Kisah cinta antara dua anak manusia yang di pisahkan jarak dan waktu, kehidupan yang keras dan penuh dengan manipulasi membuat mereka saling terpisah satu sama lain.
Akankah Samudra dan langit akan bersatu…? Jika penasaran dengan ceritanya, baca novel ini ya…?
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like nya, karena dengan like dan komentar kalian bisa menambah semangatku untuk melanjutkan cerita selanjutnya, salam hangat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan alex dna langit.
“Samudra terima kasih kamu telah membawa langit kembali ke rumah ini.” Ucap alex menatap samudra dengan tatapan tegasnya.
“Sudah menjadi kewajiban saya tuan.”
“Dan kamu putri, selamat datang kembali ke keluarga ini. Papa harap kamu betah di sini…”
Langit terdiam, apa yang langit ekspektasi kan kemarin kemarin tidak terjadi. Dia yang menginginkan pelukan seorang papa dan sambutan hangat dari sang kakak, ternyata berbanding terbalik dengan yang dia rasakan sekarang.
Sambutan hangat yang dia terima hanya dari oma eli, pertemuan yang mengharukan saat mereka awal berjumpa.
Angel tersenyum sinis menatap langit, dia merasa puas melihat reaksi papanya yang terlihat kaku dan biasa saja saat berbicara dengan langit.
“Pa… apa papa yakin jika dia putri Anastasia, sepertinya dia hanya mengaku dan wajahnya saja yang mirip dengan mama senja.”
Alex masih terdiam, dia masih menatap wajah langit dengan pandangan mata seperti sedang merindukan seseorang. Langit tahu jika saat ini alex menatapnya karena merindukan senja mama langit, malu karena selalu di tatap alex langit menundukkan wajahnya.
“Jangan kawatir angel, jika kamu masih ragu jika langit bukan adik kamu. Oma sudah menyuruh Udin untuk melakukan tes dna antara kamu dan putri, tapi jika kamu masih meragukannya mau bagaimana lagi. Oma tidak bisa berbuat apa apa.”
Oma yang tadinya diam menjadi harus meluruskan kekesalan angel, dengan terpaksa dia harus mengatakan yang sebenarnya jika dia telah melakukan tes dna tadi dengan menyuruh Udin pengawal yang di tugaskan alex untuk menjaganya selain samudra.
“Kita lihat saja nanti oma, aku yakin dia hanya berpura pura.”
Langit yang akan membantah ucapan angel mengurungkan niatnya setelah samudra menggenggam tangannya.
“Jika nona angel merasa tidak yakin itu adalah hak nona, tapi saya harap nona bisa menerima jika ternyata langit adalah adik nona.” Samudra menatap angel yang juga menatapnya.
“Sudah… sudah… jangan di perdebatkan, kita tunggu hasilnya keluar.” Alex berdiri dan memilih pergi ke taman, sebelum dia berjalan ke taman dia mengintruksi samudra agar mengikutinya.
“Sam, ikut saya.” Ucap alex terdengar dengan nada tegasnya.
“Baik tuan.”
Samudra segera mengikuti langkah alex, dengan perlahan alex duduk di kursi sedangkan samudra berdiri di samping alex dengan posisi tubuhnya yang berdiri tegap.
“Sam… aku dengan baron masuk rumah sakit, dia mengalami kecelakaan bersama angel. Apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka…?”
“Maaf tuan saya tidak tahu pasti, dan saya dengar dari nona angel jika mereka sempat di ikuti dari belakang tuan.”
“Di ikuti… siapa gerangan yang mengikuti mereka, apa patric mantan angel dulu.” Alex menebak asal.
“Maaf tuan kalau saya lancang bertanya, apa anda selama ini mempunyai musuh yang berniat ingin menjatuhkan anda.” Dengan berani samudra bertanya ke alex, dia penasaran dan harus tahu tentang yang sebenarnya terjadi. Karena semua terasa ambigu bagi samudra, saat mendengar dari beberapa pihak.
“Iya aku selama ini mempunyai musuh dan hanya aku dan arnold lah yang tahu siapa di balik dalang kejadian beberapa tahun lalu, setelah aku dan arnold melakukan penyelidikan. Sebenarnya aku tidak sembarangan mempercayai orang lain selain arnold, tapi aku yakin kamu adalah seseorang yang bisa aku percaya selain arnold.”
“Terima kasih atas kepercayaan anda tuan.”
