Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Randa kaget setengah mati. Amarahnya yang belum memudar sedari tadi, tambah meluap saat melihat sosok Nikita datang tergesa-gesa memasuki pagar pintu rumahnya.
Sebuah kejadian yang menimbulkan keributan besar seketika membayang dibenak pria beristri dua itu. Rasa malu dan takut didengar oleh para tetangga, menghantui perasaannya seketika.
Randa bergegas menyongsong kehadiran Nikita dan menyeret istri pertamanya itu keluar pagar agar tidak masuk kerumahnya.
"Mau apa kau kesini? Ikut aku!" ajak Randa dengan wajah garang menarik lengan Nikita agar berbalik pergi mengikutinya berjalan keluar pagar rumah.
Mau tak mau Nikita terpaksa mengikuti Randa yang menyeretnya dengan kuat. Raut wajah masam dan dongkol terpapar jelas diwajah Nikita saat kakinya dipaksa menjauh dari rumah yang ditempati Randa dan Asyifa.
"Aku ingin bicara dengan Asyifa." Ucap Nikita jengkel, meronta ingin melepaskan dirinya dari pegangan Randa.
"Tak ada yang perlu kau bicarakan dengannya. Itu hanya akan menjadi pertengkaran." Randa memegang Nikita erat. Dia tetap memaksa Nikita agar ikut dengannya.
"Mas, aku akan membujuk Asyifa agar mau menyerahkan Safina secara baik-baik." Ucap Nikita memberi alasan.
Padahal, niat Nikita tidak sebaik yang ia katakan. Dia hanya ingin mencaci maki madunya itu dan membuat Asyifa menyerah dari kehidupan rumah tangganya yang nyaris hancur karena rencana licik Nikita dengan Wahyu.
"Itu tak semudah yang kau katakan. Asyifa takkan melepaskan Safina begitu saja. Lebih baik kau pulang saja." Sahut Randa geram melihat kelakuan Nikita yang tak henti-hentinya membuat rusuh.
"Mas, aku akan memberikan Asyifa uang yang banyak, asalkan dia mau memberikan Safina padaku." Ungkap Nikita membeberkan rencana busuknya pada Randa.
Randa termangu, dia tak menyangka segitu ngotot istri pertamanya untuk mendapatkan hak asuh Safina. Randa pikir, Nikita benar-benar ingin memiliki seorang anak. Hanya saja, cara Nikita agak keterlaluan. Nikita seolah tak menaruh rasa kasihan sedikitpun pada Asyifa. Randa menilai Nikita sangat egois dan ambisius.
"Dengarkan aku Niki, Asyifa bukan perempuan yang mudah terbujuk oleh uang. Kalau kau mau, kau bisa mendekatinya dengan berpura-pura sebagai madu yang baik." Bujuk Randa agar kegilaan Nikita yang suka mencari keributan tidak kumat lagi.
"Mas, itu tidak mungkin. Aku tidak pintar bersandiwara mas...," keluh Nikita memelas memasang wajah polos tanpa dosa.
"Kamu pasti bisa sayang, lakukan lah demi diriku dan Safina. Aku yakin, kamu bisa." Rayuan Randa terdengar manis dan memabukkan.
Bibir Nikita seketika bungkam tak sanggup bicara. Ucapan Randa yang mendadak lembut dan berubah semanis gula, membuat Nikita mati kutu. Bagai kerbau di cucuk hidungnya, dia terpaksa mengikuti Randa yang mengajaknya naik keatas mobil yang tadi dia bawa.
"Syukurlah." Randa mengelus dadanya perlahan merasa lega dalam hatinya.
Apa yang ia cemaskan, tak menjadi kenyataan. Menenangkan kemarahan Asyifa baginya terlalu mudah daripada menenangkan kemarahan Nikita. Tak terbayangkan rumit dan pusing kepalanya jika mereka berdua berbaku hantam.
Tak lama kemudian, mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah yang kembali sepi dan damai seolah tiada masalah. Padahal, penghuni rumah itu tengah dilanda kekalutan yang teramat parah.
Asyifa yang melihat kemunculan Nikita dari dalam rumahnya, sempat merasa was-was dan khawatir. Namun, rasa itu menghilang seiring kepergian Nikita yang terlihat dipaksa Randa untuk pergi bersamanya.
"Selamat menikmati penderitaan kembali Asyifa." Gumam Asyifa bicara sendiri memberi ucapan selamat pada dirinya sendiri dengan nada getir.
Asyifa sadar, dirinya akan kembali menjalani hari-hari yang sama seperti sebelum dia meninggalkan rumah itu. Hidup tak tenang, dengan segala kericuhan yang ditimbulkan oleh Nikita dan kepedihan hati oleh setiap perkataan dan tingkah laku Randa padanya.
