Genre : Fantasi, Fantasi-Isekai, Action, Harem, Romance, Adventure, Reinkarnasi, Isekai, Magic, Demon, Royal.
[On Going]
- Bagian 1 — Isekai Slime - 27 Chapter
- Bagian 2 — Princess and Princess - ?
- Sinopsis -
Setelah bertahun-tahun dibully oleh orang-orang kaya, Sion akhirnya mencapai batas kesabarannya. Dengan amarah yang telah lama dipendam, ia meluapkan segala emosinya tanpa peduli pada konsekuensinya.
Namun, kepuasan itu hanya sesaat. Pada akhirnya, Sion memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri—tanpa penyesalan sedikit pun.
Tapi tak seperti kebanyakan orang, kematiannya bukanlah akhir. Ia terlahir kembali di dunia lain.
Akankah Sion berjuang untuk mencapai puncak? Tetap menjadi korban? Atau justru berbalik menjadi sosok yang menindas?
- Untuk jumlah kata ga full 1k yah gaes, kadang cuma 800 atau bisa aja lebih sampai 1,5k kalau benar-benar niat. Kalau agak sibuk yahh, antara 1k atau 800+ doang.
- Up-nya yah suka-suka aku wkwk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Turning Point
[Pahlawan—Jura Bastie PoV]
"Hei," katanya, dia saat ini sedang memainkan sihir api di tangannya.
"Apa?"
"Kau bertingkah aneh hari ini. Sejak kapan kau jadi sebaik ini?"
"Tidak sopan!"
Memang benar, aku memberikan beberapa buah untuknya. Untuk saat ini sebaiknya bertindak seperti biasa, aku harus mendapatkan hal-hal yang bisa dilaporkan pada raja terlebih dahulu.
Baru setelah itulah, aku akan membunuh pria ini!
Kami melanjutkan perjalanan menelusuri hutan, terasa hawa membunuh kuat yang entah datang dari mana. Namun, tidak ada monster yang muncul. Seakan mereka cuma bersembunyi menunggu kami lengah.
Leon tetap tenang seperti biasa, wajahnya memancarkan kedataran tidak tertarik dengan sekitarnya.
Brak—!
Sebuah pohon tumbang dan hampir mengenai kami berdua. Leon dengan cepat menghindari itu, gerakannya cepat dan ringan. Aku sendiri juga berhasil menghindari itu, karena ini bukan masalah bagiku.
Yang menjadi masalah sebenarnya adalah, monster-monster yang sudah mengelilingi kami. Pohon tadi hanyalah pengalihan, menggunakan beberapa detik saat kami menghindari pohon itu, tiba-tiba saja kami sudah dikepung.
"Masalah."
Kelihatannya monster-monster disini memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan monster-monster biasa.
"Speed."
Slashh—!
Monster-monster mulai menyerang. Aku mengeluarkan pedangku dan menebas satu persatu monster itu. Beberapa dari mereka juga berhasil menghindari seranganku.
"Kelihatannya mereka memiliki kecerdasan yang tinggi," ucap Leon yang berada tak jauh dariku.
Sebenarnya monster apa ini. Bentuknya tak jelas, terlihat gelap seperti bayangan, dengan mata merah menyala. Kelihatan mereka tak bisa menggunakan sihir, tapi kekuatannya juga lumayan.
"Emphasize."
Leon menghajar beberapa menggunakan tinjunya, dengan tinju kelihatannya ia lebih mudah dibandingkan saat menggunakan pedangnya tadi.
Lagipula apa-apaan pedang karatan itu? Benar-benar tidak layak untuk kecantikan Nona Devolica.
Krankk—!
"Max Fire!"
Api mengelilingi sekelompok monster itu, yang kemudian membakar mereka hingga hangus dan menghilang.
"Berhasil!"
Kelihatannya kelemahannya api, kalau begitu.
"Leon! Pakai api!" seruku.
Ia kemudian mengeluarkan api dari tangannya, dan menembakkan api tersebut kearah mereka. Ledakan yang disebabkan api menciptakan kabut asap tebal, dan debu yang beterbangan.
Selesai.
Memang bagus sekali, pria itu sudah beberapa kali mengeluarkan sihir. Seharusnya mana-nya itu sudah terkuras. Berbeda dengannya, kapasitas mana-ku sangat melimpah, jadi aku bisa sebebasnya menggunakan sihir.
"Oi, Pahlawan. Batu sihir ini, aku yang ambil yah."
"Hah?! Apa maksudmu, kita mengalahkannya bersama, kan!"
"Apa maksudmu? Aku mengalahkannya sendiri dengan sihirku, kau sama sekali tidak membantu!"
Sial! Yang dikatakannya tidak salah juga, aku memang sengaja tidak membantu tadi. "Baiklah," jawabku singkat, menyembunyikan kekesalanku.
Ia mengambil semua batu sihir itu, kemudian menyimpannya dalam suatu tempat. Entah benda apa yang ia gunakan untuk menyimpannya. Artefak mungkin?
Ah... Tidak, bocah sepertinya tidak mungkin memiliki artefak.
Kami terus menelusuri hutan ini, tetapi tidak menemukan hal-hal lain. Setidaknya aku sudah mendapatkan beberapa hal untuk dilaporkan.
[Sion PoV]
Semakin dalam memasuki hutan, semakin terasa aura aneh dari monster. Seakan monster-monster disini memang benar-benar begitu kuat. Memang masih memiliki kelemahan, tetapi bukan berarti semudah itu dikalahkan.
Aku juga memerlukan mana untuk mengeluarkan sihir. Tidak seperti orang-orang didunia ini, aku ini seperti manusia spesial yang bisa menggunakan sihir tiba-tiba, tanpa bakat.
