Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: LIVE YANG TIDAK SEMPURNA, DAN JAWABAN YANG TIDAK TERDUGA
Disclaimer: Bab ini mengandung siaran langsung yang penuh gangguan teknis, respons netizen yang brutal namun membangun, dan satu pertanyaan langsung yang mengubah arah angin.
Pukul 19.45. Studio live Ethical Collab Podcast terlihat minimalis dan profesional. Tapi di balik kamera, suasana tegang. Ardi mengusap telapak tangannya yang berkeringat di celana jeansnya. Mereka memilih untuk live dari studio kecil ini bukan dari rumah sebagai komitmen untuk memisahkan yang privat dan yang publik.
"Remember," bisik Mbak Wulan, sang produser yang kini menjadi sekutu. "Kalian ngobrol, bukan presentasi. Kalau ada kesalahan, biarkan mengalir. Itu justru poinnya."
Pukul 20.00 - LIVE DIMULAI.
Penonton: 8,000 dan meroket cepat.
Kinan menyapa dengan natural. "Halo semua! Kita Kinan dan Ardi. Malam ini kita live di studio, tapi jangan expect produksi sempurna. Kita sama-sama lagi belajar lepas dari perfeksionisme digital."
Ardi menambahkan dengan sedikit kikuk, "Iya. Jadi kalau gue bengong atau keceplosan, itu... fitur, bukan bug."
00:05:10 - GANGGUAN PERTAMA (INTERNAL).
Ardi sedang menjelaskan soal tekanan berkonten, tiba-tiba suaranya terputus. "dan itu bikin kita lupa bahwa... eh, maaf, suara gue oke nggak?"
Komentar langsung membanjir: "Echo dikit!", "Kinan lebih jelas!".
Ternyata, mikrofon clip on Ardi sedikit melorot. Kinan dengan refleks membetulkannya tanpa berpikir, tangan nya menyentuh kerah baju Ardi dengan gerakan akrab.
"WHOAAA SMOOTH", "Dia perbaikin dengan casual banget wkwk", "Ini dah kayak orang rumah aja".
Kinan tersipu malu, menyadari keintiman spontan itu terekam. "Eh, ini... bagian dari technical support gratis," candanya canggung.
00:18:30 - PERTANYAAN MENUSUK.
@realist_generation: "Jujur, gw liat hubungan kalian kayak konten berjalan. Even sekarang lagi 'ngobrol santai' ini, itu tetep konten. Apa bener kalian bisa lepas dari lingkaran performa? Atau ini cuma rebranding aja dari 'couple goals' jadi 'authenticity goals'?"
Pertanyaan itu seperti tamparan. Kinan terdiam sejenak, melihat Ardi.
Ardi yang menjawab,dengan suara tenang namun tegas. "Pertanyaan yang bagus. Iya, ini masih konten. Kami masih di sini, di depan kamera. Tapi ada perbedaan besar: kami yang pegang kendali tombol 'stop'nya. Kalau nanti kami merasa ini mulai tidak jujur, kami bisa bilang 'maaf, kita stop dulu'. Dulu, di bawah sistem MatchMade, kami tidak punya tombol itu. Setiap detik dimonitor, dinilai, dioptimasi."
Kinan menyambung, "Jadi ya, kami masih 'tampil'. Tapi pilihan kami sekarang adalah menampilkan proses, bukan hanya hasil akhir yang dikurasi. Termasuk proses kami bingung menjawab pertanyaan sulit kayak gini."
00:35:50 - GANGGUAN TEKNIS NYATA.
Tiba-tiba, suara deru angin dan rintik hujan yang keras terdengar di audio. Ternyata, jendela studio yang menghadap ke jalan tidak tertutup rapat, dan hujan deras mulai turun di luar. Suara lalu lintas dan hujan memenuhi rekaman.
Sound engineer berusaha membenahi,tapi susah.
Komentar: "ASMR hujan Jakarta", "Ini studio atau gazebo?", "Real banget suara tukang bakso lewat lagi".
Alih-alih panik, Ardi malah berjalan ke jendela (masih dalam frame kamera), berusaha menutupnya lebih rapat. "Duh, maaf guys, studionya jendelanya agak bocor." Dia kembali ke tempat duduk, rambutnya sedikit basah terciprat hujan.
Kinan menggeleng sambil tertawa."Nah ini. Konten authentic: tanpa filter, termasuk tanpa filter suara bising. Kehidupan nggak pernah punya noise cancellation yang sempurna."
01:02:15 - PERTANYAAN PERSONAL LANGSUNG.
