NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB29 - TATAPAN

Pagi kembali menyapa. Matahari tampak gagah menyinari pagi baru. Sinarnya yang membias ke arah kamar yang masih tertutup rapat, menyelinap masuk ke dalam. Mata pria itu mengerjap-ngerjap. Perlahan, ia membuka matanya untuk menyeimbangkan pandangannya. Dave yang sudah sepenuhnya sadar, membawa pandangan pertamanya, pada tubuh wanita yang tertidur di sampingnya.

 

Tangan wanita itu menyentuh punggung tangan Dave. Tidak sedikitpun, di biarkannya terlepas dari tangannya. Sudut bibir pria itu tertarik, mendapati Davina menepati janjinya. Dave bersyukur, membuka kedua matanya masih bisa melihat wanita polos yang memiliki segudang cinta dan kelembutan.

"Kenapa sangat susah, menerima Davina dengan sepenuh hati dan jiwaku. Bukankah, dia sangat baik untuk segala hal?" Dave mengusap lembut kepala Davina.

"Apa dia layak bersanding dengan pria sepertiku?" Perasaan sedih menyelimuti hati Dave. Sejujurnya, ia sangat menyayangi Davina. Sejak, ia mengerti apa arti sebuah pernikahan. Di sisi lain, Dave masih merasa kurang sempurna untuk wanita sebaik Davina. Jadi, ia merasa seperti tak berguna menjadi pria yang disebut 'suami' oleh Davina.

 

Tubuh Davina bergerak. Dave langsung saja menarik tangannya dan kembali tidur. Ia berpura-pura menutup matanya agar tak ketahuan sudah bangun sedari tadi.

"Apa aku telat?" Davina meregangkan kedua tangannya seraya menguap. Tubuhnya berasa sangat sakit. Tengkuk lehernya, juga terasa tegang.

 

Saat matanya tertuju ke Dave. Ia pun sigap menyentuh dahi Dave dengan punggung tangannya. Bibirnya melengkung, mengulas sebuah senyuman.

"Kau sudah sembuh. Syukurlah, aku benar-benar sangat khawatir. Kalau di pikir-pikir. Kenapa kau sangat manja sekali? Baru saja tidur di lantai, sudah demam. Apa ini normal?" Pertanyaan Davina ingin sekali membuat Dave manjawab. Tapi, karena posisinya sedang berpura-pura. Jadilah dia menahannya.

"Lain kali. Kau itu tidak boleh nakal. Jadinya begini kan? Awasa saja, kalau kau nanti jatuh cinta benaran denganku. Aku akan menolakmu, sampai kau benar-benar bosan dan meminta cerai denganku," kata Davina kesal.

 

Davina membuang napasnya.

"Aku sungguh tak mengerti jalan hidupku denganmu. Sulit sekali, menanamkan perasaan dari pernikahan tanpa cinta. Tapi, kau memintaku untuk belajar mencintaimu. Kenyataannya, kau cuma kasihan denganku. Kenapa sangat menyedihkan sekali hidupku." Davina terus mengoceh, hingga kedua kakinya, hendak berdiri meninggalkan Dave. Tiba-tiba, sebuah tangan menahannya hingga ia bersandar di atas dada, Dave.

 

"Kau sudah bangun?" Tatapan sinis Davina berikan.

"Ya. Aku sudah bangun dan mendengar semua keluhanmu," balas Dave nggak mau kalah.

 

Davina menarik paksa tangannya. Tapi, Dave sama sekali tak melepasnya.

"Lepaskan aku. Ada baiknya kau mendengar semua kekesalanku. Aku tidak cukup baik dalam berbobohong sepertimu," sarkas Davina.

"Aku benar-benar sudah membuat singa marah," ledek Dave tanpa takut.

"Ya. Anggap saja istrimu singa berbulu domba. Kau puaskan? Lepaskan aku! Nanti aku telat bekerja," kata Davina sekali lagi.

 

"Ciuman selamat pagi," kata Dave dengan berani.

"Tidak! Minta saja ciuman pada mantanmu. Jangan mengambil kesempatan apapun kepadaku lagi." Davina menarik paksa tangannya. Dave semakin bergairah untuk menggoda Davina. Dengan beraninya, Dave menarik tubuh Davina hingga terjatuh tepat di sampingnya. Keduanya saling memandang, ada senyuman miring dari bibir Dave. Seoalah ia mengejek, kalau Davina tak bisa lari dari genggamannya.

"Kau maunya apa sih, Dave?"

