NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Investasi jangka panjang

Bara duduk di meja pojok Restoran Sari Laut Kencana dengan pose seolah sedang menghadiri perjamuan diplomatik antar-negara. Di depannya, piring keramik putih berisi Ayam Goreng Mentega sudah licin tandas.

Tulang-belulang ayam tersusun rapi di pinggir piring, membentuk formasi Anatomi Skeletal Unggas yang presisi.

"Saus menteganya terlalu banyak lemak jenuh," gumam Bara sambil menyeka bibir dengan tisu.

"Tapi reaksi Maillard pada kulit ayamnya... Chefs Kiss. Senyawa karsinogenik yang lezat."

Pelayan restoran yang membereskan meja menatap susunan tulang itu dengan ngeri. "Mas, ini tulangnya mau dibungkus buat kucing?"

"Jangan," cegah Bara, mengangkat tangan dengan anggun. "Tulang ini sudah kukuras sumsumnya. Kucing pun akan kecewa. Aku mau bayar."

Bara mengeluarkan uang hasil penjualan udangnya dengan gaya slow motion. Dia merasa kaya. Padahal di dunia nyata, uang 650 ribu itu kalau buat beli kuota internet setahun juga kurang. Tapi bagi Bara, ini adalah APBN Kerajaan Hutan.

Keluar dari restoran, misi belanja dimulai.

Fase 1: Fashion Statement Sang Alkemis

Bara tidak bisa terus-terusan pakai baju curian. Dia butuh seragam dinas. Dia masuk ke toko pakaian murah di pasar tradisional.

Dia mengabaikan jins ketat atau kemeja flanel. Matanya tertuju pada Celana Kolor Batik ukuran jumbo dan Kaos Partai sisa kampanye (bahan hyget tipis yang adem).

"Aerasi maksimal," gumam Bara memegang kain celana kolor itu. "Sirkulasi udara di area vital sangat penting saat meracik ramuan panas."

Dia membeli 3 celana kolor motif parang rusak, 3 kaos oblong putih polos, dan—yang paling penting—sebuah Jas Hujan Ponco warna hijau lumut.

"Ini bukan jas hujan," batin Bara saat mencobanya di depan cermin retak toko. "Ini adalah Jubah Gaib untuk berkamuflase di antara dedaunan."

Total belanja: Rp 100.000. Sisa uang: Rp 550.000.

Fase 2: Agraria dan Perikanan (Bibit Tanaman & Ikan)

Bara bergerak ke lapak penjual bibit tanaman. Di sini, dia berdebat sengit dengan penjualnya, Pak Dul.

"Pak, saya cari bibit Zingiber officinale varietas merah yang punya heat unit tinggi," pinta Bara serius.

Pak Dul melongo, rokok klembak menyan menggantung di bibir. "Baca mantra apasih lu tong? Mau beli jahe merah gitu aja repot amat ngomongnya."

"Ya, Jahe Merah. Tapi saya mau yang umbinya punya semangat juang. Jangan yang loyo."

Pak Dul geleng-geleng kepala, menyerahkan sekantong bibit jahe, kunyit, dan kencur. Bara juga membeli bibit cabai rawit (senjata biologis andalannya).

Lanjut ke lapak ikan. Bara membeli 50 ekor bibit Ikan Lele. Kenapa Lele? Karena Lele adalah Spartan-nya dunia air. Tahan banting, makan apa saja, dan cepat besar.

"Masukin plastiknya dua lapis, Bang," perintah Bara. "Kalau bocor, terjadi bencana ekologis di celana saya."

Total belanja: Rp 100.000. Sisa uang: Rp 450.000.

Fase 3: Pasukan Infanteri (Ayam)

Inilah menu utama. Bara butuh sumber protein telur yang berkelanjutan. Dia masuk ke area Pasar Burung. Baunya dahsyat. Campuran tahi ayam, pakan burung, dan keringat kuli panggul.

Bara berdiri di depan kandang kawat berisi puluhan ayam petelur warna cokelat. Ayam-ayam itu menatapnya dengan pandangan kosong.

"Dengar, Pasukan!" Bara berbisik ke arah kandang. "Aku mencari prajurit yang sanggup bertelur setiap hari tanpa kenal hari libur nasional. Siapa yang siap mengabdi pada Kaisar Bara?"

Ayam-ayam itu: "Petok?"

Bara mulai melakukan seleksi ketat. Dia tidak asal tunjuk. Dia memegang seekor ayam, mengangkatnya tinggi-tinggi (seperti adegan Lion King), lalu memeriksa pantat ayam itu.

"Lebar tulang pubis: 3 jari. Bagus. Kapasitas produksi tinggi," analisis Bara.

