Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Isi hati Reyhans
^Reyhans Aditya Mahessa^
Beberapa tahun silam, semenjak kepergian Nathaline. Ayahku mengetahui jika aku menikahi Vanny dan telah bercerai dengan Nathaline. Ia sangat murka kepada diriku saat itu dan memutuskan semua hubungannya dengan ku.
Semua harta dan benda yang pernah ia berikan kepada diriku disita olehnya. Termasuk perusahaan dan kampus yang kami dirikan bersama. Ia menarik investasinya yang menyebabkan aku bangkrut dalam semalam. Rasanya benar-benar seperti mimpi buruk bagiku.
Tidak hanya sampai di situ saja, pria itu juga terus mengancam istriku untuk segera meninggalkan aku. Karena itu pula, hubungan ku dengan Vanny kian merenggang. Kami menjadi lebih sering bertengkar dan berdebat karena hal-hal kecil dan terkesan sepele.
Puncaknya malam itu, Vanny meminta agar aku segera menceraikan ia, ia sudah tidak tahan karena terus menerus di ancam oleh ayahku akan membuat bayinya celaka. Tentu saja aku menolak keras keinginan dirinya, ia sedang mengandung anakku, mana mungkin aku menceraikan ia begitu saja.
Ia kemudian nekat untuk lari dari rumah, aku tidak tinggal diam lagi saat itu, aku langsung mencegatnya. Kami kemudian bertengkar hebat di ujung tangga. Aku tidak tahu pasti bagaimana ia bisa terjatuh, kejadiannya terasa begitu cepat. Ia terjatuh dan langsung pingsan.
Aku benar-benar sangat panik saat itu, bukan hanya mengkhawatirkan dirinya saja, tapi juga anak kami yang masih berada di dalam kandungnya. Terlebih lagi, usia kandungannya baru menginjak usia delapan bulan, masih sangat rentan.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendong tubuhnya dan langsung melarikan ia ke rumah sakit. Aku menangis sepanjang perjalanan, pikiranku benar-benar sangat kacau saat itu.
Setibanya di rumah sakit, aku langsung bergegas membawanya ke ruang perawatan. Hatiku bertambah cemas ketika melihat darah yang mengalir deras dari sela-sela kakinya.
"Istri anda harus segera di operasi, kondisinya sangat kritis saat ini, perlu penanganan yang segera, jika tidak, hal tersebut akan mengancam nyawanya dan calon bayi anda." Kalimat dokter yang masih aku ingat jelas hingga detik ini. Kata-kata dokter yang saat itu membuatku benar-benar putus asa.
Aku bangkrut waktu itu, tidak ada sepeser pun uang yang aku miliki, satu-satunya pilihan adalah mengemis dan memohon kepada ayahku agar dia berbaik hati meminjamkan aku uangnya.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bergegas menuju ke kediamannya. Aku melajukan mobilku dengan segera, aku sudah tidak memikirkan nyawaku lagi saat itu, yang terpenting adalah istri dan calon bayiku selamat.
Setibanya di rumah pria itu, aku langsung menggedor pintu dengan sangat cemas. Aku bahkan langsung bersimpuh di kaki pria itu agar ia mau meminjamkan aku uangnya. Harga diriku sudah tidak penting lagi, masih ada dua nyawa yang lebih berharga dibanding dengan harga diriku yang sudah tida seberapa.
"Ayah, aku mohon, bantu aku sekali ini saja dan untuk yang terakhir kalinya. Istriku sedang dalam keadaan kritis, ia harus segera di operasi jika tidak akan mengancam nyawanya dan calon anak kami." Aku menangis di bawah kaki pria itu, aku benar-benar berharap ia bermurah hati dan mau membantu diriku.
Namun, dugaanku salah besar, ia dengan angkuhnya langsung mengusir diriku dari rumah tersebut tanpa berucap sepatah katapun. Rasa sakit di dalam hatiku masih membekas hingga saat ini saat mengingat perilakunya terhadap diriku.
Dalam keputusasaan, aku kesana kemari mencari bantuan, aku mengunjungi semua teman-teman kerjaku barangkali mereka berbaik hati mau membantu diriku, tetapi tetap saja tidak ada yang berkenan mau membantu ku saat itu.