"Aku mau kau. Tidak akan pernah bisa kau membuatku menceraikanmu, Vin. Jangan pernah bermimpi untuk yang satu itu. Kita akan tetap bersama, sampai kita berdua saling jatuh cinta," kata Dave dengan seriusnya.

 

Davina tersenyum menyeringai.

"Kau tak tahu tentang cinta, Dave. Jika kau tahu, mungkin kata-katamu, tidak akan pernah menyakiti aku," balas Davina.

 

 

Dave tak bergeming saat ucapan Davina seakan menampar dirinya.

"Lepaskan aku," ucap Davina hendak melarikan diri. Dave pun tak ingin menahannya lagi.

"Bangunlah ... aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Davina masih sempat melakukan tugasnya sebagai seorang istri.

 

"Aku akan bekerja." Dave mencoba rileks.

"Terserah kau saja. Aku merasakan, kau jauh lebih baik. Percuma pria, bertubuh kekar. Tapi, tidur di lantai saja bisa demam," sindiri Davina. Dave yang bangkit dari atas tempat tidur mendengar jelas sindiran sang istri.

"Kau tidak tahu, kalau aku sedari kecil, tak pernah tidur di atas lantai dingin."

"Agh ... aku lupa. Kau kan tuan muda keluarga Smith," balas Davina seraya meletakkan pakaian Dave di atas bangku panjang yang ada di ruangan.

 

Pria itu berdiri menatap sang istri. Merasa bingung dengan sikap Davina yang lain dari biasanya. Ia pun berjalan mendekat ke Davina dan memeluknya dari belakang.

"Lepaskan aku, Dave. Kenapa kau sesuka hatimu saja."

"Aku merindukanmu," bisik Dave.

"Jangan merayuku!" Davina cepat-cepat membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Dave. "Aku tak akan pernah lagi, masuk ke dalam gombalan recehmu," ujar Davina seraya menarik diri lagi tapi dengan cepat Dave menahannya, kemudian membenamkan ciuman singkat di bibir Davina.

"Kau!" Bola mata Davina membesar. Ingin sekali rasanya dia menjambak bibir si Dave yang lancang itu. Tapi, dia tidak mampu. Wanita itu sudah kelewat sayang dengan pria yang sesuka hatinya itu.

"Aku sudah bilang, ciuman pagi. Apa kau mandi bareng denganku?" Dave mengedipkan sebelah matanya.

 

"Daveeee!" Teriak Davina dengan kencang. Dave tertawa. Davina kesal, ia pun mencubit pinggang Dave. Hingga tubuhnya bisa terlepas dari tangan kekar Dave.

"Jangan macam-macam denganku!"

"Tidak. Aku satu macam aja di dunia ini."

 

Davina kembali memukul lengan Dave, hingga pria itu lari terbirit-birit dan berlindung di kamar mandi.

"Mandilah! Aku akan menyiapkan sarapan. Awas saja kau nanti," ancam Davina saat ia berada di depan pintu. Dave terkekeh di dalam sana.

"Kenapa dia benar-benar menggemaskan sekali?"

 

***

Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit dari rumah mereka. Mobil Dave kini berhenti di area parkiran perusahaan milik Williams. Kedua kaki mereka, bersamaan menjejak di atas lantai dan berjalan masuk melewati pintu otomatis.

 

"Kan aku sudah katakan. Jangan mengantarkan aku, Dave," ucap Davina saat mereka di dalam lift.

"Nggak apa-apa. Aku takut, kalau istriku di goda sama mantannya." Dave tertawa.

"Sial! Aku tak punya mantan sepertimu. Jangan sembarangan bicara," ketus Davina.

 

"Kalau gitu, mantan pria yang pernah ada di dalam hati," tukasnya.

"Errrrgh ... terserah kau saja!"

 

Setelah pintu lift terbuka. Keduanya pun berjalan memasuk koridoran tempat kubikel Davina berada. Keduanya baru saja hendak masuk, tak lama. Tampak sosok pria dan sosok wanita yang mereka kenal berjalan ke arah mereka.

"Dave," suara wanita itu terdengar sangat lembut. Kedua bola mata Dave membeliak. Pria yang ada di samping wanita itu, adalah Williams.

 

Dave dan Williams sama-sama fokus pada wanita di depan mereka. Tapi, mata Davina berpindah mengarah ke Dave. Ia tak melepas tatapannya, seperti Dave yang hanya fokus pada pandangan di depannya.

 

 

Bersambung.

Berikanlah dukungan kalian. Terima kasih ^^

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!