"Woy Mas! Jangan dipelototi gitu ayamnya, dia malu!" teriak si penjual ayam.

"Saya sedang melakukan inspeksi medis ginekologi unggas, Pak. Harap tenang," balas Bara datar.

Akhirnya Bara memilih dua ekor Ayam Kampung Betina (lebih tahan penyakit daripada ayam ras) dan satu ekor Ayam Jantan yang terlihat berandalan (jengger miring, bulu ekor agak rontok).

"Kenapa pilih yang jantan itu, Mas? Itu ayam preman, suka matuk," kata penjualnya.

"Justru itu," mata Bara berbinar. "Saya butuh Security. Wajahnya kriminal, cocok buat jaga markas dari biawak."

Bara menamai ayam jantan itu "Sersan Jago".

Masalah muncul. Bara tidak bawa kandang.

"Iket aja kakinya, Mas," saran penjual.

Maka, Bara keluar dari pasar dengan kondisi absurd:

Punggung: Tas kresek isi baju dan bibit tanaman.

Tangan Kiri: Menjinjing plastik besar isi air dan 50 bibit lele.

Tangan Kanan: Menggenggam kaki tiga ekor ayam yang bergelantungan terbalik sambil memaki-maki dalam bahasa ayam (Koook! Petok! Koooaaak!).

Total belanja: Rp 200.000. Sisa uang: Rp 250.000.

Bara berdiri di pangkalan ojek pengkolan. Para tukang ojek yang sedang main gaple langsung bubar melihat kedatangan makhluk ajaib ini.

"Bang, ke perbatasan Hutan Larangan. Berapa?" tanya Bara.

Para tukang ojek saling pandang. Ragu.

"Waduh, Mas. Itu jauh. Terus... Mas bawa rombongan sirkus begitu. Ayamnya berisik bener," tolak salah satu tukang ojek.

"Saya bayar double. 50 ribu," tawar Bara.

Seorang tukang ojek tua dengan motor bebek tahun 90-an yang knalpotnya ditali kawat, berdiri. Namanya Bang Mamat.

"Ayo naik. Tapi ayamnya pegang yang bener. Kalau dia boker di jok saya, dendanya ceban."

Perjalanan pun dimulai.

Ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah Uji Nyali.

Bara duduk di boncengan yang sempit.

Tangan kirinya memeluk pinggang Bang Mamat sambil memegang plastik ikan lele.

Tangan kanannya memegang kaki tiga ayam yang panik karena kena angin kencang. Ayam-ayam itu mengepakkan sayapnya ke muka Bara.

Plak! Plak!

Sayap Sersan Jago menampar pipi Bara berkali-kali.

"Diam kau, Sersan! Anggaplah Ini simulasi terjun payung!" teriak Bara melawan suara angin.

"Mas! Jangan gerak-gerak! Motornya oleng nih!" teriak Bang Mamat panik saat setangnya goyang karena Bara sibuk berantem sama ayam.

Di lampu merah, motor mereka berhenti di samping mobil mewah. Kaca mobil terbuka, menampilkan seorang anak kecil yang menunjuk Bara.

"Mama! Liat! Orang itu seperti mahkluk langka.!"

Bara menatap anak itu dari balik kacamata hitam patahnya, lalu mengangguk hormat dengan wibawa yang dipaksakan. Sersan Jago merespons dengan mematuk helm Bara. Tuk!

"Sialan. Nanti sampai markas kau kugoreng kalau tidak sopan," ancam Bara pada ayamnya.

Perjalanan 10 kilometer itu terasa seperti 10 tahun. Plastik ikan lele mulai bocor sedikit, meneteskan air amis ke celana Bang Mamat.

"Mas! Bau amis nih! Itu lelenya pipis ya?!"

"Tenang Bang! Itu air suci kehidupan! Lanjut gas pol!"

Akhirnya, mereka sampai di pinggir hutan. Bara turun dengan kaki gemetar. Rambutnya yang tadi disisir rapi sekarang berdiri semua seperti habis disetrum, penuh bulu ayam yang rontok.

"Makasih, Bang. Ini onkosnya. Kembaliannya ambil aja buat cuci motor," Bara menyerahkan uang 70 ribu dengan gaya bos mafia.

Bang Mamat menerima uang itu sambil menatap Bara . "Mas, tinggal dimana mas?, kenapa mas nyuruh nganter ke perbatasan hutan ini, hutan ini kan terkenal angker mas, banyak orang hilang disini loh mas, makanya disebut sebagai hutan larangan."

