NovelToon NovelToon
Benih Pengikat Kaisar

Benih Pengikat Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / One Night Stand / Percintaan Konglomerat
Popularitas:78.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji170

Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.

Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.

"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."

Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Di dalam mobil, Kai hanya bisa merenung dalam diam. Suara lalu lintas di luar tidak lagi terdengar, hanya menyisakan kekosongan yang berputar di kepalanya. Tangannya mengepal di atas kemudi, matanya menatap kosong ke jalanan yang seolah tidak berujung.

Di kafe tadi, Eka tidak memberikan pembelaan, tidak ada kata-kata penjelasan, hanya satu anggukan pelan yang menghantamnya lebih keras dari pukulan apa pun. Jawaban itu cukup. Terlalu cukup untuk membuatnya merasa bodoh.

Seharusnya dia tidak sesakit ini. Seharusnya dia bisa menebak sejak awal. Eka sudah lama memiliki urusan dengan keluarga Wirawan, dan rencana ini pasti sudah ia susun jauh sebelum dirinya masuk ke dalam gambaran itu. Kai tahu, dia tahu. Tapi tetap saja, kenapa rasanya seolah seluruh dirinya dihancurkan begitu saja?

Entah sejak kapan perasaan itu muncul. Mungkin saat Eka pertama kali menyerahkan mahkotanya. Mungkin ketika Kai melihat ketegaran Eka—tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Atau mungkin saat Eka kembali dengan janin di dalam perutnya, menghancurkan segala logika yang selama ini Kai pegang erat.

Satu bulan tanpa gadis itu seharusnya cukup untuk membuatnya kembali berpikir jernih. Tapi nyatanya, begitu Eka muncul lagi, harapannya justru tumbuh lebih besar. Ia menginginkan keluarga. Sesuatu yang selama ini terasa jauh dan mustahil, kini seolah begitu dekat. Kakeknya pun merestui. Untuk sesaat, ia benar-benar percaya bahwa ini bisa berhasil.

Tapi semua itu hanya ilusi, bukan?

Kai menghela napas panjang, lalu mendongak, menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Sorot matanya kosong, seperti pria bodoh yang baru menyadari bahwa dirinya hanya bidak dalam permainan seseorang.

Tiba-tiba, amarah yang ia tahan sejak tadi meledak begitu saja.

“Bodoh!” Pukulannya menghantam setir, keras dan penuh frustrasi. Dadanya naik turun, rahangnya mengatup kuat.

Kenapa ia harus berharap? Kenapa ia harus jatuh sejauh ini? Dan yang lebih menyakitkan—kenapa Eka tidak memberinya satu alasan saja untuk tetap tinggal? Ternyata sepintarnya ia dalam dunia bisnis dan sekejamnya ia dalam memerankan karakter tetap saja ia kalah dengan satu kata, cinta.

Kai mengatur napasnya dengan susah payah, berusaha mengusir gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Tapi semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin hatinya terasa berat.

Pikirannya kembali ke percakapan terakhir mereka. Eka hanya diam, membiarkan Ita berbicara seolah ia memang tidak perlu menjelaskan apa pun. Tidak ada usaha untuk menyangkal, tidak ada permohonan maaf.

Kai tertawa kecil, getir.

"Kenapa kamu tidak mengatakan sesuatu, Eka?" gumamnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Kenapa kamu tidak memberiku alasan untuk tetap mempercayaimu?"

Tangannya bergerak ke dasbor, meraih kotak rokok yang sudah tidak ingin ia sentuh lagi karena akan segera menggendong darah dagingnya. Satu batang diambil, tapi bahkan sebelum ia menyalakannya, ia sudah kehilangan keinginan untuk merokok. Dengan frustrasi, ia melemparkan kotak itu ke jok penumpang.

"Arghhh... sial!" Kai langsung menginjak gas kemudinya dengan kecepatan maksimal seolah ia tidak peduli lagi dengan nyawanya.

***

Di apartemen Ita, Rendi datang seperti biasa untuk menemani kekasihnya. Hari ini terasa lebih istimewa karena ia mendapat cuti dari bosnya—sesuatu yang jarang terjadi. Sejak kehadiran Eka, Kai memang tidak lagi seperti dulu, tidak lagi pria dingin yang gila kerja. Buktinya, demi menemui orang tua Eka, Kai rela membatalkan semua meeting dan menyelesaikan pekerjaan mendesak lebih cepat. Itu hal yang hampir mustahil bagi Kai yang dulu.

Rendi mengetuk pintu apartemen Ita, dan ketika pintu terbuka, sosok yang menyambutnya bukan Ita, melainkan Eka.

"Eka… Ibu Bos?" Rendi terpaku sesaat sebelum mengerjap, berusaha memahami situasi. "Ke… kenapa di sini? Apa Pak Kai ada juga? Bukannya kalian mau ke rumah orang tuamu?" tanyanya bertubi-tubi, nada suaranya dipenuhi kebingungan.

Eka menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Dia nggak di sini," jawabnya pelan, lalu berbalik masuk ke dalam apartemen.

Rendi mengernyit, firasatnya langsung tidak enak. Ada sesuatu dalam ekspresi Eka yang membuatnya ragu untuk masuk, tapi pada akhirnya, ia tetap melangkahkan kaki ke dalam.

