Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Siang hari, cahaya matahari menembus tirai tebal di kantor pribadi kepala sekolah, jatuh di atas meja kayu besar yang mengilap. Udara di ruangan itu terasa pengap, bukan karena panas, melainkan karena aroma kekuasaan dan arogansi yang sudah lama menetap di sana.
Kepala sekolah duduk di balik meja, tubuhnya yang gendut memenuhi kursi empuk. Wajahnya dipenuhi lipatan lemak, senyum tipisnya seperti milik orang yang terlalu sering terbiasa memakan uang kotor tanpa pernah tersedak.
“Murid Dion,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata memiliki bobot hukum. “aku menerima laporan, bahwa kau memukuli seorang murid bernama Alex dan menghancurkan kelasnya.”
Dion duduk tenang di kursi tamu, punggungnya lurus, tatapannya datar. Tidak ada rasa bersalah di sana, juga tidak ada kegugupan.
“Bukan aku,” jawabnya singkat. “Alex yang membuat masalah, dia menyerang temanku lebih dulu.”
Kepala sekolah mengernyit. Ketika melihat Dion masih setenang itu, bara amarahnya justru makin menyala.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?!” bentaknya. “Alex masuk rumah sakit dan terluka parah!”
Dion tidak bergeming, nada suaranya tetap rata, nyaris dingin. “Bukan aku yang membuatnya seperti itu, dia sendiri yang menggunakan sesuatu, alat yang bahkan aku tidak tahu apa isinya.”
Braaak!
Meja di depan kepala sekolah terguncang keras ketika telapak tangan gemuk itu menghantam permukaannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu.
“Murid Dion!” bentaknya kasar. “Orang tua Alex marah besar! Mereka ingin menuntut siapa pun yang bertanggung jawab!”
Ia berhenti sejenak, lalu menyeringai, senyum sinis yang menjijikkan.
“Kedua orang tua Alex itu orang kaya. Mereka penyumbang besar sekolah ini!” lanjutnya tajam. “Sementara kau, murid yatim piatu, miskin, dan terkenal sering membuat masalah!”
Kata-kata itu meluncur seperti pisau, sengaja diarahkan untuk melukai.
Hening.
Dion mengangkat pandangan, sorot matanya berubah dingin.
“Kepala sekolah..." ucapnya pelan namun jelas, “jaga ucapanmu.”
Detik berikutnya, udara di ruangan itu berubah.
Sebuah tekanan tak kasat mata menyebar, seperti beban raksasa yang tiba-tiba dijatuhkan dari langit. Tirai seakan berhenti bergerak, jam dinding terdengar semakin nyaring.
“Glek…”
Kepala sekolah menelan ludah. Tubuhnya mendadak terasa berat, seperti ditindih sesuatu yang tak terlihat. Wajah yang tadi merah dan congkak kini memucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Ka-kau…!” serunya dengan suara bergetar.
Dion berdiri perlahan dari kursinya. Setiap langkah kecilnya terasa menekan jiwa orang yang berdiri di hadapannya, ia menatap kepala sekolah itu dari balik meja, tatapannya tajam dan tanpa emosi.
“Kepala sekolah,” katanya rendah, hampir berbisik, namun suaranya menggema di seluruh ruangan, “sekali lagi kau merendahkanku seperti itu…”
Ia berhenti sejenak.
“Aku tidak segan, mematahkan tulang-tulangmu di sini.”
Tubuh kepala sekolah gemetar. Ia ingin berdiri, ingin mundur, ingin berteriak, namun tak satu pun bisa dilakukan.
'Apa yang terjadi…?!' jeritnya dalam hati. 'Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak…?!'
Ruangan itu seolah berubah menjadi sangkar tak terlihat. Tekanan mengerikan menindih setiap inci udara, membuat siapa pun yang berada di dalamnya tak lebih dari makhluk rapuh di hadapan Dion.
Dan untuk pertama kalinya, kepala sekolah itu benar-benar mengerti, di hadapannya berdiri seseorang yang tak bisa dibeli dengan uang, dan tak bisa ditekan dengan jabatan.
