Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersandarlah
Tak ada suara yang keluar dari mulut Zee, namun matanya sudah menjelaskan seberapa terpuruknya seorang Zee saat ini.
Airmata itu terus menetes menyusuri pipi Zee yang penuh lebam sisa pertarungan nya tadi. Pandangan nya lurus ke ruang operasi, terlihat kosong dan penuh kesedihan.
Ben menghela nafasnya panjang, tak pernah mengira kalau dirinya ada disamping gadis itu saat ini. Bahkan bisa dibilang Ben selalu ada disaat yang tepat, saat Zee membutuhkan bantuan.
Ben melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Sudah hampir jam 1 dini hari.
Ben kembali menatap Zee. Ia yakin gadis itu belum makan, mengingat perawat bilang Zee pergi sejak selesai menyuapi emak makan malamnya.
Ia merogoh ponselnya, mengirim pesan pada Zacky untuk mencarikan mereka makan sekalian, tak butuh waktu lama untuk Zack menjawab.
Tiba-tiba Ben berdiri, namun Zee tetap tak menyadarinya. Ia bergeming dan masih menatap kosong lurus kedepan.
Tanpa kata, Ben meraih tangan Zee. Membuat Zee tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Ayo.. " Ajak Ben pada Zee yang terlihat bingung.
"Saya mau nunggu emak dioperasi pak.. " Zee bergeming, ia masih duduk seperti semula.
"Luka diwajah mu harus diobati, Zee". Jelas Ben saat Zee tak juga bangkit.
" Saya tidak apa-apa, pak Ben". Zee bahkan lupa dengan luka di wajah dan tubuhnya.
"Jangan egois Zee... " Zee mendongak, matanya menyiratkan ketidaksukaan dari ucapan Ben.
"Kamu tidak berpikir bagaimana nanti reaksi emak saat sadar? ". Pancing Ben, saat ini hanya dengan menggunakan nama emak Zee akan menurutinya.
" Luka diwajah mu parah Zee. Kalau sampai operasi ini selesai dan nanti emak sadar, kemudian melihat mukamu begini. Kira-kira apa yang akan terjadi pada emak? ".
" Kamu tidak mau menemui emak saat sadar?". Ben tersenyum tipis saat melihat Zee mulai terpengaruh ucapannya.
"Ayo ikut aku". Ben menarik tangan Zee hingga akhirnya gadis itu bangkit dari duduknya.
Ben membawa Zee ke IGD rumah sakit, mengurus pendaftaran dan bahkan menunggui Zee yang sedang diobati lukanya.
Ponsel disaku nya bergetar, ia merogoh nya dan melihat siapa yang menghubungi nya. Leon.. gumam Ben.
"Dimana kalian? Kenapa tidak ada didepan ruang operasi? ". Tanya Leon begitu panggilan tersambung.
" Aku sedang di IGD. Luka Zee perlu diobati dulu". Sahut Ben yang matanya terus fokus pada Zee. Beberapa kali Zee meringis saat kasa beralkohol menyentuh luka nya.
"Aku kesana.. "
"Tidak perlu. Tunggu disana, selesai diperiksa dokter aku akan kesana dengan Zee" . Leon akhirnya pasrah saja. Ia percaya Zee baik-baik saja apalagi ada Ben bersama dengannya.
Luka di wajah Zee sudah diobati, luka terbuka di pelipis nya juga sudah diplester. Kini dokter tinggal memeriksa kondisi tubuhnya saja.
Ben keluar dari bilik saat seorang dokter meminta Zee melepaskan hoodie dan kaos yang dipakai nya.
"Bagaimana kondisinya dok? ". Tanya Ben saat dokter yang memeriksa Zee keluar dari bilik.
" Cukup parah pak, hampir seluruh tubuhnya memar dan kebiruan. Pastinya badannya akan terasa sakit semua esok hari". Jelas dokter kemudian duduk diikuti Ben yang juga duduk di seberangnya.
"Apa berbahaya? ". Tanya Ben lagi.
" Sejauh pemeriksaan saya, tidak ada tulang yang patah ataupun luka dalam. Kedepan jika ada keluhan bisa langsung diperiksa kan lagi". Ben mengangguk mendengar penjelasan dokter. Ia sedikit lega kondisi Zee tidak berbahaya.
"Saya bisa memberikan pengantar jika bapak ingin memastikan kondisi nya dengan rontgent". Usul dokter.
Ben berpikir sejenak sebelum menolaknya. Karena ia yakin Zee tak akan mau menjalani serangkaian pemeriksaan itu.
" Saya akan resep kan obat untuk pereda nyeri nya. Juga akan saya berikan salep untuk luka memarnya.. "
"Berikan obat yang terbaik". Dokter mengangguk disertai senyum ramah.
" Silahkan lakukan pembayaran dan menebus obatnya didepan ya pak.. " Ben mengangguk dan bangkit. Sebelum keluar ia menemui Zee dan meminta Zee untuk menunggu sebentar.
"Tunggu disini dulu. Rebahan dulu.. " Perintah Ben pada Zee. Gadis itu mengangguk patuh, namun ia tak berbaring melainkan tetap duduk seperti posisinya sejak awal.
Ben keluar, membayar biaya administrasi pengobatan Zee kemudian menebus obat yang sudah diresepkan dokter. Setelahnya ia kembali masuk kedalam bilik didalam IGD.
"Ayo pak.. kita kembali". Zee sudah berdiri di ambang pintu IGD. Membuat Ben menghela nafasnya dengan kasar.