Di ruang tamu, Ita duduk di sofa dengan raut wajah penuh kecemasan. Ia memeluk bantal di pangkuannya, seolah mencari kenyamanan di tengah atmosfer yang terasa begitu berat.

"Ada apa ini?" Rendi meletakkan tasnya di meja dan menatap Ita, lalu kembali menoleh ke Eka yang berdiri dengan tangan terlipat, pandangannya menerawang. "Jangan bilang kamu kabur dari Pak Kai," lanjutnya setengah bercanda, tapi tidak ada yang tertawa.

Eka menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Rendi dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku nggak kabur," ucapnya pelan. "Aku hanya… butuh waktu."

Rendi bertukar pandang dengan Ita, yang hanya bisa menggeleng pelan, seakan tidak tahu harus berkata apa.

"Pak Kai tahu kamu di sini?"

Eka terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Belum."

Rendi mengusap wajahnya frustasi. "Astaga, Eka… Kamu sadar nggak, kalau dia tahu kamu menghilang tanpa kabar, dia bakal gila?"

Eka tersenyum miris. "Aku rasa… dia akan baik-baik saja."

Rendi menghela napas berat. "Aku nggak yakin soal itu."

Tiba-tiba, Rendi merasakan cubitan halus di pahanya. Tatapan Ita penuh makna, memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Rendi memahami kode itu dan menatap kekasihnya, meminta penjelasan.

Ita menarik napas, lalu mulai menceritakan apa yang terjadi antara Eka dan Kai sambil sesekali melirik ke arah Eka. Seiring dengan setiap kata yang keluar dari bibir Ita, ekspresi Rendi berubah. Dari bingung, ke kaget, lalu akhirnya… marah.

Ia segera berdiri dan menatap Eka dengan tajam.

"Eka, kamu kenapa bisa jahat seperti ini?" Nada suaranya bergetar oleh emosi yang ia tahan. "Sejahat-jahatnya Pak Kai, dia nggak pernah memanfaatkan seseorang, apalagi perasaan! Kamu keterlaluan!"

Ita tersentak dan buru-buru mencoba menenangkan. "Sayang, kamu—"

Rendi mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Ita tidak melanjutkan. Ia menatap Eka tajam, lalu menghela napas berat sebelum melanjutkan, suaranya lebih rendah tapi sarat dengan kemarahan yang tertahan.

"Kamu tahu nggak? Demi ketemu keluargamu, Pak Kai batalin semua meeting, termasuk dengan klien yang bakal rugi miliaran. Dia tadi juga buru-buru menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa nemenin kamu belanja barang untuk keluargamu." Rendi mengepalkan tangannya, suaranya bergetar. "Tapi kamu malah…"

Rendi tidak melanjutkan. Kata-katanya menggantung di udara, tetapi maknanya sudah jelas.

Eka tetap diam, tapi jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya. Suara Rendi masih terngiang di kepalanya—tentang bagaimana Kai mengorbankan segalanya demi dirinya.

Pikirannya berputar cepat. Kai membatalkan semua meeting? Kai menyelesaikan pekerjaannya lebih awal hanya untuknya? Itu… mustahil. Apa dirinya sepenting itu di mata Kai?

Dadanya terasa sesak. Eka menggigit bibirnya, menahan gejolak yang semakin menghimpit. Ia ingin percaya, tapi bagaimana jika semua ini justru membuatnya semakin jatuh?

1
Ismi Kawai
hem, aku mesem2
Hayurapuji: gemes ya
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
ljuut
Queen kayla
jgn" ..adiknya yg di jdkan pengganti nadin
Ismi Kawai: bisa jadi nih
total 1 replies
Ismi Kawai
tapi trrnyata adit sayang jg ya sama nadin. hmmm
Hayurapuji: sayang dia cinta pertama kan
total 1 replies
Ismi Kawai
emang drama queen ya keluarga adit itu.
Suparmin N
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Hikmal Cici
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
putrie_07
hemm😏😏😏😏
putrie_07
Eka namany seperti mantan suamiku wkwkwkw
Muji Lestari
knp Kao bodoh yaa harusnya si Nadin di undang ke desa
Hayurapuji: nadin lagi berjuang kak
total 1 replies
elis farisna
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Jeng Ining
hadeuh Eka.. kok ga nanyain sekalian stts pernikahan kalian kmren..masa iya kamu mesti nyamper ke rmhnya si Adit itu, rugi tenaga rugi waktu rugi ongkos atuh😖
Jeng Ining
jgn² pria ini jg baru lepas perjaka, kok kaga tau mana yg pertma kali ngelakuin mana yg udh biasa ngelakuin🙄🙄🙄
Hayurapuji: bisa jadi ini kak
total 1 replies
Ismi Kawai
makin seruuuuu
Nur Adam
lnjut
Ema Elyna
lema kepada org bodo yg xade ape ape nya tpi tegas kepada org yg berkuasa itu la eka sungu bodo skip
Su.izMila_s
bagus
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Ismi Kawai
jdi kangen pas akad nikah. 🤭
Ismi Kawai: hahah, mksdnya nikah lagi??
Hayurapuji: gas kak, biar kayak artis jaman sekarang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!