Saat kesedihan menerpa wajahnya yang murung sedari tadi, sekilas raut wajah tampan Kenzie menari-nari di pelupuk matanya. Asyifa merasa sangat bersalah pada Kenzie yang telah dilibatkan dalam masalah hidupnya. Apalagi, masalah rumah tangganya dengan Randa. Padahal, pemuda itu tak pernah berhubungan sedikitpun dengannya semenjak pernikahannya dengan Randa.
Hhhh...
Asyifa mendesah berat mencoba meringankan beban pikirannya yang terasa berat sedari tadi. Otaknya berpikir keras untuk mengambil langkah hidupnya setelah itu.
"Aku harus bekerja." Batin Asyifa bertekad untuk merubah kehidupannya.
Semangatnya yang tadi mulai surut dan memudar, perlahan bangkit kembali. Dia pun bergegas bangkit dan mulai beraksi membersihkan rumahnya yang kotor dan berantakan.
.
.
Semburat merah di ufuk barat mulai menghilang saat malam datang merayap pelan.
Kenzie tampak terpaku di ruang tamu rumah Arif Budiman, saat kehadirannya di sambut seorang perempuan cantik tinggi semampai yang berpenampilan elegan. Perempuan yang sama sekali tidak ia kenal itu, menyambut kepulangannya kerumah dengan senyuman yang di buat manis berlebihan. Terlihat palsu! Kenzie tak menyukainya.
"Hai! Sapa perempuan itu singkat melambaikan tangannya sebagai tanda sapaan.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir pemuda tampan itu. Dia hanya tersenyum dingin membalas sapaan perempuan cantik itu dan meneruskan langkahnya memasuki ruangan rumah lebih dalam lagi.
"Kenzie..., ingat, kata-katamu kemarin." Tegur Arif Budiman yang tiba-tiba saja muncul menghadang langkah kakinya.
Langkah kaki Kenzie seketika terhenti. Dia tercenung sesaat, mengingat perkataannya kemarin, sebelum ia pergi mencari Asyifa.
"Kau akan mengikuti setiap keinginan ayah dan bunda jika masalahmu sudah selesai." Tekan Arif Budiman mengingatkan kembali kalimat yang sempat Kenzie ucapkan sebelum pergi.
Kenzie tercenung, dia masih ingat perkataannya itu. Hatinya menyesali kata-kata yang tak sengaja ia ucapkan karena tergesa-gesa ingin menyelamatkan Asyifa. Kenzie pikir, orang tuanya akan melupakan kata-kata yang teledor yang ia ucapkan. Ternyata, mereka malah menjadikan itu pegangan dan menggunakannya sebagai alat untuk memojokkannya.
"Lebih baik, kau temani Chintia ngobrol diluar. Kasihan dia, seharian dia menunggu untuk bisa bertemu denganmu." Ucap Arif Budiman lagi dengan tatapan memaksa.
"Tapi yah, aku sangat lelah." Sahut Kenzie memberi alasan.
Arif Budiman mengangkat kepalanya tinggi, wajahnya terlihat gusar mendengar jawaban Kenzie yang seakan sengaja mengelak untuk bertemu Chintia, perempuan yang dijodohkan dengan Kenzie.
"Pergilah! Jangan membuat ayah marah, Ken!" gertak Arif Budiman membesarkan bola matanya pertanda marah pada Kenzie.
Kenzie mendesah pelan. Tubuhnya berputar sejenak melirik perempuan yang masih duduk di kursi tamu sambil memandang kearahnya seolah menaruh harapan. Kebimbangan menerpa hati kenzie, jika ia tak mengikuti keinginan ayahnya, sudah bisa dipastikan ayahnya akan marah besar. Apalagi lidahnya juga sudah terlanjur mengucapkan kata teledor. Sebagai lelaki sejati, ayahnya selalu mengajarkan dirinya untuk memegang setiap janji dan ucapan.
"Hhh..., baiklah. Aku akan bicara dengannya." Sahut Kenzie pelan, terpaksa patuh mengikuti keinginan ayahnya.
Dirinya pun melangkah lunglai tak bersemangat mendekati perempuan cantik bernama Chintia itu keruang tamu, diiringi tatapan ayahnya yang mengulum senyuman puas di bibirnya.
Kenzie sesaat berdiri kaku dihadapan Chintia yang menyambutnya dengan senyuman manis. Sorot mata Kenzie yang tajam seperti ingin membunuh gadis itu dengan tatapan.
Chintia jadi salah tingkah dan kehilangan percaya diri melihat tatapan Kenzie yang tampak jelas tak menyukainya. Perempuan itu duduk sembari menundukkan wajah seraya mempermainkan jari jemarinya yang lentik.
"Mau apa kau berlama-lama menungguku disini? Apa kau ini bodoh?" sebuah kalimat yang cukup menyakitkan, terlontar dari bibir pemuda tampan itu.
Chintia terperangah, dia tak menyangka kalimat kasar seperti itu akan ia dengar keluar dari mulut Kenzie yang dia pikir bersifat lembut dan penyayang.
.
.
.
BERSAMBUNG