Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Residu Bintang & Peta Kedalaman
Lokasi: Ketinggian 40.000 Kaki, Jet Siluman BPCBAN (Meninggalkan Wilayah Udara Turki).
Waktu: 05.30 Waktu Setempat.
Suara dengungan halus mesin jet siluman berteknologi fusi itu menjadi satu-satunya latar suara di dalam kabin medis yang kedap udara. Di luar jendela kecil pesawat, semburat jingga fajar mulai menyingsing, mengusir kegelapan malam Anatolia yang brutal.
Dimas duduk bertelanjang dada di atas brankar medis. Napasnya masih sedikit berat. Memar ungu kehitaman menghiasi tulang rusuk kirinya—kenang-kenangan dari bantingan Golem Konstelasi.
Sarah berdiri di antara kedua kaki Dimas yang terbuka, memegang kapas yang telah direndam cairan antiseptik dan salep arnica. Wajah Sarah masih menyisakan noda debu mesiu, namun sorot matanya sepenuhnya dipenuhi kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada satu orang di dunia ini.
“Tahan sedikit, Sayang,” bisik Sarah. Ia menekan kapas itu dengan sangat hati-hati ke luka gores di bahu Dimas.
Dimas mendesis pelan, otot perutnya menegang. Namun, bukannya menjauh, tangan kanan Dimas justru melingkar santai di pinggang Sarah, menarik istrinya sedikit lebih dekat.
“Lebih perih diomelin kamu daripada dibanting kepiting batu, Sar,” goda Dimas, senyum lelah menghiasi bibirnya.
Sarah menghentikan usapannya. Ia meletakkan kapas itu ke nampan logam, lalu menatap Dimas. Wajah ilmuwan tangguh itu tiba-tiba berubah rapuh. Mata Sarah berkaca-kaca, menahan emosi yang sejak tadi ia bendung di medan perang.
“Waktu kamu pegang kunci itu…” suara Sarah bergetar, jari-jarinya yang lenting mengusap rahang Dimas dengan penuh damba. “Waktu aku lihat kulitmu mulai bersinar emas… aku pikir aku bakal kehilangan kamu. Aku pikir kamu bakal jadi debu kayak Komandan Vanguard itu.”
Dimas merasakan ketakutan istrinya yang begitu nyata. Ia menangkup wajah Sarah dengan kedua tangannya yang besar dan kasar, mengusap air mata yang lolos di sudut mata wanita itu menggunakan ibu jarinya.
“Aku nggak akan kemana-mana, Sar. Kamu adalah jangkat utamaku,” bisik Dimas dalam dan sungguh-sungguh. Ia mengecup kening Sarah lama, menghirup aroma rambut istrinya yang berbau angin gurun dan sampo vanilla. “Selama kamu minta aku pulang, bahkan dewa pencipta alam semesta pun nggak bisa nahan aku di sana.”
Sarah memejamkan mata, meresapi kehangatan bibir Dimas di keningnya. Ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Dimas, menyandarkan dahinya ke bahu telanjang suaminya. Mereka berpelukan dalam diam diatas ketinggian 40.000 kaki, merayakan kemewahan bernapas dan detak jantung yang masih berirama sama. Di tengah ancaman kiamat kuno, momen kecil di ruang medis pesawat ini adalah seluruh dunia bagi mereka.
Di atas meja baja nirkarat di samping mereka, Kunci Konstelasi Pertama berbentuk prisma asimetris itu tergeletak tenang. Pendaran birunya berdenyut seirama dengan napas Dimas, seolah benda mati itu kini memiliki ikatan batin dengan pewaris barunya.
Lokasi: Safe House Utama BPCBAN, Jakarta Selatan.
Waktu: 09.30 WIB.
Jauh di belahan bumi lain, cahaya matahari pagi Jakarta menembus jendela kaca besar sebuah ruang kerja yang menghadap ke taman belakang yang rindang.
