Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 30
Setelah makan malam selesai, para orang tua kembali membicarakan kembali perihal lamaran tersebut. Zai maupun Ruri tak terburu-buru untuk menikah. Keduanya ingin menikmati masa pacaran dulu sebelum halal.
Dan akhirnya keputusan pun telah ditetapkan akan diadakan acara pertunangan bulan depan. Kedua pihak keluarga sangat bahagia terutama untuk Zai dan Ruri yang akhirnya menemukan tambatan hati setelah sekian lama sendiri.
Mereka pun berpamitan pulang karena hari sudah malam. "Terimakasih atas jamuan makan malamnya Pak, Bu. Semoga silaturahmi ini tetap terjalin selalu," kata Pak Gatot saat menyambut uluran tangan calon besannya.
"Pasti Pak. Kita sekarang sudah seperti keluarga.," ucap Pak Dedi tersenyum ramah.
Setelah semuanya berpamitan, Zai dan keluarganya meninggalkan kediaman rumah orang tua Ruri. Berry yang berada di gendongan Ruri tampak menahan kantuknya. Sebab sejak tadi dirinya bermain dengan Gabriel di kamar.
*
Di tempat lain, Reni dan keluarga kecilnya baru saja tiba malam ini di Indonesia. Perjalanan mereka ternyata masih panjang. Brian pun memutuskan untuk mencari hotel yang terdekat di Bandara Soekarno Hatta karena lelah selama berada di pesawat beberapa jam.
Mereka pun menaiki taksi yang kebetulan kosong dan segera meminta sang sopir menuju hotel.
Kedua anak mereka pun terbangun. Jordan menanyakan apakah sudah sampai? Dan Reni pun menjawabnya dengan lembut. " Belum sampai sayang. Kita sekarang ke hotel untuk istirahat dulu. Kemungkinan besok baru tiba di rumah Kakek dan Nenek." kata Reni memeluk Jordan.
"Oke Ma."
Perjalanan hanya menempuh satu jam dari Bandara ke hotel. Brian pun keluar dari mobil dan membuka bagasi mobil mengambil barang-barangnya lalu membayar ongkos taksi tersebut.
"Terimakasih, Pak."
Sopir menerima uangnya dan juga mengucapkan terimakasih pada Brian. Lalu mobil tersebut melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Brian dan keluarga memesan 1 kamar besar untuk sehari saja. Pegawai tersebut langsung menyerahkan kunci kamar dan diantar oleh pegawai hotel lain melalui lift menuju lantai 3.
Pintu lift terbuka, Brian dan yang lainnya mengikuti kemana pegawai tersebut melangkah, hingga akhirnya sampai di depan kamar mereka. Dan pegawai tersebut segera berpamitan kepada mereka karena tugasnya telah selesai.
"Akhirnya, kita bisa tidur nyenyak Sayang. Aku sungguh lelah malam ini. Aku mau mandi dulu," ujar Reni yang tampak lelah setelah meletakkan Jordan di tempat tidur.
"Jordan mau mandi juga, Ma." rengek Jordan yang melihat mamanya pergi ke kamar mandi.
Reni pun memandikan Jordan dan Jodi lebih dulu dengan air hangat. Setelah setengah jam memandikan ke dua anaknya, Reni langsung meminta suaminya untuk memakaikan baju untuk Jordan dan Jodi disaat Reni mandi.
Beberapa saat kemudian, Reni keluar kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar dan rambut panjangnya yang basah. Brian yang melihat itu langsung bergegas mandi dengan cepat karena melihat kemolekan tubuh istrinya. Tak butuh waktu lama Brian mandi, dirinya langsung mengambil kaos di koper.
Hari sudah malam, Brian pun segera memesan makanan karena sudah lapar. Brian hanya memesan makanan lewat ponselnya.
Ting...Tong...
Pintu terbuka, kurir yang mengantar makanan segera menyerahkan pada Brian setelah lelaki itu membayarnya dengan uang lebih. Tentu saja, ini adalah rejeki untuk sang kurir makanan bertemu dengan Brian.
"Ambil saja uang kembaliannya."
"Terimakasih, Pak. Saya permisi." kata sang kurir langsung pergi dengan wajah cerahnya.
mampir y