Namun, karena itu juga sihirku tidak sekuat itu. Kalau sudah terdesak aku selalu mengandalkan Noriutsuru, tapi jika lawanku monster apa yang bisa kulakukan? Melawan T-Rex hampir mati, melawan Liana saat ia kerasukan juga tidak bisa.
Ada sesuatu yang membuatku penasaran dengan monster-monster disini, bukan hanya batu sihir. Tapi, ada beberapa material yang kelihatannya akan berguna. Meskipun belum tau, gunanya apa.
"Berhenti."
Pahlawan memperingatkan, aku tau itu. Aku juga merasakan ada yang sedang mengintip. "Fire Ball!" seruku menembakkan bola api ke sebuah pohon.
Dibalik pohon itu keluarlah, moster bermata merah, dengan gigi taring, wajah seperti manusia namun pucat. Tubuhnya cukup tinggi, terlihat seperti seorang wanita.
"Fangire."
Fangire adalah Ras yang lebih kuat dari Vampir, kebiasaannya Fangire bukan menghisap darah saja, tapi memakan langsung manusia. Tidak rugi aku meluangkan waktuku di perpustakaan.
"Kau memiliki kekuatan yang lebih kuat dariku, majulah terlebih dahulu," ucapku memerintah.
Meski terlihat kesal, Pahlawan itu tetap melakukannya. "Amplifier," gumamnya yang kemudian melesat memberikan tebasan vertikal kearah kepala Fangire itu.
Fangire itu menggunakan tangannya untuk menahan serangan, kemudian memantulkannya. Armor besi di tangannya itu cukup kuat, Kira-kira seperti armor kesatria.
"Ggahhh!"
Krank—!
Krank—!
Serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh Pahlawan, diikuti dengan kombo bebeberapa sihir, berhasil membuat Fangire terhuyung mundur sesaat.
"Gravity!"
Menggunakan Gravity aku berhasil membatasinya pergerakan Fangire itu, dan kemudian Pahlawan memberikan tebasan horizontal memotong kepalanya. Darah berceceran saat kepalanya terlepas dari tubuhnya, beberapa mengenai wajah Pahlawan.
Pemandangan yang tidak enak dilihat.
Tanpa aba-aba aku langsung menyimpan seluruh tubuh Fangire kedalam Storage Box karena mungkin akan berguna bagiku. Dan juga, sepertinya ini selesai, saatnya untuk pulang.
Pikirku begitu...
"Ugh."
Aku terhempas saat sesuatu mengenaiku dari belakang, terasa panas membuat rasa sakit langsung menjalar keseluruh tubuhku. Aku melihat kebelakang, Pahlawan mengarahkan tangannya padaku.
"Kau!"
"Explosion Magic!"
Mirip seperti bola api, namun memiliki daya ledak yang lebih besar dan kuat, itulah Explosion. Aku menggunakan pedangku untuk menebasnya, namun tetap membuatku terpental jauh.
"Ugh."
"Kau sebaiknya mati disini saja, Leon Valencia!"
Pahlawan sialan!
"Noriutsuru!"
Aku merasukinya, dan langsung menusuk tubuhnya berkali-kali. Ketika kembali benar saja, aku merasakan efeknya juga. "Aghh!"
Pahlawan juga kembali ke tubuhnya, namun aneh. Sama sekali tidak bereaksi, luka-lukanya tiba-tiba sembuh setelah cahaya hijau menyelimutinya.
"Aku tidak tau apa yang kau lakukan, tapi percuma. Aku Pahlawan, aku memiliki Healing tingkat tinggi. Ditambah juga Absolute Defense milikku, hal seperti ini tidak cukup membuatku kesakitan."
Cheat macam apa itu! Orang gila mana yang memberikan kemampuan macam itu, ini tidak adil! "Water Slash!" Aku melesat maju dengan tebasan diagonalku.
Wushhh—!
Dengan satu kibasan jarinya membuatku tertiup angin kencang, dan terhempas ketepi jurang. "Agh!" aku merasakan rasa sakit yang sebelumnya.
Efek dari Noriutsuru belum hilang, rasa sakit akibat Explosion juga belum sembuh. Jika begini, aku benar-benar akan mati.
"Sadarilah kelemahanmu, wahai manusia rendahan."
Jangan bicara seolah kau yang tertinggi!
"Jika Lise tau tentang ini, dia pasti akan membunuhmu."
"Ancaman yang tidak berpengaruh. Aku tinggal bilang saja kalau kau, dibunuh monster." Ia kemudian melesat kearahku dengan cepat. "Ghahahahaha! Kau benar-benar membuatku gila, Leon Valencia!"
Krak—!
Pukulannya mendarat di perutku, efeknya membuatku merasakan beberapa tulangku retak dan juga membuatku terpental ke jurang. Sesaat sebelum jatuh, waktu serasa terhenti. Beberapa hal mulai berputar-putar dikepalaku.
Lise... Liana...
Aku tau ini, perasaan ini. Sama seperti didunia sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Yang kurasakan bukanlah kepuasan, melainkan rasa kesal.
"PAHLAWAN BAJING*NN! Saat aku kembali, aku akan membunuhmu!"
"Explosion Magic : Full Power!"
Lima sihir Explosion dilancarkan kearahku yang masih berada di udara, sihirnya tak bisa dihindari, aku jadi sasaran empuk untuknya.
"Lepaskan Batasan—Arc Heart!"
Setelah memberikan serangan untuk menahan sihirnya, semuanya terlihat semakin gelap. Sesosok orang yang mendorongku sebelumnya kini hanya nampak seperti siluet hitam, semakin aku jatuh, semakin telihat gelap semuanya. Sampai pada akhirnya aku benar-benar tertelan oleh kegelapan.