Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hujan dan Dinding yang Dingin
Keheningan di dalam kabin Rolls-Royce itu terasa mencekam, sangat kontras dengan kemewahan interiornya yang berlapis kulit kelas satu. Hanya terdengar deru halus mesin yang hampir tak bersuara. Damian menggenggam kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada center console, sesekali jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan gelisah.
Ada sesuatu yang hilang. Damian merasakannya dengan sangat jelas.
Saat mereka berada di panti asuhan beberapa hari yang lalu, saat Damian masih berpura-pura menjadi asisten biasa, semuanya terasa begitu ringan. Mereka tertawa, membagi cerita sederhana, bahkan menaiki sepeda tua bersama melewati gang-gang sempit dengan angin yang menerpa wajah. Saat itu, mereka hanyalah dua manusia yang sedang jatuh hati.
Namun sekarang? Setelah identitas aslinya terungkap, setelah kontrak triliunan ditandatangani, dan setelah ciuman paksa di ruangan arsip tadi siang, ada dinding es yang terbangun di antara mereka. Damian adalah sang pemangsa, dan Selene adalah mangsa yang kini bersikap waspada.
Damian melirik Selene. Gadis itu hanya menatap ke luar jendela, seolah pemandangan lampu jalanan jauh lebih menarik daripada pria di sampingnya.
"Selene..." Damian mencoba membuka suara, namun tenggorokannya terasa kering.
"Ya?" Jawab Selene singkat, tanpa menoleh.
"Kau sangat diam. Apa kau masih memikirkan soal... kebohonganku?"
Selene tidak menjawab ia hanya diam, bingung ingin berucap apa.
Tik... Tik... Pyar!
Hujan turun dengan sangat deras secara tiba-tiba, seolah langit Jakarta sedang ikut menumpahkan emosi yang tertahan. Langit yang tadinya hanya gelap kini tertutup tirai air yang pekat. Jarak pandang menjadi sangat terbatas, dan suara hujan yang menghantam atap mobil menciptakan suasana yang semakin terisolasi.
Damian memperlambat laju mobilnya. Wiper bekerja cepat menyapu air, namun derasnya hujan membuat pandangan tetap kabur.
"Hujannya sangat deras," gumam Selene, suaranya sedikit melunak karena ia selalu menyukai bau tanah yang tersiram air.
Damian menepikan mobilnya secara perlahan di bawah deretan pepohonan besar yang rindang, menghindari risiko jika jalanan di depan tergenang. Ia mematikan lampu utama, meninggalkan mereka hanya dalam remang cahaya dasbor.
"Kenapa berhenti?" Selene menoleh, sedikit cemas.
Damian melepaskan sabuk pengamannya dan bergeser sedikit ke arah Selene. "Aku benci canggung seperti ini, Selene. Aku lebih suka kau marah padaku, menamparku, atau memakiku daripada kau diam dan menjauh seperti ini. Hujan ini sepertinya ingin kita bicara."
Obsesi Damian yang tadinya meluap kini berubah menjadi rasa takut akan kehilangan koneksi yang pernah mereka miliki. Ia tidak ingin Selene melihatnya hanya sebagai "Tuan Nicholas" yang kaku.
Sentuhan Selene mendarat dengan ringan dan hangat di pipi Damian, menghapus sisa-sisa ketegangan yang membatu di wajah pria itu. Damian tertegun, seolah sentuhan itu memiliki kekuatan magis yang bisa menghentikan badai di dalam kepalanya.
Selene menatap mata gelap itu dengan pandangan yang kini jauh lebih jernih. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya.
"Aku tidak marah soal kebohonganmu, Damian," bisik Selene, suaranya lembut namun mantap, bersaing dengan rintik hujan yang kini mulai melambat di atas atap mobil. "Kenapa aku harus marah? Kita berdua melakukan hal yang sama. Aku menyembunyikan identitasku sebagai pewaris Roxxfe demi kenyamanan panti, dan kau menyembunyikan identitasmu sebagai penguasa Nicholas demi bisa mendekatiku. Kita sama-sama pembohong yang egois."
Damian menarik napas panjang, merasa sebuah beban berat baru saja diangkat dari dadanya. "Jadi, kau tidak membenciku karena aku bukan asisten rendahan itu?"
Selene menggeleng perlahan. Jemarinya mengusap rahang Damian yang tegas. "Justru sebaliknya. Melihatmu di ruang rapat tadi... melihat bagaimana kau memimpin, bagaimana kau tidak membiarkan siapa pun mengendalikanmu, bahkan ayahku sekalipun... itu membuatku sadar."
Selene menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh kekaguman yang jujur. "Aku kagum padamu, Damian. Kau pria yang tegas, kuat, dan punya prinsip yang tak tergoyahkan. Dunia ini butuh orang sepertimu, meskipun caramu terkadang... sangat mengintimidasi."
Mendengar itu, Damian merasa jantungnya berdenyut liar. Bukan karena amarah atau obsesi gelap, tapi karena rasa bangga yang murni. Selama ini, semua orang takut padanya karena kekuasaannya, tapi Selene? Selene melihat kekuasaan itu dan justru mengaguminya tanpa rasa takut.
"Kau benar-benar luar biasa, Selene," gumam Damian. Ia meraih tangan Selene yang berada di pipinya, mengecup telapak tangan itu dengan penuh perasaan.