Zidan Arkan, seorang CFO muda yang selama ini selalu mendapatkan perhatian dari banyak orang terutama kaum hawa, merasa harga dirinya terluka saat ada satu orang perempuan yang selalu mengabaikannya sejak hari pertama pertemuan mereka. Zidan berencana untuk membuat perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Tapi Lalita, nama perempuan itu, baru saja bercerai dari mantan suaminya dan sedang tak ingin membuka hatinya untuk laki-laki lain yang kemungkinan besar akan menyakitinya sama seperti mantan suaminya. Berhasilkah rencana Zidan? Akankah Lalita jatuh ke dalam pelukan Zidan? Atau malah Zidan yang bertekuk lutut dihadapan Lalita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Zidan baru sampai di kantornya jam 10, padahal biasanya dia sudah datang sebelum jam 8.
"Pagi, Din." Zidan menyapa Dina, sekretarisnya, yang tidak menyadari kedatangannya karena sedang asyik browsing sesuatu di layar komputernya.
"Eh, Pak Zidan sudah datang, tidak biasanya datang terlambat, Pak." Balas Dina tanpa menutup layar browsernya sama sekali sehingga Zidan bisa melihat kalau dia sedang browsing tiket pesawat dan hotel, sepertinya dia mau pergi berlibur.
"Iya nih, semalam tidak bisa tidur. Jadi tadi pagi bangun kesiangan." Zidan berjalan masuk ke ruangannya yang sudah terbuka.
"Mau dibuatkan kopi, Pak?" Dina mengekor di belakang Zidan.
"Tidak usah, saya sudah sarapan tadi." Zidan meletakkan tas kerjanya di meja, lalu menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas singgasananya.
"Jadi, apa jadwal saya hari ini?" tanya Zidan setelah dalam posisi duduk yang nyaman.
"Nanti ada undangan makan siang dengan BoD. Selain itu belum ada. Apa Bapak ada agenda lain?" Dina membacakan agenda Zidan hari ini dengan lancar, seperti hari-hari lainnya. Tapi bukankah memang itu keahliannya sebagai seorang sekretaris?
"Sementara belum ada."
Setelah itu Dina permisi keluar dari ruangan Zidan dan kembali duduk di kursinya sendiri lalu melanjutkan kegiatan browsingnya untuk liburan bulan depan. Sementara itu, Zidan di dalam ruangannya memutar balik kursinya 180 derajat dan menatap pemandangan kota Surabaya dari lantai 4. Dia memejamkan matanya dan menyentuh bibirnya yang masih bisa merasakan lembut bibir Lalita yang diciumnya pagi ini.
Ah, aku sudah merindukan bibir ini lagi, Zidan sudah mulai kecanduan dengan bibir Lalita.
***
Tadi pagi semuanya sudah tepat. His little-Zidan yang selalu terbangun di pagi hari. His woman, maksudnya Lalita yang meskipun belum mengiyakan tapi sudah dia akui sendiri sebagai miliknya, yang sudah bangun dan tampak cantik pagi ini berada di dalam apartemennya. Serta waktu dan tempat yang mendukung. Zidan mulai mencium Lalita tanpa permisi, dimulai dari belakang telinga, leher, lalu bibirnya yang entah saat itu sedang berkata apa, Zidan tidak memedulikannya dan langsung saja melumatnya. Tangannya memeluk erat tubuh Lalita sehingga merasakan kulitnya yang halus di balik kaos tipis yang dia kenakan pagi ini. Ah, Zidan menyukainya, pagi ini terasa begitu menyenangkan. Sampai Lalita mendorongnya mundur dan merusak semuanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi sebelum kamu menjawab pertanyaanku semalam." Lalita berkata sambil tersengal-sengal. Lalita tampak begitu menikmati ciuman Zidan beberapa saat sebelumnya, tapi lalu dia teringat betapa Zidan sudah mempermainkannya semalam.
