NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dimas Dan Anti Perfection-nya

“Sya, lo di mana?” suara Dimas serak, langkahnya tergesa sambil menutup hidung. Asap tipis mulai merayap di udara, menusuk tenggorokan.

“Gue… di sini,” suara Tasya terdengar dekat, tapi teredam.

Dimas menyusuri lorong, telapak tangannya meraba rak demi rak.

“Sya—!”

Tubuh mereka bertabrakan.

“Gue takut, Dim.”

Tasya langsung memeluknya. Lengannya mengunci pinggang Dimas, wajahnya tertanam di dada pria itu. Napasnya tersengal, hangat dan gemetar.

Lampu menyala.

Mendadak terang.

Dimas membeku. Tangannya menggantung di udara, tak tahu harus membalas atau menolak. Ia bisa merasakan getaran di tubuh Tasya—rapuh, nyata, tanpa tameng.

“So-sorry.” Tasya tersadar, buru-buru melepaskan pelukan itu. Wajahnya memerah, matanya menghindar.

Langkah kaki terdengar tergesa.

“Ada orang di dalam?!” teriak seorang petugas dari pintu.

“Kami di sini, Pak!” Dimas mengangkat tangan, lalu spontan menarik pergelangan Tasya agar mendekat.

“Kalian harus keluar sekarang. Ada korsleting di panel dekat tangga.”

Dimas langsung melangkah, tapi Tasya menahan.

“Tesis lo mana?”

“Udah, yang penting kita keluar dulu. Besok kita cari lagi.”

Tasya tak bergerak.

Dimas menghela napas singkat. “Sebentar, Pak. Barang kami ketinggalan di rak nomor delapan.”

Ia berlari kecil.

CLACK!

Percikan listrik menyambar dari panel. Petugas berteriak agar Dimas cepat-cepat.

Dimas sudah meraih tesis itu—lalu terlepas dari tangannya. Buku tebal itu jatuh, terselip di antara rak.

Lampu padam lagi.

“Kalian tetap di sini!” teriak petugas sambil menyerahkan senter. “Kami putus aliran listriknya!”

Langkah mereka menjauh. Sunyi kembali menelan ruangan.

Tasya mendecak kesal dan menghampiri Dimas.

“Kenapa sih lo selalu ceroboh!” gerutunya.

Dimas menoleh tajam. “Karena lo selalu harus diturutin.”

“Jadi lo nyalahin gue?” Tasya menyorotkan senter tepat ke wajah Dimas.

“Kalau lo gak maksa ambil tesis itu, kita udah di luar sekarang!”

“Akh!” Tasya terdiam. Rahangnya mengeras.

Ia menjatuhkan diri bersandar ke rak, lalu melemparkan senter ke arah Dimas. “Udah terlanjur kejebak. Pokoknya lo temuin dua tesis itu.”

Dimas mengusap wajahnya, menarik napas panjang. Ia tak membalas. Hanya berjongkok, meraba lantai, lalu kembali menyusuri rak.

Waktu merayap.

Udara makin pengap.

“Brengsek… lama banget,” Tasya mengipasi wajahnya. Blazernya ia buka, keringat membasahi pelipis. Kini hanya tanktop putih dan rok selutut yang melekat di tubuhnya.

Dua buku tebal mendarat di lantai dekat kakinya.

“Nih,” suara Dimas datar. “Judul yang lo mau.”

“Kurang ajar!” Tasya terlonjak kaget.

Dimas hanya menyeringai tipis. Ia bersandar ke dinding, senter diletakkan di lantai. Dari tasnya, ia menarik sebatang rokok.

“Apa lo gak capek jadi wanita sempurna?” tanyanya pelan.

Tasya menoleh. “Lo ngejek gue?”

“Sempurna itu capek, Sya.”

Asap rokok melayang, bercampur bau hangus dan debu buku lama.

“Semua harus kelihatan berhasil. Semua impian mesti kejadian. Kadang kita harus jadi orang lain biar pantas dinilai.”

Ia terkekeh kecil—hambar.

“Bokap gue bilang impian itu tujuan akhir,” lanjutnya. “Tapi dia sendiri tikus busuk. Nyokap gue yang nanggung semuanya.”

Dimas menunduk, bahunya turun sedikit.

“Hidup gue berantakan,” katanya lirih. “Tapi setidaknya… gue gak pernah bohong sama diri gue sendiri.”

Sunyi menggantung di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, Tasya tak punya bantahan.

Kenapa kalimat begitu justru keluar dari mulut orang kayak dia?

Dada Tasya terasa dihantam pelan—bukan keras, tapi tepat sasaran.

“Kenapa, Sya?” Dimas menyeringai tipis, lalu menjentikkan rokok di jarinya. “Lo ngerasa, kan?”

Tasya mendengus. “Lo pikir jadi gue itu gampang?”

Nada suaranya naik. Otot lehernya menegang, rahangnya mengeras.

“Gue nggak bisa hidup liar kayak lo, Dim.” Tatapannya menusuk. “Setiap hari anak buah bokap gue mantau. Mereka tau jam gue masuk kampus, sama siapa gue duduk, bahkan ke mana gue pergi setelah kelas selesai.”

