknya, tetap berusaha merebut hatinya.
Sekarang, Niko bahkan tak mau mendekat.
Ia tak bisa menyalahkan anak itu. Ia sendiri yang kejam di masa lalu.
Percakapan dengan ayahnya juga terus terngiang. Mungkinkah Niko memang anakku? Wajah itu, mata, alis terlalu mirip. Persis.
Ia sadar, bertahun-tahun ia buta dan bodoh. Ia tahu kemiripan itu, tahu darah itu miliknya, namun karena terluka, ia memilih menyangkal. Mengabaikan. Membuang anaknya sendiri.
Bagaimana caranya merebut kembali hati Niko? Kini saja anak itu sudah membencinya setengah mati.
Seorang pelayan perempuan berseragam hitam elegan mendekat membawa decanter dan gelas baru.
“Tambah Yamazaki 18, Tuan?”
“Ya, untuk kami berdua,” jawab Victor.
Setelah pelayan pergi, Junior tetap diam. Ia mengaduk minumnya, tak sekalipun menatap sahabatnya.
Bayangan luka di tubuh Niko akibat ulah Kairo menghantam pikirannya. Mereka tak seharusnya bertengkar. Jika memang bersaudara, mereka seharusnya saling melindungi, bukan mewarisi dosa orang tua.
Ia berharap kedekatan lama mereka kembali, agar beban di dadanya berkurang.
Junior meneguk wiski, bersandar ke kursi beludru, menatap kehampaan.
Victor berdeham lalu terkekeh “Cobalah senyum. Sayang wajah tampanmu.”
“Bagaimana mau senyum? Berat,” jawab Junior pelan.
“Berat, tapi harus. Orang-orang jadi segan mendekat.”
“Aku tak peduli.”
“Ya sudah. Mereka bakal mengira kamu mau memangsa mereka hidup-hidup.”
“So?” alis Junior terangkat.
Victor mengeluarkan ponselnya. Nada suaranya berubah serius “Aku tak mengajakmu ke sini hanya untuk minum. Ada sesuatu yang harus kamu lihat. Apalagi kamu masih mau menikah.”
Junior menunggu tanpa kata. Victor meletakkan ponsel di meja, menggesernya perlahan.
Sebuah foto muncul.
Maureen, mengenakan gaun merah off-shoulder, tersenyum lebar sambil menggenggam lengan Hans di restoran hotel. Wajah mereka terlalu dekat. Tertawa. Intim.
Bukan gaya dua orang yang sekedar berteman.
Rahang Junior mengeras. Ia menurunkan gelasnya tanpa berkedip.
“Kapan foto ini diambil?” tanyanya dingin.
“Ada yang mengirimkannya. Mereka tahu kamu tunangannya,” jelas Victor. “Takut kamu menghancurkan ponsel mereka.”
Keheningan singkat menyelimuti meja.
Junior tak merasa cemburu, yang ada hanya amarah membara.
Jadi, selama ini Maureen menghilang untuk bertemu pria lain?
“I thought she was desperate,” ucapnya datar. “Ternyata dia penuh perhitungan.”
Ia mengembalikan ponsel itu. “Memalukan. Seandainya aku tak memberinya anak, tak ada alasan menikahinya.”
Victor mengangguk. “Aku juga melihat mereka minggu lalu. Sering. Hampir tiap hari.”
Junior mengetuk meja pelan. Matanya menyala dingin “Dia mempermainkanku.”
“Uangmu yang dia incar,” tambah Victor.
Junior tertawa singkat tanpa humor. “Aku akan membakar pernikahan itu. Aku tuntut setiap rupiah. Dan dia tak akan melihat anakku lagi.”
Mereka mengadu gelas.
Namun pikiran Junior masih panas, hingga gerakan di pintu bar menarik perhatiannya.
Alyssa.
Ia masuk bersama seorang pria berpenampilan formal, jelas berkelas. Gaun semi formal Alyssa menonjolkan siluetnya dengan anggun.
Junior meneguk wiski lagi “Is that Alyssa?”
Victor mengikuti arah pandangnya. “Ya. Dia terlihat… berbeda.”
Junior berdiri tiba-tiba.
“Bro!”
“Tenang,” tahan Victor. Namun Junior mengibaskan tangannya dan berjalan mendekat.
Ia menghampiri meja Alyssa.
“Junior?” Alyssa terkejut. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Berdiri. Pergi dari kursi itu,” perintahnya dingin.
“Siapa dia?” tanya pria itu, lalu berubah sopan. “Oh, Tuan Junior.”
“Diam. Aku tak bicara denganmu,” bentak Junior. “Siapa dia bagimu?”
“Dia klienku!” Alyssa berteriak pelan, menahan lengan Junior.
“Aku tak percaya! Cara dia menatapmu--”
Victor datang menarik Junior “Sudah! Kamu mabuk.”
Alyssa menyeret Junior ke lorong belakang yang sepi.
“Apa-apaan itu?!” hardiknya. “Kamu hampir membuatku kehilangan pekerjaan!”
Junior mengusap wajah. “Dia terlalu dekat.”
“Kamu gila?” Alyssa bergetar marah. “Keluar dari hidupku. Anggap kita orang asing!”
“Aku masih peduli,” suara Junior serak.
Sebelum Alyssa sempat membalas, Junior mencium bibirnya. Sekejap.
Plak!
Tamparan mendarat di pipinya.
“Bajingan!” teriak Alyssa. “Jangan sentuh aku lagi!”
Junior menyentuh bibirnya, tertawa lirih. “Aku merindukanmu.”
Alyssa menghantamnya dengan tas dan pergi.
Junior terduduk di lantai, pening, tertawa sendiri.
Victor menggeleng. “Memalukan, Bro.”
“Aku tahu,” jawab Junior. “Aku mencium Alyssa… dan aku masih menginginkannya.”
“Kalau begitu,” Victor terkekeh, “tinggalkan Maureen. Kejar Alyssa.”
.