Aku menangis di taman yang sunyi di tengah malam yang gulita, rasa keputusasaan benar-benar menghantui diriku malam itu. Sudah beberapa jam aku berusaha tetapi sepertinya usahaku sia-sia saja.
"Pak, mengapa anda menangis di sini tengah malam?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja mengagetkan aku. Aku menoleh ke arah pria yang menyapa ku tersebut.
Awalnya aku tidak menganal pria itu sama sekali, tetapi ternyata ia adalah salah satu mahasiswa yang pernah aku ajar dahulu, ia adalah sahabat dekat dari Nathaline, Reza. Seorang pria yang selalu aku cemburui karena ia sangat lengket dengan Nathaline, waktu di kampus.
Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan masalahku kepada dirinya, tetapi ia terus saja mendesakku untuk menceritakan apa yang sedang terjadi kepada diriku sebenarnya. Dengan terpaksa aku menceritakan semuanya, aku juga menceritakan bahwa istriku sedang sekarat dan aku tidak memiliki uang sama sekali.
Aku kira dia akan membenciku karena tidak bisa mempertahankan Nathaline, sahabat dekatnya. Karena aku tahu betul jika pria itu sempat menyukai mantan istriku tersebut. Tetapi dugaan ku salah, ternyata ia berbaik hati dan memberikan aku sejumlah uang yang dapat terbilang tidaklah sedikit.
Aku awalnya menolak karena merasa tidak enak kepada pria itu, tetapi ia mengatakan bahwa aku telah begitu berjasa dalam hidupnya. Padahal aku merasa, aku telah menjadi dosen yang buruk bagi mahasiswa yang pernah aku ajar.
Pria itu juga mengantar aku untuk menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana, aku langsung menyelesaikan biaya adminitrasi agar istriku segera di tangani.
Aku menunggu dengan sangat gelisah di ruang tunggu, jantung ku juga berdegup cepat seakan ingin melompat keluar dari rongga dadaku. Hatiku sangat khawatir, pikiranku semakin tidak menentu. Aku benar-benar sangat kacau saat itu.
Kebahagiaan masih terasa jelas dan membekas di dalam ingatanku, ketika aku melihat seorang perawat membawa bayi kecil keluar dari ruangan itu. Aku bahkan sampai menitihkan air mata melihat tubuh mungil bayi itu.
Namun, aku tidak pernah menyangka, bahwa kebahagiaanku akan hancur dalam sekejap mata saja. Dalam hitungan detik, dokter keluar dan memberi tahukan aku kabar duka. Istriku tidak bisa tertolong lagi, hatiku benar-benar hancur, hancur sehancur, hancurnya!
Beberapa tahun semenjak kejadian itu, putra yang di tinggalkan oleh almarhumah istriku sudah mulai besar, ia juga semakin pintar.
Aku membesarkannya seorang diri, aku bekerja paruh waktu sambil mengajar, dan menafkahinya dengan keringatku sendiri. Aku bahkan melihat tumbuh kembang dari putra semata wayangku dengan mata kepalaku sendiri.
Aku menjaga dan merawatnya sepenuh hati, hanya ialah yang kini menjadi penyemangat hidupku.
Namun, sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya terjadi, Nathaline muncul kembali setelah sekian lama menghilang, dan wanita itu juga membawa seorang gadis kecil bersamanya.
Gadis kecil yang memiliki kelopak mata dan bola mata yang sangat indah, sama seperti milik Nathaline. Namun, wajahnya sedikit mirip denganku.
Aku sempat terkejut ketika gadis kecil itu pertama kali langsung memanggil diriku sebagai ayahnya, terlebih lagi hal itu dibenarkan langsung oleh Nathaline.
Aku benar-benar bahagia saat mengetahui hal tersebut. Ternyata aku memiliki seorang gadis kecil yang sangat manis.
Aku mengira setelah sekian lama menghilang, luka hati Nathaline sudah menghilang dan ia masih berkenan untuk kembali bersama diriku. Tetapi aku sudah terlambat, kekosongan hatinya sudah terisi oleh seorang pria yang memang lebih baik dari diriku.
Aku menghargai keputusan wanita itu, bagaimanapun ia harus memulai lembaran hidup yang baru, bukannya malah mengulang lembaran lama bersama diriku yang telah menyakiti hatinya berulang kali.
...Next.......
...Jangan lupa tinggalkan jejak❤...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi