"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak jadi periksa
Yandra segera keluar dari kamar dan membiarkan Runi sendirian mengobati luka perasaan karena ucapannya. Runi mengusap perutnya dengan lembut.
"Kamu harus bertahan ya, Nak. Kamu dengar sendiri bahwa ayah menginginkan kamu tetap hidup. Nggak pa-pa, ibu ikhlas jika harus mengalah. Kamu berhak untuk lahir ke dunia ini. Yang penting kamu sehat dan kuat," ujarnya tersenyum haru. Meskipun perkataan Yandra terdengar sangat menyakitkan, tetapi ia cukup merasa tenang karena Yandra mau menerima bayinya.
Siang ini Runi enggan untuk ke RS. Ia tidak ingin dokter Vano mengetahui penyakit yang tengah ia derita. Takut bila mereka mempunyai alasan untuk menggugurkan kandungannya. Pasti Nyonya Emeli dan Yandra akan mendukung, agar mereka terbebas dari tanggung jawab ini.
Yandra yang sudah menunggu di RS, tetapi Runi belum juga datang. Bukankah tadi sudah ia katakan agar datang ke RS untuk melakukan pemeriksaan ulang dengan Dr Vano.
"Mana istrimu belum juga datang, Yan?" Tanya Vano yang sengaja meluangkan waktu untuk menunggu adik iparnya.
"Sebentar aku telpon Runi dulu, Bang," jawab Yandra segera menghubungi nomor Runi, tetapi tak ada jawaban dari wanita itu.
"Nggak di angkat lagi. Ngapain aja tuh orang?" Omel Yandra kesal sendiri.
Karena tidak ada jawaban dari Runi, Yandra menghubungi mamanya untuk nyamperin Runi di kamarnya.
Mama malam banget berurusan sama dia. Kalau di bilangin selalu aja ngejawab," ujar Mama enggan.
"Ayolah, Ma. Ini Bang Vano udah nungguin. Kalau nggak aku bawa Runi periksa disini, papa akan ngomel lagi. Capek dengerin omelan papa setiap hari," ujar Yandra memohon pada sang Mama.
"Ya baiklah, akan mama lihat dia ke kamar." Akhirnya wanita baya itu mengikuti perintah putranya. Kesal juga sama suaminya yang selalu saja memanjakan menantunya itu.
Nyonya Emeli memasuki kamar Runi. Terlihat wanita hamil itu masih tertidur pulas.
"Dasar pemalas. Jam segini masih saja tiduran," gerutunya sembari mendekat.
"Runi, bangun!" Nyonya Emeli mengguncang bahu Runi sedikit kuat.
Runi membuka matanya dengan perlahan. Seketika ia terjingkat saat di suguhkan wajah antagonis di hadapannya.
"M-mama!"
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu? Kayak lihat hantu saja!" ujar wanita paruh baya itu menatap sinis.
"Y-ya memang kurang lebih seperti itu," jawab Runi nyengir.
"Kamu bilang apa? Kamu bilang wajah mama kayak hantu? Nggak ada sopan-sopannya kamu ya. Semakin berani kamu sama Mama?" Mama menatap garang.
"Ng-nggak, aku nggak bermaksud seperti itu. Yang bilang kayak hantu kan mama sendiri," kilah Runi masih dengan senyuman.
"Kamu nggak lihat ini udah jam berapa?" Tanya Mama.
Runi menatap jam di dinding yang ada di kamar itu. "Jam dua siang, emangnya kenapa?" Jawabnya acuh.
"Emangnya kenapa, kamu udah janji sama Yandra mau periksa ke RS 'kan?"
"Aku nggak janji tuh. Lagian aku udah baik-baik saja, ngapain aku harus periksa lagi," jawab Runi santai.
Nyonya Emeli mengerutkan keningnya. Apa sih maksud anak ini? Seketika ia menghubungi Yandra.
Sementara itu di RS. Yandra dan Vano sudah cukup lama menunggu. Mereka di buat jengkel oleh Runi yang sesuka hati membatalkan pemeriksaan yang sudah di rencanakan.
"Sudahlah, kamu pulang saja. Mungkin keadaannya memang sudah lebih baik. Wanita hamil memang begitu, moodnya yang mudah sekali berubah-ubah," ujar Vano sangat memahami.
Yandra menghela nafas dalam. "Yaudah, aku minta obat mual saja, Bang. Yang bagusnya, yang cair saja, biar aku suntikkan memberinya," ujar Yandra terpaksa meminta obat pada sang kakak.
"Baiklah akan Abang tuliskan resepnya." Vano menuliskan resep obat untuk di bawa ke apotik.
Setelah mendapatkan obat yang di inginkan, Yandra segera pulang. Sesampainya di rumah ia mendapati Runi tengah rebahan sembari memainkan ponselnya. Kedatangannya membuat wanita itu seketika duduk.
Yandra berjalan menghampiri, lalu meletakkan jinjingan obat yang ia bawa dari RS.
"Mas baru pulang?" Sapa Runi tersenyum teduh.
"Hmm," jawab lelaki itu menggumam.
"Mau aku buatin kopi?" Tawarnya.
"Nggak usah."
"Tadi kenapa tidak datang ke RS?" Imbuh Yandra sembari membuka kemejanya.
"Karena aku merasa sudah baik-baik saja," jawab Runi.
"Apakah kamu sengaja menghindar agar tidak di lakukan tes DNA?" Tanya Yandra membuat Runi seketika terdiam.
"Nggak juga tuh. Aku hanya memang sedang malas saja mau ke RS. Kan semalam sudah periksa," elak Runi. Bukan karena ia menghindar, tetapi hanya takut bila dokter menyarankan agar bayi keluarkan.
Bersambung....