Sahara tak pernah menyangka akan pernyataan cinta Cakra yang tiba-tiba. Berjalan bersama komitmen tanpa pacaran, sanggupkah mereka bertahan di atas gempuran hubungan rumit kedua orang tua Cakra dan Sagara yang ternyata adalah ayah kandung Sahara.
Apakah Cakra dan Sahara akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. LDR dadakan
"Ya ampun, kangen banget aku tuh!" Sinta memeluk Sahara heboh. Apalagi gadis itu berangkat ke tempat mereka janjian bersama Devon. Setelah dipikir-pikir, mereka sekarang adalah saudara sepupu dan Sahara lebih nyaman dekat dengannya sebagai itu, sebagai saudara.
"Baru juga beberapa hari nggak ketemu!" cibir Sahara akan tetapi tak hentinya menyunggingkan senyum. Ngomong-ngomong, ia jadi rindu sekolahnya dulu yang jauh dari masalah dan cewek-cewek dengki macam Sonia dan Ririn. Teman-teman lamanya ramah tamah dan yang jelas jauh-jauh dari tipe cowok setengil Baron yang suka malak uang jajan orang.
"Devon, kenapa lo diem aja sih?" Seru Sinta. Apalagi Devon hanya diam sambil liatin Sahara.
"Lagi ngelihatin makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah," gumamnya tanpa sadar membuat Sahara langsung tersedak. Padahalnya mereka duduk sebelahan dan Devon terus menatap ke arahnya.
"Lo gak apa-apa?" tanya Devon tanpa sadar menyodorkan air minum miliknya. Padahal di depan jelas Sahara punya minum miliknya sendiri.
"Ehm, cie. So sweet banget saudara dadakan ini," seru Sinta seolah menyadarkan kembali Devon pada statusnya.
"Wah sayang, padahal kalian cocok!" seru Rian membuat membuat keduanya meringis canggung.
"Lo belum punya pacar kan, Ra? Cowok kemarin bukan pacar kamu kan?" tanya Sinta dengan memicing meski ia sendiri tahu jawaban dari pertanyaannya. Mana mungkin Sahara tak memiliki something, apalagi mereka sampai tahap jalan bareng. Sama Devon aja belum pernah sekalipun jalan bareng, baru kali ini itupun sebagai saudara dadakan.
"Aku sama Cakra temen deket. Dan kita tuh sebenarnya bukan kenal sehari dua hari, tapi udah dari sejak aku umur delapan tahun." Sahara bersungguh-sungguh.
Devon menyimak dengan seksama, sudah ia duga. Sahara bukan type orang yang mudah didekati kalau nggak butuh bertahun-tahun mengenal.
"Tapi kalian lebih mirip seperti sepasang kekasih sih, jangan bilang dia suka sama lo." Kali ini Rian berpendapat.
"Hm ya, sepertinya kita saling suka," jawab Sahara.
"Tapi masalahnya banyak pengagum rahasia Cakra, jadi buat saat ini kita masih temenan. Takut ada yang kebakaran terus aku di gamprat. Kemarin aja udah dituduh-tuduh caper sama senior, untung aku pinter ngeles bajaj."
Sontak Sintia dan Rian tergelak mendengar curhatan Sahara.
"Temen-temen lo disana pada jahat?" khawatir Devon. Dibanding Sinta dan Rian yang terkesan santai menanggapi curhatan Sahara, Devon cenderung khawatir. Mungkin karena efek rasa cinta yang sempat bersemi sebelumnya.
"Lumayan!" jawab Sahara tentu membuat ketiga orang disana terkejut.
"Pindah oy pindah, balik aja kesini lagi bareng kita-kita, " ucap Sinta mengompori.
"Beb, jadi kompor!" peringat Rian.
"Kompor juga gue serba guna, ay!"
Acara temu kangen itu berlangsung dua jam, makan ngobrol santai saling curhat dan terakhir mereka keliling kota Ambarawa sampai malam.
Tak larut karena sekitar pukul sembilan, Sahara dan Devon pulang. Sagara sudah menunggu di rumah orang tua Devon.
"Nggak mau nginep, Ga? Mbak seneng banget kalau kamu dan Sahara nginep disini."
"Next time lah, Mbak! jarang kesini, mau tengok rumah Kinara dulu," pamit Sagara.
Sagara dan putrinya pulang, sekitar setengah sepuluh sampai di rumah sederhana bernuansa pedesaan yang sejuk. Tadinya, Sahara ingin menginap di panti, akan tetapi melihat papa seperti tak nyaman pun akhirnya mengalah. Memilih pulang ke rumah peninggalan kakek neneknya, kata Sagara.