Tanpa mereka sadari Udin yang dari tadi mendengar ucapan mereka bersembunyi di balik pintu, dia mendengarkan dengan seksama dan ingin mengetahui apa yang sedang alex dan samudra bicarakan.
“Kamu tahu alasan aku bisa begitu mudahnya mempercayai kamu…?” Tampak samudra menggeleng dan di lihat oleh alex, dengan senyuman khasnya alex menepuk lengan samudra.
“Karena kamu mengingatkanku dengan sahabatku, andai saja kamu adalah anak dari bumi. Maka aku akan menikahkan kamu dengan salah satu dari putriku, hahaha….” Alex berdiri dan berjalan menjauh dari samudra yang masih berdiri mematung.
“Sayang aku bukan anak dari sahabat anda tuan, karena aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku.” Batin samudra melihat kepergian alex.
Melihat alex yang berjalan masuk ke dalam, Udin segera pergi dari tempat persembunyiannya. Sedangkan samudra yang sekilas melihat Udin yang pergi, segera berlari menghampirinya.
Samudara menepuk pundak Udin dengan keras setelah dia mendapati Udin yang akan keluar lewat pintu belakang, Udin yang takut ketahuan memikirkan alibi apa yang akan dia buat untuk meyakinkan samudra.
“Sedang apa kamu tadi din, menguping pembicaraan kami.”
Udin pun menelan ludahnya kasar, sebelum dia berbalik melihat samudra. Seperti layaknya maling yang ketahuan, Udin tersenyum seperti tidak terjadi apa apa.
“Iya sam tadi aku tidka sengaja menguping pembicaraan kamu dan tuan alex, kebetulan aku sedang menggambil kunci motorku yang jatuh tak jauh dari taman. Jadi maaf jika aku menguping pembicaraan kalian, tapi jangan kawatir aku tidak akan membocorkan apapun eh… maksud aku. Aku tidak akan bilang sama siapapun mengenai obrolan kalian.”
Samudara melepaskan penganggaran tangannya, dan membiarkan Udin pergi. Kali ini samudra akan mempercayai Udin, tapi dia akan mengawasi Udin karena samudra kawatir jika akan terjadi sesuatu dengan keluarga ini lagi.
“Baik aku percaya sama kamu”
“Ya sudah sam , aku pergi dulu ya… ada sesuatu yang harus aku kerjakan, oh iya sam hampir lupa. Aku dapat info jika pak baron sudah sadar, coba kamu cek hand phone milikmu. Katanya Bram menghubungi kamu tapi tidak kamu angkat.”
Mendengar ucapan Udin samudra segera menggambil handphonenya, dia melihat beberapa chat dari Bram dan panggilan tak terjawab dari Bram. Samudra segera menghubungi Bram yang sedang menjaga pak baron di rumah sakit, setelah nada panggilan tersambung samudra segera menanyakan kabar pak baron.
“Hallo Bram, maaf handphone aku silent. Bagaimana kabar pak baron setelah sadar dari operasinya…?”
“Dia baik baik saja sam, pak baron menanyakan kamu begitu dia sadar.”
“Baik Bram, aku segera ke sana.”
“Baiklah aku tunggu kedatangan kamu.”
Akhirnya samudra menutup telponnya, dan segera memasukkan handphonenya di saki celananya. Dia harus segera memberitahukan kabar baik ini ke tuan alex, dan dia juga akan meminta ijin untuk menemui baron di rumah sakit.
Samudra masuk dan menghampiri alex yang terlihat sedang berbicara dengan angel, sedang dia tidak melihat keberadaan langit di ruangan tersebut.
“Tuan alex, boleh saya meminta ijin sebentar. Saya baru saja menghubungi Bram yang menjaga pak baron di rumah sakit, dia memberitahukan jika pak baron baru saja sadar.”
“Apa… baron sudha sadar.” Jawab alex terkejut.
Melihat reaksi yang di berikan alex, samudra menjadi heran sendiri. Reaksi yang di berikan tuan alex tidak seperti orang yang terkejut karena kaget, tetapi menunjukkan seperti rasa kecewanya.
“Baiklah sam, kamu boleh ke sana. Sampai kan salam saya, dan maaf saya belum bisa menjenguk dia di rumah sakit.”
“Baik tuan.”
Setelah mendapat ijin, samudra segera keluar dari kediaman oma eli. Setelah menggambil kunci motornya, dia segera pergi dari rumah tersebut dengan melajukan motor miliknya dengan kecepatan penuh.