Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Untuk Penyambutan Luar Biasa
“Tenang saja, kakak akan melindungi Brian” ujar Sulis lalu munculah sosok bayangan hitam disekitar mereka. Sulis pun mengajak Brian untuk kabur dengan cara berlari menjauh. Para bayangan hitam pun mengejar mereka tapi keduanya berhasil kabur, mereka bersembunyi dibalik pohon besar. Sulis mencoba untuk melirik pada celah pohon dan tidak melihat lagi bayangan hitam yang mengejar mereka sebelumnya.
“Mereka sudah pergi” ucapnya lalu fokus pada Brian yang masih menangis. Terus dia melihat tangan anak itu terluka sehingga Sulis pun berniat untuk mengobatinya, kebetulan dia membawa kotak P3K nya sehingga langsung mengeluarkannya dari dalam tasnya lalu mengobati luka Brian.
“Sudah, jangan menangis lagi. Kakak sudah obati, ini gak akan lama lagi sembuh kok” katanya
“Umm” balas Brian mengangguk lalu Sulis pun menanyakan kenapa dia bisa ada disini dan dimana yang lainnya. Lalu Brian pun berdiri dan berjalan menuju suatu tempat, Sulis pun paham sehingga langsung mengikutinya. Tak lama sampailah mereka disebuah tempat kumuh yang banyak dihuni oleh para orang tua yang sudah lansia. Brian pun membawanya kepada salah satunya yang sedang sakit tak berdaya lagi untuk berdiri. Sulis pun cukup prihatin dan membantunya. Sementara itu ditempat lain yaitu aku yang kebingungan karena berada ditempat aneh yang kosong. Tidak ada apapun dan siapapun disini kecuali suara-suara anah yang menganggu. Aku berusaha untuk mencari jalan keluar tapi tak bisa menemukanya, aku benar-benar terkurung dalam sebuah ruangan yang kosong dan hampa.
Kemudian kembali lagi pada Anwar yang tubuhnya penuh dengan luka benjolan. Setiap kali dia bicara, maka luka itu semakin bertambah. Perlahan tubuhnya pun mulai roboh karena tidak kuat lagi untuk berdiri—dia hampir saja kehilangan keseimbangan tapi dia mencoba untuk menahanya.
“Ini adalah ujian untuk mu sebagai kordes. Kamu harus bisa bicara dengan baik dan jelas didepan banyak orang, karena begitulah seorang pemimpin” ucap seseorang yang suaranya tidak asing, orang tersebut adalah kepala desa.
“Sial, cukar deleng” desih Anwar merasa kesal.
Setiap kali dia melakukan kesalahan berbicara dan berperilaku maka lukanya akan semakin bertambah, berlaku juga pada teman-temanya. Jika keadaanya begitu terus makan bukan hanya dirinya tapi teman-temanya juga akan berada dalam bahaya.
“Baik, s-elamat sore semuanya—“ ucapnya tapi tak lama langsung menjerit lagi karena kesakitan
“Yang berwibawa” kata kepala desa
“Baik ulangi” kata Anwar lagi lalu mengulangi ucapnya, setelah itu dia langsung menutup matanya bersiap untuk menerima luka lagi tapi kali ini tidak terjadi apa-apa. Itu artinya dia berhasil mengucapkannya dengan baik.
“Huff” menghela nafas
“Aku pasti bisa” gumamnya lalu lanjut bicara lagi
“Terlalu cepat, orang tua dan anak-anak tidak akan bisa memahaminya” kata kepala desa lalu Anwar pun kembali mendesah kesakitan. Tapi dia masih belum tumbuh dan menyerah, pemuda itu masih melanjutkannya.
Sedangkan disisi lain Sulis yang masih membantu mengobati para lansia tiba-tiba kedatangan sosok bayangan hitam sebelumnya yang mengejar mereka. Gadis itu pun langsung pasang badan untuk melindungi yang lainnya lalu Brian juga berdiri disampingnya.
“Menyerah lah...putus asa lah” suara bayangan hitam itu sangat menyeramkan.
