NovelToon NovelToon
Jodoh Wasiat Suami

Jodoh Wasiat Suami

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: el nurmala

"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-

"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-

Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.

Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.

Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?

Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?

------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

salad buah

Happy reading...

Jalanan kota New York yang cukup padat biasanya akan membuat siapa saja merasa kesal, apalagi mereka yang ingin segera sampai ke tujuan. Tapi sepertinya kali ini tidak berlaku bagi seorang Niko Rahardian.

Pria itu berharap perjalanannya dari bandara menuju mansion akan berlangsung lama. Jika perlu, ia akan meminta Dani untuk membawanya mengelilingi kota.

Bukan tanpa alasan Niko enggan cepat sampai di mansion. Sampai saat ini ia belum tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Anna. Wanita yang digagahinya malam itu ternyata Anna. Dan anak yang sedang di kandungnya adalah buah kebejatannya.

"Huft!"

Niko membuang kasar nafasnya. Dani yang mengira Tuan Mudanya kesal, memutar otak mencari jalan alternatif agar cepat sampai.

"Besok saja kau keluarkan barang-barangku," ujar Niko saat Dani membukakan pintu mobil untuknya.

"Baik, Tuan," sahut Dani hormat.

Niko menghela nafasnya berulang-ulang sebelum melangkah ke dalam. Kenapa ia harus merasa khawatir, bukankah Anna jarang ada di dalam mansion? Apalagi ini sudah cukup malam.

Dengan langkah pasti, Niko melangkah masuk. Sepi, Kakek dan Nenek pasti sudah di lantai atas. Ah, mansion ini memang terlalu besar untuk mereka. Baru saja Niko akan melangkah menapaki anak tangga, seseorang memanggilnya. Seseorang yang saat ini ingin di hindarinya.

"Sudah pulang, Nik?" Tanyanya.

Niko menoleh, seketika jantungnya berdegup kencang.

"Iya. Kamu belum tidur? Ini sudah malam, Anna."

"Aku sudah mulai merasa tidak nyaman. Mungkin karena sudah bulannya melahirkan. Istirahatlah, kamu pasti lelah."

"Anna," panggil Niko.

Anna yang hendak meninggalkan Niko menghentikan langkahnya. Ia pun menjawab, "Ya, ada apa?"

"Kamu sudah menempati kamar itu?"

"Iya, sejak kemarin. Nenek yang memintaku," jawab Anna.

"Oh, baguslah. Mau ku temani?" tanya Niko ragu.

"Maksudku, mungkin kamu ingin ada teman bicara." Niko mempertegas maksud ucapannya agar Anna tidak salah paham.

"Tidak usah, terima kasih. Aku sudah biasa. Istirahatlah! Perjalananmu pasti melelahkan."

"Sudah biasa?" batin Niko.

"Tidak. Aku tidak merasa lelah. Aku akan menemanimu sebentar. Ayo, bagaimana kalau kita sambil nonton? Kau suka film apa?" tanya Niko yang melangkah ke arah sofa.

Pria itu kemudian memilihkan beberapa compact disc (CD) dan menawarkannya pada Anna.

"Bagaimana kalau yang ini? Kamu suka film komedi?"

"Aku belum pernah menonton film, Niko. Apa kamu lupa dulu aku tunanetra?"

Deg.

Ucapan Anna seakan sebuah hantaman keras bagi hati Niko.

"Kau benar, aku lupa. Seandainya kau tidak buta, malam itu kau pasti mengenaliku. Dan kau tidak akan bicara denganku saat ini," batin Niko.

"Niko! Sudahlah, jangan merasa canggung. Aku tidak pernah merasa malu pada keadaanku. Semua itu sudah takdirku," ujar Anna.

"Ah, iya. Aku minta maaf, karena melupakannya." Niko tersenyum kikuk.

"Wajar kalau kamu tidak ingat. Kita tidak saling mengenal sebelumnya. Kamu jarang sekali pulang. Padahal Riko sangat ingin bertemu denganmu."

"Bagaimana kalau ini? Aku sudah pernah menontonnya. Filmnya bagus," ujar Niko mengalihkan pembicaraan. Saat ini ia tidak ingin membicarakan almarhum Riko, adiknya.

"Terserah kamu saja," sahut Anna sambil tersenyum tipis, membuat Niko terpana sesaat.

Anna memposisikan duduknya senyaman mungkin. Keadaannya memang sudah mulai tak nyaman. Ia sering sekali bolak-balik kamar mandi karena ingin buang air kecil terutama di malam hari. Membuat istirahatnya sering terganggu.

"Ingin makan sesuatu?" tawar Niko.

"Apa ya?"

"Bagaimana kalau salad buah? Kau suka?"

"Entahlah. Seingatku Mama pernah membuatnya, tapi aku lupa."

"Kalau begitu, aku akan membuatkannya."

"Kamu bisa membuatnya?"

"Tentu. Aku suka membuatnya sendiri. Karena aku tidak yakin jika pelayan yang membuatnya mereka akan mencuci bersih buah-buah itu. Kamu duduk saja, oke! Nikmati filmmu," ucap Niko berlalu sambil tersenyum.

"Baiklah," sahut Anna.

Sementara Anna menonton film, Niko sesekali menoleh padanya. Pria itu sangat cekatan mengupas dan mengiris buah-buah yang sudah di cucinya. Sesekali Anna menoleh kearahnya dan saat kebetulan mereka beradu pandang, keduanya tersenyum.

