NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang mengikis

Elang duduk di ruang tunggu. Ia tidak terlalu suka dengan klinik tumbuh kembang. Terlalu banyak warna dan suara. Ia cemas distraksi itu akan memecahkan luka Kanara.

​Di sampingnya, Kanara diam membatu. Jemarinya memainkan resleting, matanya kosong menatap lantai.

​“Kanara Aulia Azzahra.”

​Mereka berdiri. Sesi ketiga dimulai.

Pintu ruang terapi terbuka. Elang melihat bahu Kanara mengendur saat matanya menemukan Kanara. Wanita itu sedang menata mainan, tampil sederhana dengan blouse krem dan rambut terikat.

​Nura mendekat, menyambut mereka dengan senyum yang memberi rasa hangat pada Elang.

“Hari Kanara,” sapanya lembut sambil membungkuk. “Hari ini kita main berdua, ya? Ayah boleh tunggu di luar.”

​Kanara ragu. Jemarinya masih memainkan resleting. Kakinya bergoyang gelisah.

​"Ayah tidak ke mana-mana, kok. Benar, kan?" Nura menatap Elang.

​Setelah menarik napas panjang, Elang mengangguk. "Iya. Ayah duduk di sini."

Senyum Nura merengkah. Kanara melangkah masuk. Nura menunggu dengan sabar sebelum akhirnya menutup pintu perlahan.

​Di dalam, Kanara duduk tegak di karpet. Tidak seperti sebelumnya, ia tidak lagi memeluk lutut.

Nura duduk menyamping, tidak langsung berhadapan dengan Kanara, memberi ruang sejauh satu meter. Di depannya, balok-balok disusun tanpa pola.

Tidak ada ajakan. Tanpa instruksi. Hanya bunyi balok bergesekan.

​Menit berlalu.

Kanara mulai melirik, sering tapi tidak lama.

​Nura tetap tenang. Ia tahu, dalam terapi sang anaklah yang harus memulai.

Balok terakhir tidak sengaja menggelinding, dan berhenti di dekat kaki Kanara.

Sebuah balok sengaja ia gulirkan hingga berhenti di dekat kaki Kanara.

​Tangan Kanara terangkat ragu. Akhirnya, ia mengambil balok itu, dan memindahkannya sedikit lebih dekat ke arah Nura.

Nura tidak tersenyum, tidak ada pujian berlebihan atau ucapan terima kasih. Ia hanya menjaga napasnya tetap rileks.

​Beberapa menit kemudian, Kanara bergeser. Tidak mendekat langsung. Posisi duduknya diubah menjadi menyamping. Kini jarak mereka hanya setengah meter.

Kanara mencondongkan kepalanya, memperhatikan tangan Nura. Tangannya hampir menyentuh jari Nura.

Nura berhenti sebentar, lalu melanjutlan kembali.

Lalu, tangan Kanara terangkat untuk kedua kalinya. Jemari kecil itu menyentuh lengan Nura sekilas. Tubuhnya tidak menegang, tidak kaku.

Nura merasakan sentuhan lembut itu. ​Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya tetap tenang. Ia tidak bergeser, ingin memberi tahu Kanara kalau sentuhan itu tidak membuatnya pergi.

Nura menoleh perlahan. “Kanara mau ikut main?”

​Kanara mengangguk.

**********

Elang duduk di kursi yang sama sejak tiga puluh menit lalu. Ia tidak banyak bergerak, tidak memainkan ponsel. Hatinya gelas, khawatir di dalam sana putrinya akan runtuh.

​Elang mengintip dari balik kaca satu arah. Kaca itu tidak besar, tapi cukup untuk orang tua yang ingin melihat sesi terapi berlangsung.

Elang bisa melihat Kanara duduk di atas karpet. Jaraknya jauh dengan Nura.

Nura duduk beberapa langkah darinya. Dia tidak melakukan apa-apa yang tampak seperti sedang 'menyembuhkan'. Dia hanya sibuk memainkan balok.

Elang mulai bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana jika ini belum cukup? Bagaimana jika Kanara tidak pernah berbicara lagi?

Elang fokus melihat Kanara. Matanya memanas. Putrinya itu terlalu kecil untuk menanggung banyak beban yang membuatnya menjadi diam.

Dadanya sesak. Dulu, Elang pikir diamnya Kanara adalah tanda aman. Ternyata salah. Diamnya Kanara adalah tempat luka bersembunyi.

​Ia ingat malam setelah istrinya pergi. Kanara memanggilnya tiga kali, lalu senyap. Elang pikir Kanara sudah tidur, padahal saat itulah putrinya menutup diri. Kanara tidak pernah memanggil lagi.

Di dalam ruangan, Kanara menggeser posisi duduknya sedikit, mendekati Nura.

Napas Elang tertahan, dadanya sesak.

“Ayo, Kanara jangan mundur…,” ucapnya dalam hati.

Nura tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menurunkan bahu, seolah berkata ‘aku tidak akan mengejarmu.’

Dan, akhirnya Kanara menyentuh lengannya.

​Elang kembali duduk, menutup mata. Hatinya perih.

Bagaimana jika dia lebih percaya pada orang lain dibanding aku?

Tapi jauh di lubuk hati, Elang tahu sejak lama ia sudah kehilangan Kanara tanpa ada orang lain.

​Sesi berakhir.

Kanara keluar dengan tenang tanpa rasa panik.

Nura mengikuti dari belakang. Tatapannya bertemu dengan Elang. Tidak ada senyum kemenangan berlebihan, hanya anggukan kecil.

Entah bagaimana, Elang mulai melihat Nura sebagai sebuah harapan.

**********

​Di ruangan Bu Maya, Elang tak bisa tenang. Ada rasa gelisah yang ia sendiri tidak tahu datangnya dari mana.