Tadinya ia akan meminta dokter untuk memaksa Zee beristirahat dulu disana. Namun rupanya gadis itu sudah lebih dulu keluar.
Keduanya berjalan bersisian dalam keheningan. Tak ada yang bersuara, hanya suara sepatu yang beradu dengan lantai rumah sakit.
" Hati-hati! ". Peringat Ben sambil medekap pundak saat Zee hampir terjatuh karena lantai yang tidak sejajar.
" Terimakasih pak.. " Lirih Zee. Gadis ceria itu benar-benar hilang, kini hanya ada Zee yang muram dan bersedih.
Sampai didepan ruang operasi, Zee segera duduk disamping Aurel. Gadis itu bertanya tentang urusan administrasi pada Aurel dan dijawab Aurel jika semua sudah selesai dan aman. Setidaknya Zee bisa bernafas sejenak saat ini.
"Bagaimana?". Tanya Leon pada Ben.
" Tidak terlalu baik. Tapi tidak ada yang berbahaya". Jelas Ben sekena nya. Ia yakin Leon paham apa yang diucapkan nya.
"Syukurlah.. " Gumam Leon yang kini menatap Zee. Pandangan gadis itu sudah kembali lurus pada pintu ruang operasi, membuat Leon dan juga Ben menghela nafas panjang.
Tak lama Zack kembali dengan membawa dua kantong kresek ditangannya. Zacky meletakkan dua kantong kresek itu ke kursi dan mulai mengeluarkan isinya.
"Ayo makan dulu.. " Ajak Ben pada Zee yang langsung menggeleng lemah.
"Jangan keras kepala Zee.. " Peringat Ben.
"Ben benar Zee. Kamu pasti belum makan dari tadi.. " Aurel ikut membujuk.
"Makan Zee, jangan ngeyel". Suara Leon sudah kembali terdengar lembut.
" Aku nggak laper ". Lirih Zee
" Menunggu juga butuh tenaga Zee. Ayo makan, kita makan sama-sama ". Kini Zacky bersuara membuat Zee akhirnya menuruti keinginan semua orang.
Kelima orang itu makan demi menjaga kesehatan mereka sendiri. Zee makan dalam diam, dan airmata kembali menetes.
Rasanya sulit sekali menelan makanan ini. Pikirannya tetap tertuju pada emak. Semua membiarkan Zee menangis sambil makan. Mereka tahu ini tak mudah untuk Zee.
" Minum obat mu dulu". Ben mengeluarkan obat-obatan yang harus Zee minum. Dengan patuh Zee menerima dan meminum obatnya.
Selesai makan, Ben menyuruh Zacky untuk pulang. Bagaimanapun Zacky sudah berkeluarga. Istrinya pasti cemas jika suaminya tak pulang. Apalagi saat ini sudah jam 2 Pagi.
Sepeninggal Zacky, kini hanya menyisakan empat orang yang saling diam. Aurel sudah bersandar di pundak Leon. Rasa kantuk sudah menyerangnya. Ben yang melihatnya pun akhirnya buka suara.
" Di belakang ruang rawat inap ada paviliun yang disediakan rumah sakit. Bisa disewa untuk penunggu pasien. Antarkan Aurel kesana untuk istirahat.. " Leon menoleh pada kekasihnya yang sudah setengah tertidur.
Tidur dalam posisi duduk pasti tidak nyaman. Akhirnya Leon membangunkan kekasihnya itu dan menuruti saran Ben.
"Aku akan kembali setelah mengantar Aurel". Pamit Leon yang dijawab Ben dengan anggukan kepala.
Kini tinggal Ben seorang diri yang menemani Zee. Bukan ia tak mengantuk ataupun lelah. Namun hati nuraninya tidak memperbolehkan dirinya meninggalkan Zee seorang diri. Gadis itu butuh sandaran, dan Ben ingin menjadi orang yang bisa Zee gunakan untuk bersandar.
Wajah Zee juga sudah terlihat sangat lelah, matanya juga terlihat sayu. Nampak jelas gadis itu mengantuk namun menahannya.
Ben menggeser duduknya tepat disamping Zee. Tangannya meraih kepala Zee yang sudah terantuk-antuk karena lelah dan pastinya mengantuk untuk bersandar di pundak nya.
" Bersandarlah". Zee yang sudah setengah sadar menurut saja dan dalam sekejap ia sudah terlelap. Mungkin lelah ditambah efek obat yang diminum Zee tadi.
Ben menatap wajah damai Zee yang kini terlelap di pundaknya. Ben tidak mengerti mengapa ia berbuat sejauh ini untuk seorang gadis yang bahkan tidak dekat dengan dirinya. Bahkan bisa dibilang mereka belum lama saling mengenal.
"Kamu gadis kuat Zee.. " Gumam Ben yang kini menyandarkan tubuhnya ke tembok. Ia kembali memposisikan kepala Zee supaya nyaman dan tidak sakit leher saat nanti bangun.
Tak lama Ben ikut terlelap dengan posisi duduknya. Dengan Zee yang bersandar dengan nyaman di bahu lebarnya.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...asupan siang ini dulu gasiiii🥳🥳😘...
...Satu dulu ya ges.. satu lagi menyusul sesaat lagi🤭😂...
...Jangan lupa like komennya ya best.. ...
...Happy reading semua🫰🫰 saranghae 💋💋💋❤🌹🌹🌹🥰😍😘😍🥰💋🤩...