"What the heck, La. Itu kan bisa nanti. Don't ruin this good mood." Zidan maju dan mendekatkan wajahnya untuk mencium Lalita lagi.
"Jawab dulu," paksa Lalita.
"I need you now." Zidan belum mau menyerah, kali ini dia menarik kepala Lalita mendekat, tapi kalah cepat dengan Lalita yang mendorongnya mundur dengan keras hingga Zidan terbentur tembok dibelakangnya.
"Pikirkan baik-baik. Kalau sampai nanti malam aku belum mendapatkan jawabannya, aku akan angkat kaki dari apartemen ini besok pagi. Dan kita akan benar-benar berakhir kalau itu sampai terjadi. No more touch and no more relationship."
Zidan berbalik dan memukul tembok dihadapannya. Hasratnya langsung menguap seketika. Ah, kenapa hawa nafsu ini sebegitu liarnya sih, apalagi kalau melihat Lalita. Dia sudah susah payah untuk bisa bersama dengan Lalita lagi, dia tidak akan semudah itu menyerah dan membiarkannya pergi lagi. Sepertinya Zidan harus belajar untuk menahan hawa nafsunya dan menurunkan egonya jika ingin bisa bersama dengan Lalita.
"Buruan mandi lalu sarapan, aku sudah menyiapkan makanannya. Mau dibuatkan teh atau kopi?" terdengar suara Lalita dibelakangnya.
"Kopi," jawab Zidan yang merasa kalah.
"Ok." Lalita meninggalkan Zidan dan pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Dengan lemas Zidan masuk ke kamarnya, lalu mulai mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Tidak lupa dia mengirimkan pesan kepada Pak Gufron yang sudah dari tadi menunggu di tempat parkir.
***
Back to the office.
Zidan berpikir dengan keras, harus memberikan jawaban seperti apa kepada Lalita nanti malam. Karena sebenarnya dia sendiri juga masih bingung dengan perasaan dan tindakannya kepada Lalita. Tapi dia sangat suka menyentuh Lalita, apalagi bercinta dengannya.
Ah, dasar perempuan, kenapa harus selalu minta penjelasan sih? Apa nggak bisa kita have fun saja gitu, tanpa harus ada alasan apapun dibaliknya. Yang penting kan suka sama suka.
Zidan menyadari gesture tubuh Lalita saat dia menyentuhnya jelas bukan menunjukkan sebuah penolakan. Zidan yakin, Lalita juga menyukainya sama seperti dirinya.
Tok tok tok...
Zidan memutar kursi kebesarannya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Dina, sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Zidan saat melihat Dina masuk ke dalam ruangannya dengan membawa selembar kertas.
"Mau minta tanda tangan untuk approval cuti saya Pak." Dina lalu meletakkan selembar form pengajuan cuti di atas meja Zidan.
Zidan membaca form itu sekilas, lalu melihat ke kalender dengan logo sebuah bank lokal yang duduk manis di atas mejanya. Cuti selama tiga hari untuk pertengahan bulan depan, jika ditambahkan dengan satu tanggal merah didepannya serta hari Sabtu dan Minggu dibelakangnya, total liburnya menjadi enam hari. Dan selama dia cuti pekerjaannya akan diambil alih oleh Gita, salah satu karyawan bagian treasury yang meja kerjanya di depan Dina.
"Mau liburan kemana?" Zidan membubuhkan tanda tangannya di atas form cuti.
"Bapak kok tahu kalau saya mau liburan?" Dina tampak terkejut.
"Saya melihat kamu akhir-akhir ini menghabiskan waktu untuk browsing tiket pesawat dan hotel. Sudah dapat semua tiket dan hotelnya?" Zidan menyerahkan kembali form cuti itu kepada Dina.
Dina menelan ludah. Jadi selama ini meskipun tampak acuh dan santai tapi Zidan ternyata selalu memperhatikan layar komputernya dan semestinya pekerjaannya juga. Dina berpikir untuk lebih berhati-hati lagi mulai sekarang, karena dia juga sering melihat website yang isinya gosip terkini, di jam kerja pula.