“A-apa… yang kau lakukan padaku?!” teriak kepala sekolah dengan suara panik, napasnya terputus-putus. Tubuhnya gemetar di balik jas rapi yang kini tampak menyedihkan.
Dion memandangnya tanpa emosi. Suaranya turun, pelan, namun setiap kata seperti menghantam langsung ke dada.
“Kepala sekolah… aku tahu kau takut kehilangan uang sumbangan.” Ia melangkah satu tapak ke depan. “Tapi aku juga tahu, uang itu tidak sepenuhnya untuk sekolah. Sebagian besar kau telan sendiri, untuk mengisi perutmu yang tak pernah kenyang.”
Wajah kepala sekolah semakin pucat. “A-apa yang kau katakan?!” bantahnya tergesa. “Aku tidak melakukan hal seperti itu! Semua demi keberlangsungan sekolah! Tanpa sumbangan, bagaimana sekolah ini direnovasi?!”
SMA Cahaya Senja memang dikenal elit. Anak-anak konglomerat lalu-lalang di koridor dengan percaya diri, sementara para guru, dan kepala sekolah, belajar menunduk di hadapan dompet orang tua mereka.
Murid seperti Dion, yatim piatu dan hidup dari beasiswa, hanyalah angka di daftar nilai. Mudah diabaikan, mudah dikorbankan.
“Itu yang kau katakan di luar sana,” ujar Dion tenang. “Aku tidak perlu menyelidiki apa yang kau lakukan di belakang.” Matanya menyipit. “Tapi jika kau kembali mencari masalah dan menghina aku… aku tidak segan mengeluarkanmu dari kursi itu. Dan mematahkan tulang-tulang mu, di balik lemak besar yang kau banggakan.”
Tekanan itu kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Udara seperti mengeras.
“Kughhh!” Kepala sekolah terhuyung, lalu ambruk ke lantai dengan bunyi berat. Wajahnya menyentuh karpet, keringat dingin membasahi tengkuk. Kini ia yakin, beban yang menindihnya bukan khayalan.
“Ta-tapi…” suaranya melemah, hampir merintih. “Bagaimanapun aku kepala sekolah! Jika uang bulanan dari orang tua murid terhenti, sekolah ini rugi besar. Kredibilitas turun!!”
Dion menatapnya dari atas, dingin dan jernih. “Terhenti?” ucapnya datar. “Atau kau takut aliran uang ke kantongmu berkurang?”
Ia terdiam sejenak, lalu... beberapa saat kemudian.
Ding.
Sebuah pemberitahuan singkat melintas.
[Anda telah mentransfer 1 miliar rupiah ke rekening: Broto Sujatmiko.]
Ponsel kepala sekolah bergetar, dengan tangan gemetar ia membukanya. Angka di layar membuat matanya membelalak, napasnya tersedak.
“Baiklah,” kata Dion tenang. “Kepala sekolah Broto, uangnya masuk?”
“Ma-masuk, tuan Dion…” jawabnya cepat, nada suaranya berubah seketika, menjilat, patuh.
“Jika orang tua Alex masih ikut campur,” lanjut Dion, “kau yang mengurus. Seperti yang aku katakan tadi, semuanya. Aku tidak mau mendengar keluhan lagi.”
“Ba-baik, Tuan! Tenang saja, semuanya akan aku bereskan!” Kepala sekolah bangkit dengan susah payah, senyum dipaksakan, punggungnya membungkuk.
“Bagus.” Dion berbalik. “Aku kembali ke kelas.”
“Si-silakan, Tuan.” ucap kepala sekolah tergesa, bahkan mengantarnya sampai pintu.
Ketika Dion melangkah keluar, tekanan itu menghilang, menyisakan ruangan yang kembali sunyi, dan seorang kepala sekolah yang terengah, sadar betul bahwa kekuasaan hari ini telah berpindah tangan.
#
Note: “Ketika uang menjadi ukuran utama, kebenaran dan kebajikan akan mengikutinya dari belakang.” - Plato