NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Darah di Lantai Apotek

Alina berdiri di lorong apotek sebuah mal besar di Surabaya dengan tangan gemetar. Di genggamannya, terdapat sebotol asam folat dan vitamin penguat kandungan yang direkomendasikan artikel kesehatan yang ia baca semalam.

Meski hatinya masih hancur, naluri keibuannya mulai tumbuh. Ia memutuskan untuk berjuang. Anak ini tidak berdosa, batinnya berulang kali. Aku akan membesarkannya, meski harus sendirian.

Namun, saat ia berbalik hendak menuju kasir, langkahnya terhenti mendadak. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis.

Di sana, hanya berjarak lima meter darinya, berdiri Rendy Angkasa.

Pria itu tidak sendirian. Seorang wanita bergelayut manja di lengannya. Wanita itu cantik, berkulit putih bersih, mengenakan gaun branded yang harganya mungkin setara gaji Alina tiga bulan. Rambutnya ditata sempurna, dan jari manisnya dilingkari cincin berlian yang berkilau di bawah lampu neon apotek.

Itu pasti Sisca Angela.

Rendy tampak kurus dan tidak bersemangat, tapi ia membiarkan Sisca menarik-narik lengannya sambil menunjuk deretan produk perawatan kulit mahal.

"Sayang, yang ini bagus buat persiapan hari H nanti. Kulitku harus glowing pas resepsi," suara manja Sisca terdengar jelas, menusuk telinga Alina.

Alina mematung. Rasa mual kembali naik ke kerongkongannya, tapi kali ini bukan karena morning sickness, melainkan karena rasa sakit melihat ayah dari bayinya sedang merencanakan masa depan dengan wanita lain.

Rendy menoleh, dan pandangan mereka bertemu.

Wajah Rendy memucat seketika. Matanya membelalak ngeri, seolah melihat hantu. Ia refleks melepaskan tangan Sisca, gerakan kecil yang langsung disadari oleh tunangannya.

"Ren? Kenapa?" Sisca mengikuti arah pandang Rendy dan matanya menyipit saat melihat Alina. Naluri wanita itu langsung bekerja. Ia menatap Alina dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "Siapa dia?"

Alina menarik napas panjang. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya. Sekarang atau tidak selamanya, pikirnya. Rendy harus tahu. Ia berhak tahu bahwa ada darah dagingnya yang sedang tumbuh di rahim Alina.

Dengan kaki gemetar, Alina melangkah mendekat.

"Alina..." desis Rendy, suaranya penuh ketakutan. "Ngapain kamu di sini?"

"Aku perlu bicara, Mas," suara Alina parau namun tegas. Ia mengabaikan tatapan tajam Sisca. "Ini penting. Sangat penting."

Sisca mendengus kasar, ia melangkah maju menghalangi Rendy, menjadikan tubuhnya tameng. "Heh, Mbak. Kamu mantannya Rendy yang admin bank itu, kan? Yang sering diceritain Mama Mertua?" Sisca tersenyum sinis, penuh kemenangan. "Ngapain lagi ngejar-ngejar calon suami orang? Nggak punya harga diri?"

"Minggir," ucap Alina dingin. "Urusanku sama Rendy. Bukan sama kamu."

"Urusan Rendy adalah urusanku!" bentak Sisca, suaranya meninggi membuat beberapa pengunjung apotek menoleh. "Sebentar lagi kami menikah! Undangan sudah disebar! Jangan jadi pelakor ya kamu! Sadar diri dong, kamu itu cuma masa lalu yang nggak level sama keluarga kami!"

"Sisca, sudah..." Rendy mencoba menahan bahu Sisca, tapi wanita itu menepisnya kasar.

"Diam kamu, Ren! Biar aku kasih pelajaran perempuan nggak tahu malu ini!"

Alina merasakan emosinya memuncak. Ia meremas botol vitamin di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Aku nggak peduli kapan kalian menikah! Aku cuma mau bilang satu hal sama Rendy!" Alina menatap Rendy tajam, matanya berkaca-kaca. "Mas, tolong dengar aku..."

