Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Kecemasan
Sofia merasa tidak tenang setelah percakapan dengan suaminya sebelumnya, soal hadiah. Dia jelas yakin, ada kotak hadiah kalung yang ada di dalam lemari Suaminya.
Sofia mencoba untuk berpikir positif Apakah itu mungkin hanya hadiah untuk Ibu Mertuanya?
Jadi untuk memastikannya, Sofia hari ini berkunjung ke Rumah Keluarga Wiyata. Namun sepertinya kunjungannya dengan niat baik itu, tidak disambut dengan baik oleh Diana, Ibu Mertuanya itu.
"Tumben, kamu datang sendiri. Apakah di sini kamu berniat untuk merayuku? Hah, kamu pikir, dengan beberapa hadiah baju seperti ini akan bisa membuat hatiku terhibur?"
Sofia yang mendengar itu tetap berkata sopan dan tersenyum.
"Tidak ada maksud apa-apa, Mama, hanya ingin mengunjungi Rumah ini untuk mengetahui kabar kalian saja."
"Cih, pasti kamu ada maunya! Jangan harap hanya dengan kedatangan kecil dan sogokan Itu akan membuatku menerima menantu mandul sepertimu!"
Sofia mencoba mempertahankan senyumannya itu. Ibu Mertuanya itu, masih saja terus melakukan berbicara seenaknya didepan Sofia.
"Aku benar-benar merasa Evan itu bodoh, kenapa dia masih keras kepala mempertahankanmu? Wanita yang bahkan tidak bisa memberikan keturunan. Bahkan sejak menikah denganmu, Evan itu juga jadi tidak peduli pada Ibunya ini, dia tidak pernah lagi memberikanku hadiah-hadiah atau oleh-oleh lagi padaku belakangan ini. Trik licik apa yang membuatmu bisa mencuci otak Putraku?"
Sofia segera menunjukkan ekspresi terkejut mendengar itu. Tentu, Sofia cukup terkejut mendengar Suaminya tidak pernah memberikan hadiah pada Ibu Mertuanya. Padahal Sofia ingat, bahkan selain kalung itu, Suaminya Evan sempat membeli berbagai macam pakaian wanita atau perhiasan.
Nota dari tagihan itu yang sempat dia temukan di baju suaminya beberapa minggu lalu.
Kalau bukan untuk Ibu Mertua atau Saudara Iparnya, untuk siapa barang-barang itu?
Sofia ingat, jika dia juga tidak pernah menerima hadiah apapun dari Suaminya kecuali oleh-oleh dari kota B, dan hadiah ulang tahun nya.
Jika memikirkannya lagi, gerak-geriknya Suaminya Evan terlihat semakin mencurigakan belakangan ini. Suaminya yang terlihat lembur lebih banyak di kantor.
Bukannya ingin berpikir negatif, namun ini membuat Sofia tidak tenang.
"Aku tidak melakukan apapun pada Evan, Ma..."
"Ashhh, memang Putraku itu saja yang bodoh. Kamu juga jadi Istri yang peka, kamu juga sebaiknya mengijinkan Suamimu itu menikah lagi agar dia punya keturunan! Jangan biarkan dia hidup kesepian bersamamu yang mandul itu!"
"Mama, Aku tidak mandul. Aku masih memiliki kemungkinan memiliki seorang anak dengan Mas Evan."
"Jangan bicara omong kosong memangnya aku juga tidak tahu kamu dan suamimu itu sudah melakukan berbagai macam pengobatan dan berbagai macam metode medis untuk membuat kalian bisa punya anak? Namun lihat, bahkan setelah bertahun-tahun, Apakah ada tanda dari keberhasilan?"
Sofia terdiam mendengar itu.
"Apa yang aku katakan benar bukan?"
"Ini hanya belum saatnya saja Mama."
"Memangnya kapan saatnya itu? Mumpung Evan masih muda, kamu itu harus membujuk Suamimu menikah lagi!"
"Mama! Aku tidak suka Anda berbicara seperti itu padaku!"
"Kamu berani sekali membentakku? Dasar wanita tidak tahu diri! Lihat saja, Aku pasti akan mendapatkan wanita yang bisa merebut hati Evan darimu! Di luar sana, jelas masih banyak wanita yang jauh lebih cantik daripada kamu!"
Sofia yang tidak tahan lagi berada di sana lama-lama akhirnya segera pamit dan melarikan diri dari sana. Walaupun dia berhasil mendapatkan informasi yang dia butuhkan, namun tetap saja...
Kata-kata Ibu Mertuanya sebelumnya...
Sofia tengelam dalam pikirannya ekspresi kesedihan nilai muncul di wajahnya ketika mengingat kata-kata itu.
Dan sekarang kecemasan segera muncul di hatinya.
Hadiah dan barang-barang wanita yang Suaminya beli itu...
Untuk siapa semuanya?
Ketika memikirkan itu, Sofia tiba-tiba saja mendapatkan pesan dari Suaminya Evan.
'Sayang, Aku hanya ingin memberikan kabar padamu bahwa nanti malam aku akan bekerja lembut di kantor, dan akan pulang terlambat.'
Ekspresi Sofia segera berubah lagi.
Walaupun dia membalas dengan pesan tidak apa-apa, namun keraguan masih memasuki hatinya.
