NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:131.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Setelah makan siang yang hanya diam-diam saja, ketiganya enggan langsung bergegas kembali ke kelas. Atmosfer sekitar masih berat, penuh dengan bisikan yang nyaris tak terdengar.

Lily, dengan mata yang gelisah dan penuh teka-teki, terus saja melirik Shela. Tangannya gemetar sedikit, seolah memegang rahasia besar yang ingin diungkapkan. Tiba-tiba, Shela memicingkan mata.

"Kenapa? Ada yang mau diomongin?" suaranya rendah namun tajam, menembus kesunyian yang canggung.

Lily menggigit bibirnya, kemudian dengan napas yang bergetar, dia menatap Shela lebih intens. Seakan ada kekuatan yang mendorongnya untuk bicara, tapi juga menahannya sekaligus.

Orang-orang di sekeliling mereka, dengan mata terbelalak, berpaling bolak-balik antara Shela dan Lily. Ada keheranan dalam tatapan mereka, menimbang-nimbang transformasi sikap Shela—dari yang dulu suka membully, kini tampaknya ada semburat kelembutan.

Shela mengerutkan keningnya, ketidakpuasannya terhadap tatapan penasaran orang-orang di sekitar terlihat jelas.

"Kalian semua kenapa,hah? Suka banget ya nguping pembicaraan orang lain? " ucapnya, setengah mengusir, sambil melirik Lily sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang meminta penjelasan yang lebih mendalam. Atmosfer seolah berubah, tekanan semakin meningkat, menunggu momen saat semua rahasia terkuak.

Lily menatap Shela, matanya memancarkan kesedihan yang dalam. "Aku... Aku mau meminta maaf sama kamu. Malam itu, karena menolongku, kamu jadi pulang terlambat. Karena itu juga, kamu harus menanggung tamparan dari kakakmu dan tuduhan menjual diri... Itu semua salahku," kata Lily, suaranya tercekat, air mata mulai membasahi pipinya yang pucat.

"Maaf, Shela... Aku berencana mengembalikan jam tanganmu yang tertinggal semalam, tapi ketika sampai di rumahmu, aku mendengar teriakan dan tamparan dari dalam... Aku tidak berani masuk," ujarnya lagi, dengan nada bergetar.

Sementara air mata Lily berderai, menyesali segala yang telah terjadi, Shela hanya diam mematung. Tatapannya kosong, tanpa menunjukkan emosi apa pun, seakan-akan membeku dalam kekacauan yang sedang mereka hadapi.

Ketika mereka tenggelam dalam suasana yang mendung dan tegang, orang-orang di sekitar mereka, yang semula hanya penasaran, kini terdiam, tertegun mendengarkan kebenaran yang mengejutkan tersebut. Sungguh, mereka tidak pernah menduga bahwa Shela, gadis yang biasa mereka kenal sebagai si pembully, pada malam itu justru menjadi malaikat penyelamat bagi gadis yang selama ini ia siksa.

Dan lebih mengejutkannya lagi, mendengar pengakuan dari Lily tentang kekerasan yang harus Shela terima di tangan kakaknya sendiri. Ya meski diantara mereka pernah melihat Shela ditampar oleh Dika, tapi mereka tidak menyangka setelah Shela berubah kakaknya masih bersikap kasar bahkan di rumah sekalipun.

Black Eagle yang sudah tau cerita itu dari Dika sontak ikut terkejut akan apa yang mereka dengar, ternyata mereka salah paham, Shela tidak menjual diri melainkan menolong seseorang.

Dika selaku kakak yang di maksud Lily merasa jantungnya berdetak lebih cepat begitu mendengar alasan sebenarnya kenapa Shela pulang terlambat malam itu. Dia memandang telapak tangannya yang telah dia gunakan untuk menampar Shela malam itu. Tiba-tiba rasa bersalah menjalar dalam dirinya.

"Gue gak punya kakak," ujar Shela santai dengan ekspresi datarnya.  Tentu ucapan Shela membuat semua orang yang mendengarnya semakin terkejut.

Lily memandang shela dengan tatapan bingung. Padahal malam itu ia sangat jelas mendengar suara laki-laki yang membentak shela dan ia mengenal suara itu, suara Dika kakak laki-laki Shela.

Shela menghela napas berat, matanya menangkap ekspresi kebingungan yang mendalam dari Lily.

"Memang benar gue ditampar semalam, tapi bukan sama kakak gue, karena gue gak kakak," ucap Shela dengan nada berat, membuat kebingungan Lily semakin nyata.

"Terus, siapa mereka, Kak Dika dan dua kakak laki-laki yang kamu sebut kakak?" tanya Lily dengan nada penasaran yang mendalam.