"Pergi!" teriak Sisca histeris, cemburu buta menguasai akal sehatnya. Ia takut Rendy goyah jika mendengar apa pun dari mulut wanita masa lalunya ini.

"Aku hamil anak Rendy!" teriak Alina akhirnya, kalimat itu meluncur begitu saja karena putus asa.

Hening.

Seluruh apotek mendadak senyap. Mata Rendy hampir keluar dari kelopaknya. Wajah Sisca memerah padam, campuran antara kaget, malu, dan murka yang meledak.

"Dasar pembohong!" jerit Sisca, suaranya melengking. "Kamu mau jebak Rendy, hah?! Dasar perempuan murahan! Hamil anak siapa ngakunya anak Rendy!"

"Ini anak Rendy! Aku nggak bohong!" balas Alina tak mau kalah, air matanya mulai jatuh.

Tanpa peringatan, tangan Sisca melayang mendorong dada Alina dengan keras.

"Pergi kamu dari hadapan kami! Dasar penipu!"

Dorongan itu kuat dan tiba-tiba. Alina yang kondisi fisiknya sedang lemah karena mual berhari-hari, kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung kakinya sendiri. Tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Ahh!"

BRAK!

Tubuh Alina jatuh menghantam lantai keramik yang keras. Apesnya, perut bagian bawahnya menghantam sudut rak display besi di belakangnya dengan keras sebelum ia terhempas ke lantai.

Rasa sakit yang luar biasa tajam langsung meledak di perutnya. Rasanya seperti ada yang robek di dalam sana.

"Alina!" teriak Rendy, hendak maju namun tangannya ditarik paksa oleh Sisca.

"Biarin aja! Dia cuma akting supaya kamu kasihan!" seru Sisca, meski wajahnya kini mulai terlihat panik melihat Alina yang meringkuk kesakitan di lantai.

Alina memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran deras. "Sakit..." rintihnya. "Sakit..."

Pandangannya mulai kabur. Di antara rasa sakit yang mendera, ia merasakan ada cairan hangat yang mengalir deras di antara kedua kakinya. Membasahi celana bahan kerjanya, lalu merembes ke lantai keramik putih apotek.

Darah.

Darah merah segar menggenang di bawah tubuh Alina, kontras dengan lantai yang putih bersih.

Pengunjung apotek mulai berteriak histeris.

"Darah! Ya ampun, dia pendarahan!"

"Panggil ambulans! Cepat!"

"Tolong ada ibu hamil jatuh!"

Rendy mematung melihat genangan merah itu. Lututnya lemas. Ia tahu apa artinya darah itu. Ia menatap Alina dengan horor. "Al...?"

Sisca menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak menatap darah yang terus mengalir. "Aku... aku nggak sengaja... dia yang..." Sisca mundur perlahan, ketakutan melihat akibat perbuatannya.

Alina merasakan kesadarannya mulai menipis. Rasa sakit di perutnya perlahan berganti menjadi rasa dingin yang mematikan. Tangan Alina yang berlumuran darah bergerak lemah, mencoba menggapai perutnya yang kini terasa kosong.

Ikatan batin itu putus.

Nyawa kecil yang baru saja ingin ia perjuangkan, kini luruh bersama egonya yang hancur.

Ia melihat wajah Rendy yang kabur di kejauhan. Pria itu tidak mendekat. Pria itu hanya diam, membeku di samping Sisca. Pengecut sampai akhir.

"Anakku..." bisik Alina lirih, air mata terakhir menetes dari sudut matanya sebelum kegelapan total merenggut kesadarannya.

Hari itu, di lantai dingin apotek, di tengah kerumunan orang asing yang panik, Alina Oktavia kehilangan segalanya. Cintanya, harga dirinya, dan satu-satunya harapan hidupnya. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah dendam mulai mengakar kuat, menunggu waktu untuk dibalas.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!