Bebby Daniella Putri menjadi yatim piatu sejak batita akibat korban kecelakaan yang menimpa satu keluarganya, tanpa identitas. Bebby diangkat anak oleh Daniel Frederick, Dokter Muda yang menyelamatkan nyawanya. Daniel mengangkat anak karena rasa kasihan dan sebagai permohonan maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan waktu muncul benih benih cinta di antara mereka berdua. Daniel sebagai orang tua angkat telah menepis perasaan itu. Bagaimana kisah mereka... dan siapa sebenarnya Bebby?
Yuuukkk ikuti kisah mereka guys ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30.
“Sayang sekarang sudah malam, Bebby bobok ya.. Agar kondisi kamu terus membaik. Jangan khawatirkan Papa di sini. Papa sudah janji sama kamu tidak akan menyentuh perempuan itu.” Suara Daniel di balik hand phone milik Bebby.
“Okey Pa.. hati hati dan selalu waspada ya Pa... “ ucap Bebby dengan nada serius.
“Iya Sayang, good night.. have a nice dream.. “ suara Daniel pelan.
“Good night Pa.. muaaachhhhh... muaaaach.. muaaach... ” ucap Bebby sambil mencium layar hand phone miliknya. Eliza yang belum tidur hanya geleng geleng kepala.
“Katanya sudah mau membunuh perasaan cinta kamu Beb.” Ucap Eliza yang masih berbaring tetapi mendengarkan suara Bebby.
“Ach kamu itu, kalau cinta anak pada Papanya kan harus tetap hidup dan menyala nyala... sudah bobok. Biar kondisiku besok terus membaik dan aku mau hidup mandiri.” Ucap Bebby lalu dia pun memejamkan matanya.
Sementara itu Daniel, yang masih duduk di kursi balkon, merasa tubuhnya sangat lelah dan angin malam pun semakin terasa dingin menerpa. Daniel lalu bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Meskipun tidak berniat untuk melihat sosok Miranda, akan tetapi sosok Miranda yang tergolek di atas tempat tidur tetap saja terlihat oleh mata Daniel.
“Benar benar dia sengaja untuk menggoda aku.” Gumam Daniel yang melihat tubuh Miranda terbalut oleh lingerie yang super sexy, dan posisi berbaringnya pun sangat menantang. Miranda tidur terlentang dan kakinya terbuka satu kaki diganjal oleh dua guling agar terangkat tinggi.
Daniel terus melangkah menuju ke sofa dan dia pun membaringkan tubuhnya di sana. Meringkuk menghadap ke sandaran punggung sofa. Daniel memejamkan matanya, berharap malam segera berlalu dan pagi hari tiba, dan dia akan segera pergi ke rumah sakit. Baginya kini suasana di Mansion sudah tidak lagi nyaman.
Sedangkan Miranda yang tadi hanya memejamkan matanya dan belum tidur. Kini membukakan matanya dan melihat ke arah sofa.
“Hmmm biarlah malam ini gagal lagi. Masih banyak malam malam lainnya nanti..” gumam Miranda di dalam hati dan selanjutnya dia pun berusaha untuk terlelap.
Waktu pun berlalu dan pagi hari pun tiba. Daniel lebih dulu bangun. Dan dia cepat cepat ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat karena tubuhnya merasa tidak begitu fit.
Beberapa menit kemudian Daniel pun sudah keluar dari kamar mandi dan tubuh atletetisnya hanya terbalut oleh handuk di bagian bawahnya. Dengan cepat dia melangkah menuju ke lemari pakaiannya.
Akan tetapi di saat dia sedang membuka pintu lemari. Miranda tiba tiba bangkit dari tidurnya dan segera turun dari tempat tidur.
“Gawat.” Gumam Daniel sambil memegang erat handuk yang membalut bagian bawahnya. Dia khawatir jika Miranda akan menyergapnya.
Miranda terus berlari menuju ke kamar mandi dan selanjutnya terdengar suara hoek hoek dari dalam kamar mandi.
“Hmmm kalau aku tidak menolongnya, kalau ada apa apa pasti aku yang disalahkan.” Gumam Daniel di dalam hati Dan jiwa dokternya pun terpanggil untuk menolong orang yang sakit.
“Tapi bagaimana kalau dia hanya pura pura saja.” Gumam Daniel yang tampak berpikir pikir. Sementara di dalam kamar mandi Miranda terus hoek hoek.
“Kakkkk.. toloooooongggg.” Teriak Miranda selanjutnya di antara suara hoek hotelnya.
