Seorang gadis berparas cantik yang selalu menyembunyikan wajahnya dibalik cadar. Kini harus menyerahkan tubuhnya demi mendapatkan sebuah keadilan untuk kedua ALM orangtuanya yang dibunuh secara sadis oleh suruhan orang tersohor di daerah dimana mereka tinggal.
"Apakah kamu berjanji akan memberikan hukuman mati pada mereka Pak Hakim?" Tanya wanita itu pada seorang hakim ketua yang sudah tak bisa menahan gejolak hasratnya saat serbuk minuman itu sudah merasuki tubuhnya.
Sementara itu Zahira sudah memasang sebuah Camera tersembunyi di kamar hotel itu.
"Baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu. Tolong bantu aku untuk menuntaskan hasratku ini!" Seru ketua hakim itu dengan wajah memohon.
Zahira tersenyum kecut menatap wajah Pria yang sudah mendapatkan amplop coklat dari orang terkaya dan sekaligus dalang pembunuhan itu.
Yuk mampir ikuti kisah selanjutnya. Jangan lupa like komen ya🙏🥰🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Zahira hanya diam tak ingin menanggapi lagi ucapan suaminya, takut bila nanti dirinya akan hanyut dalam gombalannya, tak ingin terlalu cepat mencintai sebelum membuktikan sendiri kesungguhan Pria itu.
Tak berselang lama dua orang pelayan restoran itu sudah datang menyajikan menu yang mereka pesan. Zico menggelar sebuah karpet khusus bayi dan menidurkan Zafran disana.
Terlebih dahulu zico mengisi piring Zahira, melayani wanita itu penuh dengan perhatian dan kasih sayang.
"Makan, Dek," ujarnya menyerahkan piring yang telah berisi nasi beserta lauknya.
Zahira hanya mengangguk pelan, perasaannya entah, suasana mendadak canggung karena sikap Pria pemarah dan kaku itu berubah seratus delapan puluh derajat.
"Makan, Sayang, kenapa bengong? Jangan selalu menatapku nanti kamu kena pasal," ujar Pak Hakim itu menatap dengan serius.
"Pasal?" tanya Zahira tak mengerti, baru dengar ada pasal yang seperti itu.
"Iya, pasal cinta, dan akan di vonis kasih sayang seumur hidup," jawabnya yang kembali membuat Zahira tak bisa bicara, rasanya jantung wanita itu semakin bermasalah bila selalu berhadapan dengan hakim kang gombal itu.
"Rasanya bukan kamu yang ada dihadapan aku , Mas, benar nggak sih ini suami aku yang pemarah itu? Kenapa sekarang aku mendadak jadi Kenyang ya,"
"Hah! Kenapa?" Zico sedikit tertarik dengan ucapan sang istri.
"Kenyang karena gombalan seorang Hakim agung yang dulu bak singa lapar kini bagaikan seekor kucing anggora," jawab Zahira menatap tidak percaya.
"Kan tadi aku sudah jelaskan, bawa singa garang itu sudah menjadi sangat patuh dan lembut, karena kamulah pawangnya," balas Zico dengan senyum senang.
"Tau ah, ada aja jawaban kamu."
"Udah, ayo segera makan, nanti kamu tambah kenyang," Pria itu tampak begitu santai, sementara Zahira larut dengan perasaannya sendiri.
Saat sedang makan, tetiba Zafran menangis. Zahira tergesa mencuci tangannya, tetapi sang suami melarang.
"Tidak usah, Dek, biar aku saja yang menimangnya, lanjutkan makanmu," titahnya begitu perhatian, dan segera mencuci tangannya dan membuai bayi mungil itu.
"Kenapa, anak Abi? Kamu bosan hanya disini ya, bentar ya Nak, Umi sama Abi makan sebentar ya, habis itu kita akan jalan-jalan kembali di pinggir pantai," ocehan Pria itu pada bayinya.
Zahira segera mempercepat makannya agar Zico juga menyelesaikan makannya.
"Jangan terburu-buru, Dek, aku masih sabar kok," celetuk Zico saat melihat sang istri tampak tancap gas menghabiskan makanannya.
Zahira hanya mengangguk pelan, rasanya hari ini hatinya hampir saja goyah melihat sikap lembut dan penuh perhatian Abi dari anaknya.
Selesai menghabiskan makanannya, Zahira segera mengambil alih Zafran dari pelukan Abinya. Dan membiarkannya untuk makan lebih nyaman tanpa tergesa-gesa.
Alhamdulillah akhirnya pasangan itu dapat menikmati makanan yang cukup lezat itu, sehingga membuat perut mereka kenyang dan mengucapkan syukur.
Setelah menghabiskan waktu seharian berada di pantai, kini pasangan itu pulang dengan perasaan yang diliputi kebahagiaan dalam rongga dada mereka.
Setibanya dirumah, Zahira segera mengurus bayi mungil itu untuk memandikan dan memberi ASI hingga dia kembali terlelap menjelang sore.