“Tidak akan, aku akan menyembuhkan mereka semua” balas Sulis. Sebelumnya dia sudah mendapatkan cerita kalau tempatnya berada saat ini dulunya adalah tempat yang indah. Namun manusia membuang sampah sembarangan terus-menerus sehingga lingkuangan sekitarnya pun jadi rusak lalu setelah itu munculah berbagai penyakit. Orang-orang pun pindah namun ada juga yang masih tetap bertahan, berharap suatu saat nanti ada yang datang menyelamatkan mereka dan mengembalikan tempat tinggal mereka ini seperti semula. Saat itu juga lah munculah bayangan hitam ini yang diketahui menjadi dalang dari semua penyakit yang ada ditempat tersebut. Para bayangan itu pun berusaha untuk menyerang Sulis sehingga membuat gadis itu jadi flu dan batuk lalu terjatuh ditanah.
“Rasakan itu, kamu juga akan jadi sakit seperti mereka” kata para bayangan hitam
“Kak Sulis” ucap Brian mengkhawatirkan Sulis
“Tenang saja, aku baik-baik saja” balas Sulis lalu berdiri kembali. Para bayangan hitam pun kembali menyerangnya namun kali ini Sulis berhasil menahanya, telapak tangannya tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang berhasil membuat para bayangan hitam menjauh. Tapi cahaya itu tidak bisa bertahan lama, Sulis pun kembali terjatuh—pandanganya kini mulai buram. Suhu tubuhnya juga menjadi sangat panas karena penyakit demam, lalu bayangan hitam pun kembali menyerangnya tapi ditahan oleh Brian. Anak kecil itu pun kesakitan sehingga membuat perasaan Sulis makin berat. Lalu tiba-tiba para lansia pun ikut membantu untuk menahan serangan itu, mereka melindungi Sulis seperti tembok pelindung.
“K-alian” Sulis pun merasa terharu lalu dia berdiri kembali, cahaya pun kembali muncul dan kali ini semakin terang sampai membuat bayangan hitam terdorong kebelakang sangat jauh. Tapi mereka belum menghilang, bayangan hitam kembali menyerang namun Sulis berhasil menahanya. Dia tersenyum lalu cahaya ditangannya pun semakin meluas sehingga membuat bayangan hitam menjerit kesakitan karena terkena cahaya tersebut hingga akhirnya menghilang.
“Huff” Sulis menghela nafas, dia berhasil mengalahkan bayangan hitam tersebut lalu para lansia pun melihat kearahnya. Sulis pun membalasnya dengan senyuman, sambil berusaha untuk tetap sadar.
Sementara itu disisi lain Anwar masih berjuang sendirian, luka ditubuhnya juga sudah tidak bertambah lagi. Itu artinya dia juga hampir berhasil menyelesaikan ujiannya itu. Tapi tiba-tiba tubuhnya roboh—pemuda itu jatuh dan tak bisa bangkit lagi. Putu anak kecil yang sebelumnya pun berusaha untuk membantunya berdiri tapi tidak bisa.
“Aaaa apa aku akan gagal lagi” gumam Anwar
“Lagi-lagi seperti ini—“ desihnya hampir menangis lalu saat itu dia pun teringat pada masa lalunya. Anwar adalah seorang anggota resimen mahasiswa atau menwa. Setiap hari dia melatih fisik dan mentalnya agar kuat, mereka dilatih langsung oleh tentara dengan aturan yang ketat bahkan mirip seperti latihan pasukan pelindung negara yang sebenarnya. Mereka dididik dan ditempah sangat keras, kadang lelah hingga meneteskan air mata namun sama sekali tidak membuatnya menyerah. Menjadi garda terdepan ketika ada masalah dalam kampus, terkadang juga mereka menyamar dalam kerumunan.Semua itu dilakukan untuk menjaga keamanan kampus.Anwar mampu bertahan, menghadapi dan melalui semua itu. Jadi masalah seperti ujian yang sedang dihadapinya saat ini bukan lah sesuatu yang besar.
“Aku belum gagal—aku gak akan menyerah semudah itu” ucapnya lalu bangkit kembali dengan semangat barunya lalu tiba-tiba muncul kepala desa tepat didepanya. Auranya sangat kuat bagaikan angin mendorong Anwar mundur kebelakang tapi dia tidak goyah, pemuda tersebut terus berjalan melawanya. Saat itu dia mengingat semua rasa sakit yang penah dia lalui selama ini sehingga menjadikanya kuat seperti dirinya yang sekarang.
“Aaaa” teriaknya sangat lantang sehingga membuat sosok kepala desa menghilang. Anwar pun kembali berdiri dan berbicara kembali, kali ini lebih baik dan jelas. Suaranya terdengar oleh teman-temanya yang juga sedang berjuang menghadapi ujiannya masing-masing.