“Iya bentar!” teriak Daniel yang segera memakai tshirt dan celana boxer dengan terburu buru.
Daniel terus melangkah menuju ke kamar mandi untuk melihat Miranda. Sesaat kemudian terlihat Miranda Masih berdiri menunduk di depan wastafel dan masih hoek hoek.
“Kamu dapat obat anti mual kan?” tanya Daniel saat berdiri di dekat Miranda dan dia tidak menyentuh tubuh Miranda.
“Lupa tidak aku bawa.” Ucap Miranda dengan suara pelan.
“Aku ambilkan obat anti mual.” Ucap Daniel dan akan membalikkan tubuhnya untuk ke luar dari kamar mandi.
“Kak, tolong pijit punggungku, ini masih mual dan pusing sekali.” Ucap Miranda dengan nada penuh permohonan sambil menoleh ke arah Daniel yang sudah membalikkan tubuh. Wajah Miranda pun terlihat pucat.
“Tolong Kak... “ ucap Miranda lagi dan dia pun segera menunduk lagi ke arah wastafel dan...
“Hoek ... Hoek.. Hoek...” suara Miranda lagi dan masih saja mengeluarkan isi dari dalam lambungnya.
Daniel yang mendengar pun tidak tega, lalu dengan ragu ragu dia melangkah mendekat dan ragu ragu pula terulur tangannya ke arah punggung atas Miranda.
“Demi kemanusiaan...” gumam Daniel dalam hati lalu dia memijit mijit punggung atas Miranda.
“Agak keras dikit dan agak ke atas Kak...” ucap Miranda yang masih menunduk dan hoek hoek.
Miranda pun terus menunduk dan menikmati pijatan tangan kekar Daniel. Dia sudah tidak hoek hoek lagi. Dan di dalam hati tersenyum senang karena akhirnya sang suami menyentuh tubuhnya meskipun harus dipaksa.
“Hmmm sepertinya anakku mau diajak bekerja sama.” Gumam Miranda di dalam hati.
Sedangkan Daniel terus memijit demi kemanusiaan. Dia terus saja menahan diri untuk tidak tergoda.
Dan sesaat kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka dengan keras dan bersamaan dengan itu...
“Dannn.. Mir....” suara Nyonya Frederick.
“Ahhh Mereka pasti di kamar mandi.” Ucap Frederick lagi sambil tersenyum lebar.
“Hmmm akhirnya sukses juga usaha aku menyatukan mereka.” Ucap Nyonya Frederick masih tersenyum lebar.
“Cepat kalian masukkan sarapan buat mereka berdua. Pasti ke dua nya sudah kelaparan karena kerja keras semalam hingga pagi hari ini.” Ucap Nyonya Frederick selanjutnya sambil menatap pelayan yang masih berdiri membawakan sarapan buat Daniel dan Miranda.
Dan tidak lama kemudian tampak Daniel keluar dari kamar mandi dan disusul oleh Miranda. Melihat anak dan menantunya keluar dari kamar mandi apalagi Miranda Masih memakai lingerie sexie, Nyonya Frederick tersenyum bahagia menatap mereka berdua.
“Aduh Mir, kamu sangat pucat. Daniel kamu juga sangat pucat. Ayo ayo cepat sarapan.” Ucap Nyonya Frederick sambil menarik tangan Daniel dan Miranda agar segera melangkah menuju ke sofa.
“Bagaimana Dan, enak kan? Pasti kamu kurang kurang terus, macam Papa kamu, minta bonus bonus melulu...” ucap Nyonya Frederick sambil menatap wajah Daniel dari samping.
“Ma, please jangan kurung lagi aku. Aku mau segera ke rumah sakit. Kalau Mama masih mengurung aku. Aku nanti tidak akan pulang.” Ucap Daniel sambil tangannya mengambil sandwich dan segera memasukkan ke dalam mulutnya karena dia memang sudah sangat lapar.
“Iya iya.. sudah tidak aku kurung lagi. Karena aku tahu kalau kamu sudah merasakan enaknya kamu akan tuman tidak usah dikurung kamu akan mengurungkan diri he... he... he...” ucap Nyonya Frederick sambil tertawa bahagia. Daniel segera menghabiskan sarapannya, lalu dia bangkit berdiri untuk berganti baju kerja.
“Ma, aku bantu Kak Dan untuk berkemas ya..” ucap Miranda yang juga ikut bangkit berdiri.
🤣🤣