"Mereka bukan kakak gue, gue cuma anak pungut yang numpang hidup di keluarga mereka," seru Shela dengan suara yang santai, namun penuh emosi.

Mendengar pengakuan itu, Dika dan semua yang hadir terdiam, terkejut. Dika memandang Shela dengan tatapan yang penuh tanya, seolah bertanya-tanya, apakah gadis itu benar-benar membenci keluarganya sampai-sampai menolak untuk mengakui statusnya.

Shela melanjutkan, suaranya mencoba terdengar santai, "Udah, nggak usah dibahas lagi. Toh, apa yang terjadi sama gue juga nggak ada hubungannya sama lo. Jam itu, memang sengaja tinggalkan khusus buat lo." Dia lalu menyeruput sisa teh manisnya, mencoba menenangkan hati.

Lily, masih dengan wajah tak percaya, menatap jam mahal di hadapannya. Jam yang tidak pernah ia bayangkan untuk memilikinya. Perasaan tidak enak menyelimutinya—Shela telah menolongnya semalam, dan kini, gadis itu dengan tulus memberikan jam mahalnya kepadanya, sebuah tanda pengorbanan yang tak terduga.

"Nih,ambil aja. Kalau gak mau lo bisa kasih ke orang lain. Lo mau cemilan?"ujar Shela. Dibalas gelengan oleh Lily.

"Gak usah Shela, makanan tadi aja udah cukup. Makasih banyak ya kamu udah traktir aku dan ngasih jam ini. Maaf aku harus pamit duluan soalnya aku harus ke perpustakaan," ujar Lily pelan.

Shela mengangguk dan mempersilahkan Lily untuk pergi terlebih dahulu. Lily beranjak kemudian meninggalkan kantin, menyisakan Shela dan Alvian di meja mereka.

Shela menatap tajam ke arah orang-orang yang mengintainya dari kejauhan, kemarahannya bergulung seperti awan hitam sebelum badai. "Kalian gak punya kejaan lain selain mengintip kehidupan orang? Atau ingin gue colok satu persatu bola mata kalian?" ucapnya dengan nada yang dingin memotong udara, saturasi amarahnya telah mencapai puncak.

Orang-orang segera membubarkan diri, kembali ke rutinitas mereka dengan cepat seakan angin besar telah berlalu.

Sementara itu, Alvian masih memandang Shela dengan mata yang lembut namun luka. Dalam diam, ia merenung bagaimana Shela yang galak dan tanpa ampun itu sebenarnya adalah benteng yang dia bangun untuk melindungi hatinya yang rapuh.

Sebuah pikiran menyusup ke benak Alvian; ada luka lama yang tidak pernah sembuh, menyimpan pilu yang mendalam. Mungkin, selama ini Shela mencurahkan kemarahan pada orang lain sebagai cara untuk menahan derita yang diperbuat oleh saudara-saudaranya sendiri, yang telah mengkhianati tidak hanya darah daging, namun juga kepercayaan. Sebuah pengkhianatan yang mengoyak kedalaman jiwa Shela, menjadikannya benteng yang tak tergoyahkan, namun di dalamnya hampa dan sepi.

"Shela, sekarang gue ngerti kenapa lo bersikap begitu dulu. Pasti lo tersiksa dengan semua perlakuan keluarga, bukan? Lo butuh perhatian dan Lo butuh pelampiasan." tanya Alvian dengan suara yang penuh empati. Matanya menatap dalam ke arah Shela, seolah mampu menembus lapisan hati yang telah lama terluka.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang telah dilaluinya. Seketika, rasa terharu menyapu hati Shela, membuat matanya berkaca-kaca. Di kejauhan, Dika dan kawan-kawannya membungkam dan mempertajam telinga, penasaran dengan setiap kata yang terucap antara Shela dan Alvian.

Mereka terpaku, ingin menyerap setiap detail dari pembicaraan itu. Shela tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka mendalam. Memang, hatinya telah porak-poranda oleh siksaan yang tak terucapkan dari kakaknya, gengnya, bahkan ayahnya dan semua orang di sekitarnya. Namun itu adalah masa lalu. Kini, hatinya bagai batu, kebal dan mati rasa terhadap apapun yang mereka lakukan. Tidak ada lagi perasaan atau fisik yang bisa digetarkan oleh kata-kata atau tindakan mereka.

"Engga sakit sama sekali, Alvian, karena hati gue sudah mati sejak lama," ucap Shela dengan suara lembut namun dalam nada itu terdapat lapisan kesedihan yang mendalam, mencerminkan sebuah kepedihan yang tak lagi mampu dia luapkan.