Arya Baskara berdiri di depan mesin espresso, meracik dua cangkir kopi hitam dengan ketelitian yang biasanya ia gunakan saat merakit senapan runduk. Ia mengenakan kaos polos hitam dan celana jogger, penampilannya sangat kasual untuk seorang komandan bayangan BPCBAN.
Di sofa kulit di tengah ruangan, Kirana sedang duduk bersila. Mantan protagonis utama yang memiliki anugerah (dan kutukan) Mata Batin tingkat tertinggi ini kini memancarkan aura keibuan yang sangat tenang. Rambut hitam panjangnya dijepit asal-asalan. Ia sedang melipat baju bayi berwarna kuning muda, sementara putri kecil mereka tertidur pulas di kamar sebelah.
Arya berjalan menghampiri, meletakkan secangkir kopi di atas meja kaca di depan Kirana. Ia duduk di sebelah istrinya, menyandarkan punggungnya dengan helaan napas berat.
“Laporan dari radar Jet Siluman baru masuk. Dimas dan Sarah berhasil keluar dari wilayah udara Turki,” lapor Arya pelan, tidak ingin membangunkan anaknya. “Mereka dapat kuncinya. Vanguard hancur lebur.”
Kirana menghentikan lipatannya. Ia menatap Arya. Meski tidak lagi berada di garis depan, intuisi spiritual Kirana masih menjadi yang tertajam di Nusantara.
“Aku merasakannya subuh tadi, Mas,” bisik Kirana, matanya menatap menerawang ke arah uap kopi yang mengepul. “Ada riak energi yang sangat masif membelah lapisan astral kita. Energi itu bukan dari dimensi bawah, bukan juga siluman. Energi itu rasanya… murni. Terlalu murni sampai-sampai terasa steril dan mematikan. Seperti cahaya bintang yang bisa membakar retina.”
Arya merangkul bahu Kirana, menarik istrinya bersandar ke dadanya. Ia mencium puncak kepala Kirana.
“Arsitek langit,” gumam Arya, mengingat kembali laporan Dimas dari Puncak Jaya. “Orang-orang yang ngerancang umat manusia. Sekarang adikku dan istrinya harus main petak umpet global buat ngumpulin kunci laboratorium mereka.”
Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Arya, mendengarkan detak jantung suaminya yang selalu menjadi rumahnya sejak musim-musim awal perjuangan mereka.
“Mereka sanggup, Mas,” kata Kirana lembut namun penuh keyakinan. “Dimas punya kelembutan yang nggak kamu punya dulu, dan Sarah punya logika yang melengkapi mistisme Dimas. Kita udah selesai dengan perang kita. Sekarang, tugas kita adalah memastikan mereka nggak jatuh ke jurang yang sama.”
Arya tersenyum tipis. “Aku cuma nggak mau Dimas mati konyol karena terlalu sibuk jadi sejarawan pahlawan. Tapi kamu benar. Mereka The Archivist sekarang.”
Layar monitor raksasa di dinding ruang kerja itu tiba-tiba menyala hijau, menandakan panggilan komunikasi tingkat tinggi masuk.
Wajah Sarah muncul di layar. Di belakangnya, terlihat interior jet siluman.
“Mas Arya, Mbak Kirana. Maaf ganggu acara ngopinya,” sapa Sarah, wajahnya sudah kembali ke mode ilmuwan penuh perhitungan.
“Kalian berdua masih hidup. Itu berita bagus,” jawab Arya, berdiri dan berjalan mendekati monitor. “Gimana bentuk kuncinya?”
Dimas muncul di layar, meletakkan prisma emas-perak itu ke atas meja scanner holografik di dalam jet.
“Kuncinya ngerespons sentuhanku secara pasif, Mbak Kirana,” lapor Dimas, menatap layar. “Energi benda ini beda dari artefak Lemuria. Nggak ada hawa jahat, tapi rasanya sangat ‘kaku’.”
Kirana memicingkan matanya menatap proyeksi kunci itu di layar. Ia memfokuskan Mata Batinnya melintasi benua melalui koneksi digital tersebut.
