Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi Seluas Samudra
Seminggu lagi, sekolah bakal ngadain Prom Night.
Poster besar ditempel di papan mading. Lampu-lampu glitter, tulisan norak, dan slogan berlebihan.
One Night. One Memory.
Aira berhenti di depan poster itu agak lama.
“Prom Night…”
"Damar pergi nggak ya," gumam Aira masih memandang poster itu.
Di belakangnya, Damar berdiri sambil melipat tangan. Wajahnya datar. Terlalu datar untuk seseorang yang jantungnya deg-degan.
Yoan melirik. “Lu ngajak, dia kan?”
Damar langsung menoleh. “Ngajak apaan?”
“Prom Night."
“Ngapain?”
“YA PACARAN?” Dinan nimbrung.
Damar mendengus. “Norak.”
"Ya Makan, foto, Acara perpisahan," Yoan mejelaskan dengan detail.
Kemudian Yoan lanjut tertawa. “Norak tapi lu pengen ngajak Aira kan.”
“Ngaco.”
"Evan di undang lho," Dinan mulai manas manasin,
"Doi kan masih kelas 2 bukan Akselerasi kaya kita," Damar agak ragu dengan ucapan Dinan.
"Dia tamu kehormatan sebagai Atlet Nasional berprestasi,"
Aira nengok ke arah mereka. “Kalian kenapa?”
“Enggak apa-apa,” jawab Damar cepat. Terlalu cepat.
Aira mengangguk polos, lalu pergi.
Begitu Aira menjauh, Dinan langsung nyeletuk,
“Kalau lu nggak ngajak, Evan pasti ngajak.”
Damar menegang. “Evan?”
“Atlet Nasional berprestasi yang senyumnya nyebelin.” Kata Yoan.
Damar mendecak. “Dia berani.”
Yoan nyengir. “Berani karena lu pengecut.”
Damar melotot. “Gue bukan pengecut...”
" Gengsi lu geude,” Potong Yoan. “Segeude Samudra”
Hari-hari berlalu..
Prom Night makin dekat.
Aira beberapa kali dengar teman-temannya heboh bahas gaun, sepatu, di ajak sama Kakak kelasnya yang udah lulus.
“Damar ngajak kamu ke prom?” tanya Nona.
Aira tersenyum kecil lalu menggeleng, "Nggak,"
Di sisi lain, Damar makin absurd.
Ngasih jaket ke Aira.
"Pake Jaketnya di luar dingin,"
"Iya," Aira memakai Jaket yang di berikan Damar.
Nanyain pulang jam berapa.
"Kamu, Pulang jam berapa?"
"Jam 3, kaya biasa,"
"Oh,"
Ngomel kalau Aira lupa makan.
"Tuh kan, Kamu lupa lagi bawa bekal"
"Iya, iya, Maaf..."
Tapi…
Prom Night? Nol pembahasan.
Aira mulai mikir.
"Apa Damar nggak mau datang ya?"
Malam itu, Yoan dan Dinan duduk di kamar Damar.
“Deadline pendaftaran besok,” kata Dinan.
Damar rebahan, nutup muka pakai bantal.
“Kalau gue ngajak duluan… keliatan banget suka,” gumamnya.
Yoan menatapnya datar. “LU EMANG SUKA.”
“DIAM.”
Dinan nyengir. “Atau lu tunggu dia yang ngajak?”
“Dia cewek,” jawab Yoan cepat.
“Terus?”
“Gengsi.”
Yoan berdiri. “Oke.”
Yoan mengambil HP Damar.
“LU NGAPAIN?” Damar panik.
“Nyelamatin hubungan orang,” kata Yoan.
Damar meloncat, merebut HP-nya.
“JANGAN!”
Sunyi.
Damar duduk, menghela napas berat.
“Gue cuma…”
“Takut kelihatan butuh.”
Dinan menepuk bahunya. “Kadang, kelihatan butuh itu bukan lemah.”
Yoan nyengir. “Apalagi kalau yang dibutuhin Aira.”
Damar menatap layar HP Nama Aira menyala di sana.
Jarinya ragu gengsinya besar.
Beberapa jam sebelum deadline pendaftaran Prom Night.
Aira duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.
Satu chat masuk.
Evan:
Aira, mau nggak jadi pasangan aku di Porm? Aku daftarin kita ya.
Aira menatap layar itu lama.
Jarumnya jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya.
Dia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Akhirnya-
Aira:
Terimakasih ajakannya, tapi maaf.
Aku nggak bisa.
Balasan Evan datang cepat.
Evan:
Kenapa? Kamu sakit?
Aira menggigit bibir.
Aira:
Enggak. Cuma… ada hal lain.
Titik tiga muncul. Hilang. Muncul lagi.
Evan:
Oke. Kalau berubah pikiran, bilang ya.
Aira meletakkan ponsel.
Dadanya terasa kosong bukan karena Evan.
Tapi karena satu nama lain yang belum muncul.
Damar.
Aira melirik jam, tiga jam lagi.
“Kalau dia nggak ngajak…” gumamnya pelan, “ya udah.”
Di kamar seberang, Damar menatap layar laptop.
Form pendaftaran Prom Night masih kosong.
Kolom Partner.
Kosong.
Yoan melirik. “Belum dapet pasangan?”
“Belum,” jawab Damar singkat.
Dinan menyeringai. “Atau belum berani?”
Damar menutup laptop keras. “Deadline-nya jam sembilan.”
“Sekarang jam enam,” kata Yoan. “Masih ada waktu.”
Damar berdiri keluar dari kamarnya,
“Ke mana?” tanya Dinan.
“Nyari solusi.”
“Solusi atau Aira?”
Damar berhenti sebentar. Lalu jalan lagi tak menjawab.
Di lorong, Aira baru keluar kamar.
Mereka hampir bertabrakan.
"Euh”
“Oh”
Sunyi canggung.
Damar melirik jam tangannya. “Kamu… udah ada yang ngajak?”
Aira menggeleng cepat. “Belum.”
Hening lagi.
“Evan?” tanya Damar, nadanya datar tapi rahangnya menegang.
“Udah aku tolak,” jawab Aira jujur. “Dari tadi.”
Damar terdiam.
Beberapa detik yang terasa panjang.
“Kalau gitu,” katanya akhirnya, “Mau nggak jadi Pasangan aku.”
Aira menatapnya. “Itu ngajak… atau kepepet?”
“Ngajak lah,” jawab Damar tanpa ragu. “Aku nggak ada pasangan.”
Aira menahan senyum.
Aira melangkah mendekat. “Oke.”
“Jadi?” Damar mengerutkan kening.
"Iya aku mau,”
“Serius?”
Aira mengangguk. “Serius.”
Damar menghela napas. Seolah baru sadar napasnya ditahan dari tadi.
“Jam sembilan aku daftarin.”
Aira tersenyum. “Jangan telat.”
Damar berbalik pergi.
Tapi sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti.
“…Terima kasih.”
Aira tertegun, itu bukan kalimat besar tapi cukup bikin dadanya hangat.