'Mas Evan tidak bersama wanita lain kan?'
Sofia tahu, dia tidak bisa curiga tanpa bukti.
Cinta itu berdasarkan kepercayaan.
Namun jika mengingat masa lalu seberapa banyak Suaminya Evan telah mengecewakannya?
Walaupun itu, adalah masalalu yang terkesan sangat jauh, namun Sofia masih tidak bisa melupakan kecelakaan yang menimpa Orang Tuanya.
Ini juga hanya perasaan seorang Istri.
Dengan berbagai pikirannya itu, Sofia segera menelepon salah satu temannya yang bekerja di Perusahaan, teman yang bisa dia percayai dan ada di pihaknya.
"Erina, Aku ingin meminta bantuan padamu."
'Huh? Apa yang bisa Aku bantu?'
"Apakah kamu bisa menyelidiki apakah Suamiku Evan benar-benar bekerja lembur di kantor malam ini?"
Dari ujung telepon, terlihat keterkejutannya.
'Eh? Kenapa tiba-tiba? Memangnya kenapa dengan Pak Presdir? Jangan-jangan...'
"Erina, tolong jangan berkata macam-macam dulu Aku hanya ingin memastikan Apakah dia bekerja lembur diantar atau tidak."
'Kenapa tidak bertanya pada sekretarisnya langsung?'
Sofia terdiam, namun sudah menemukan jawaban pastinya.
"Dia mungkin ada dipihak Suamiku. Itulah kenapa aku memintamu untuk memeriksanya."
'Baiklah. Aku akan mencoba membantumu sebisaku dan memeriksa Pak Presdir nantinya. Jika seandainya dia tidak ada di kantor Apakah perlu aku untuk mengikutinya segala?'
"Tidak usah, nanti kamu bisa langsung menghubungiku."
'Baik, Sofia.'
Setelah itu, Sofia mulai menutup teleponnya. Rasa cemas masih memasuki hatinya.
Dan akhirnya malam itu, kabar yang sangat dia cemaskan datang.
'Sofia, Pak Presdir sudah pulang dari Perusahaan sejak jam lima tadi.'
Itu kabar dari Erina, Sofia sekarang memeriksa jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
'Bahkan walaupun macet, tidak mungkin selama ini lagi pula jarak antara perusahaan dan apartemen sangat dekat.'
Dengan perasaan cemas, Sofia segera menelepon Suaminya. Setidaknya, dia ingin mendengar sendiri dari Suaminya.
Namun telepon Sofia tidak kunjung juga diangkat. Sofia masih mencoba menelepon Suaminya sampai beberapa kali, barulah telepon itu diangkat.
'Maaf sayang, tadi ponsel Aku Silent. Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, dan baru sadar kamu meneleponku.'
Sofia mendengar kata-kata Suaminya itu yang penuh dengan ketenangan ketika mengatakan semua kebohongan itu. Sofia paling tahu, Suaminya adalah orang yang paling pintar berbohong dan bersandiwara.
Namun dia kira Suaminya sudah berubah.
Apalagi melihat ketulusan Suaminya selama beberapa tahun ini.
"Kamu saat ini sedang di mana?"
'Apa yang kamu katakan? Aku saat ini sedang di kantor mau di mana lagi menurutmu?'
"Mas Evan, Apakah Mas ingat janji yang pernah Mas buat untukku?"
'Janji yang mana? Aku yang akan selalu berada disampingmu? Aku yang akan selalu mencintaimu? Tentu saja, aku masih sangat mencintaimu Sofia.'
Kata-kata itu, diucapkan dengan nada yang begitu lembut dan tulus. Namun hati Sofia entah kenapa merasa sakit ketika mendengar itu.
Dia mengingat kejadian dimasalalu, dimana Evan juga sering mengatakan hal-hal manis seperti itu kepadanya.
'Sofia, kita pasti akan segera memiliki bayi, Aku akan berusaha lebih keras, Aku benar-benar ingin memiliki seorang anak denganmu, karena Aku begitu mencintaimu.'
Namun nyatanya, saat itu Suaminya berbohong dan memberikan obat KB padanya.
'Sofia, aku pasti akan menemukan seseorang yang mengakibatkan kecelakaan pada Orang Tuamu. Aku akan melakukan apa saja demi kamu untuk membantumu karena aku sangat mencintaimu.'
Namun nyatanya, Evan yang merupakan penyebab Kecelakaan orang tuanya.
Sofia tidak ingin lagi mengigat kebohongan lain yang Suaminya buat. semua aku bohongan-kebohongan itu adalah sesuatu yang paling menyakitkan.
Suaminya Evan paling pintar berbohong untuk hal yang paling menyakitkan untuknya.
"Mas Evan pernah berjanji padaku untuk tidak pernah berbohong padaku."
Evan di ujung telepon segera terdiam ketika mendengar kata-kata itu, rasa cemas mulai muncul, beberapa kemungkinan mulai terlintas dalam benaknya.
'Tentu saja, Aku tidak akan pernah berbohong padamu. Baik, saat ini Aku memang sedang tidak di kantor, aku tidak berniat untuk membohongimu, Aku hanya ingin untuk membuat kejutan, Aku sedang di toko Perhiasan, kamu bisa Video Call jika tidak percaya."
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