“Itu karena benda itu bukan senjata, Dim,” analisis Kirana, suaranya mengalun tenang. “Itu adalah sebuah Data Drive (Penyimpanan Data). Benda itu berevolusi dari energi organik bintang. Coba minta Sarah alirkan sedikit arus listrik DC bertegangan rendah ke permukaannya, seiring dengan aliran pranamu.”
Sarah mengangguk. Ia menyambungkan dua kutub kabel kecil dari tabletnya ke ujung prisma tersebut, sementara Dimas meletakkan ujung jarinya di sisi lain.
“Mengalirkan listrik sekarang,” kata Sarah.
Begitu arus listrik bertemu dengan prana Dimas di dalam prisma kotak kosmik tersebut… artefak itu melayang satu jengkal di udara.
Pendaran birunya meledak keluar, menembakkan ribuan partikel cahaya udara ke kabin jet siluman. Partikel-partikel itu dengan cepat menyusun diri membentuk sebuah hologram peta tiga dimensi yang sangat detail.
Namun itu bukan peta galaksi. Itu adalah peta topografi dasar laut.
“Kunci ini saling terhubung ke kunci berikutnya,” gumam Dimas takjub melihat hologram tersebut. “Ini peta Kunci Konstelasi kedua.”
Sarah mengetik cepat di tabletnya, mencocokkan kontur bawah laut hologram itu dengan database oseanografi global.
“Dapat!” Sarah berseru. “Koordinatnya menunjukkan area Punggung Bukit Tengah Atlantik. Tepat di zona pertemuan lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar seribu mil dilepas pantai kepulauan Azores.”
Arya menyilangkan tangannya di dada, mengerutkan kening. “Azores? Itu wilayah vulkanik bawah laut yang sangat aktif. Dan secara histori, Plato nyebut area itu sebagai lokasi tenggelamnya benua Atlantis yang asli.”
“Bukan Atlantis yang kita cari, Mas,” Dimas menatap hologram gunung api bawah laut yang berkedip merah terang di layar. “Kunci kedua disembunyikan di dalam Hydrothermal Vent ( Cerobong Hidrothermal) aktif. Suhu di air sekitarnya bisa mencapai 400 derajat celcius karena magma yang keluar dari kerak bumi.”
Sarah menelan ludah. Setelah lolos dari udara beku Papua dan debu kering Turki, mereka kini harus terjun ke dalam kawah gunung berapi di dasar Samudra Atlantik. Air mendidik bertekanan tinggi adalah neraka jenis baru.
“Mas,” kata Sarah, menatap Arya di layar. “Ubah rute otomatis pesawat ini. Kita nggak pulang ke Jakarta. Kita langsung terbang ke Pangkalan Udara Lajez di Azores. Aku butuh Divisi Logistik BPCBAN buat ngirim Submersible Suit (Baju Selam Vulkanik) kelas Magma kesana malam ini juga.”
“Aku kirim sekarang,” jawab Arya tegas, insting komandannya langsung bekerja. “Istirahatlah di pesawat. Begitu kalian sampai di Azores, kalian langsung lompat ke dalam air mendidih. Jangan sampai Vanguard mendahului kalian lagi.”
Panggilan ditutup.
Dimas menatap peta gunung berapi bawah laut yang masih berpendar biru di udara. Ia kemudian menoleh pada Sarah yang sedang membereskan kabel scanner.
“Dari gunung es, ke gurun pasir, sekarang ke air mendidih,” Dimas terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu kursi. “Bulan madu kita benar-benar ekstrem, Sar.”
“Bulan madumu batal kalau kamu sampai matang di rebus magma, Profesor,” balas Sarah, namun ia meraih tangan Dimas dan menggenggamnya erat.
Jet siluman itu membelah awan, mengubah haluannya 180 derajat. Dari langit Timur Tengah, mereka kini melesat menuju jantung Samudra Atlantik, bersiap menyambut panasnya neraka kuno di dasar lautan.