Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
" Sialan! Gue terlambat."
Shela yang baru bangun tidur tidur tersenyum ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Semalam ia tidur hampir pukul satu dini hari, jadi wajar saja jika dia bangun terlambat. Ia segera berdiri,menyambar handuk lalu pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai Shela memakai seragam batik dan juga rok abu-abunya dengan tergesa-gesa, selanjutnya menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya asal.
Setelah siap dengan seragamnya, dia menyiapkan buku sebentar dan langsung turun ke bawah.
"Neng, mau sarapan dulu?" tanya mbok Inah yang sedang merapihkan piring-piring kotor di meja makan.
"Maaf mbok, aku gak sarapan dulu udah telat soalnya,"ujar Shela sambil memakai kaos kakinya.
"Yaudah, jangan lupa di sekolah makan ya neng."
"Iya mbok, kalau gitu aku berangkat.
Shela berlari menuju ke luar gerbang rumahnya, ia memutuskan untuk naik ojek yang ada di dekat perumahannya. Motornya belum sampai dan ia malas menggunakan skate board-nya jika dalam kondisi telah seperti ini.
Shela berjalan cepat menuju ke pangkalan ojek, bahkan dia terkesan berlari saking terburu-burunya.
Ketika sampai di depan perumahan, dia menghentikan langkahnya begitu tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya. Shela tak mengenali motor atau orang di balik helm itu, tapi yang pasti orang itu satu sekolah dengannya.
Laki-laki itu membuka kaca helm full face-nya, begitu minat mata tajam itu, ia mendengus kesal.
"Naik! Kalau lo jalan sampai depan nanti keburu telat," ujar laki-laki itu yang tak lain adalah Reygan.
"Ogah!" Ujar Shela, ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan laki-laki itu.
Langkah Shela terhenti ketika tasnya di tarik." Jangan keras kepala! Sekarang guru yang piket pak Santoso, lo mau bersihin kamar mandi karena telat?" ujar Reygan.
Shela berpikir sebentar, dia lupa kalau sekarang adalah jadwal piket pak Santoso, guru itu sudah pasti akan diam di gerbang lima menit sebelum bel berbunyi untuk memastikan tidak ada murid yang telat. Setiap murid ketahuan telat pasti akan langsung dihukum saat itu juga, hukumannya pun bisa dibilang tidak menyenangkan . Rata-rata di sekolah kamar mandi terkotor dan bau adalah kamar mandi laki-laki dan sialnya pak Santoso memanfaatkan setiap murid yang telat untuk membersihkan area paling berbahaya itu.
"Jangan kelamaan mikir,cepet naik!"
Shela tak punya pilihan lain, akhirnya dengan sangat amat terpaksa dia naik ke motor besar laki-laki itu.
Reygan menoleh ke belakang sebelum melakukan motornya." Pegangan,nanti jatuh."
"Tinggal jalan aja kenapa si, ribet banget!" Ujar Shela merasa enggan untuk berpegangan pada laki-laki itu.
Reygan melajukan motornya,membelah jalanan yang sudah cukup ramai. Shela tak sengaja berpegangan pada seragam laki-laki itu karena melajukan motornya secara mendadak. Shela berdecak karena sepertinya laki-laki itu sengaja melakukan ini padanya.
Di tengah perjalanan dia kembali melepaskan tangannya dari seragam Reygan. Tak lama keduanya sampai di sekolah, ia melihat jam kurang dari sepuluh menit lagi bel berbunyi. Untungnya ada Reygan, meski kesal ia harus mengucapkan terima kasih karena dia dirinya tidak terlambat.
Shela turun dari motor Reygan." Makasih," ujarnya dengan suara agak pelan, dia langsung pergi begitu saja. Begitu berbalik, Shela menghela napasnya. Hanya karena dia datang bersama Reygan, dia malah jadi pusat perhatian.
Reygan membuka helm full face-nya, ia menatap punggung Shela yang menjauh tanpa ekspresi. Setelahnya ia mencabut kunci motor dan menyusul Shela masuk ke dalam gedung sekolah.
---
Saat berada di lorong menuju kelasnya, ia melihat Marvin dan pacarnya sedang duduk berdua sambil berbincang-bincang. Marvin yang menyadari kehadirannya semakin menunjukkan kemesraannya dengan Flora.
Shela memasang wajah datar dan berjalan begitu saja melewati keduanya, bahkan melirik mereka saja tidak.
Marvin merasa kecewa ketika Shela hanya melewatinya, biasanya gadis itu akan datang dengan wajah marahnya dan menjauhkan flora dari dekatnya. Tapi tunggu kenapa dia berharap Shela menjauhkan kekasihnya sendiri dari dirinya? Marvin menggelengkan kepala. Sadar Marvin, Shela itu pengganggu dan ingat lo udah punya pacar.
"Kamu kenapa, Vin?" tanya Flora dengan pandangan penuh kekhawatiran saat melihat Marvin yang tampak gelisah dan menggelengkan kepala.
"Eh, gak apa-apa," jawab Marvin mencoba menyembunyikan kegundahannya.