"Kenapa baru tahu kalau rumah Oma dan mama deket sama panti," gumam Sahara kalau memasuki rumah yang terlihat nyaman dan sejuk. Pemandangan sawah di ujung jalan, udara dingin malam seolah menjadi lagu syahdu penenang.
"Rumah ini padahal sering papa kunjungi hampir sebulan sekali, atau paling lama kalau papa sibuk ya tiga bulan. Selalu asri dan nyaman."
"Kenapa kita baru ketemu sekarang ya, pa?" Sahara mendongkak, melihat ke arah langit dari teras rumah yang terdapat amben, tempat tidur yang terbuat dari bambu.
"Sangat-sangat papa sayangkan!" Sagara memeluk putrinya. Wajah tegas itu mulai berkaca-kaca. Orang bilang, kita akan menangis jika mengingat kesalahan di masalalu. Tak perduli, pria maupun wanita semua sama jika dihadapkan penyesalan tanpa ujung.
"Gak papa, Pa! Penyesalan memang selalu datang belakang, tapi kita juga harus tahu dibalik itu semua ada hikmah yang indah. Aku jadi bertemu Bu Arimbi, Mbak Asih, Wahyu, Nana dan yang lain. Aku juga jadi mengenal Tante Kinanti dan Cakra."
Mendengar nama Kinan dan Cakra membuat Sagara teringat sesuatu.
"Kamu suka dengan Cakra?"
"Menurut papa gimana? sejauh ini kami masih sebatas teman," aku Sahara.
"Cakra baik, dia juga menjaga kamu banget dan menurut papa cocok sama kamu. Hanya saja, papa pikir kalian masih terlalu muda untuk menjalin hubungan. Dia harus membuktikan kalau layak bersanding dengan putri papa ini." Sagara mengulas senyum, sepertinya keputusan membuat kedua orang tua Cakra balikan adalah hal yang tepat meski mundurnya Lendra di luar rencananya.
"Makin dingin, ayo masuk! Kamu masih laper nggak, mau papa pesan makanan?" tawar Sagara.
Sahara menggeleng, "nanti gendut lagi." dibalas gelak tawa Sagara.
"Mana ada gendut, bukannya kalau gendut udah dari kemarin-kemarin. Temen-temenmu bilang makanmu banyak," goda Sagara membuat Sahara tersenyum malu.
Puas bersenda gurau, ayah dan anak itu masuk ke dalam rumah mengistirahatkan tubuh mereka.
Pagi sekali Sahara bangun, sepagi ini ia sudah menghilang dari rumah tepat sebelum Sagara bangun. Sahara mandi sebentar sebelum akhirnya siap untuk jalan-jalan, jalan kaki pastinya.
Bukan ke mall, bukan ke tempat wisata melain ke sawah. Sahara sampai turun ke pematang demi melihat semburat kuning keemasan pertanda matahari mulai terbit meski malu-malu.
"Keren uy fotonya!"
Cekrek...
Sahara menggunakan ponselnya untuk membidik pemandangan sekitar rumah.
Send!
Iseng sekali ia mengirim pesan gambar ke Cakra di pagi buta.
"Assalamu'alaikum calon imam." Begitulah kira-kira, Sahara sampai terkikik membayangkan wajah Cakra yang baper bin memerah. Dosakah ia?
Tapi pesan itu tentu bukanlah sebatas bercandaan karena pada dasarnya dalam hati Sahara mengaamiin-kan ucapannya sendiri.
"Waalaikumsalam calon istri."
Skak! Tak berkutik, padahal mereka hanya bertukar pesan. Membuat pipi Sahara memerah bak tomat yang sedang ranum-ranumnya.
"Cakraaaa!" mungkin kalau sedang berdekatan ia akan meneriaki Cakra sebagai tanda protes. Sayangnya sekarang mereka sedang LDR dadakan. Membuat tumbuh rindu di hati.
"Ah Cakra, pagi-pagi bikin baper!" dumelnya sendiri sambil menyusuri pematang sawah. Seolah tanaman padi kanan kiri turun mendengar celotehnya. Padahal mah jelas, dari awal Sahara yang godain Cakra lewat pesan.
Bunyi getar ponselnya kembali membuat Sahara berhenti. Rupanya Cakra mengirimnya pesan bergambar.
Pap ke ayang,
"Masyaallah ini teh serius dia pake sarung!" Sahara senyum-senyum sendiri melihat foto yang dikirim Cakra. Foto dimana pemuda itu masih memakai sarung setelah sholat subuhnya setengah jam yang lalu.