Jantung Dika berdegup sakit mendengar perkataan Shela. Sebegitu pahitkah luka yang diberikan oleh dirinya dan saudara-saudaranya sehingga membuat semangat Shela terkikis habis?

Alvian, dengan senyum yang hangat menyentuh kalbu, berujar, " Lo adalah perempuan terkuat yang pernah gue temui," ucapnya penuh kebanggaan.

Shela hanya mengulas senyum tipis, nyaris tak terlihat—seolah senyum itu perlahan tenggelam dalam lautan kesedihan. Namun, kata-katanya selanjutnya seakan menarik pelatuk pistol ke arah harapan.

"Tapi gue gak mungkin kuat selamanya. Setiap manusia punya batas kesabaran dan kekuatan,termasuk juga dengan gue. Suatu hari, mungkin, gue akan menyerah dan memilih untuk pergi," tuturnya dengan pandangan yang menerawang, seolah-olah melihat ke suatu tempat di mana sakit hati tak lagi bersarang.

Perkataan Shela itu sontak membuat senyuman Alvian memudar, tersapu oleh ombak kepedihan yang mungkin Shela rasakan sehingga dia berbicara seperti itu. Alvian ingin mengucapkan sesuatu, ingin memberikan sedikit cahaya, namun sebelum kata-kata itu terlontar, Shela mengangkat tangannya—sebuah isyarat yang tegas untuk menghentikan segala pembicaraan lebih lanjut.

“Gak usah dibahas lagi, gue males,” tutur Shela dengan suara serak, penuh penat. Alvian hanya bisa mengangguk, menerima keputusan Shela dalam diam—namun hatinya berteriak, mencari cara untuk mengobati luka yang tak terlihat itu.

Dika yang sedari tadi duduk di dekat meja Shela memilih untuk beranjak dan pergi meninggalkan kantin. Perkataan Shela benar-benar membuat hatinya tersentil, kini rasa bersalah benar-benar menghantam dirinya bagaikan palu. Sekarang ia butuh waktu menyendiri untuk menenangkan dirinya dan merenungkan segalanya.

1
Jirokiyouka
Yang mau ngajarin siapa coba, orang di gak dipeduliin
Tiavitri Vitri
maaf ya tor lama2 malas mo baca,prasaan diawal udah bagus lama2 bosan,
Arum Oke
👍
Nita Renita
ayok Shella kamu pasti bisa 😃👍
david 123
oh...kenapa tdk diproses ya melakukan kekerasan di lingkungan sekolah...malah di biarkan...lanjut thor..
david 123
Ubah alurx thor,Shela selalu tersiksa ya ,dr awal cerita..kapan nasibx baik..,he...he....
Xiaomi Note 14
bodoh, kan sidik jari ada prcm polisi klw gk di prkaa sdik jeri ,nya asl nduh.
kalea rizuky
novel paling buruk yg pernah q baca sejauh ini muter bertele tele pokok bkin mood baca anjlok
kalea rizuky
novel g guna pantes sepi like wong MC goblok biarin aja bokap lu nyesel uda bodo amat ma dika ma bokap lu yg oon ehh ini masih aja mau balik tololllllll q ksih rating jelek biarin slaah sendiri bkin pembaca sebelll
kalea rizuky
kn karena lu semua. bego yg buat novel lebihhh beggggg
kalea rizuky
pecundang semua sella goblok lengkap bgt ne novel paling bego
kalea rizuky
sela. jd goblok terlalu menye menye skip g jelas ne novel
atun atun
lnjutkan
Rita Rita
seorang Dika hanya pecundang sejati laki laki banci,, dulu berjanji mau lindungi Shela,, ini yg salah Dika apa author ya 🤔
Rita Rita
heran sama si author,, udah 2 x Shela dibuat mati,, apa ini tokoh utama dibikin mati beneran 🤔🤣 yg bikin geli itu kaum keluarga Shela,, katanya terpukul atau apalah kalo nurut AQ cuma preetttt,,
Rita Rita
aduh Thor,, sekali kali ga langkah gontai untuk Shela kenapa sih,,
Rita Rita
Shela ga ada punya langkah tegas langkah gontai Mulu,, kapan ada bahagia kalo hidup terus menerus dibebani konflik, masa iya hidup monoton di situasi yang sama.
Rita Rita
heran aja sama si Shela katanya pinter,, tapi kok bego nya makin gedein ya,, masa udah 2 x masih masuk lobang yang sama,,
Rita Rita
cerita nya muter muter gitu aja ga ada titik temunya, berbelit tanpa ada narasi yg jelas,,,
Lenty Fallo
lnjut thor upnya...💪❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!