Ia meraih kotak rokok dari tangan Dimas, menarik satu batang, lalu berhenti sejenak.

“Lo mau gue jujur, kan?” Rokok itu terangkat di antara dua jarinya. Telapak tangannya terbuka. “Korek lo.”

Dimas melempar korek itu. Tasya menyulut rokoknya—terlalu cepat menarik asap.

Ia terbatuk keras.

Dimas terkekeh, lalu mendekat. Sebotol air yang biasa ia bawa disodorkannya ke tangan Tasya.

“Pelan-pelan, Sya.”

Ia mengambil rokok dari jari Tasya, lalu mematikannya di lantai.

“Gue nggak pernah minta lo jadi kayak gue,” lanjutnya, suaranya turun. “Tapi lo juga nggak harus hidup buat nurutin semua hal yang bahkan nggak lo pilih sendiri.”

Tasya menoleh. Untuk sesaat, pertahanannya goyah. Kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini ia tekan rapat.

Waktu merayap ke tengah malam. Dua petugas belum juga kembali. Mereka duduk berdampingan, bahu nyaris bersentuhan. Keringat membasahi pelipis, udara makin berat.

“Nanti pas keluar,” ujar Dimas pelan, “napas lo bakal lebih lega.”

Tasya menunduk. Jemarinya saling bertaut.

Ia ingin percaya. Tapi hidupnya tak pernah benar-benar memberi ruang.

Dimas menatapnya dari samping.

Lebih lama dari seharusnya.

Ada sesuatu di wajah Tasya—rapuh, lelah, tapi tetap bertahan. Sesuatu yang membuat dada Dimas mengencang, sekaligus mengingatkannya pada siapa dirinya sebenarnya.

Lampu akhirnya menyala.

Beberapa petugas keamanan masuk dan segera mengarahkan mereka keluar. Lorong terasa lebih dingin, lebih nyata.

“Maaf nunggu lama,” ujar salah satu petugas. “Beberapa titik harus kami amankan.”

Dimas berjalan di belakang, mengantar Tasya sampai ke area parkir.

“Gue anter sampai mobil,” katanya singkat.

Di samping mobil, Dimas berhenti.

“Kalau suatu hari lo capek jadi sempurna…” ucapnya rendah, nyaris tanpa senyum.

“Jangan cari gue. Karena gue bakal bikin lo lupa semua aturan.”

Tiba-tiba Ponselnya bergetar.

Tasya sempat menangkap satu nama asing di layar.

Wajah Dimas berubah.

Bukan Dimas yang santai.

Bukan partner skripsi.

Ada sesuatu yang gelap—dan siap bangun lagi.

“Gue harus pergi,” katanya singkat.

Dan Tasya tahu—

kalimat barusan bukan rayuan.

Itu peringatan.

“Dimas, tunggu!”

Teriakan Tasya tenggelam oleh raungan mesin. Dimas tak menoleh. Ia sudah menaiki motornya, gas dipelintir tanpa ragu.

Ada sesuatu yang mendorong Tasya—bukan logika, lebih seperti naluri. Ia berlari.

Langkahnya terhenti di depan gerbang kampus.

Sekelompok motor berjajar membentuk setengah lingkaran. Bayangan tubuh-tubuh besar menutup jalan keluar. Beberapa tangan menggenggam kayu balok, santai tapi siap menghantam.

Orang itu…

Jantung Tasya menghantam dadanya.

Albert.

Pria yang pernah ia lihat malam itu. Di gudang tua. Dengan tatapan dingin yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.

“Kubilang jangan ikut campur urusan kami!”

Suara Albert menggema. Ia duduk di atas motor, kayu balok terangkat, diarahkan lurus ke dada Dimas.

“Hutang keluarga Asna udah gue beresin kemarin.”

Dimas turun dari motornya. Helm dilempar ke tanah. “Urusan lo selesai.”

Albert tertawa pendek. Kasar.

“Jangan sok bersih, anak muda.”

Ia memiringkan kepala. “Mentang-mentang lo pernah jadi orang kepercayaan Reza—algojo penagih utang yang ditakuti—lo kira bisa cabut gitu aja?”

Dimas melepas tas dari bahunya. Diletakkan perlahan di tanah. Lalu kemejanya dibuka satu per satu, memperlihatkan lengan yang penuh bekas luka.

“Gue nggak pernah takut siapa pun,” katanya datar.

Tatapannya naik. Mengunci Albert.

“Termasuk lo. Dan juga Reza.”

Udara mendadak menegang.

“Kalau lo mau nyoba nyali gue,” lanjut Dimas, melangkah maju setapak, “ayo.”

Tak ada aba-aba.

Dua orang melompat dari motor. Kayu balok diayun bersamaan, membelah udara.

Tasya membeku.

Semua terjadi begitu cepat—hingga dari belakang, satu bayangan muncul. Balok terangkat tinggi, diarahkan ke kepala Dimas yang tak menyadari.

“DIMAS—!”

Suara Tasya pecah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!