Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*24
Setelah sarapan seadanya, Rain langsung meninggalkan rumah bersama Dion. Beberapa saat berkendara, mereka akhirnya tiba di pemakaman yang ada di pinggiran kota.
"Astaga, tuan muda. Saya lupa membelikan bunga tabur," ucap Dion ketika mereka baru tiba di depan gerbang TPU tersebut.
"Hah ... ya sudah. Aku masuk duluan. Kamu pergilah belikan dulu bunganya. Aku akan menunggu di sana saja."
"Baik, tuan muda. Maaf."
"Gak papa."
Rain dan Dion pun berpisah dengan arah yang berbeda. Sementara Dion kembali ke mobil, Rain langsung beranjak menuju pusara nenek Aina.
Rain memang akan selalu datang di pusara sang nenek setiap hari kematian wanita tersebut. Dia akan bercerita tentang hidupnya di sana. Bagaimana rasa penyesalannya, bagaimana usahanya untuk menemukan Ain. Dan tak lupa pula, dia juga akan mendoakan arwah si nenek dengan deraian air mata.
Rain berjalan pelan sendirian. Namun, belum juga kakinya sampai ke tempat yang ingin dia tuju, rintik hujan malah kembali turun. Padahal sebelumnya, cuaca terlihat cerah.
Maklum, cuaca sedikit tidak menentu saat ini. Ditambah lagi saat ini adalah saat musim penghujan. Jadi, cuaca yang awalnya cerah, sangat cepat berubah.
Awalnya, gerimis itu tidak menganggu Rain. Tapi perlahan, dada Rain tiba-tiba merasa sesak. Sekilas langsung terlihat punggung Ain yang berjalan meninggalkan dirinya.
Bersamaan hujan yang semakin melebat, sesak di dada Rain semakin terasa kuat. "Ya Tuhan. Tidak."
Rain menyentuh dadanya yang terasa sangat sesat dan perih. Lagi, hujan yang membuat matanya kabur tiba-tiba menampilkan adegan dia yang ditinggalkan oleh Aina saat hujan turun.
"Tidaaaaaakkkk ...!"
"Jangan pergi, Aina. Jangan pergi. Ku mohon, jangan tinggalkan aku."
Rain menyeret langkah kakinya menuju pohon besar yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Satu tangan terus memegang dada. Sedang satu tangan lagi, sibuk merogoh saku jas untuk menemukan obat yang selalu ia bawa ke manapun dia pergi.
"O-- b-- bat."
"Om. Kamu baik-baik saja?"
Satu pertanyaan dari suara yang sangat lembut. Rain memaksakan diri untuk membuka mata secara perlahan. Belum sempat matanya terbuka, sentuhan pelan langsung bisa ia rasakan. Sentuhan lembut dari tangan mungil yang sangat hangat.
"Om, apakah ada yang bisa saya bantu? Om nya sedang sakit?"
Rain tidak bisa mengeluarkan banyak kata. Suaranya terasa tertahan di tenggorokan. Yang bisa Rain ucap hanya satu kata. "Obat."
Tanpa bicara lebih lanjut, tangan kecil itu langsung membantu Rain untuk menemukan apa yang Rain cari. Setelah menemukan obat yang Rain inginkan, tangan mungil itu langsung memberikan satu buah pil putih ke tangan Rain.
Sayangnya, pil itu Rain jatuhkan. Lalu, tangan mungil itu mengambil lagi pil yang kedua. Kali ini, tidak dia berikan ke tangan Rain lagi. Melainkan, langsung dia suap ke mulut.
Rain langsung menelan obat tersebut dengan cepat tanpa bantuan air sedikitpun. Sebelum dia kehilangan kesadaran, dia berhasil melihat sosok si pemilik tangan yang sudah membantunya.
Itu adalah anak laki-laki kecil yang sangat tampan. Tapi, sosok itu langsung membuat Rain mengingat Aina. Sontak, tangannya langsung ingin menyentuh anak tersebut. Sayangnya, kesadaran Rain tiba-tiba menghilang.
"Aina." Bibir Rain berucap pelan.
Di sisi lain, seorang wanita muda nan cantik jelita sedang ngobrol bersama penjaga makam yang bertugas di sana. Sesaat setelah ngobrol, dia baru sadar akan sang buah hati yang tidak ada di sisinya.
"Rafka."
"Raf. Ya Tuhan, ke mana anak itu pergi?"
"Ada apa, Nona?"
"Anak saya, Pak. Anak yang-- "
"Mama."
Seketika, wanita itu langsung menoleh.
"Ya Allah, Rafka. Ke mana saja kamu, ha?"
"Rafka tadi ... ke-- "
"Hah, jangan ke mana-mana tanpa ngasi tahu mama. Mama gak suka kamu ngilang gitu aja. Kan mama udah bilang, jangan pergi jauh-jauh dari mana. Ngerti gak sih, Raf?"
Si anak imut nan lucu itu langsung menundukkan wajahnya. Wajah bersalah langsung dia perlihatkan. "Maafkan Rafka, Ma. Rafka hanya bosan aja. Lain kali, Rafka janji gak akan keluyuran tanpa izin."
Aina langsung melepas napas berat secara perlahan. "Heh ... ya sudah, mama maafkan Rafka kali ini. Ingat! Jangan ulangi lagi kesalahan itu. Mama gak mau kamu kenapa-napa. Ngerti kan maksud mama?"
"Iya, Ma. Ngerti."
Ya. Rafka Rafasya, anak kecil yang baru saja memberikan bantuan pada Rain adalah anaknya Aina. Beberapa tahun yang lalu, Ain melahirkan anaknya dengan selamat. Anak lelaki yang sangat tampan. Kolaborasi Aina dan Rain.
Wajahnya mirip Ain. Tapi sikap dan tingkah lakunya lebih condong mirip Rain. Dia bersikap dingin pada orang yang tidak cukup dekat dengannya. Tapi, sangat penyayang pada orang yang paling dia sayang. Selayaknya Rain yang mencintai Aina, begitulah sikap anak kecil itu terhadap mamanya.
"Ain, kakak sudah dapatkan bunga tabur nih. Aduh, jadi basah deh. Gara-gara terjebak hujan, jadi buat kalian nunggu lama," ucap Marvin dengan wajah penuh sesal.
"Gak papa, Kak. Mm ... mungkin, sebaiknya, kakak bawa Rafka ke mobil saja. Biar aku sendiri saja yang ke pusara nenek."
"Ain. Apa tidak sebaiknya, kamu tunda besok saja. Gerimis mulai lagi nih. Kakak bisa bawa Rafka, tapi kamu akan kehujanan. Lagian, Rafka juga terlihat kedinginan sekarang. Baju gantinya gak ada di mobil, bukan?"
Ain terdiam. Yang kakaknya katakan memang benar. Di tambah lagi anak itu entah pergi ke mana sesaat setelah hujan mereda. Sungguh, mengkhawatirkan.