Niko menghampiri Anna dengan semangkuk besar salad buah hasil racikannya. Anna terlihat senang melihat perpaduan warna buah yang menggugah seleranya.

"Cobalah," pinta Niko, menyodorkan mangkuk dalam genggamannya.

"Untukku semua?"

"Hmm," angguk Niko.

"Tapi ini sangat banyak," sahut Anna tak percaya.

"Aku tidak yakin kalian akan merasa kenyang hanya dengan semangkuk salad," canda Niko

"Kalian?"

"Mmm kamu dan bayimu," jawab Niko enteng.

"Kamu bisa memberikannya padaku jika sudah merasa kenyang," kilah Niko.

Anna tersenyum tipis dan mulai memasukkan salad dalam sendok ke mulutnya.

"Hmm, enak!" Gumamnya.

"Kamu suka?"

"Iya, suka. Ini segar dan pastinya enak. Terima kasih," sahut Anna dengan kedua maniknya yang berbinar.

"Kamu bisa memintaku membuatkannya, jika mau. Oke?"

"Sungguh? Bukankah seharusnya aku belajar membuatnya agar tidak merepotkanmu?"

"Haha, terserah kamu saja."

Niko mengalihkan pandangannya, mencoba menikmati film yang tadi di putarnya. Setelah dirasa kenyang, Anna pun berpamitan.

"Terima kasih, Nik. Aku kenyang sekali. Lihatlah, aku menghabiskannya! Maaf ya aku tidak menyisakannya untukmu," ujar Anna tersipu malu.

"Tidak apa, Anna. Aku hanya bercanda. Lagi pula aku tidak suka makan sisa orang lain," sahut Niko.

"Iya juga, ya." Anna menggaruk pelan kepalanya.

"Istirahatlah. Aku juga akan ke atas."

"Iya. Selamat malam, Niko!"

Anna berjalan ke arah meja makan, dan menaruh mangkuk kosong disana. Ia tersenyum pada Niko sebelum benar-benar berlalu ke kamarnya.

Setelah suara pintu yang di kunci terdengar, Nikopun berlalu ke kamarnya. Ekspresi wajah Anna yang berubah saat ia menyinggung tentang bayi yang di kandungnya mengganggu pikiran Niko.

"Jadi Anna belum bisa menerima keberadaan bayi itu? Jadi ini maksud dari keinginan Riko. Dia ingin aku menyayangi bayi itu karena ibunya tidak mengingikannya. Melihat Anna yang membenci bayi tak berdosa itu, maka bisa di pastikan dia sangat membenciku. Anna, maafkan aku! Aku sungguh tidak bermaksud melakukan itu padamu," batin Niko.

"Rik, aku akan membuat Anna menyayangi bayinya. Aku juga akan berusaha agar dia memaafkan aku dan bisa menerimaku," gumam Niko.

Tanpa mereka sadari, gerak-gerik mereka di ruang tengah tadi tidak luput dari tatapan seseorang. Seseorang yang sedari tadi menatap layar monitor dengan tatapan yang bercampur aduk.

"Ini sudah sangat malam, Nyonya Besar. Anda harus istirahat. Tuan Besar pasti akan marah jika mengetahui hal ini."

"Ani, menurutmu bagaimana mereka sebenarnya?" Tanyanya, yang tak lain adalah Nenek Murni.

"Melihat kejadian barusan, sejujurnya saya terkejut. Saya tidak menyangka Tuan Muda bisa sebaik itu pada orang lain," sahut Bi Ani.

"Maksudmu Niko tidak baik?" tanya Nenek Murni dengan raut wajah tidak suka.

"Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud begitu," ucap Bi Ani yang kini salah tingkah.

"Sudahlah, dia memang terlihat seperti dugaanmu. Tapi sebenarnya dia anak yang baik, hanya saja ia merasa kesepian dan membutuhkan cukup kasih sayang," tutur Nenek Murni.

1
juwita
ini kaya ngirim ke kandang singa
juwita
ko di biarka ke amrik sm niko udh tau niko angkuh sombong. trs di Amerika jg niko mau di jodohkan sm cwek lain. kasihan anna sendirian mn dia blm tau dunia luar lg
juwita
harusnya si niko yg meninggal jhn riko. kasihan anna
juwita
mampir
Endang Sulistia
bagus....
Endang Sulistia
papa Rian Ama mama viona majikan tapi perlakuan kayak keluarga ..
Endang Sulistia
bisa aja si ana
Endang Sulistia
ana korban ,trauma berat cuma Riko yg dampingi..Riko udah g ada, mentalnya kembali drop...
Duwie Sartika
walah baik nya km Riko, syng ga panjang umur kisah mu disini
Sri Ariyanti
ok
Ridwan
Luar biasa
Maizaton Othman
Saya sukaaaaaaaaaaaa
snow Dzero
good
Sofi Saja
sedih banget, begitu besarnya cinta Niko../Cry/
Sofi Saja
sedih banget ngebayangin Riko../Cry/
Dyah Shinta
lumayan
Dyah Shinta
lama2 sebel juga sama Ana
Nanina_
Please nangis bangettt 😭😭😭
Atika Darmawati
ok
Meirina Aulia
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!