"Kamu benar, selama ini saya tahu kok kalau kamu sering browsing hal-hal lain yang tidak terkait pekerjaan saat jam kerja. Kamu juga membuka aplikasi WhatsApp di komputer kamu sehingga bisa sering ikut nimbrung di WhatsApp group saat jam kerja. Saya ini tahu banyak lho, Din." Zidan seolah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran sekretarisnya. Dia mengatakannya tanpa tersenyum sehingga membuat Dina ketakutan.
"Tapi kamu tenang saja, selama pekerjaanmu bagus, saya tidak akan mempermasalahkan itu semua." Zidan tersenyum dan membuat Dina sedikit lega. "Jadi, mau liburan kemana?"
"Mau ke Jepang, Pak. Kebetulan sedang ada promo tiket pesawat pulang-pergi dengan harga yang miring banget." Dina akhirnya menjawabnya.
"Sudah pesan hotelnya juga?"
"Belum, Pak, gampang kalau hotel tinggal cari nanti di sana. Yang penting sudah dapat tiket pesawat murah dan pengajuan cuti juga sudah disetujui." Dina sudah hendak beranjak pergi tapi Zidan menahannya.
"Tunggu, Din, kamu duduk dulu. Saya mau sedikit bertanya sama kamu." Lalu Dina kembali duduk di kursinya.
Ehm.. Zidan berdehem. Ragu untuk memulainya, tapi terlalu penasaran dengan jawabannya. Dan akhirnya besarnya rasa penasaran tersebut berhasil mengalahkan keraguan Zidan.
"Apa perempuan itu selalu butuh kepastian dan penjelasan?" Akhirnya Zidan berani juga menanyakannya kepada Dina, meskipun dengan malu-malu.
"Tentang apa ya, Pak?" Dina masih bingung dengan arah pembicaraan Zidan.
"Tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan." Zidan menjawab dengan pelan.
"Oh, kalau tentang itu ya sudah pasti, Pak. Perempuan mana yang mau berjalan dengan hubungan tanpa status. Memangnya Bapak belum pernah pacaran ya? Kok nanya seperti itu?" Jleb. Ucapan Dina membuat Zidan semakin bertambah malu.
Zidan pernah pacaran serius beberapa kali. Tapi seperti yang selama ini dia lakukan, dia tidak terlalu memperhatikan status ataupun penjelasan apapun kepada pasangannya. Dia hanya selalu mengontrol pasangannya tanpa merasa perlu untuk menjelaskan apapun kepadanya. Mungkin itu sebabnya hubungannya tidak pernah bertahan lama. Pacarnya selalu minta putus, setelah mendapatkan hadiah-hadiah mahal yang diinginkan pastinya, Zidan tidak pernah mempermasalahkannya. Kemudian akhirnya Zidan belum berpacaran lagi sampai saat ini, meskipun beberapa kali one night stand dengan perempuan yang ditemuinya. Tapi kali ini lain, dia ingin mempunyai hubungan yang istimewa dengan Lalita. Zidan tidak mau kehilangannya.
"Ehm, ini bukan tentang saya. Kalau saya sih sudah sering berpacaran dan tahu dengan pasti hal-hal seperti itu. Ini teman saya yang bertanya, dan saya mau minta pendapat kamu untuk menguatkan pendapat saya yang nantinya akan saya sampaikan ke teman saya itu." So classy, menggunakan nama teman saat bertanya hal pribadi kepada orang lain.
Tapi karena Zidan memang ingin menanyakan hal yang pribadi, sepertinya memang lebih baik berbohong saja kepada sekretarisnya kalau masalah ini tentang temannya, bukan tentang dia.
semangat Thor,,aku selalu nunggu updatean mu
Lalitaaa apa rasanya diperhatiin 3 cowok gitu ? tell me please
andrew cariin cwk lain yg baik yaaa yaa yaaa