"Shela sudah berubah, Vin. Dia gak lagi mengusik hubungan kita kita dan juga gak pernah lagi mem-bully aku lagi. Sungguh lega melihatnya berubah, ini membuat hubungan kita lebih aman, dan gadis-gadis di sekolah kita juga bisa bernapas lega," kata Flora dengan nada optimis.
Marvin tersenyum tipis. "Iya, kamu benar, aku juga senang Shela berubah. Dengan begitu kita bisa bebas berdua kapan saja," katanya. Namun, di sudut hati yang terdalam, ada gelombang kegelisahan yang tak bisa ia kendalikan.
"Dasar Shela! Kenapa sekarang gue malah rindu lo yang dulu? Yang selalu ngejar-ngejar gue dan selalu mengikuti kemanapun gue pergi. Tahan, Marvin! Jangan sampai lo terpesona hanya karena kecantikannya yang kini polos tanpa make up, atau sikap dinginnya yang mungkin hanya tipu daya untuk menarik perhatian lo kembali," batin Marvin, berjuang melawan hantaman perasaan yang tak diinginkannya itu.
----
Shela refleks memundurkan tubuhnya begitu seseorang melempar botol air mineral dari dalam, Shela mengambil air mineral itu lalu melangkah masuk ke dalam kelas untuk mencari tau siapa yang sembarangan melempar botol minum ini.
Di dalam ruangan itu, cahaya mendung menambah suasana kelam, ketika Shela menyaksikan Erlina dan dua sahabatnya sedang menyalak seorang gadis malang di depan mereka. Langkah Shela yang tegas langsung mengirimkan getaran ketakutan pada ketiganya ketika mereka mendapati sosok Shela yang tiba-tiba muncul bagai badai.
"Ngapain kalian bertiga di sini? Ini bukan tempat kalian," sela Shela dengan nada beku menyelimuti ruangan.
"Eh, Shela kita cuma—," Erlina berusaha bicara, tapi Shela langsung menengadah, memotong kata-katanya dengan isyarat tangan yang tajam seperti pedang.
Dia memfokuskan pandangan pada gadis di sampingnya, yang masih menundukkan kepala seolah berusaha menyembunyikan air mata yang menetes. "Kenapa dia ke sini?" tanya Shela dengan suara yang lebih mendesak, membuat gadis tersebut menegakkan badannya.
“Eh, mereka menyuruh aku untuk membeli air minum," suara gadis itu bergetar, mengungkap ketakutannya. “Aku langsung ke kantin, tapi karena aku tidak kembali sesuai dengan waktu yang mereka tentukan, mereka marah dan membanting botol minum yang aku beli," lanjutnya, suaranya semakin lemah namun jelas menceritakan betapa sewenang-wenangnya Erlina dan teman-temannya.
Shela menatap tajam Erlina dan dua kawannya, matanya menyala dengan amarah dan keadilan yang hendak ditegakkan, membuat ketiganya menelan ludah, tahu mereka telah melampaui batas.
Wajah Erlina dan kedua temannya berubah menjadi panik, mereka kesal karena gadis itu menceritakan semuanya pada Shela.
"Oh, jadi lo yang sembarangan melempar botol ini ke luar?" Shela berkata sambil melemparkan botol yang dia pegang dengan gaya sinis ke arah Erlina, yang dengan sigap menangkapnya.
"Dia beli minum ini pakai uang siapa?" Shela menatap tajam ke gadis di sampingnya.
"Pakai uang aku," jawab gadis itu dengan suara gemetar.
Shela menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya tajam bagai belati. "Ganti uangnya! Gaya doang heboh, tapi buat beli air minum aja gak mampu,malu lah," sindir Shela dengan nada merendahkan.
Erlina segera merogoh kantongnya, mengambil selembar uang lima ribu, dan memberikannya pada gadis yang berdiri di samping Shela.
"Gunanya kedua kaki Lo apa kalau masih aja nyuruh orang ? Cuma beli air aja gak bisa sendiri, lo pikir lo ratu? Atau lo lumpuh sampai harus nyuruh orang? Udah nyuruh pake duit orang lagi, malu lah sama gaya lo! Pergi dari sini!" seru Shela dengan nada penuh amarah.
"Jangan sampai gue liat Lo ganggu atau menyuruh-nyuruh orang di ruang kelas ini. Kalau gak, habis Lo bertiga sama gue!" ancam Shela dengan suara menggelegar, mata membara penuh ancaman, membuat ruangan seketika menjadi hening dan tegang.
Ketiganya mengangguk ketakutan lalu segera pergi meninggalkan kelas Shela. Ketika mereka sudah pergi atensinya beralih pada gadis yang masih berdiri di sampingnya." Lo kenapa masih berdiri di sini? Duduk," ujar Shela, nada dinginnya mampu membuat gadis itu bergetar dan langsung menurut.
Shela langsung melangkah menuju bangkunya, tak bisa dipungkiri apa yang dia lakukan tadi menarik perhatian seluruh teman-temannya yang lain. Ia hanya diam saja, membiarkan orang-orang menatapnya, meski risih tapi Shela tidak berbuat apa-apa.