"Iya kah?, saya tinggal di hutan ini gpp tuh bang, kayaknya setan itu takut lihat sempak saya yang robek" jawab bara seadanya, hutan itu akan menjadi bahaya jika kita tidak tau ilmunya dan menganggap semua hal enteng.

"Wahh gitu ya mas..yasudah saya balek dulu hati-hati ya mas"

Bara butuh dua kali bolak-balik untuk mengangkut semua barangnya dari pinggir jalan ke Markas

Matahari sudah condong ke barat saat semuanya terkumpul di "Istana".

Hal pertama yang Bara lakukan bukan istirahat. Dia melepaskan ikatan kaki ayam-ayamnya.

Ketiga ayam itu langsung lari kocar-kacir, shock berat. Si Sersan Jago langsung mematuk kaki Bara sebagai balas dendam.

"Aduh! Dasar pengkhianat!" Bara melompat, mengusap kakinya.

Bara mengambil napas, lalu berdiri tegak di atas batu besar. Dia menatap tiga ayam, 50 bibit lele (yang sudah dia cemplungkan ke kolam), dan tumpukan bibit tanaman yang akan menjadi investasi pembuatan ramuan nya kelak.

"Dengar wahai rakyatku!" seru Bara lantang, suaranya menggema di tebing. "Selamat datang di Negeri Bara-topia!"

"Kook..." jawab salah satu ayam betina dengan nada meremehkan.

"Di sini tidak ada KFC! Tidak ada Pecel Lele! Di sini kalian akan hidup sejahtera!" Bara menunjuk Sersan Jago. "Tugasmu, Jago, adalah membangunkan aku jam 5 pagi dan menghajar tikus yang mau mencuri jahe."

Bara beralih ke dua ayam betina. "Tugas kalian, Sri dan Tati, adalah bertelur. Satu hari satu telur. Kalau bolos, jatah makan kalian kurangi."

Bara kemudian mulai bekerja. Dia membuat kandang ayam darurat di celah bebatuan menggunakan sisa ranting dan tali rafia. Dia menanam bibit jahe dan kencur, dan lain-lain di tanah gembur di sekitar air terjun.

"Jahe di sini..." Bara menggali tanah dengan golok. "Nanti kuberi pupuk racikan Kotoran Kelelawar biar pedasnya nendang."

Malam pun tiba.

Markas Bara kini lebih ramai. Suara jangkrik bersaing dengan suara kluk-kluk ayam yang gelisah di kandang baru.

Bara duduk di dekat api unggun, mengenakan Celana Kolor Batik barunya. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, masuk lewat sela-sela celana yang longgar itu.

"Ah... sirkulasi," desah Bara nikmat. "Inilah kemewahan yang tidak bisa dibeli raja sekalipun."

Dia merebus air, lalu menyeduh mie instan (tadi sempat beli satu bungkus di warung). Dia makan mie itu langsung dari panci, ditemani tatapan lapar Sersan Jago yang lepas dari kandang.

Bara melempar sehelai mie ke arah ayam itu.

"Makanlah, Jago. Itu karbohidrat olahan penuh dosa."

Sersan Jago mematuk mie itu, lalu berkokok pendek.

"Bagus. Diplomasi berhasil."

Kini, Bara punya pangan (lele & ayam), punya sandang (kolor batik), dan punya tempat tinggal, walaupun harus renovasi dikemudian hari.

Rencana bertahan hidup fase satu selesai.

Tapi Bara tahu, uang 250 ribu sisanya tidak akan bertahan selamanya. Dia butuh proyek besar. Dia butuh membuat sesuatu yang bernilai jual tinggi namun modal dengkul.

Matanya tertuju pada Sarang Lebah Hutan raksasa yang menggantung di pohon Angsana setinggi 20 meter di seberang sungai. Sarang itu hitam legam, mendengung mengerikan.

"Madu Hitam Pahit," Bara menyeringai, sisa kuah mie menetes di dagunya. "Obat kuat para pejabat. Harganya mahal."

Tapi mengambilnya sama saja bunuh diri. Lebah hutan (Apis dorsata) sengatannya bisa membunuh kerbau.

"Besok..." Bara menatap Sersan Jago. "Besok kita akan melakukan operasi militer udara. Aku butuh umpan. Kau bersedia jadi relawan, Jago?"

Sersan Jago menatap Bara, lalu buang kotoran di sepatu Bara. Prot.

"Aku anggap itu sebagai 'Tidak'," kata Bara. "Baiklah, kita pakai cara kimia."

Di bawah sinar bulan, Bara si Raja Hutan tertidur dengan senyum licik, memimpikan banjir madu dan uang, sementara ayamnya tidur di atas kepalanya.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!