@pengamat.startup: "Pertanyaan buat Ardi: kan lo musisi. Apa nggak tergoda buat bikin lagu cinta berdasarkan cerita kalian, dijual, dan jadi hits? Itu kan monetisasi yang wajar."
Ardi berpikir sejenak. "Pertanyaan yang sering banget gue tanyain ke diri sendiri. Dan jawabannya: udah gue buat."
Kinan menoleh padanya, heran. Penonton pun penasaran.
"Lagu 'Setelah Kamu Nyata' itu... tentang proses itu. Tapi lagu itu cuma buat Kinan. Gue nggak pernah nge release secara komersial, dan mungkin nggak akan. Karena beberapa perasaan, kalau dikemas jadi produk, rasanya jadi... berkurang. Kayak kita mencuri sesuatu yang sacred buat dijual."
Diam sejenak di studio. Bahkan suara hujan seolah mereda.
Kinan memandang Ardi, matanya berbinar. "Gue... nggak tahu lo ngerasa begitu."
"Karena nggak semua hal perlu dijadikan konten, Kin," kata Ardi, lembut. "Ada yang cuma buat kita."
01:20:00 - MOMEN HAMPIR TERSEBUT.
Obrolan mengalir ke topik "keputusan". Kinan bicara soal betapa sulitnya membuat pilihan tanpa algoritma atau dadu sebagai kambing hitam.
"Contohnya, "kata Kinan, bersemangat, "seperti memutuskan untuk..." Dia berhenti tiba-tiba, menatap Ardi. Mulutnya terbuka, seperti kata-kata yang lebih besar hampir meluncur: "...untuk mencintaimu."
Ruang komentar menjadi gila: "UNTUK APA???", "SAY IT!!", "INI CLIMAXNYA NIH".
Tapi Kinan menelan ludah, mengalihkan ke: "...untuk memulai podcast ini tanpa kepastian ada yang dengerin."
Penonton kecewa, tapi Ardi mendengar apa yang nyaris terucap. Di matanya, ada pengertian, juga kelegaan.
01:30:00 - LIVE BERAKHIR DENGAN KEBERANIAN.
Di menit-menit terakhir, Ardi mengambil inisiatif.
"Kita tutup dengan satu pengakuan aja, "katanya, menatap lensa kamera. "Kami berdua nggak tahu apa yang akan terjadi besok. Nggak tahu definisi hubungan kami apa. Tapi kami sepakat untuk satu hal: kami mau belajar jadi manusia dulu, sebelum jadi pasangan, atau konten kreator, atau apapun labelnya. Dan proses belajar itu... kami memilih untuk melakukannya bersama. Terima kasih sudah mau menyaksikan proses yang berantakan ini."
Live berakhir. Angka penonton akhir: 52.3K. Bukan jumlah terbesar dalam karier mereka, tapi yang paling banyak disimpan clip-nya.
Pasca Live, di ruang tunggu studio yang sepi, mereka duduk lelah.
"Tadi..." mulai Kinan.
"Gue dengar, "sela Ardi. "Yang hampir lo ucapin."
"Kenapa lo malah senyum?"
"Karena lo menahannya. Itu artinya lo nggak mau itu jadi bagian dari pertunjukan. Itu... menghargai."
Kinan menghela napas lega. "Iya. Rasanya nggak benar kalau diucapkan di sana. Itu... terlalu berharga."
"Setuju."
Mereka keluar studio. Hujan sudah reda, meninggalkan udara yang segar dan jalanan yang basah berkilau.
"Jadi, "kata Kinan, sambil berjalan ke mobil. "Proses belajar jadi manusia bersama. Itu definisi kita sekarang?"
"Untuk saat ini, iya. Cukup jelas, tapi juga cukup fleksibel," jawab Ardi. "Seperti software beta. Masih banyak bug, tapi fungsinya jalan."
Kinan tertawa."Gue suka analogi itu."
Mereka tidak berpegangan tangan. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya bahu yang sesekali bersentuhan saat berjalan di trotoar yang licin. Tapi di dalam hati masing-masing, ada kepastian baru: mereka sedang membangun sesuatu yang sengaja, bukan sesuatu yang terjadi.
LAST LINE: Esok harinya, klip pendek live mereka yang paling banyak disebarkan bukanlah momen hampir keceplosan Kinan, bukan jawaban Ardi yang puitis. Tapi klip saat Ardi berjalan menutup jendela bocor, rambutnya basah, dan Kinan tertawa melihatnya. Caption yang viral berbunyi: "Relationship goals era baru: bisa ketawa bareng saat rencana berantakan." Dan di balik layar, dua orang itu setuju merekam kekacauan itu justru adalah cara mereka merekam kebenaran