“Sekian terima kasih” katanya sebagai penutup lalu mengela nafas lega. Anwar berhasil melewati ujiannya dengan keadaan yang sempoyongan. Ketika tubuhnya hampir jatuh lagi tiba-tiba muncul tangan yang menahanya, itu adalah Ikon dan Fatin.
“Eh jatuh, awas” kata Fatin
“Kamu ngantuk yah kordes” ucap Ikon lalu membantunya berdiri dengan tegak
“You okay, kordes?” tanya Tian
“Okey” jawab Anwar lalu melihat teman-temanya yang sudah berkumpul.
“Kalian juga berhasil menyelesaikan ujian kalian yah” lanjutnya bertanya
“Tentu saja lah, aku menyelesaikannya paling cepat” jawab Putra dengan sombong
“Ujian mudah begitu” bicara juga Dani
“Iyah kordes” kata Ruka
Saat itu aku melihat teman-teman ku dengan ujian mereka masing-masing, ada yang kesusahan tapi ada juga yang bisa menyelesaikannya dengan mudah. Aku menonton mereka dalam ruangan kosong dan hampa itu sendirian.
“Sepertinya aku yang terakhir yah” pikir ku lalu suara-suara aneh dalam ruangan itu menuntunku pada sebuah pintu berwarna. Setelah itu aku pun membukanya dan mendapati diriku berdiri sejajar dengan teman-teman ku.
“Maaf yah telat” ucap ku
“Lamaaa” kata Ikon
“Iyah, lama mu. Emangnya apa sih ujian mu?” ujar Putra
“Sudah...sudah” celetuk Zee
“Ujian sebenarnya baru akan dimulai” lanjutnya
“Yah betul, bersiap lah kalian” Anwar maju lebih duluan lalu kami pun mengikuti langkahnya. Kami melewati dinding cahaya yang sangat terang lalu dibalik itu kami menemukan sesuatu yang membuat kami terkejut. Sebuah kejutan yang telah disiapkan oleh warga desa, dari anak-anak, remaja, orang dewasa sampai lansia. Mereka semua berdiri dihadapan kami, anak-anak menyanyi, remaja menunjukan bakat unik mereka dan para lansia melakukan senam dengan meriah—semua itu mereka lakukan untuk menyambut kami.
“Selamat yah...selamat bergabung menjadi bagian dari kami” ucap ibu desa lalu aku menyalaminya
“Kalian berhasil melaluinya, hebat” ucap juga ketua lansia
“Iyah, makasih banyak bu” balasan kami berterima kasih tapi beliau bilang jangan—
“Jangan dulu terima kasih, masih lama kalian disini. Masih banyak hal yang menakjubkan yang akan membuat kalian terkejut dan betah disini” ucap beliau
Kami semua pun sangat terharu menyaksikanya, hari itu kami secara resmi diterima oleh mereka sebagai bagian dari desa tersebut. Aku jadi makin berpikir kalau tempat ini benar-benar aneh?Tempat apa ini sebenarnya?Kenapa banyak sekali kejadian-kejadian yang diluar nalar?Aku benar-benar tidak mengerti, teman-teman ku juga sepertinya hanya diam saja. Apa yang mereka pikirkan atau cuman aku yang bisa mengalaminya? Tapi sepertinya tidak begitu, aku yakin mereka juga mengalami hal yang sama—hanya saja mereka tidak menyadarinya.
Malam harinya aku pun memberanikan diri untuk bicara pertama kalinya—membahas semua kejadian yang kami alami sejak tiba disini tapi teman-teman ku malah tidak mengingatnya sama sekali. Mereka seperti bingung dan tidak mengerti pada apa yang ku ceritakan. Bahkan mereka menganggap ku aneh.
“Aneh?Kamu bicara apa sih Nal” balas Zee
“Iyah, dari mana kamu mengarang cerita seperti itu” ucap Fatin
Tidak ada satupun yang percaya padaku karena mereka merasa tidak pernah mengalaminya. Saat itu aku pun tidak tenang lagi, banyak hal yang membuat ku kepikiran. Aku sampai tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang mengintip ku diam-diam. Kira-kira siapa orang tersebut? Nantikan jawabanya dichapter selanjutnya. Pada akhirnya nanti teman-teman ku akan sadar dan misteri tentang desa ini akan terselesaikan oleh kami.