“Kanara menunjukkan kemajuan besar,” ucap Bu Maya sambil membuka sebuah catatan. “Dia mau mengikis jarak dengan Nura. Itu progres yang sangat baik.”

​Elang mengangguk getir. “Saya juga melihatnya.”

“Lalu…,” Bu Maya membuka kacamatanya, memandang Elang lurus. “Bagaimana dengan Bapak?

Elang menghela napas. “Aku ada. Selalu ada. Tapi… sekarang bukan aku lagi yang dia cari.”

Bu Maya menatap Elang lekat-lekat. “Apa yang bapak rasakan?”

Elang tertunduk, memandangi ujung sepatunya. “Saya merasa terlambat datang.”

“Apa Bapak merasa bersalah?”

Elang tidak segera menjawab, jemarinya tertutup kaku.

“Sejak istri saya tiada, ketakutan terbesar saya adalah kehilangan Kanara,” jawabnya setelah beberapa saat. “Saya bekerja keras demi memastikan semua kebutuhannya terpenuhi.”

Ia terdiam lagi.

Sementara, Bu Maya menunggu dengan sabar.

“Tapi ternyata bukan itu yang dia butuhkan,” lanjut Elang lirih. “Saya gagal menjadi Ayah. Sekarang, dia tampak lebih percaya pada orang lain. Dia tidak lagi datang pada saya.”

Suasana menjadi sunyi, sampai Bu Maya berucap pelan, “Pak, anak-anak tidak pernah berhenti mencintai orang tuanya. Mereka hanya berhenti merasa aman.”

Kalimat itu menghantam dada Elang dengan telak.

“Apa saya masih bisa memperbaikinya?”

“Bisa,” jawab Bu Maya mantap. “Dengan hadir seutuhnya. Juga dengan belajar mengakui kalau Bapak adalah manusia yang juga sedang terluka.”

**********

Lampu jalanan kota berpendar, masuk melalui kaca mobil dan jatuh di wajah Elang secara bergantian. Di sampingnya, Kanara tertidur pulas dengan kepala bersandar di bantal leher. Suasana sunyi, hanya terdengar suara mesin dan klakson di kejauhan.

Kata-kata Bu Maya terus berputar di kepala Elang.

“Mereka hanya berhenti merasa aman.”

Elang mencengkram kemudi dengan sedikit lebih kuat. Kalimat itu terasa lebih kejam di tengah kesunyian ini.

Selama ini, ia mengira tembok materi yang ia bangun dengan kerja keras adalah perlindungan bagi Kanara. Namun, ia sadar, di baliknya, putrinya justru merasa sendirian.

Ia teringat betapa kaku tangannya saat mengusap rambut putrinya, juga betapa irit kata yang ia berikan sebagai sapaan.

Ternyata, bukan Kanara yang menjauh, melainkan Elang yang membangun jarak karena takut menghadapi luka kehilangannya sendiri.

“Belajar mengakui kalau Bapak adalah seorang manusia yang juga sedang terluka.”

Napas Elang terasa berat. Selama ini, ia terlalu sibuk menjadi pahlawan yang tangguh, hingga lupa Kanara hanya butuh seorang ayah yang nyata.

Di tengah kemacetan lampu merah, Elang menyentuh lembut punggung tangan mungil itu. Ia bertekad mulai saat ini ia tidak hanya akan membawa Kanara ke rumah, tapi juga membawanya pulang.

1
ginevra
ya, mending ikhlasin aja sih... nggak harus jadi CEO kan... turun jabatan dibawahnya juga nggak apa apa.
Aruna02
🤣🤣 akhirnya 😘😘
Aruna02
ya tuhan sampe bundir pak hendra
GreenForest
🤭🤭 akhirnya kesampaian juga bang duda. Semoga setelah ini hubungan kalian lebih serius dari sebelumnya
Ayank~Oma
Jaga jarak, jaga hatimu Nura, manusia kayak gitu sulit untuk berubah. Jangan harap menjalani hubungan serius dengan Elang akan berjalan mulus tanpa kendala.
Ayank~Oma
Jadi curiga sama bapaknya sendiri. Jangan jangan Darmawan ingin menghancurkan anaknya sendiri 🤔
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
seneng bgt interaksi semakin membaik 🥺
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
pak, apakah ini sebuah kecemburuan? /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
duh bener2 hrs diperhatikan inimah, semoga tepat keputusan nura buat stay dirumah elang
PrettyDuck
elang ini mungkin tipe yang susah ngungkapin rasa sayang ya, makanya kanara susah deket sama dia 🥲
PrettyDuck
yaudah, ajak pacaran dulu minimal /Chuckle/
-Thiea-
Nura itu wanita istimewa mas. percayalah.🤭
-Thiea-
sekarang emang belum jadi siapa-siapa. tapi nanti siapa yang tahu🤭
Ramun🍓😈
siapa iblis itu. kok aku merasa itu ayahnya. Krena keknya mencurigakan cara bicaranya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
memang tugasnya. tapi, setidaknya kamu bisa melihat. hanya Nura yang bisa membuat Kanara nyaman. eh /Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
saking sunyinya. bahkan elang merindukan kekacauan yang di buat oleh anaknya /Whimper/
Alessandro
wahhh..... wah...... babak baru, nih... bs berlanjut
Alessandro
org2 dg panic attack bgini.. bs hidup dg normal gasi?
kasian kl tiba2 histeris
Ramun🍓😈
Kita kan tidak bisa mencegah kemana hati kita akan berlayar Nura😩. positif thinking saja, smoga pak Elang juga menyukaimu
WDY
cie cie mulai tumbuh ni kayaknya benih benih cinta🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!