Setelah menidurkan Zafran, Zahira bangun dari rebahannya, tanpa sadar wanita itu mencari kehadiran sang suami yang tak menampakkan diri setelah mereka berpisah di ambang pintu kamar.
"Bik, Mas Zico kemana ya?" tanya Zahira tanpa sadar secara tak sengaja kehilangan Pria yang sudah memberinya kenyamanan seharian ini.
"Tuan, tadi Bibik lihat masuk keruang kerja, Non," jawab Bibik melihat kemana perginya majikan laki-lakinya itu.
"Oh." Wanita itu ber oh ria, dia kembali masuk kedalam kamar, tak ingin mengganggu kesibukan suaminya.
Zahira segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, saat keluar dari kamar mandi, Zico sudah berdiri diambang pintu, sontak membuat wanita itu terjingkat.
"Hai, cantik, udah mandi? Pantas wangi banget," sapanya dengan senyum lembut sembari menatap lekat pada tubuh sang istri yang sudah berpakaian lengkap menggunakan piyama panjang lengan, tetapi rambutnya masih terbungkus handuk.
"Sana mandi, Mas, aku siapkan pakaian ganti kamu," ujar Zahira segera berlalu karena merasa tidak nyaman ditatap begitu lekat.
"Oke, Sayang, makasih." Zico segera masuk kedalam kamar mandi.
Wanita itu menghela nafas lega, karena terlepas dari tatapan kucing anggora yang mempunyai tatapan lapar seorang singa. Mendadak hati wanita itu tidak tenang. Bagaimana jika Pria itu meminta haknya.
Setelah menyediakan pakaian ganti, Zahira duduk di depan meja rias, yang pastinya meja baru pengganti yang lama setelah porak poranda dibuat oleh hakim saat menjadi singa ganas.
Zahira segera ingin membuka lilitan handuk yang masih menutup mahkotanya, tetapi terhenti saat melihat sang suami keluar dari kamar mandi.
"Kenapa berhenti? Bukalah, aku ini suamimu. Aku ingin melihat wajah cantikmu saat tak menggunakan hijab seperti kamu datang padaku malam itu," ujarnya yang membuat jantung wanita itu berdenyut.
"I-iya, nanti saja," jawab Zahira, entah kenapa dia masih malu untuk membuka auratnya. Jujur, hanya dialah lelaki pertama yang melihat auratnya.
Zico hanya mengangguk, Pria itu tak ingin memaksa, tak mau bila sang istri jadi takut padanya. Ia ingin membuat wanita itu luluh dengan sendirinya atas segala sikapnya.
Setelah mengenakan pakaian ganti, Zico pamit untuk kembali keruang kerjanya, karena masih banyak pekerjaan kantor dan tugas dari pengadilan negeri yang ia selesaikan.
"Dek, aku balik keruang kerja ya. Kalau kangen samperin aja, aku dengan senang hati menunggu," ujarnya yang membuat wajah wanita itu kembali bersemu. Kenapa Pria ini semakin pandai menggoda.
"I-iya, mau teh, kopi?" tanya Zahira mencoba mencairkan suasana.
"Apa saja boleh, asalkan kamu yang bikin. Dikurangi gulanya, banyakin senyum kamu biar tambah manis dan suasana kembali hidup bila aku melihat senyum dibibir kamu," balasnya kembali.
"Mas, kenapa kamu sekarang jadi kang gombal sih? Nggak akan luluh," jawab wanita itu masih berlagak sekeras batu, meskipun hatinya hampir menjadi agar-agar karena mendapatkan gombalan dan rayuan dari Pak Hakim agung itu.
"Tak masalah bila sekarang belum luluh, tetapi aku akan tetap berusaha. Asalkan kamu tidak pergi dariku. Tetaplah selalu dampingi aku, agar aku kembali kejalan yang benar, aku yakin hanya kamu wanita satu-satunya yang memiliki hatiku," ucap Zico tampak serius tanpa gombalan.
Zahira hanya diam seribu bahasa, tak tahu harus menjawab apalagi, karena semuanya telah dipatahkan dengan ucapan kesungguhan sang suami.
Pria itu mendekat menghampiri dimana Zahira masih duduk didepan cermin hias. Pria itu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah keramas.
"Istirahatlah, nanti saat magrib aku bangunkan," ucap Zico sembari memberi tanda sayang di kening sang istri.
Seketika wajah Zahira memerah sempurna seperti mengenakan blush-on. Kembali ia merasakan sentuhan dari Pria yang sudah satu tahun yang lalu memberinya rasa hingga sampai saat ini tak pernah ia lupa.
Bersambung....
Happy reading 🥰
untuk mencari pasangan harus berbuat zina dulu lalu wanita nya hamil... alias zina dulu baru halal.
payah ...banget.!!!! jangan sampai karya anda ini ditiru orang lain**.Bukan salah bunda mengandung **
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga ridho org tua selalu membawa berkah bagi keluarga sang anak dan menantu nya.